Naraya Pramaswari Dhanubrata, seorang CEO muda yang dikenal dingin dan perfeksionis, terbiasa hidup dalam kemewahan. Di usianya yang terbilang matang, ia tidak lagi benar-benar percaya pada cinta, apalagi hubungan rumit.
Segalanya berubah ketika ia bertemu Sagara, pemuda tampan berusia 24 tahun yang sederhana. Namun, penuh semangat hidup. Berbeda jauh dari dunia Naraya, Sagara menjalani berbagai pekerjaan demi bertahan hidup. Mulai dari montir, ojek online, hingga pekerja paruh waktu. Meski hidupnya keras, Sagara tetap hangat, tulus, dan pantang menyerah.
Pertemuan tak terduga mereka perlahan menyeret Naraya ke dalam dunia yang tak pernah ia bayangkan. Sagara yang gigih, tanpa sadar meruntuhkan dinding hati Naraya yang selama ini terkunci rapat.
Namun, perbedaan status, usia, dan prinsip hidup menjadi tantangan besar bagi keduanya. Belum lagi seseorang dari masa lalu Naraya yang kembali hadir.
Akankah cinta mereka mampu bertahan, atau justru menjadi luka yang tak terhindarkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Sagara."
Suara lembut yang tiba-tiba terdengar di sampingnya membuat pria itu tersentak. Ia menoleh cepat.
Nara sudah berdiri di sana. Wanita itu mengernyit melihatnya. "Kau kenapa?"
Sagara segera mengalihkan pandangan. "Tidak apa-apa."
Nara jelas tidak percaya. Tatapannya menyusuri wajah pria itu beberapa detik sebelum akhirnya mengikuti arah pandangan Sagara. Namun saat melihat sekelompok tamu yang sedang berbincang, ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.
"Wajahmu terlihat pucat," ucap Nara. Ia mulai menyadari perubahan wajah Sagara setelah ia sempat meninggalkannya tadi.
"Mungkin karena terlalu banyak orang." Sagara beralasan.
Nara mengangkat sebelah alis. Namun, sebelum ia sempat bertanya lagi, Sagara lebih dulu berbicara.
"Nara"
"Hm?"
"Aku rasa sebaiknya kita segera pulang."
Nara berkedip. "Sekarang?"
Sagara mengangguk. "Kita sudah cukup lama di sini."
"Tapi pestanya bahkan belum selesai."
"Aku tahu."
"Lalu?"
Sagara menatap sekeliling ballroom sesaat. "Jika terlalu lama di sini, kemungkinan sandiwara kita ketahuan juga semakin besar."
Nara terdiam. Ucapan itu masuk akal baginya. Malam ini mereka memang berhasil melewati perkenalan dengan kakeknya, menghadapi Seokjin, dan menyapa beberapa tamu penting. Semakin lama mereka bertahan, semakin besar kemungkinan seseorang mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab.
"Kau yakin hanya karena itu?" tanya Nara pelan.
Sagara tersenyum tipis. "Memangnya harus ada alasan lain?"
Nara menatapnya beberapa saat. Entah kenapa ia merasa pria itu sedang menyembunyikan sesuatu. Meski begitu, Nara tetap mengangguk. "Baiklah."
Sagara menghela napas lega. "Ayo berpamitan pada kakekmu."
Keduanya mulai berjalan melewati kerumunan tamu. Namun, baru beberapa langkah, langkah Sagara mendadak terhenti. Tubuhnya membeku.
Nara yang masih berjalan setengah langkah di depannya ikut berhenti. "Ada apa?"
Sagara tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan. Nara mengikuti arah pandangnya. Di sana, tepat beberapa meter dari mereka, berdiri Ratna bersama putrinya.
Wanita itu baru saja selesai berbincang dengan seorang tamu dan berbalik. Lalu ... tatapan mereka bertemu. Waktu seolah berhenti sesaat.
Rahang Sagara mengeras. Sementara senyum Ratna perlahan memudar. Ekspresi wanita itu berubah. Terkejut, tidak percaya. Matanya bahkan membesar saat menatap pria yang tentu tidak asing baginya, tengah berdiri tidak jauh darinya.
"... Sagara?" Suara itu pelan, nyaris seperti bisikan. Namun cukup jelas untuk membuat Nara menoleh cepat pada pria di sampingnya. Memperhatikan perubahan ekspresi pria itu dengan begitu jelas.
Wajah Ratna terlihat pucat. "Ba-bagaimana bisa dia berada di sini?" gumamnya pelan.
Sagara. Pria itu masih berdiri kaku dengan rahang mengeras. Tatapannya tetap dingin, tanpa berkurang sedikit pun.
"Ibu," bisik wanita muda yang berdiri di samping Ratna. "Sebaiknya kita pergi."
Ratna menoleh pada putrinya. Setelah beberapa saat terdiam, ia mengangguk pelan.
Wanita itu kembali menatap Sagara. Seolah ingin mengatakan sesuatu, seakan ada ribuan kata yang ingin keluar dari bibirnya. Namun, pada akhirnya tidak satu pun yang terucap.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Ratna dan putrinya berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.
Sagara memperhatikan punggung kedua wanita itu hingga menghilang di balik kerumunan tamu. Barulah setelah itu ia menghembuskan napas berat.
Satu napas panjang yang terdengar begitu melelahkan.
"Sagara. Ada apa?"
Suara Nara membuatnya tersadar. Ia lalu menoleh. Nara sedang menatapnya lekat. Tidak penasaran atau memaksa. Hanya sekedar memperhatikan.
"Kau kenal dengan mereka?" tanyanya hati-hati.
Beberapa detik berlalu sebelum Sagara menjawab. "Tidak ... Aku tidak mengenal mereka."
Jawaban singkat itu membuat alis Nara terangkat. Ekspresi wajah yang sempat pria itu tunjukkan saat menatap kedua wanita berbeda usia itu sungguh berbeda. Seperti ada sebuah kebencian mendalam yang tersimpan rapat.
Nara ingin kembali melontarkan pertanyaan, tapi Sagara lebih dulu meraih tangannya lalu melingkarkannya pada lengan pria itu sendiri.
"Ayo," ucap Sagara pelan. "Kita cari kakekmu."
Nara mengernyit. "Kau masih ingin berpamitan?" tanyanya tanpa berniat melepaskan tangannya dari lengan Sagara.
"Tentu saja," jawab Sagara tenang. Pria itu bisa dengan sangat cepat mengendalikan ekspresi dan emosinya hanya dalam beberapa saat.
"Tapi ...."
"Aku baik-baik saja," potong Sagara cepat. "Kita selesaikan semuanya dengan sempurna malam ini."
Nara akhirnya mengangguk. Keduanya kembali melewati kerumunan tamu. Tanpa mereka sadari, tak jauh dari posisi mereka berdiri tadi, seseorang sedang memperhatikan semuanya.
Seokjin. Pria itu berdiri di sudut ballroom sambil memegang gelas di tangannya. Tatapannya mengikuti langkah Sagara. Lalu beralih pada Ratna yang baru saja pergi bersama putrinya. Alisnya perlahan berkerut. Karena ia tidak melewatkan satu detail penting, mulai dari ekspresi terkejut wanita paruh baya itu, dan cara Sagara menatapnya seolah menyimpan kebencian yang telah lama dipendam.
"Hm ...." Sudut bibir Seokjin terangkat tipis. Ia seperti menemukan sebuah celah baru.
"Apa sebenarnya hubungan kalian?" gumamnya pelan.
Akhirnya, malam ini Seokjin merasa bahwa Sagara mungkin menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang selama ini ia duga.
"Lihat saja ... montir itu pasti akan menyesal telah mencoba masuk dalam kehidupan Naraku." gumamnya dalam hati.
*** bersambung.
kira2 surat epa ya yg pengen dikasih ibunya viola? surat tentang kebenaran kekuarga sagara atau apa?
akhirnya sudah lebih jauh sagara masuk ke konflik para eksekutif, padahal dia cuma ingin menikmati hidupnya yg sederhana