Seorang pria miskin harus menelan pahitnya dikhianati dan ditinggalkan kekasihnya di saat yang sama. Sempat hancur dan hampir menyerah, dia akhirnya memilih bangkit demi membalas semuanya. Sampai suatu hari, dia menemukan liontin misterius warisan keluarga yang mulai mengubah hidupnya. Dengan cara yang tak biasa, dia perlahan membalikkan nasib lewat hubungan dengan para janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarBlues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Bel tanda pergantian jam kuliah akhirnya memekakkan telinga, memutus aliran teori ekonomi yang berat di dalam ruangan. Seketika, kesunyian sakral kelas pecah. Suara kursi yang bergeser kasar, ritsleting tas yang ditarik, hingga gumaman lega para mahasiswa memenuhi udara.
Para mahasiswi tampak mengembuskan napas panjang, sebagian sibuk membenahi riasan, sebagian lagi langsung tenggelam dalam layar ponsel.
Namun, pemandangan berbeda tampak pada barisan mahasiswa laki-laki. Bagi mereka, jam kuliah Ibu Hani selalu terasa terlalu singkat.
Sejujurnya, bukan perkuliahan yang mereka rekam di kepala, melainkan bayangan geyolan "bemper" belakang sang dosen menulis di papan tulis, serta gerak ritmis "melon" di balik blus ketatnya yang seolah terus menari di pelupuk mata mereka.
Juan merapikan bukunya dengan gerakan yang tenang dan terukur. Ia memasukkan alat tulisnya ke dalam tas, lalu menyampirkannya ke bahu dengan santai.
Pikirannya sudah melompat ke satu tempat yang menjadi oase setelah kelas yang melelahkan, kantin.
Getaran halus dari ponsel di saku celananya menarik perhatiannya. Juan mengeluarkan benda itu dan mendapati dua pesan beruntun.
Andre: “Kami sudah di kantin. Buruan, laper parah.”
Doni: “Meja biasa, jangan lama-lama. Perut gue udah konser.”
Juan tersenyum kecil. Ia sudah sangat hafal dengan tabiat kedua sahabatnya itu, tidak pernah bertele-tele jika menyangkut urusan perut.
Ia baru saja bangkit dan hendak melangkah keluar kelas ketika sebuah suara lembut, namun memiliki daya pikat yang kuat, menghentikan gerakannya.
“Juan.”
Juan menoleh perlahan. Raisa berdiri hanya beberapa jengkal darinya. Rambut panjangnya yang hitam berkilau terurai sempurna, membingkai wajahnya yang tampak tetap segar meski baru saja melalui jam kuliah yang panjang.
Ia menyampirkan tas branded-nya di bahu, menatap Juan dengan seulas senyum tipis yang memancarkan kehangatan eksklusif.
“Mau ke kantin?” tanya Raisa, matanya mengunci pandangan Juan.
“Iya,” jawab Juan jujur. “Andre sama Doni sudah menunggu di sana.”
Raisa tersenyum lebih lebar, binar di matanya semakin terlihat. “Kebetulan sekali. Aku juga mau ke sana. Bareng, ya?”
Juan sempat ragu sejenak. Ia sadar betul siapa Raisa, seorang putri konglomerat yang setiap langkahnya selalu menjadi magnet perhatian.
Berjalan bersamanya berarti siap menjadi pusat radar satu kampus.
Namun, sebelum Juan sempat merangkai kalimat penolakan yang sopan, Raisa sudah melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka.
“Ayo,” ajaknya ringan, seolah keberatan Juan bukanlah masalah besar.
Juan akhirnya mengangguk pasrah. “Ya sudah, ayo.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong fakultas yang mulai menyempit oleh arus mahasiswa yang keluar dari kelas lain. Suara tawa, obrolan tentang tugas, dan derap langkah kaki menciptakan kebisingan yang khas. Namun, Juan segera menyadari ada yang berbeda siang ini.
Tatapan. Banyak sekali tatapan yang menghujam mereka.
Beberapa mahasiswa yang sedang asyik mengobrol mendadak bungkam saat mereka lewat. Ada yang melirik dengan dahi berkerut, ada yang menatap dengan raut tidak percaya, dan banyak pula mahasiswi yang berbisik-bisik di balik telapak tangan mereka.
Raisa, sang primadona yang biasanya dingin dan pemilih, kini berjalan beriringan dengan Juan, seorang pemuda yang selama ini dianggap "mahasiswa biasa" tanpa kilau harta.
Juan bisa merasakan atmosfer canggung itu. Awalnya ia mencoba abai, namun ketika Raisa tiba-tiba melingkarkan lengannya di lengan Juan, langkah pria itu refleks terhenti sesaat karena terkejut.
“Raisa... ” Juan menoleh, tangannya bergerak hendak melepaskan diri karena merasa tidak enak.
Namun, alih-alih lepas, genggaman Raisa justru menguat. Ia menempelkan lengannya lebih erat, seolah ingin menegaskan kepemilikan.
“Kenapa?” tanya Raisa dengan nada santai, seakan-akan menggandeng lengan pria di depan umum adalah rutinitas hariannya.
“Kita… dilihat banyak orang, Sa,” bisik Juan pelan, mencoba mengingatkan.
Raisa hanya terkekeh, tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk menjauh. “Memangnya kenapa? Biar saja mereka melihat. Mata kan memang untuk melihat.”
Juan terdiam, lidahnya kelu. Ia menarik napas dalam-dalam. Sesaat, bayangan Laras terlintas di benaknya, bagaimana dulu ia diperlakukan seperti barang simpanan karena status sosialnya yang rendah.
Juan tidak ingin terjebak dalam lubang yang sama, ia tidak ingin menjadi sekadar "aksesori" atau pelarian.
Namun, Raisa berbeda. Getaran di lengan Raisa terasa jujur. Tatapannya tidak mengandung kepalsuan.
Juan akhirnya menghela napas, memilih untuk berhenti melawan arus.
Ia membiarkan Raisa menggandengnya, meski tubuhnya masih terasa sedikit kaku karena belum terbiasa dengan keintiman mendadak ini.
Sepanjang perjalanan menuju kantin, Raisa sesekali mencuri pandang ke arah Juan.
“Kamu tahu nggak,” Raisa membuka percakapan, “di kelas tadi, cuma kamu yang kelihatannya benar-benar fokus memperhatikan materi.”
Juan tersenyum tipis, matanya menatap lurus ke depan. “Aku cuma nggak mau membuang-buang waktu yang sudah kubayar dengan biaya kuliah.”
“Itu yang aku suka dari kamu,” lanjut Raisa tanpa ragu. “Kamu nggak perlu sok pamer atau cari perhatian, tapi cara kamu memahami materi tadi menunjukkan kualitas kamu yang sebenarnya.”
Juan tertawa kecil, merasa sedikit canggung. “Kamu terlalu berlebihan menilaiku, Sa.”
“Enggak,” Raisa menggeleng tegas, helai rambutnya menyentuh bahu Juan. “Aku serius. Di sini banyak pria pintar, tapi rata-rata arogan atau sok kaya. Kamu beda. Kamu punya ketenangan yang nggak dimiliki orang lain.”
Juan tidak langsung menanggapi pujian itu. Ia tetap menjaga langkahnya stabil, mencoba menetralkan degup jantungnya. “Terima kasih atas penilaiannya. Tapi aku tetaplah orang yang biasa saja.”
Raisa menatap profil samping wajah Juan selama beberapa detik. “Justru sisi 'biasa' itulah yang membuatnya istimewa di mataku.”
Juan merasakan ketulusan dalam suara Raisa yang dalam. Namun, ada tembok di hatinya yang tetap berdiri kokoh.
Ia tidak ingin terlalu larut dalam perasaan yang meletup-letup. Ia sadar, meski kini hidupnya mulai berubah berkat liontin sakti dan rahasia mutiara di bawah air terjun, ia belum benar-benar sampai di puncak.
Ia belum ingin menyerahkan hatinya sebelum ia benar-benar memiliki dunia di tangannya.
Mereka akhirnya tiba di ambang pintu kantin. Aroma nasi goreng, soto, dan asap rokok dari area terbuka menyambut mereka.
Suasana sangat riuh; meja-meja penuh sesak dan antrean makanan tampak seperti barisan semut.
Juan melepaskan napas panjang. “Kita cari meja mereka dulu.”
Raisa mengangguk patuh, masih tak melepaskan genggamannya. Juan menyapu pandangan ke pojok kantin, area favorit para mahasiswa yang ingin mengobrol tanpa terlalu terganggu.
Tak butuh waktu lama bagi matanya untuk menemukan dua sosok yang sangat familiar.
Andre dan Doni sudah duduk di sana. Andre bersandar malas dengan gelas es teh di tangan, sementara Doni tampak serius menunduk ke layar ponselnya.
“Itu mereka,” tunjuk Juan.
Begitu mereka berjalan mendekat, Andre secara tidak sengaja mengangkat wajah. Seketika, ekspresinya berubah drastis.
Matanya membelalak lebar, gelas di tangannya nyaris miring, dan sebuah seringai jahil yang sangat lebar terukir di wajahnya.
“Wuih!” seru Andre cukup keras, disusul siulan panjang yang melengking, memancing beberapa mahasiswa di meja sekitar untuk ikut menoleh.
Doni tersentak, ikut mendongak, lalu nyaris menjatuhkan ponselnya saat melihat siapa yang berjalan di samping Juan. “Gila… Juan, lu benar-benar ya…”
Juan menghela napas, sudah menduga reaksi ini. “Andre, kecilkan suaramu.”
Andre berdiri dari kursinya dengan gaya dramatis. “Primadona fakultas datang ke meja rakyat jelata? Ini gue lagi halusinasi karena kelaparan atau gimana?”
Raisa tertawa renyah, sama sekali tidak merasa risih. “Halo, Andre. Halo, Doni. Boleh bergabung?”
Doni buru-buru berdiri tegak, merapikan duduknya. “Eh, halo, Raisa. Tentu, silakan, meja ini mendadak jadi mewah karena ada lu.”
Andre menunjuk Juan dengan jari telunjuknya, wajahnya sok serius. “Lu ini emang mahasiswa 'biasa' ya, Wan. Tapi gaya lu jalan masuk kantin tadi sudah kayak bos besar yang lagi bawa permaisuri.”
Juan menggeleng pasrah sambil menarik kursi. “Sudah, duduk saja. Jangan mulai.”
Mereka akhirnya duduk melingkar. Juan mengambil posisi di tengah, diapit oleh Andre dan Raisa.
Beberapa pasang mata di kantin masih terus mengawasi, terutama para lelaki yang menatap Juan dengan campuran antara iri, benci, dan bingung.
Andre menyeringai nakal ke arah Juan. “Juan, gue serius nanya. Sejak kapan lu sama Raisa jadi satu paket begini?”
Juan melirik Raisa sejenak yang justru membalas dengan tatapan menantang, lalu menjawab dengan nada sedatar mungkin. “Baru saja tadi di lorong.”
Andre mengangkat alis tinggi-tinggi. “Baru di lorong tapi tangan sudah dikunci rapat begitu? Lu pakai pelet apa, Wan?”
Raisa yang menjawab dengan santai sambil merapikan tasnya di meja. “Masalah buat kamu, Dre? Aku yang mau, kok.”
Andre tertawa lepas, tangannya menepuk meja. “Nggak masalah! Justru gue bangga punya teman kayak Juan. Diam-diam menghanyutkan.”
Doni mengangguk setuju, matanya menatap Juan dengan bangga. “Iya. Juan itu memang orangnya kalem, tapi auranya bikin orang betah. Gue nggak kaget kalau Raisa juga ngerasa begitu.”
Juan menatap kedua sahabatnya itu dengan ekspresi jengah. “Kalian berdua ini benar-benar…”
Raisa tersenyum, matanya menatap Juan dengan tatapan yang sulit diartikan namun sarat akan makna. “Kamu punya teman-teman yang sangat baik, Juan.”
Juan mengangguk pelan, kali ini dengan rasa syukur yang tulus. “Mereka adalah satu-satunya alasan kenapa aku tetap waras selama ini.”