bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Dia Tidak Diam
Dua minggu berlalu sejak Alessandra memberi pena perekam pada Mira.
Setiap hari, dia memperhatikan. Setiap hari, dia mencatat. Pola demi pola, bukti demi bukti, semuanya tersusun rapi di buku catatan hitamnya.
Mira mulai merekam. Diam-diam, tanpa sepengetahuan siapa pun, pena kecil di sakunya menangkap setiap ejekan, setiap ancaman, setiap tawa sinis para pengganggu. Alessandra tidak perlu bertanya. Dia tahu Mira akan melakukan tugasnya dengan baik karena Mira tidak punya pilihan lain.
Tapi ada satu hal baru yang mengganggu Alessandra.
Fiona.
Bukan karena Fiona tiba-tiba berubah baik. Bukan karena dia berhenti memasang wajah masam setiap kali melihat Alessandra. Tapi karena tatapannya.
Fiona sering menatap Alessandra.
Bukan tatapan benci seperti biasanya. Bukan tatapan iri atau dendam. Tapi tatapan mengawasi. Seperti dia sedang menunggu sesuatu. Seperti dia memiliki tugas yang belum selesai.
Dan setiap kali Alessandra menoleh cuman sekadar untuk menguji, Fiona selalu cepat memutuskan kontak mata. Berpaling ke arah lain. Pura-pura sibuk dengan ponsel atau teman di sampingnya.
Cepat sekali, pikir Alessandra. Terlalu cepat. Seperti orang yang sudah berlatih.
Dia tidak bisa membuktikan apa pun hanya dari tatapan. Tapi kepekaannya tidak pernah salah. Fiona menyembunyikan sesuatu.
Dan aku akan mencari tahu apa itu.
Hari itu, pulang sekolah.
Alessandra mengendarai Ducati V4 hitamnya melewati jalanan Acelia yang mulai sepi. Biasanya dia mengambil rute cepat melewati tol dalam kota. Tapi hari ini, dia memilih jalan memutar melewati daerah industri yang sudah tidak aktif, di mana pabrik-pabrik tua berdiri sunyi.
Bukan tanpa alasan.
Sejak keluar dari gerbang sekolah, dia sudah merasakannya.
Ada yang mengikuti.
Sebuah mobil hitam minibus gelap dengan kaca film pekat yang selalu berada di belakangnya. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jarak aman yang dirancang agar tidak mencurigakan.
Tapi bagi Alessandra, jarak aman itu terlalu sempurna. Seperti sudah dipelajari. Seperti sudah direncanakan.
Mata-mata lain? Atau pembunuh baru?
Dia tidak tahu. Tapi dia akan tau sebentar lagi.
Alessandra mempercepat motornya. Belok kiri. Belok kanan. Masuk ke jalanan sempit di antara pabrik-pabrik tua. Mobil hitam itu mengikuti. Masih di belakang. Masih dengan jarak yang sama.
Mereka bukan pemilik bintang, pikir Alessandra. Aura mereka biasa. Manusia biasa. Tapi mereka punya senjata? Atau sekadar pengintai?
Dia memutuskan untuk menguji.
Setelah melewati pabrik ketiga, dia membelokkan motornya ke sebuah jalan buntu. Di ujung jalan, hanya ada dinding beton tinggi dan tumpukan drum minyak bekas. Tidak ada kamera. Tidak ada saksi. Tempat yang sempurna.
Untuk membunuh. Atau untuk dibunuh.
Alessandra memarkir motornya di tengah jalan, mematikan mesin, dan melepas helm.
Rambut hitam sebahu terurai sedikit. Pita merah masih terikat rapi. Kacamata rimless dengan rantai emas bergelantung di wajah dinginnya.
Tiga puluh detik kemudian, mobil hitam itu masuk ke jalan buntu.
Mereka tidak bisa mundur. Tidak bisa berbalik. Satu-satunya jalan keluar terhalang oleh motor Alessandra dan tubuhnya yang berdiri tegap di tengah.
Pintu mobil terbuka.
Lima orang turun.
Pria semua. Usia 25-40 tahun. Postur kekar, wajah kasar, dengan tato mencolok di lengan dan leher. Beberapa memegang pentol baja. Satu membawa celurit. Yang paling besar mungkin bosnya membawa pistol di pinggang.
Pakaian mereka norak. Gaya mereka preman pasar malam. Dan senyum mereka... membuat jijik.
"Wah, ceweknya berani banget ya nyetop di sini," ucap si bos dengan suara serak. Dia berjalan ke depan, matanya mengamati Alessandra dari ujung rambut hingga ujung sepatu.
"Kamu Valeria Allegra?" tanyanya.
Alessandra tidak menjawab. Tangannya memegang helm di sisi tubuh.
"Cantik juga," sambung pria lain di belakangnya. "Foto kiriman nya sih dibilang mirip, tapi aslinya lebih cakep."
"Kakinya jenjang..."
"Badannya bagus..."
Kata-kata menjijikkan berhamburan dari mulut mereka. Mata mereka tidak bisa lepas dari tubuh Alessandra bukan sebagai target, tapi sebagai objek.
Alessandra menatap mereka dengan jijik.
Bukan karena mereka ingin mencelakainya. Tapi karena mereka berpikir mereka bisa. Karena mereka berpikir dia hanya gadis SMA biasa yang tidak berdaya.
"Kita dikasih tugas sama mbak itu," ucap si bos sambil membuka jaketnya, memperlihatkan pistol di pinggang. "Tugasnya nangkep lo. Hidup-hidup."
"Mbak itu?" Alessandra akhirnya bersuara. Suaranya dingin. "Siapa?"
"Rahasia."
"Tapi kalau lo mau tahu..." pria lain terkekeh. "Kita bisa kasih tahu setelah lo bisa kasih kita... kenangan."
Tawa kotor mereka memenuhi jalan buntu.
Alessandra merapikan kacamatanya.
Jari telunjuk menyentuh ujung rimless glasses. Gerakan itu pelan. Anggun. Dan bagi siapa pun yang mengenalnya, itu adalah pertanda: badai akan segera datang.
"Kalian tidak tahu siapa yang kalian hadapi," ucapnya.
"Kami tahu," balas si bos sambil menghunus pistol. "Lo cuma cewek SMA bawel yang suka bikin onar. Sekarang ikut kami dengan baik, atau—"
Helm Alessandra terbang melayang.
Bukan dilempar biasa. Ada tenaga di baliknya, tenaga yang tidak mungkin dimiliki gadis SMA biasa. Helm itu melesat seperti peluru, menghantam wajah pria yang berdiri paling depan dengan kekuatan penuh.
DOR!
Pria itu jatuh terpental, hidungnya hancur, darah menyembur.
Sebelum yang lain bereaksi, Alessandra sudah melesat.
Tendangan pertama mengenai perut pria kedua. Tubuhnya terlipat seperti udang, mulutnya menyemburkan air liur, dan dia jatuh pingsan sebelum kepalanya menyentuh aspal.
Tendangan kedua menyapu kaki pria ketiga. Saat tubuhnya jatuh, lutut Alessandra sudah naik, menghantam dagu pria itu dengan bunyi krek yang tidak enak didengar. Gigi patah. Rahang mungkin juga.
Pistol di tangan si bos terangkat.
Puak!
Suara tembakan menggema di antara dinding pabrik tua.
Tapi Alessandra sudah tidak di tempatnya.
Dia bergerak ke samping dengan kecepatan yang tidak masuk akal bukan kecepatan manusia biasa. Bukan kecepatan yang bisa diikuti oleh mata preman-preman ini.
"DI MANA DIA?!"
Tangan Alessandra menyambar pergelangan si bos. Dia memutar lengan itu ke arah yang tidak alami, hingga terdengar bunyi retakan tulang dan pistol jatuh ke tanah.
"AAAAAAAAAK!"
Sekarang hanya tersisa tiga pria.
Dua yang masih berdiri sebelumnya tertawa, sekarang pucat pasi. Mereka memegang pentol baja dengan tangan gemetar.
"J—jangan mendekat!"
"S—setan! Dia setan!"
Alessandra tidak berkata apa-apa. Tangannya menyentuh pergelangan tangan kirinya. Dari balik lengan baju seragamnya, dia menarik sebilah belati tipis pisau pendek dengan bilah berkilat, ujungnya runcing, pegangannya dilapisi kulit hitam.
Belati itu tidak pernah dia gunakan. Karena biasanya, kegelapan sudah cukup.
Tapi untuk manusia-manusia sampah ini... dia ingin merasakan darah.
"Kalian tidak akan mati cepat," bisiknya. "Tapi kalian akan mati."
Dia melesat lagi.
Pria keempat dan kelima tidak sempat berteriak. Belati Alessandra bergerak begitu cepat sehingga hanya kilatan perak yang terlihat sekali, dua kali, tiga kali. Leher, dada, perut. Semua titik vital terkena dalam hitungan detik.
Dua tubuh jatuh bersamaan.
Darah mengalir di aspal, membentuk genangan merah yang perlahan meluas.
Si bos yang tangannya patah merangkak mundur. Matanya membelalak, penuh ketakutan. Celana panjangnya... basah. Air kencing mengalir di kakinya, menciptakan genangan kuning yang bercampur dengan darah rekannya.
"J—jangan... jangan bunuh aku... aku punya keluarga... aku..."
Alessandra berjalan mendekat.
Langkahnya pelan. Sepatu pantofel hitamnya menginjak genangan darah tanpa rasa jijik.
"Keluarga?" ulangnya. "Kalian berniat menangkapku hidup-hidup. Untuk apa? Untuk diperkosa? Untuk dijual? Kalian pikir aku tidak tahu?"
"A—aku hanya disuruh—"
"Katakan nama pengirimmu."
"M—Mbak... mbak Fiona..."
Alessandra tidak terkejut.
"Fiona suruh kalian menangkapku?"
"I—iya... dia bayar kami... banyak... dia bilang cukup tangkap lo, bawa ke tempat sepi, dan dia akan urus sisanya... kami tidak tahu dia mau apa..."
"Lalu kalian tambahin rencana sendiri? Untuk... 'bersenang-senang' denganku?"
Si bos tidak bisa menjawab. Mulutnya komat-kamit, air matanya bercucuran.
"Untuk itu," ucap Alessandra, "kalian semua pantas mati."
Belati di tangannya berkilat.
Satu tebasan.
Kepala si bos terpisah dari tubuhnya. Menggelinding di aspal, mata masih terbuka, mulut masih berusaha berteriak tapi tidak ada suara.
Alessandra berdiri di antara lima mayat, darah membasahi sepatunya, sedikit percikan di ujung rok hitamnya.
Dia tidak bernapas berat. Tidak gemetar. Tidak merasa bersalah.
Hanya jijik.
Dia hendak berbalik mengambil helmnya, ketika sebuah suara memecah kesunyian.
Nanananana... Hay ya ya darirama rama ror
Suara ponsel bergetar. Dari saku celana si bos yang sudah tidak berkepala.
Alessandra berhenti.
Dia memungut ponsel itu yang layarnya retak sedikit, berlumuran darah dan melihat nama yang muncul:
Mbak Fiona.
Langsung telepon ternyata, pikirnya. Mungkin mengecek apakah misi berhasil.
Dia menggeser layar. Menjawab.
"Apa kabar?" suara Fiona terdengar di ujung sana. Nada santai, hampir bosan. "Lo sudah berhasil tangkap cewek itu? Cepetan bawa ke tempat yang sudah ditentukan. Gua gak mau ada yang lihat."
Alessandra diam.
"Ucok? Lo denger gue?" suara Fiona sedikit naik. "Apa cewek itu kabur? Lo semua gak becus, dasar—"
"Ini Valeria Allegra."
Keheningan.
Keheningan yang tegang di ujung sana.
"Fiona," lanjut Alessandra dengan suara datar, "aku tahu ini suaramu. Aku tahu kau yang mengirim preman-preman ini untuk menangkapku. Sekarang mereka semua sudah mati. Satu-satunya yang tersisa dari 'misimu' adalah ponsel ini yang berlumuran darah. Kau tahu apa artinya?"
"..."
"Artinya, kau tidak akan selamanya bisa bersembunyi di balik topeng baikmu, Fiona. Suatu hari, semua yang kau lakukan akan terbuka. Dan pada hari itu, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. Berhati-hatilah, mungkin aku akan mengucapkan 'terimakasih' kepada mu dengan cara yang berbeda."
Klik. Fiona mematikan telepon.
Alessandra menatap layar ponsel itu beberapa saat.
Lalu dia melemparkannya ke aspal.
Krak!
Ponsel itu pecah. Layarnya hancur, bodinya terbelah. Alessandra menginjaknya sekali dan cukup untuk memastikan tidak ada yang bisa mengambil data dari puing-puing itu.
Dia mengambil helmnya, membersihkan sedikit darah di ujung rok dengan sapu tangan, lalu memasang helm.
Sebelum menyalakan mesin, dia menoleh ke belakang.
Lima mayat. Satu mobil hitam. Genangan darah di aspal.
"Makan."
Dia hanya mengucapkan satu kata.
Dan kegelapan itu bergerak.
Dari bayangan di bawah mobil, dari celah-celah aspal, dari sudut-sudut dinding beton sebuah kegelapan merayap. Hitam pekat, kental, lapar. Mereka membungkus tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa, menyerap mereka sedikit demi sedikit.
Tidak ada api. Tidak ada ledakan. Hanya kegelapan yang melahap.
Daging, tulang, darah, pakaian, senjata dan semuanya berubah menjadi partikel hitam yang terserap ke dalam bayangan.
Dalam dua menit, tidak ada yang tersisa.
Mobil itu ikut lenyap tertelan kegelapan seperti mangsa yang tidak berdaya.
Aspal kembali bersih. Tidak ada darah. Tidak ada jejak.
Seolah tidak pernah terjadi pembunuhan di sini.
Alessandra menghidupkan mesin Ducatinya.
Bruummm.
Dia melesat meninggalkan jalan buntu itu, meninggalkan kegelapan yang sudah kenyang, dan kembali ke rumah Sunjaya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Tapi di dalam hatinya, satu nama terukir dengan tinta merah.
Fiona.
Kau mengirim preman untuk menangkapku.
Kau ingin melenyapkanku.
Tapi kau lupa satu hal.
Valeria Allegra yang kau kenal mungkin lemah.
Tapi aku tidak.
Dan kau akan menyesal.
Malam itu, di kamar Allegra.
Alessandra menulis di buku catatan hitamnya.
Fiona — mengirim preman untuk menangkapku. Motif? Tidak tahu. Mungkin dendam karena kalah dalam akademik. Mungkin diperintah Saskia. Mungkin punya motif sendiri.
Target selanjutnya: mencari bukti keterlibatan Fiona dalam percobaan penculikan.
Bukti: ponsel sudah hancur. Tidak ada saksi hidup. Tapi... bisa mencari tahu dari siapa Fiona mendapatkan kontak preman itu.
Dia merapikan kacamatanya.
Saskia dan Fiona... apakah mereka bekerja sama? Atau Fiona hanya bidak lain?
Satu per satu. Aku akan bongkar semuanya.
Dia menutup buku, merebahkan tubuh, dan menatap langit-langit.
Tapi untuk saat ini...
Biarkan Fiona ketakutan.
Biarkan dia tidak bisa tidur karena takut aku akan datang kapan saja.
Itu hukuman yang lebih pantas daripada kematian.