Dua saudari terjatuh ke sumur tua—terbangun di hutan belantara, menjadi buruan para pemburu; berusaha bertahan hidup ditengah intrik istana dan konflik asmara.
(Jika berkenan, follow Author di ig&tiktok untuk dapat melihat ilustrasi karakter dan berbagai cerita Author yang lain)
ig = @refinawriters
tiktok = @refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusup ke Kota
Terjebak! Kini Yu Xuan dan juga Shu Hua tidak bisa lagi menghindari perkelahian. Mau tidak mau, mereka harus mengeluarkan pedang mereka untuk menyelamatkan diri mereka sendiri dan juga Guru Bai Yun.
"Pedang!" Shu Hua memanggil pedangnya, dan hal itu sontak membuat para prajurit musuh terheran-heran. Mereka berpikir jika Shu Hua memiliki kekuatan sihir.
Dan di sisi lain, tangan Shu Hua terasa bergetar hebat. Tangannya sudah tidak terbiasa menggunakan pedang. Rasa takut akan darah kembali menghantui dirinya. Namun, saat itu Shu Hua tahu jika dirinya tidak punya waktu untuk merasa takut!
"Shu Hua, kamu yakin akan baik-baik saja dengan pedang itu? Jika kamu tidak bisa, jangan terlalu dipaksakan. Aku bisa menghadapi mereka sendiri." Yu Xuan tidak ingin membuat Shu Hua memaksakan sesuatu yang tidak dia suka, karena itulah Yu Xuan menjamin jika dirinya akan mampu menghadapi para prajurit musuh itu.
"Aku baik-baik saja. Aku bisa menghadapi mereka. Bahkan aku bisa menghabisi semuanya sendiri," ucap Shu Hua dengan senyuman di wajahnya.
Dengan gerakan yang cepat, Shu Hua langsung maju menyerang pasukan musuh, dan bahkan Yu Xuan pun didahului olehnya.
Disaat Yu Xuan belum berhasil menjatuhkan satu musuh, Shu Hua sudah berhasil menjatuhkan tiga. Dan saat Yu Xuan baru berhasil menjatuhkan dua musuh, Shu Hua sudah menyelesaikan semuanya.
"Semuanya sudah beres. Sekarang kita harus segera kembali. Aku mengkhawatirkan Kak Li Hua!" gesak Shu Hua, berjalan lebih dulu di depan, diikuti oleh Yu Xuan dan Guru Bai Yun.
→→→
Ketika berhasil menyelamatkan Guru Bai Yun, Shu Hua dan juga Yu Xuan kembali ke pondok, dan untung saja saat itu Li Hua dan juga Mei masih baik-baik saja. Dan tampaknya para prajurit musuh belum sampai ke hutan dekat pondok mereka tinggal itu.
"Prajurit Dinasti Qing... mereka tidak akan mengambil rute perjalanan di arah sini. Mereka akan mengambil rute lain. Jadi, untuk sementara waktu kita akan baik-baik saja," ungkap Li Hua.
Li Hua memberitahu segala hal yang ia dapat dari penglihatannya setelah beberapa waktu bermeditasi.
"Walaupun dalam penglihatan Kakak mereka tidak akan mengambil rute perjalanan dekat sini, bukankah tidak ada salahnya kita pasang tabir pelindung agar orang-orang itu tidak bisa melihat kita? Ini semua demi mencegah hal tidak baik terjadi, dan setidaknya aku akan merasa tenang jika tabir itu dipasang," ujar Shu Hua.
Di dalam hatinya, Shu Hua hanya mengkhawatirkan Li Hua. Dan segala hal yang ia minta dan ia inginkan, semua itu hanya untuk kebaikan Li Hua saja. Dan untungnya, Guru Bai Yun mau menuruti apa yang Shu Hua inginkan.
"Jangan diambil semua. Walaupun apa yang mereka lakukan itu salah, tidak baik juga jika kita membuat hidup mereka menderita. Mereka melakukan hal buruk itu karena mereka ingin bertahan hidup. Jadi, jika ingin mengambil dari mereka, setidaknya sisakan juga untuk bekal mereka bertahan dalam perang," ucap Li Hua.
"Kakak ini terlalu baik." Shu Hua tidak terlalu setuju dengan sang kakak. Bagi Shu Hua, jika sudah berani berniat buruk seperti itu, harusnya orang itu juga harus berani bertanggung jawab.
Hening beberapa saat, Yu Xuan kemudian bangkit dan bersiap untuk menyusup ke kota, menjalankan tugas yang diberikan oleh sang kakek.
"Baiklah. Kalau semua sudah jelas, aku akan pergi sekarang. Aku akan mengumpulkan semua informasi yang berguna."
Saat Yu Xuan ingin pergi, tiba-tiba Shu Hua menghentikan Yu Xuan.
"Boleh aku ikut bersama denganmu?" Shu Hua merasa bosan saat tidak bisa melakukan apa-apa. Dan lagipula, Shu Hua sangat ingin pergi ke tempat yang ramai akan manusia. Dia benar-benar merasa bosan terus pelihat pohon, monyet dan binatang lain. Shu Hua ingin melihat manusia lain.
Sebenarnya dengan Shu Hua ikut bersama dengan Yu Xuan, pekerjaan Yu Xuan akan jauh lebih cepat selesai. Tapi saat itu ada satu hal yang tidak bisa dikesampingkan; saat ini Shu Hua masih menjadi buronan, dan jika Shu Hua muncul di kota, kemungkinan para pemburu akan mengenali Shu Hua dan kemudian berlomba-lomba untuk membunuh Shu Hua agar bisa mendapatkan hadiah koin emas.
"Bisa-bisanya kamu minta buat ikut!? Kamu lupa kalau sekarang banyak orang yang mau bunuh kamu demi imbalan koin emas dari Ratu! Nggak boleh ikut!" tegas Yu Xuan.
"Tenang aja. Tidak akan ketahuan siapa-siapa. Aku bisa menutupi wajahku. Di drama-drama yang biasa aku tonton, hal seperti itu biasa terjadi. Jadi, aku akan ikut. Dan lagi, jika ada aku, pekerjaanmu akan jauh lebih cepat selesai. Berdua itu lebih baik daripada sendiri." Shu Hua berusaha meyakinkan.
Saat itu Yu Xuan sebenarnya masih tetap tidak ingin membawa Shu Hua bersama dengannya, namun sang kakek mengatakan jika tidak masalah mengajak Shu Hua. Dan setelah mendapatkan izin itu, tidak ada alasan lagi untuk menahan Shu Hua ikut pergi ke kota.
→→→
Yu Xuan dan Shu Hua memakai pakaian yang tidak mencolok, dan saat itu wajah Shu Hua dilindungi oleh kain yang membuat ia tak dikenali saat itu. Buktinya, saat berjalan di hadapan orang banyak, tidak ada yang sadar jika itu adalah Shu Hua—si buronan yang berharga sangat mahal.
"Sekarang kita sudah ada di sini. Tapi bagaimana caranya mendapatkan informasi tentang pejabat mana yang melakukan hal buruk?" tanya Shu Hua.
Yu Xuan mengeluarkan kertas kecil, memberikan salinan kertas itu kepada Shu Hua.
"Ini adalah peta rumah para pejabat negeri. Dan sekarang, kita berdua akan berpisah di sini. Kami bisa pergi menuju kediaman menteri pertahanan, lalu terus saja lurus sampai kita bertemu lagi di dekat kediaman menteri pajak," jelas Yu Xuan.
Walaupun Yu Xuan tidak tenang harus berpisah dari Shu Hua, dia tidak punya pilihan lain karena mereka harus mengerjakan tugas ini secepat mungkin. Dan satu-satunya cara agar tugas itu cepat selesai adalah dengan berpencar.
"Baiklah. Kamu tidak perlu mencemaskan aku. Tenang saja, dan aku berjanji tidak akan mengeluarkan pedangku. Jika masih bisa aku tahan dengan tangan kosong saja, akan aku lakukan seperti itu saja," tutur Shu Hua, tak ingin membuat Yu Xuan mencemaskan dirinya.
"Baiklah. Kuharap kamu tidak ingkari janjimu. Dan kalau begitu, ayo kita bergerak sekarang!"
"Baik!"
Yu Xuan dan Shu Hua kini telah berpisah. Shu Hua pergi ke arah kediaman menteri pertahanan, dan Yu Xuan pergi ke arah berlawanan dengan Shu Hua.
Tanpa rasa takut ataupun ragu, Shu Hua berjalan dengan langkah mantap untuk mencapai tempat yang ingin ia tuju. Namun, saat itu sesuatu terasa janggal.
Kejanggalan itu mulai terasa saat Shu Hua dan Yu Xuan berpisah; saat itulah Shu Hua mulai merasakan jika ada seseorang yang terus mengikuti dirinya, dan untuk membuktikan kecurigaan itu, Shu Hua sengaja berbelok ke tempat yang sepi, dan benar saja! Orang itu sedang mengikuti Shu Hua.
Siapa orang itu?!
-Bersambung-
Sungguh penasaran pasti shu hua bakal ngecincang Hao Lin dan Xiao Yan bakal kena nih 😄