Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Menjaga Momentum
Lantai marmer putih tertutup potongan sutra mentah, serpihan renda, dan debu benang. Meja kayu panjang di tengah ruangan penuh lembaran pola kertas, pita ukur, dan kapur jahit yang saling menumpuk serampangan.
Tiga cangkir kopi sisa semalam tergeletak di sudut meja, berdampingan dengan tumpukan map laporan keuangan Kesuma Fashion yang belum ditandatangani.
Dinda memungut potongan kain dari lantai dengan panik. Asisten itu berlari kecil menghindari kabel tebal yang melintang di lantai. "Mas Steven, beri kami waktu sepuluh menit. Saya panggil staf kebersihan sebentar. Ruangan ini tidak layak masuk televisi nasional."
"Biarkan berantakan." Suara Steven memotong instruksi asisten itu.
Pria itu berdiri tegak di balik lensa monitor utama. Lengan kemeja hitamnya digulung hingga siku. Jari telunjuknya mengetuk pelan sisi kamera.
"Tapi ini citra perusahaan, Mas," protes Dinda.
"Publik tidak percaya pada ruangan steril, Dinda." Steven mengalihkan pandangannya dari monitor, menatap langsung ke arah asisten yang pucat itu. "Mereka percaya pada tempat yang membuat bosmu terlihat hidup."
Dinda menelan bantahan di ujung lidahnya dan buru-buru menepi ke sudut ruangan.
Shanaya berdiri di depan manekin. Tangannya lincah menyematkan jarum pentul pada lipatan brokat hitam pekat. Postur tubuhnya tegak. Wajahnya menolak menunjukkan rasa lelah, meski ia baru tidur dua jam semalam.
Lampu kilat kamera menyambar wajahnya berkali-kali. Shanaya tidak berkedip. Ia merespons setiap kilatan lampu sorot dengan gerakan terukur. Menyematkan jarum, menarik pita ukur, lalu memotong sisa benang. Ia membiarkan kamera merekam sisi dirinya yang tidak pernah diekspos media hiburan mana pun. Shanaya si perancang busana. Shanaya sang pekerja keras.
"Cut." Steven mengangkat tangan kanannya.
Kamera utama berhenti merekam. Kru Kanal Satu mundur serempak. Mereka sibuk memindahkan peralatan pencahayaan ke sudut lain ruangan. Bunyi gesekan roda tripod dan deru mesin pendingin udara mengisi kekosongan.
Steven meninggalkan posisinya. Pria itu melangkah mendekati manekin. Tatapannya tidak tertuju pada gaun brokat bernilai ratusan juta di depannya, melainkan jatuh pada jemari Shanaya.
Ujung telunjuk dan ibu jari perempuan itu memerah. Kulitnya kapalan dan dihiasi goresan halus karena terus-menerus beradu dengan jarum tajam serta gunting. Luka-luka kecil yang membuktikan bahwa desainer ini tidak hanya duduk di balik meja menyuruh orang lain bekerja.
Steven mengambil satu jarum pentul dari kotak kayu di meja. Ia menyodorkannya pada Shanaya.
Ujung jari mereka bersentuhan. Suhu dingin dari kulit Shanaya bertabrakan langsung dengan kehangatan telapak tangan Steven. Aliran listrik statis berderak pelan di udara.
Shanaya mendongak.
Pria itu tidak menarik tangannya menjauh. Matanya mengunci iris cokelat Shanaya.
Shanaya merampas jarum itu. Ia menancapkannya ke dada manekin dengan gerakan presisi. "Saham Kesuma naik perlahan sejak berita plagiat Anastasia meledak tadi malam. Aku menjaga momentum, Steven. Respons yang terlalu emosional akan menakuti investor. Mereka butuh pemimpin yang stabil, bukan korban yang menangis."
"Kamera tidak mencari margin laba, Shanaya." Suara Steven turun satu oktaf, menggema di atas tumpukan kain sutra. "Kamu selalu menjawab pertanyaan seperti seseorang yang sudah menyiapkan semua seminggu sebelumnya. Terstruktur. Tanpa celah."
"Aku tidak akan memberi mereka celah untuk mengasihaniku." Shanaya meraih gunting kain. Ia memotong ujung brokat dengan satu tarikan.
"Kamera mencari manusia." Steven mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak di antara mereka menipis. Aroma tembakau tipis bercampur wangi kopi menguar dari kemeja gelap pria itu. "Kamu memproses rasa sakitmu sendirian di balik pintu tertutup. Membiarkan dunia luar melihatmu sebagai dinding beton yang tidak bisa hancur."
Jemari Shanaya berhenti bergerak. Gunting di tangannya membeku.
Tatapan Steven membongkar luka yang selama ini Shanaya kubur rapat. Pria ini tidak sedang menghakiminya. Pria ini sedang mencoba menariknya keluar dari benteng es yang ia bangun sejak kehidupan pertamanya direnggut.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Lalu, pintu kayu di ujung ruangan berderit terbuka lebar.
Dinda melangkah masuk membawa dua botol air mineral. Langkah asisten itu terhenti mendadak. Matanya membulat melihat bosnya dan sang produser raksasa media berdiri dalam jarak yang terlalu dekat. Dinda seolah baru saja menerobos masuk ke dalam zona terlarang.
Udara canggung mencekik ruangan.
"Mbak Naya," panggil Dinda ragu-ragu. Tangannya memegang botol plastik erat-erat. "Ada kiriman buket bunga besar ke lobi depan."
Shanaya memutar tubuhnya, memutus kontak mata dengan Steven. "Dari siapa?"
"Cuma ada inisial R di kartunya. Mau dibuang atau dibawa naik nih?"
Jemari Shanaya berhenti di atas kain brokat hitam.
Inisial R. Rio Pramana. Rio tidak pernah bergerak tanpa tujuan. Jika sudah mengirim bunga, pria itu pasti sedang membuka pintu negosiasi.
"Bawa naik saja, Din. Taruh di mejaku." Shanaya kembali menyematkan jarum pada manekin.
Rahang Steven mengetat samar. Pria itu memutus kontak mata dan mundur satu langkah penuh. Jarak kembali terbentang.
Keintiman singkat itu runtuh seketika. Steven kembali membangun jarak profesional di antara mereka. Dia beralih menatap krunya di sudut ruangan.
"Kita mulai lagi. Ambil gambar dari bahu." Suara Steven kembali menuntut. Datar dan tanpa emosi.
Lampu sorot menyala. Cahaya menyilaukan menembak wajah Shanaya.
Steven berdiri di balik lensa kamera utama. "Bagaimana perasaanmu saat melihat sketsa mentahmu dipakai orang lain di atas panggung besar?"
Pertanyaan itu tertulis rapi di naskah.
Shanaya menatap lurus ke dalam lensa. Wajahnya memancarkan ketegaran seorang pemimpin yang menolak tunduk pada pengkhianatan.
"Kecewa. Kesuma Fashion dibangun dengan keringat banyak penjahit lokal. Mengklaim kerja keras mereka secara instan demi sebuah panggung murahan adalah penghinaan bagi rumah mode ini."
Jawaban yang cemerlang. Shanaya tidak menyerang Anastasia secara langsung. Ia mengunci simpati publik dengan membawa nama penjahit lokal sebagai tameng. Ia mencetak poin sempurna di depan puluhan lensa.
Namun Steven tidak puas.
Pria itu menurunkan tangannya dari badan kamera. Kru di sekitarnya saling melempar tatapan bingung.
Steven menekan tombol daya. Bunyi klik mekanis memotong dengung mesin di ruangan itu. Lampu indikator merah pada lensa padam.
Ia melangkah melewati tripod dan gulungan kabel tebal di lantai. Pria itu berhenti tepat di hadapan Shanaya, menutup jarak di antara mereka sekali lagi.
"Anastasia mencuri desainmu. Alvian meninggalkanmu di depan publik. Seluruh negeri menyeret namamu selama berbulan-bulan."
Steven menatap Shanaya lekat.
"Jadi kenapa kamu tidak pernah kelihatan marah?"