Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kita kembali ke kota B.
Nada yang baru saja keluar dari kantor dibuat terkejut dengan kedatangan mobil seseorang yang dia kenali. Karena tindakan Jidan tersebut membuat semua orang langsung menatap ke arahnya. Termasuk karyawan yang berada di lantai empat.
Bisik-bisik kembali terdengar membuat Nada ingin bersembunyi.
Jidan menurunkan kaca mobilnya saat melihat Nada tidak kunjung masuk ke dalam."Nada kenapa kamu tidak masuk? Cepat, nanti ku tinggal nih." ucap Jidan membuat wanita itu menatap nya."Kenapa diam?"
Nada hanya bisa menghela nafasnya mendengar perkataan pria itu. Andaikan saja Jidan tau kalau perlakuannya telah mengundang tatapan dari semua orang-orang di sana, mungkinkah pria itu akan menjaga jarak. Tatapan mereka semua mengartikan sesuatu hal yang tidak benar-benar terjadi.
Pantas saja Pak Jidan marah ternyata mereka menyinggung kekasih Pak Jidan.
Perkataan itu tentu mengganjal nya. Apakah mereka terlihat seperti pasangan kekasih? Tapi apakah mereka cocok?
"Lah malah diam nih anak." Gumam Jidan mengusap setengah wajahnya dengan pelan lalu menumpuhnya dengan tangannya."Nada Ayunda cinta, apakah kamu masih ingin di sana?!" Panggilan yang tidak terlalu tegas tapi berhasil menarik Nada dari lamunannya.
"Ah, sorry." ucap Nada merasa tidak enak karena membuat pria itu harus menunggu lama karena kelambatannya. Gadis itu bergegas masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Jidan.
Jidan mengemudikan mobilnya melaju memasuki jalan besar. Tidak ada yang saling berbincang di sana. Sampai Nalda membuka suara.
"Kak apa yang kak Jabir lakukan pada para perundung itu?"
"Memecat mereka karena di kantor tidak di peruntukan untuk para perundung." Sahut Jidan."Lain kali kalau ada yang merundung mu seperti tadi cerita lah. Jangan memendam ya seperti tadi. Kalau mereka mengancam mu, cepat-cepat katakan agar semua nya diselesaikan. Beruntung ada asistenku tadi kalau tidak mungkin kamu akan terjebak di dalam toilet tanpa ada yang perduli dan para perundung itu tidak diketahui sifat aslinya."
"Iyaa kak."
"Jangan iya iya saja, harus di praktekan."
"Bagaimana mau di praktekkan kak, kalau perundung nya sudah di pecat." Jawab Nada terdengar Jengkel membuat Jidan mengangkat tangan nya lalu mengacak hijab wanita itu.
"Kak!" Serunya kesal.
"Kamu lucu. Tadi diam-diam saja pas di tanyain. Giliran orang nya dah ketangkap baru di kasih tau. Ckckck." Decak Jidan.
Nada hanya bisa mengalihkan penglihatan nya ke arah lain setelah mendengar perkataan pria itu.
Mobil jidan berhenti di sebuah pasar tradisional yang masih tetap buka walaupun sudah sore.
"Ngapain kita kesini, kak?"
"Mau belanja, soalnya bahan-bahan di kulkasku sudah mau habis. Mau ikut?"
"Boleh kak, sekalian saja aku mau belanja untuk kos-kosan karena kebetulan di kos kosong, belum diisi semuanya."
"Emang nya nggak apa-apa. Ini pasar loh." Tanya Jidan memastikan takut Nada akan jijik atau bagaimana.
"Ayola kak, aku terbiasa pergi ke pasar jika bersama bibi di rumahku. Emangnya kak Jabir pikir aku tidak terbiasa berada disana. Kak, aku bukanlah anak CEO dalam drama. Aku hanya gadis biasa." Sahut Nada sambil tersenyum."Sebenarnya tadi aku ingin meminta kak Jabir untuk mengantarkanku ke pasar, tapi karena kak Jabir punya tujuan yang sama jadi nya tidak jadi."
"Menarik. Kalau begitu ayo kita turun." Ajak Jidan sambil membuka pintu mobil.
Kedua nya berkeliling menyusuri setiap pedagang, seperti biasa Nada menawar apa saja yang dia beli. Jidan yang melihat itu tentu dibuat melongo. Gadis di samping sangat pintar nego sampai jidan dibuat senyum senyum sendiri.
"Kita singgah ke toko elektronik dulu, ada yang ku cari di sana."
"Oke." Jawab Nada yang terlihat kesusahan saat membawa belanjaan nya.
"Kamu keberatan? Sini biar aku bantu." Tawar Jidan ingin mengambil barang bawaan Nada tapi gadis itu malah menolak nya.
"Tidak, tidak perlu aku masih bisa membawanya sendiri."
"Tapi itu berat."
"Tidak terlalu berat, ini ringan saja." Jawab Nada kembali melanjutkan langkahnya mengarah ke mobil Jidan. Sementara Jidan hanya menatap punggung itu dengan bibir tersenyum dan kembali berjalan mengikuti langkah nya.
Bersambung….