NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kamu Milikku Seutuhnya

"Ini rumah abang?"

Aku melirik Laras. Ingin melihat ekpresinya melihat rumah yang aku beli dua tahun lalu. Yang sudah aku renovasi sesuai kemauanku.

Laras tersenyum kecil.

"Selera abang boleh juga, bagus dan minimalis."

Senyumnya membuat hatiku tenang.

"Laras suka?" Pancing ku kemudian.

Ia terkekeh pelan.

"Ini rumah abang, bagaimana Laras bilang tak suka,"

"Huk.. Huk.., panas! Bang Dimas tolong dong buka pintunya. Gerah Nia lama-lama di dalam."

Dimas terpingkal. Bantal kepala yang aku pegang langsung mendarat di kepala Kania.

"Aduh!" Peliknya, melotot ke arahku. Laras menepuk bahuku. Ah, bukannya membelaku dia malah membela Kania.

"Udah, ah bang."

Dari kaca ku lirik Dimas hanya semar mesem. Aku yang biasa tampak cool harus kehilangan muka di hadapan Dimas.

Kami turun dari mobil tapi Kania sudah duluan sampai di depan pintu masuk. Dari dalam bik Iyem membukakan pintu. Senyumnya sangat ramah. Hampir selama tahun lebih bik Iyem bekerja denganku. Selama itu pula aku sudah mengganggapnya seperti ibu sendiri.

"Nak Raka sudah pulang toh, ini ya nyonya rumah kita?"

Ia menghampiri Laras menyambut tangannya. Dan istriku dengan budayanya yang kental menyambut ukuran tangan bik Iyem menciumi punggung tangannya seperti ibu sendiri.

"Iya bu, aku istrinya abang Raka, Laras bu."

Balas Laras sangat sopan.

Bik Iyem mengusap punggungnya.

"Cantik ya, panggil aja saya bik Iyem nak."

Balas bik Iyem masih merangkul Laras.

"Hmpz, bik maaih ada aku loh?" Kania tampak sangat sewot karena tidak diacuhkan sedari masuk. Aku menggigit bibir berusaha menahan tawa yang rasanya mau pecah. Dimas juga ikutan tersenyum simpul.

"Ini pasti Kania, ya?"

Bik Iyem menghampiri Kania. Tapi mukanya sudah manyun duluan. Garing dikacangin.

"Kok tahu sih bik? Kan aku belum perkenalan!" Seperti biasa, Kania yang suka ceplas ceplos.

"Soalnya mirip sama nak Raka. Raka juga sering ceritain nak Kania. Katanya adeknya yang paling jahil."

Kania dengan cepat mengalihkan biji matanya kerap arahnya.

"Ya hobi gosip juga abang Raka ya bik. Kalau perempuan yang satunya pernah nggak ke sini?"

Bik Iyem yang awalnya terkekeh mendadak diam. Wajahnya langsung berunah 360 derajat. Wajahku langsung merah. Kania memang tak pernah melihat situasi kalau bercanda. Suka keterlaluan.

"Naik dulu ke atas nak Raka, Laras sama Kania. Pasti capek diperjalanan. Biar bibik siapin makan siang dulu."

Bik Iyem tak lagi menggubris pertanyaan Kania. Ia berbalik arah menuju dapur. Ini memang pertanyaan sensitif yang harus dipendam. Huftt, kalau ditanya Ningsih pernah ke sini? Sering! Hampir setiap pulang kerja dia mengekor ku ke rumah dan setiap malam aku harus mengantar dia balik ke rumahnya. Bik Iyem pasti sudah hafal. Dan bik Iyem selalu tak pernah ramah kepada Ningsih. Bukan karena bik Iy benci tapi karena memang Ningsih suka keterlaluan. Huft.. Aku memang tidak pernah pake akal sehat selama ini menilai Ningsih.

"Kenapa termenung bang?"

Aku terkejut ketika Laras mencuil lenganku.

Aku menolehnya, menarik garis dikedua ujung bibirku.

"Bukan termenung kak, tapi ingat kenangan dan mantan kali!"

Lontar Kania sangat santai. Kali ini aku nggak bisa diam, aku kejar langkahnya yang berjalan tergesa, sudah ada firasat aku akan mengamuk. Tidak lagi memikirkan harga diri di depan Dimas. Tapi larinya kalah gesit dariku. Kania tergopoh-gopoh berlari ke lantai atas.

"Abang, udahlah! Dimas mau bicara!" Langkahku terhenti, aku sampai lupa Dimas menunggu.

"Pak, saya balik dulu ke kantor. Besok pagi keperluan untuk bapak sudah saya siapkan semua."

Aku mengangguk pelan. Mempersilahkan Dimas kembali kerutinitasnya.

Sekarang hanya aku dan Laras yang masih di ruang tamu. Kami saling berpandangan, sedikit canggung tapi aku menghampirinya.

"Kita ke kamar pengantin," Ujarku. Mengulurkan tangan kepadanya.

Laras tertawa ngakak. Menjiwil hidungku.

"Udah ah, nggak usah sok romantis abang." Balasnya mencubit pinggangku.

Aku menuntunnya ke kamar utama. Kamar yang akan menjadi saksi malam madu kami yang tertunda. Tapi ada satu hal yang mengusik. Kamar ini yang dijadikan Ningsih senjata untuk menyerang Kania kemaren. Di kamar ini juga dia tidur bermalam karena sedang mabuk berat, aku tidak tega mengantarkannya pulang ke rumah.

"Bang dari tadi Laras lihat abang tampak tegang, kenapa?"

Semua isi kepalaku berhamburan. Laras tahu saja kalau aku memang tidak sedang fokus. Aku menggeleng, mengelus lembut kepalanya. Meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja.

"Setelah sampai di lantai dua aku berbelok ke kamar utama yang telah aku siapkan dengan matang, atas bantuan Dimas. Sementara Kania sudah masuk ke kamarnya di bagian ujung. Kamar yang memang aku peruntukan untuk dia, setiap dia ke Jakarta.

Ketika pintu kamar aku buka, Laras melotot. Matanya berbinar, kamar sudah aku dekor sedemikian rupa untuk menyambutnya. Ia sontak memelukku, matanya berkaca.

"Terimakasih bang, sudah menyambut Laras."

Akupun ternganga tak satupun kalimat yang mampu aku ungkapkan. Pelukannya cukup erat membuat aku susah bernafas.

"Ayo sayang, masuk." Sepertinya Laras masih shock terapi melihat kejutan dariku. Di atas kasur aku juga sudah mempersiapkan beberapa tas branded dan baju lingerie. Maklumlah malam pertama kami masih belum terlaksana, haha.

"Kamu suka?" Candaku menanti ekpresinya.

Ia tersenyum mengamati tas Louis Vuitton yang aku beri, tapi senyum itu berubah semu merah ketika melihat baju dinas yang ku hadiahi. Ia melirik ku sembari tersipu malu.

"Kenapa? Laras nggak suka?" Bisikku di telinganya. Laras memukul dadaku pelan. Ia mengigit bibir, Laras yang biasanya tegas tampak salah tingkah di depanku.

Ia melirik ku sejenak.

"Apakah Laras sudah siap untuk jadi milik abang seutuhnya?"

Jurus playboyku keluar. Tapi Laras adalah cewek beruntung yang pernah aku godain seperti ini. Ningsih, ah lagi-lagi Ningsih. Ya aku tidak pernah menggodanya selama ini. Kami menjalin hubungan yang sewajarnya. Tidak berlebihan dan sangat mustahil ia bisa hamil olehku.

Laras tak kunjung menjawab. Mukanya tampak puas, antara malu dan mau mungkin tapi sebagai perempuan ia mempertahankan harga dirinya.

Aku mendekatinya, memegang kedua bahunya.

"Kalau memang belum siap, abang tidak akan memaksa."

Ia menatapku, duh! Aku meleleh, pandangan yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan. Binar matanya, senyum indahnya. Ah, secepat ini aku masuk dalam perangkapnya. Ia tampak i gin mengutarakan sesuatu tapi kata-kata itu tertahan.

Beberapa menit kita hanya saling berpandangan, lalu tertawa. Sama-sama grogi dan nervous.

"Iya bang, malam ini Laras siap menjadi milik abang seutuhnya."

Duar!! Bagai dapat durian runtuh, momen yang paling aku tunggu akhirnya tersampaikan. Laras akan seutuhnya jadi milikku.

"Abang janji, hanya Laras satu-satunya wanita di hidup abang!" Sekali lagi bisikku di telinganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!