NovelToon NovelToon
SERIBU JARUM EMAS

SERIBU JARUM EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: putra ilham

Di dunia persilatan yang luas, pedang dan tombak dianggap sebagai raja senjata.

Namun, bagi Mo Fei, benda terkecillah yang paling mematikan.

Tidak menggunakan golok raksasa, tidak mengandalkan kekuatan otot. Senjatanya hanyalah jarum-jarum emas seukuran biji padi.

Siapa pun yang ditandanya... pasti mati sebelum sempat berkedip.

Dikenal sebagai Pengamat Malam, ia datang tanpa suara, pergi tanpa jejak, hanya meninggalkan kilatan cahaya emas dan mayat yang tertancap jarum di titik vital.

"Pedang hanya bisa memotong daging. Tapi jarumku... bisa menusuk jiwa."

Ketika ia ditugaskan melindungi putri cantik yang keras kepala dan terjerat dalam intrik istana, Mo Fei harus menghadapi sekte jahat dan pendekar-pendekar legendaris.

Bisakah seribu jarum emas ini mengubah takdir dunia?

Siap-siap terpukau dengan aksi bela diri tercepat dan paling elegan yang pernah ada! .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putra ilham, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: JARUM YANG TAK TERLIHAT

Keesokan harinya, di sebuah kedai teh sederhana di sudut kota Chang An.

Suasana pagi itu cerah dan hangat. Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah-celah jendela kayu, menerangi debu-debu halus yang berterbangan di udara. Namun, suasana tenang itu sedikit terganggu oleh kehadiran dua orang tamu istimewa.

Di satu meja, duduklah Mo Fei yang sedang menikmati semangkuk bakpao daging dengan lahapnya. Wajahnya tampak sangat bahagia dan santai, seolah kejadian mengerikan semalam hanyalah mimpi biasa.

Di hadapannya, duduklah seorang gadis cantik berpakaian mewah namun wajahnya manyun luar biasa. Itu adalah Putri Lian Er.

"Dasar pemuda aneh!" gerutu Lian Er sambil memukul meja pelan. "Aku ini Putri Kekaisaran lho! Biasanya orang-orang sujud hormat kalau melihatku, tapi kau malah menyuruhku duduk di tempat kotor begini dan makan makanan rakyat biasa?!"

Mo Fei menelan bakpaonya lalu tersenyum lebar. "Hehe, santai saja Putri cantik. Di sini makanannya enak dan murah. Lagipula, kalau kau pakai kereta kencana dan pengawal banyak, kita bakal dikerubungi orang dan musuh baru. Kan repot?"

"Alasan saja kau!" dengus Lian Er. "Dan jangan panggil aku cantik! Aku tidak suka!"

Sebenarnya, hati Lian Er penasaran setengah mati. Semalam, pemuda di depannya ini telah membunuh belasan pembunuh bayaran hanya dalam sekejap mata. Tapi yang membuatnya bingung, ia sama sekali tidak melihat senjata apa yang dipakai.

"Hei... Kau itu sebenarnya pakai sihir apa semalam?" tanya Lian Er akhirnya, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi. "Kenapa mereka bisa mati begitu cepat tanpa terluka parah?"

Mo Fei meletakkan makanannya, lalu menyeka mulutnya dengan kain sapu tangan sutra. Matanya berkilat jenaka.

"Pengen tahu ya?" godanya.

"Iya! Coba tunjukkan! Apa senjatamu itu tersembunyi di lengan baju? Atau kau punya alat tiup rahasia?" Lian Er mendekatkan wajahnya, matanya berbinar penasaran.

Mo Fei tertawa kecil. "Bukan sihir, Putri. Ini adalah ilmu tertinggi dunia persilatan. Kalau kau ingin melihat... lihatlah ke arah itu."

Mo Fei menunjuk ke arah sebuah tiang kayu besar di sudut ruangan yang agak gelap. Di sana, terbang seekor lalat hijau besar yang sedang hinggap dengan tenang.

"Apa yang harus kulihat? Lalat?" tanya Lian Er bingung.

"Tepat. Lihatlah baik-baik. Jangan kedip, karena kalau kau kedip... kau akan melewatkan segalanya."

Belum sempat Lian Er bertanya lagi, tiba-tiba jari telunjuk Mo Fei bergerak sedikit.

Hanya gerakan sangat kecil, hampir tidak terlihat oleh mata telanjang.

Ting!

Suara halus terdengar.

Seketika, lalat hijau itu yang tadi hidup dan sehat, kini jatuh melayang ke meja. Ia mati seketika.

Lian Er terbelalak. Ia buru-buru mengambil tubuh lalat itu dan memeriksanya dengan teliti.

"Gila... Tidak ada luka! Tidak ada darah! Bagaimana bisa?!" serunya kaget.

"Itulah kehebatan Jarum Emas," ucap Mo Fei dengan nada bangga namun tetap santai. "Aku tidak perlu menusuk atau menebas keras-keras. Cukup satu titik kecil yang tepat, aliran energi di tubuh musuh akan terputus seketika. Jantung berhenti berdetak, napas tertahan... dan tamatlah riwayat mereka."

Ia lalu mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah jarum emas yang berkilau di ujung jarinya. Jarum itu sangat tipis dan kecil, hampir tidak terlihat kalau tidak diperhatikan sungguh-sungguh.

"Pedang itu kasar, Putri. Ia merusak keindahan. Tapi jarum... elegan, bersih, dan pasti. Di tanganku, benda sekecil ini lebih mematikan daripada pedang sepanjang tiga meter."

Lian Er menelan ludah. Ia baru sadar, pemuda di depannya ini bukan sekadar pendekar biasa. Ia adalah monster yang sangat berbahaya, namun bersembunyi di balik wajah tampan dan sifat yang ceria.

"Jadi... semalam kau menembakkan sepuluh jarum sekaligus?"

"Bukan sepuluh," jawab Mo Fei sambil tersenyum misterius. "Aku menembakkan sepuluh jarum dalam satu waktu, tapi masing-masing jarum itu bergerak dengan kecepatan dan sudut yang berbeda. Itu namanya teknik 'Jarum Seribu Bayangan'."

Lian Er terdiam. Ia mulai merasa hormat, meskipun gengsi untuk mengakuinya.

"Kau... benar-benar hebat ya," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

"Hah? Apa katanya? Aku tidak dengar," Mo Fei mendekatkan telinga dengan jahil.

"Aku bilang KAU HEBAT!!" teriak Lian Er dengan wajah memerah karena malu dan marah. "Puasss?! Dasar menyebalkan!"

Mo Fei tertawa terbahak-bahak melihat wajah merah gadis itu. "Hahaha! Ya sudah, jangan teriak-teriak dong. Telingaku mau pecah nih."

Namun, tawa itu berhenti seketika.

Senyum di wajah Mo Fei lenyap perlahan. Matanya tajam menatap ke arah pintu keluar kedai teh. Aura di sekitarnya tiba-tiba berubah drastis. Dari yang santai dan hangat, kini menjadi sedingin es dan penuh tekanan mematikan.

"Putri..." panggil Mo Fei pelan, namun suaranya terdengar berat.

"Ada apa lagi?" tanya Lian Er kaget melihat perubahan wajahnya yang begitu cepat.

"Sepertinya... makanan pagi kita belum selesai," ucap Mo Fei sambil perlahan merapatkan lengan bajunya, bersiap mengambil stok jarumnya. "Tamu tak diundang... sudah datang."

WUSSS!

Tiba-tiba tirai pintu kedai teh terbelah terbuka lebar oleh angin kencang.

Di ambang pintu, berdiri seorang pria tinggi besar mengenakan jubah ungu tua. Wajahnya tertutup topeng besi berbentuk wajah hantu yang menyeramkan. Di punggungnya, terselip sebuah gada besi raksasa yang beratnya pasti puluhan kilogram.

Di belakangnya, puluhan pasukan bersenjata lengkap berdiri rapat.

"Hahaha... Akhirnya ketemu juga kau, bocah penjual jarum!" suara pria bertopeng itu bergema keras, menggetarkan kaca-kaca jendela. "Kau berani membunuh anak buah Sekte Ungu? Hari ini... akan kubuat kau memohon mati!"

Lian Er pucat pasi melihat jumlah musuh yang begitu banyak dan aura jahat yang begitu kuat.

"Mo Fei... Mereka banyak sekali! Itu Pendekar Gada Hantu! Dia sangat kuat!" bisik Lian Er ketakutan.

Mo Fei hanya tersenyum lagi, kali ini senyum yang penuh tantangan.

"Banyak? Tidak masalah. Semakin banyak... semakin seru kan?" ucapnya santai.

Ia berdiri perlahan, angin di ruangan itu seakan berputar mengelilingi tubuhnya. Ribuan jarum emas di dalam bajunya seakan bergetar penuh semangat, siap untuk melenyapkan segala yang menghalangi jalan mereka.

"Silakan masuk... Tuan Hantu. Mari kita mainkan permainan... siapa yang bisa berdiri tegak di akhir cerita."

1
anggita
Mo Fei...👌 ikut ng👍like aja, ☝iklan. moga novelnya lancar.
putra ilham: ​"Amin! Terima kasih banyak atas dukungannya dan sudah kasih 'like'. Doa seperti ini sangat berarti buat saya sebagai penulis. Stay tuned terus ya!"
total 1 replies
Fwyz
ih apalah nih judul ngerii amatt, btw ceritanya epick sih, thc thor
putra ilham: ​"Hehe, judulnya memang sengaja dibuat bikin penasaran. Makasih ya sudah bilang epik! Tunggu saja bab-bab selanjutnya, bakal lebih seru lagi!"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!