"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"
Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.
Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?
Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?
Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Berhak Bahagia - episode 23
Selepas mengobrol dengan Indah yang hampir 20 menit, Mila meletakkan ponselnya di pinggir kasurnya. Sebuah denting notifikasi pesan berbunyi dari nama kontak 'Hasbi'.
Mila membacanya isi pesan, 'Sejam lagi aku pulang, apa kamu ingin aku belikan makanan?'
Mila membalas pesan itu, 'Gak, aku udah kenyang.'
Tak ada pesan lagi dari Hasbi.
Mila mengembalikan ponselnya ke tempat semula dan bersiap-siap berangkat salat Isya ke masjid.
Sepulangnya dari masjid, Hasbi sudah berdiri di depan pintu kamar. Mila mendekatinya dan Hasbi menyodorkan sebuah kantong plastik berwarna. "Buat kamu!"
"Ya ampun, Mas. Ini setiap malam terus dikasih makanan begini, tubuhku bisa gendut!" Mila menerimanya seraya tertawa kecil.
"Besok pagi tambah jam olahraganya!" kata Hasbi tersenyum.
"Besok temani aku, ya!" pinta Mila.
"Pastinya aku temani kamu!" janji Hasbi.
"Aku mau ke kamar, makanlah. Jangan tidur terlalu malam!"
Hasbi telah berlalu, Mila masuk ke kamarnya dan menyantap sate kambing bumbu kacang perlahan sambil bertukar pesan dengan Della dan Indah.
Selesai makan Alan menghubunginya, pria itu meminta maaf sebab tak mengantarkannya pulang.
"Gak apa-apa, Mas. Ibu Mas Alan lebih diutamakan. Alhamdulillah tadi aku juga gak sengaja ketemu tetangga, dia yang mengantarkanku pulang."
"Tetangga kamu perempuan atau laki-laki? Udah tua atau masih muda?" cecar Alan dari ujung telepon.
"Mas Aldo yang mengantarkan aku."
Alan ingat nama itu, mereka sempat 2 kali bertemu. Tapi, Alan sama sekali tak cemburu meskipun Mila sering bercerita mengenai sosok Aldo dan neneknya.
"Mas Alan, aku ngantuk. Aku tutup teleponnya, ya!"
"Oh, iya, Mil. Selamat tidur."
Panggilan keduanya pun berakhir.
Mila merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Ia masih teringat dengan sikap Alan yang membiarkannya pulang sendirian. Berbeda dengan Hasbi tanpa diminta pria itu selalu ada saat dibutuhkan.
"Aku gak boleh terlalu berharap dengan mereka, belum tentu juga salah satu dari mereka jadi jodohku. Aku cuma menginginkan penggantinya yang lebih baik, cukup Hardi yang sempat hadir di hidupku, ya Allah!" batin Mila berdoa.
***
Mila dan Hasbi mulai berjalan pagi, bahkan Hasbi meminta Mila mencoba lari. Mila pun melakukannya meskipun jaraknya tempuhnya tak terlalu jauh.
"Cukup, Mas. Aku capek!" Mila berhenti, ia membungkukkan badannya sambil mengatur napasnya.
Hasbi melihatnya hanya tertawa.
"Jalan aja, aku gak sanggup terus lari!" kata Mila lalu berdiri tegak dan memegang kedua pinggangnya.
"Baru satu kilometer udah menyerah!" singgung Hasbi.
"Lain waktu aja lagi!" Mila mengulurkan tangan kanannya kepada Hasbi dan pria itu meraihnya lalu menggenggamnya.
"Ayo jalan lagi!" ajak Hasbi sambil menggenggam tangan Mila.
Mereka berjalan sambil berpegangan tangan, Mila membiarkannya karena sangat lelah.
Setelah beberapa meter, Mila melepaskan genggaman tangan Hasbi. "Beli minuman dulu, Mas!"
Mereka singgah ke warung kecil dan membeli 2 botol minuman air mineral lalu meneguknya.
"Masih mau jalan lagi?" tanya Hasbi.
"Ya," jawab Mila semangat.
"Baiklah, ayo!" Hasbi tersenyum lalu melangkah duluan.
Mila cepat mensejajarkan posisi langkahnya dengan Hasbi. "Besok-besok jangan berikan aku makanan di malam hari, aku jadi terpaksa menambah durasi waktu olahraga."
"Kamu aja yang malas, pakai alasan makanan!" sindir Hasbi.
Mila tersenyum nyengir mendengarnya, padahal memang kenyataannya begitu.
"Ayo cepat jalannya!! Bukankah hari ini kamu mulai masuk kerja?"
-
Beberapa jam kemudian...
Mila sampai di kedai nasi tepat jam 9 pagi dan Hasbi yang mengantarkannya. Mila tak berani menolaknya sebab Hasbi terus memaksa.
Melihatnya diantar Hasbi, kedua rekan kerjanya menghampirinya dan salah satunya bertanya, "Mas Alan mau dikemanakan? Nanti kalau ketahuan dia bagaimana?"
"Biarkan aja. Lagian dia tetanggaku, Mbak. Dia rela balik lebih cepat demi menemaniku di kos-kosan," jelas Mila.
Wina dan Ratih tahu kalau Mila tak pulang ke kampung halamannya karena masalah keluarga.
"Aku curiga kalau sebenarnya laki-laki itu menyukaimu!" celetuk Wina.
Mila terdiam.
"Jangan berikan pria harapan, Mil. Kasihan anak orang, udah berharap malah gak jadi. Pilih salah satu, dia atau Mas Alan!" sahut Ratih mengingatkan.
"Benar itu!" Wina pun setuju.
"Aku enggak mengenal keluarganya, Mbak. Kalau Mas Alan, aku udah tau saudara dan sifatnya walaupun aku belum kenal dengan ibunya!" Mila mengomentari 2 sosok pria yang sedang dekat dengannya.
"Ya, kamu harus pilih salah satunya," kata Ratih lagi.
"Tapi, semua terserah kamu aja. Kamu 'kan yang menjalaninya. Saran aku, temui dulu ibunya Mas Alan sebelum benar-benar terlalu jauh hubungan kalian!" ucap Wina.
-
Sore ini Mila pulang sendiri, sejam lalu Hasbi mengirimkan pesan kalau tak sempat menjemputnya.
Di depan pintu pagar, Mila berpapasan dengan tetangga yang kamarnya sebelah kiri kamar Hasbi. Pemuda itu membawa bungkusan plastik kecil berisi obat-obatan.
"Lagi sakit, ya?" tanya Mila mengarahkan pandangannya ke tangan pemuda sebelahnya.
"Buat Mas Hasbi," jawabnya.
"Hasbi sakit?" Mila tampak terkejut sebab tadi pagi kelihatan baik-baik saja.
"Iya, katanya demam!"
Mila masuk ke kamarnya, mengambil 6 butir telur lalu direbusnya diatas kompor 1 tungku. Tak lupa jendela kamarnya dibuka, biar sirkulasi udara berjalan lancar dan mencegah keracunan karbon monoksida.
Selepas salat Maghrib, Mila menemui Hasbi di kamarnya. Wajah Hasbi tampak pucat dengan bibir kering dan memerah.
"Mas Hasbi kenapa gak bilang kalau lagi sakit?" protes Mila.
"Besok udah sembuh, kok. Tadi udah minum obat," kata Hasbi.
"Mas, udah makan? Biar aku belikan makanan!"
"Udah makan roti satu biji!"
"Cuma sebiji gak mungkin kenyang. Ini aku rebus telur, kalau lapar makan aja!" Mila menyodorkan bungkusan plastik berisi 4 butir telur.
"Mau aku buatkan minuman jahe hangat?" Mila menawarkan lagi.
"Enggak usah," tolak Hasbi.
"Aku belikan makanan aja!" kata Mila berbalik badan namun lengan tangannya ditarik Hasbi.
"Enggak usah, Mil. Ini udah malam, aku gak mau kamu sendirian keluar untuk membeli makanan aku!" kata Hasbi, perlahan genggaman tangannya dilepas.
"Ini belum terlalu malam, masih banyak orang beraktifitas," ucap Mila agar Hasbi mengizinkannya keluar.
"Ya sudah, tapi jangan beli makanan yang tempatnya jauh!" kata Hasbi.
"Hmm .. Bagaimana aku belikan bakso ayam?"
Hasbi menggelengkan kepalanya.
"Nasi goreng?"
"Enggak mau, aku gak biasa makan nasi goreng malam hari."
"Ayam goreng tepung?" Mila menyebutkan beberapa nama makanan lainnya.
"Aku gak suka!"
Mila berdecak kesal karena Hasbi selalu menolak tawarannya.
"Aku gak mau apa-apa. Aku mau kamu di sini aja menemaniku!" kata Hasbi.
"Mas, aku di sini gak buat kamu kenyang. Jadi, sekarang kamu mau makan apa?" tanya Mila sekali lagi.
Hasbi masih mikir.
"Martabak telur mau? Atau sate Padang? Oh, atau Batagor Bandung?" Mila menyebutkan semua nama makanan.
"Gado-gado aja!" kata Hasbi.
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku mau membelinya, makan aja dulu itu telur rebus!" ucap Mila bergegas turun ke lantai bawah.
Tak sampai 1 jam, Mila datang membawa 2 plastik berisi gado-gado dan mie kari ayam lalu menuju kamarnya Hasbi lagi.
Mila membuka bungkusan gado-gado kemudian menuangkannya ke dalam piring, "Ini Mas dimakan!" ia menyodorkannya kepada Hasbi yang duduk di lantai beralaskan karpet.
Mila kemudian membuka mangkok plastik putih berisi mie kari. "Mas, mau?" sebelum dimakannya ia tawarkan, siapa tau Hasbi selera dengan makanan miliknya.
"Enggak, Mil. Ini aja udah cukup!" kata Hasbi perlahan menyantap makanannya.
Ini pertama kalinya sebagai tetangga, Mila melihat isi kamarnya Hasbi yang tampak rapi dan bersih. Selama menemani Hasbi makan, pintu sengaja dibuka biar tak menjadi fitnah.
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
atw sang mantan. 🤔🤔🤔