"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."
Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.
Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.
Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.
apakah sang penguasa akan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Semburat cahaya keperakan dari sisa-sisa embun semalam masih membasahi helai-helai daun sawi di kebun Zhou Ji Ran. Di bawah naungan Pohon Memori yang kini batangnya semakin kokoh dan memancarkan pendaran cahaya lembut, Desa Jinan mulai menggeliat dalam aktivitas pagi yang tidak biasa. Jika biasanya desa-desa di perbatasan hanya dipenuhi suara cangkul yang menghantam tanah atau teriakan petani yang menghalau burung, di sini, suara yang terdengar adalah dengungan energi yang sangat stabil dari Telaga Teratai dan gesekan kain sutra dari para pekerja yang dulunya adalah penguasa langit.
Qian Fugui, sang mantan Inspektur Pajak dari Serikat Pedagang Seribu Dunia, terlihat sedang berjongkok di samping gerobak kayunya. Wajahnya yang bulat kini tampak sedikit lebih tirus, dan kumisnya yang dulu dirawat dengan minyak wangi mahal kini sedikit berdebu. Ia sedang sibuk menata karung-karung berisi surplus Padi Surgawi. Tangannya yang biasa memegang segel emas untuk menyita aset-aset planet kini harus belajar cara mengikat simpul tali rami agar karung-karungnya tidak terjatuh saat melewati jalanan berbatu.
"Tuan Fugui, jangan terlalu kencang menarik talinya. Padi ini memiliki 'napas', jika kau menekannya terlalu kuat, esensi spiritualnya akan sedikit memudar dan rasanya tidak akan sepulen biasanya," tegur Lu Han yang berdiri di sampingnya dengan papan kayu inventaris. Lu Han kini sudah sangat mahir melakukan perhitungan manual tanpa bantuan layar transparan yang dulu selalu menghantuinya.
Qian Fugui menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju kuning cerahnya. "Aku mengerti, Lu Han. Hanya saja, aku masih tidak habis pikir. Kita mengirimkan hasil bumi yang harganya bisa membeli sepuluh kota besar ini ke desa-desa miskin di kaki gunung secara cuma-cuma? Ini benar-benar melanggar semua logika perdagangan yang aku pelajari selama lima ratus tahun terakhir."
Lu Han terkekeh, ia menepuk bahu Fugui dengan akrab. "Di tempat ini, logika yang berlaku adalah logika Tuan Zhou. Dan menurutnya, perut yang kenyang adalah investasi terbaik untuk kedamaian. Lagipula, jika kita menimbun terlalu banyak di gudang, energi emasnya akan terlalu terang dan menarik lebih banyak lalat pengganggu dari langit. Bukankah lebih baik kita bagikan?"
Di teras kedai teh, Zhou Ji Ran sedang bersandar di kursi goyangnya, menikmati uap pertama dari teh melati paginya. Ia memperhatikan interaksi antara kedua asisten logistik barunya itu dengan senyum tipis. Baginya, melihat seorang inspektur pajak yang rakus belajar tentang konsep berbagi adalah hiburan yang jauh lebih menarik daripada menonton pertarungan antar dewa di galaksi jauh.
"Ye Hua, apakah kau sudah memberikan jatah air teratai salju untuk Ao Kun pagi ini? Aku merasa dia sedikit malas memutar air telaga hari ini," tanya Zhou Ji Ran tanpa membuka mata, merasakan hembusan angin pagi yang membawa aroma segar dari hutan bambu.
Ye Hua, yang sedang menata cangkir-cangkir keramik di atas meja kayu, mengangguk pelan. "Sudah, Tuan. Namun Ao Kun mengeluh bahwa sisik di bagian punggungnya sedikit gatal karena ada penumpukan energi es dari bantuan Bai Ling kemarin. Saya menyarankan dia untuk berjemur sedikit di atas batu besar saat matahari tepat di atas kepala nanti."
"Naga yang manja," gumam Zhou Ji Ran. "Beritahu dia, jika dia tidak mau bekerja, aku akan memintanya untuk menjadi penarik gerobak cadangan bagi Qian Fugui. Aku yakin Fugui akan sangat senang memiliki naga laut sebagai tenaga pengangkut logistiknya."
Tiba-tiba, kedamaian pagi itu terganggu oleh sebuah getaran frekuensi rendah yang tidak terdengar oleh telinga manusia biasa, namun terasa seperti dentuman godam di dalam meridian para ahli kultivasi yang ada di sana. Langit di atas Desa Jinan yang tadinya jernih biru seketika berubah warna menjadi kuning kusam, seperti warna kertas tua yang lapuk. Angin berhenti bertiup, dan serangga-serangga yang tadinya berisik di kebun sawi seketika diam membatu.
Dari kejauhan, di ujung jalan setapak masuk desa, terlihat sesosok pria berjalan dengan sangat tenang. Pria itu mengenakan jubah hitam legam yang memiliki tekstur seperti kulit ular purba. Di punggungnya, ia membawa sebuah peti mati kecil yang terbuat dari emas murni yang diukir dengan angka-angka yang terus bergerak dan berubah setiap detik. Di tangannya, ia memegang sebuah sempoa yang biji-bijinya terbuat dari tengkorak bayi naga yang dikeraskan.
Setiap kali pria itu melangkah, tanah yang diinjaknya seketika berubah menjadi logam dingin yang tidak memiliki kehidupan. Namanya adalah Wu Tie, yang dikenal di seluruh multisemesta sebagai "Penagih Hutang Abadi". Ia bukan berasal dari sekte atau kerajaan manapun; ia adalah manifestasi dari hukum "Hutang dan Piutang" yang diciptakan oleh Serikat Pedagang Seribu Dunia untuk menangani kasus-kasus di mana aset yang hilang tidak bisa dikembalikan dengan cara diplomasi.
Wu Tie berhenti tepat di depan gerbang Desa Jinan. Matanya yang berwarna kuning seperti koin emas menatap ke arah kerumunan pekerja yang sedang membeku ketakutan. Tatapannya kemudian beralih ke arah Qian Fugui yang kini gemetar hebat hingga menjatuhkan tali raminya.
"Qian Fugui. Pelanggar Kontrak Tingkat Satu," suara Wu Tie terdengar seperti suara koin-koin yang berjatuhan di atas lantai marmer, dingin dan penuh dengan otoritas finansial yang tak terelakkan. "Kau telah menghilangkan aset serikat berupa satu unit kereta gaharu emas, empat burung merak pelangi, dan yang paling penting, kau telah menghilangkan dirimu sendiri dari sistem pelaporan. Total hutangmu saat ini, ditambah bunga keterlambatan dan biaya penjemputan paksa, adalah sepuluh ribu tahun esensi jiwa."
Qian Fugui mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Wu... Wu Tie... Aku tidak menghilangkan diriku! Aku hanya... aku sedang menjalani program rehabilitasi!"
Wu Tie tidak memedulikan alasan tersebut. Ia menggerakkan biji sempoanya dengan suara *klik* yang tajam. Seketika, sebuah rantai yang terbuat dari simbol-simbol angka emas keluar dari peti mati di punggungnya, meluncur ke arah Qian Fugui dengan kecepatan yang melampaui cahaya.
Namun, sebelum rantai angka itu menyentuh ujung baju Qian Fugui, sebuah tutup teko keramik tua melayang dari arah teras kedai teh. Tutup teko itu berputar di udara dengan sangat santai, namun saat bersentuhan dengan rantai emas tersebut, terjadi ledakan energi statis yang luar biasa. Rantai emas yang seharusnya bisa mengikat jiwa seorang ahli Nirvana itu seketika hancur berkeping-keping menjadi debu logam yang tidak berharga.
Tutup teko itu kembali ke tangan Zhou Ji Ran secara otomatis seolah-olah ditarik oleh benang tak terlihat. Zhou Ji Ran kini sudah berdiri di tepi teras, menatap Wu Tie dengan pandangan yang dipenuhi rasa bosan yang mendalam.
"Dengar, Tuan Akuntan," ucap Zhou Ji Ran sambil menguap. "Fugui sekarang adalah karyawanku. Di desaku, kami tidak mengenal konsep bunga keterlambatan atau esensi jiwa. Jika kau ingin menagih hutang, kau harus menunjukkan rincian pengeluaran yang masuk akal. Dan omong-omong, kau baru saja merusak jalan setapakku dengan energi logammu yang berkarat itu. Itu adalah kerusakan fasilitas umum yang dendanya cukup besar."
Wu Tie menatap Zhou Ji Ran, sempoanya berhenti bergerak sejenak. Ia mencoba memindai tingkat kekuatan Zhou Ji Ran menggunakan Mata Finansial-nya, namun yang ia lihat hanyalah angka nol yang sangat besar. Bukan karena Zhou Ji Ran tidak memiliki kekuatan, melainkan karena keberadaan Zhou Ji Ran tidak terdaftar dalam "Neraca Nilai" multisemesta.
"Anomali Terdeteksi," gumam Wu Tie. "Individu yang tidak terukur. Berdasarkan Pasal Keamanan Aset, segala sesuatu yang tidak terukur harus disita untuk diteliti. Kau... dan desa ini... sekarang adalah milik Serikat Pedagang Seribu Dunia sebagai jaminan atas kerugian yang kami alami."
Wu Tie mengangkat sempoanya tinggi-tinggi. "Formasi Penyitaan Aset: Likuidasi Total!"
Peti mati di punggung Wu Tie terbuka lebar, mengeluarkan ribuan dokumen perak yang melayang di udara, membentuk sebuah kubah raksasa yang menutupi seluruh Desa Jinan. Setiap dokumen itu berisi kontrak-kontrak kuno yang memiliki kekuatan hukum dimensi untuk menyerap energi kehidupan apa pun yang berada di bawahnya. Tanaman-tanaman sawi di kebun mulai sedikit merunduk, dan air di telaga mulai beriak gelisah.
Para penduduk desa dan para pekerja elit mulai panik. Mereka merasakan kekuatan mereka perlahan-lahan ditarik keluar oleh ribuan dokumen yang berputar di atas kepala mereka. Jenderal Han mencoba menghantam kubah tersebut dengan tinjunya, namun tangannya justru terserap oleh teks kontrak yang tertulis di sana.
Zhou Ji Ran menghela napas panjang, ia meletakkan teko tehnya di meja. "Kalian orang-orang kantoran benar-benar sangat menyukai kertas, ya? Padahal di sini kami sedang kekurangan bahan untuk menyalakan api tungku di dapur Chen Long."
Zhou Ji Ran mengambil sebuah sapu lidi yang tergeletak di pojok teras—sapu lidi yang sama yang ia gunakan untuk mengalahkan leluhur sekte sebelumnya. Namun kali ini, ia tidak mengayunkannya untuk memukul. Ia hanya mencelupkan ujung sapu lidi itu ke dalam sisa teh pahit di cangkirnya, lalu menyentilkan air teh tersebut ke arah kubah dokumen di langit.
Setiap tetes teh pahit yang mengenai dokumen perak itu seketika berubah menjadi noda tinta hitam yang besar. Secara ajaib, noda tinta itu menghapus seluruh tulisan kontrak di atas dokumen tersebut, mengubahnya menjadi kertas kosong yang tidak memiliki kekuatan apa pun.
*Sreeet... Sreeet... Sreeet...*
Ribuan dokumen perak itu kehilangan cahayanya dan jatuh dari langit seperti daun-daun kering yang berguguran di musim gugur. Kubah likuidasi itu hancur hanya dalam hitungan detik. Wu Tie terhuyung-belakang, sempoanya retak di bagian tengah, dan peti matinya mengeluarkan suara erangan mekanis yang menyakitkan.
"Hukum Kontrak... dibatalkan oleh tetesan teh?!" Wu Tie tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. "Siapa... siapa kau sebenarnya?!"
Zhou Ji Ran berjalan perlahan menuruni tangga teras, mendekati Wu Tie yang kini tampak sangat terguncang. "Aku adalah orang yang paling benci ditagih saat sedang menikmati waktu istirahat. Dengar, Wu Tie. Serikatmu itu berhutang padaku karena telah mengirimkan lalat-lalat berisik ke tempatku setiap minggu. Tapi aku adalah orang yang murah hati."
Zhou Ji Ran menjentikkan jarinya ke arah sempoa Wu Tie. Seketika, biji-biji tengkorak naga di sempoa itu berubah menjadi biji-biji kopi hitam yang harum. Jubah kulit ular purbanya berubah menjadi seragam baris depan restoran yang bertuliskan "Kasir Utama".
"Kau punya bakat dalam menghitung dan mengelola angka. Chen Long baru saja mengeluh bahwa dia kesulitan mengelola pesanan yang semakin membludak sejak Kedai Teh Kedamaian dibuka. Kau akan menjadi kasir dan akuntan di restorannya. Tugasmu adalah memastikan tidak ada satu butir pun Padi Surgawi yang keluar tanpa pencatatan yang benar. Dan ingat, jika kau mencoba menggunakan bunga keterlambatan pada pelanggan desaku, aku akan memintamu untuk mencuci seluruh piring kotor menggunakan lidahmu," perintah Zhou Ji Ran dengan nada yang sangat santai namun mutlak.
Wu Tie merasa seluruh hukum finansial yang ia pelajari selama hidupnya menguap begitu saja. Di depan Zhou Ji Ran, ia merasa seperti seorang anak kecil yang sedang diajari cara berhitung untuk pertama kalinya. Tanpa bisa melawan, ia membungkuk dalam-dalam. "Saya... saya akan melaksanakan tugas saya, Tuan Zhou."
Sore harinya, pemandangan di Restoran Chen Long menjadi sangat aneh namun efisien. Wu Tie duduk di balik meja kasir yang baru dibangun, jemarinya yang panjang bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal di atas sempoa kopi barunya. Setiap pelanggan yang datang dilayani dengan presisi yang mematikan, membuat aliran pendapatan dan pengeluaran restoran menjadi sangat rapi dalam hitungan jam.
Qian Fugui berdiri di pintu masuk, menatap rekan lamanya itu dengan tatapan tidak percaya. "Wu Tie... kau benar-benar menjadi kasir?"
Wu Tie tidak menoleh, matanya tetap fokus pada buku besar di depannya. "Fugui, diamlah dan lanjutkan tugas logistikmu. Ada keterlambatan pengiriman tiga menit di sektor barat. Itu adalah inefisiensi yang sangat memalukan bagi sistem Tuan Zhou."
Qian Fugui hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sementara Lu Han tertawa di sampingnya. "Sudah kubilang, Fugui. Tidak ada yang bisa lari dari program rehabilitasi Tuan Zhou."
Di teras kedai teh, Zhou Ji Ran sedang memperhatikan matahari yang mulai terbenam di balik bukit. Lin Xiaoqi dan Bai Ling sedang duduk di dekatnya, mendengarkan petikan kecapi Su Ruo yang kini nadanya terdengar sangat ceria. Ye Hua sesekali menuangkan teh baru, memastikan cangkir tuannya tidak pernah kosong.
"Tuan, apakah Serikat Pedagang itu akan mengirimkan pasukan yang lebih besar setelah ini?" tanya Bai Ling dengan sedikit nada khawatir.
"Mungkin," jawab Zhou Ji Ran pendek. "Tapi selama mereka mengirimkan orang-orang dengan bakat fungsional seperti akuntan, kurir, atau manajer, aku tidak keberatan. Desaku masih butuh banyak tenaga ahli untuk berkembang menjadi pusat pariwisata lintas dimensi."
Su Ruo tertawa kecil, jemarinya masih menari di atas senar kecapi. "Tuan benar-benar menjadikan musuh sebagai aset pembangunan. Saya rasa, suatu hari nanti seluruh pimpinan Serikat itu akan berakhir menjadi pelayan di sini."
"Itu adalah rencana jangka panjang yang bagus, Ruo," sahut Zhou Ji Ran sambil tersenyum jenaka.
Namun, di kedalaman dimensi hampa, di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh bayangan-bayangan gelap dari para "Pencetus Sistem", suasana menjadi sangat tegang. Mereka telah melihat bagaimana Wu Tie dan kekuatan Likuidasi Total-nya dihancurkan dengan setetes teh pahit. Bagi mereka, ini bukan lagi soal kerugian komersial, melainkan ancaman terhadap eksistensi sistem yang mereka gunakan untuk mengontrol seluruh multisemesta.
"Subjek itu telah melampaui parameter 'Mantan Pemain'," suara salah satu bayangan terdengar sangat purba dan bergetar. "Dia telah menciptakan 'Domain Nol' di mana hukum kita tidak berlaku. Kita tidak bisa lagi mengirimkan utusan tingkat rendah. Kita harus mengaktifkan Protokol 'Penghapusan Akar'."
"Maksudmu... kau ingin mengirimkan 'Sang Pemangkas'?" suara bayangan lain menimpali dengan nada ketakutan.
"Ya. Satu-satunya cara untuk menghentikan pertumbuhan yang liar adalah dengan memangkas akarnya hingga ke dasar realitas."
Di Desa Jinan, malam pun turun dengan tenang. Lampu-lampu lampion mulai menyala, memberikan pendaran cahaya kuning yang hangat di sepanjang telaga. Zhou Ji Ran berdiri di bawah Pohon Memori, ia merasakan adanya getaran yang sangat halus di dalam tanah, sesuatu yang sedang merangkak dari dasar realitas yang paling dalam.
Ia menghela napas panjang, mengusap batang pohon yang dingin tersebut. "Sepertinya besok pagi aku harus mengasah cangkulku sedikit lebih tajam. Hama yang akan datang ini tampaknya bukan lagi ulat daun, melainkan rayap yang mencoba memakan akar."
Ia berbalik dan melihat teman-temannya yang sedang tertawa di restoran Chen Long. Ada rasa hangat yang mengalir di dadanya—rasa yang tidak pernah ia dapatkan saat ia masih memiliki sistem dan poin-poin misi yang dingin. Rasa inilah yang ia pertaruhkan dengan seluruh keberadaannya.
"Tuan Zhou! Chen Long membuat sup ikan pedas spesial untuk merayakan bergabungnya Wu Tie! Mari segera ke sana sebelum Jenderal Han menghabiskannya!" teriak Lin Xiaoqi dari ambang pintu restoran.
"Aku datang!" jawab Zhou Ji Ran dengan langkah ringan.
Malam itu, di sebuah desa kecil yang tidak terdaftar di peta mana pun, tawa dan aroma makanan lezat menjadi satu-satunya hukum yang berlaku. Sang mantan pemilik sistem telah membuktikan bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam penaklukan dunia, melainkan dalam kemampuan untuk merawat satu komunitas kecil dengan tulus. Dan selama api di dapur Chen Long masih menyala, dan sawi-sawinya masih tumbuh hijau, Zhou Ji Ran akan tetap menjadi penjaga yang tidak akan pernah bisa ditaklukkan oleh sistem mana pun di seluruh penciptaan.
Segalanya berjalan dengan lambat, indah, dan penuh makna. Sebuah perjalanan menuju kedamaian abadi yang hanya bisa dibangun dengan tangan-tangan yang berani kotor oleh tanah. Dan bagi Zhou Ji Ran, itulah satu-satunya cara hidup yang layak ia jalani.
Pagi akan segera datang membawa tantangan baru, namun malam ini, ia hanya ingin menikmati sup ikan pedasnya bersama orang-orang yang ia sayangi. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa. Tanpa instruksi apa pun, ia telah menemukan rumah yang paling indah di seluruh multisemesta. Dan ia akan memastikan tidak ada "Pemangkas" mana pun yang bisa menyentuh sehelai daun pun di surga kecilnya ini.
Di bawah sinar rembulan, Desa Jinan tertidur dengan lelap, siap untuk menghadapi fajar yang akan membawa keajaiban dan tantangan berikutnya. Perjalanan sang petani legenda masih sangat jauh dari kata berakhir, dan setiap langkahnya adalah bukti bahwa hidup adalah hadiah yang paling berharga, asalkan kita tahu cara menghargainya.
"Selamat tidur, dunia yang berisik. Sampai jumpa besok pagi," bisik Zhou Ji Ran sebelum ia masuk ke dalam keriuhan restoran yang hangat.
Dan malam pun memeluk desa itu dengan kehangatan yang penuh dengan rahasia indah yang menanti untuk terungkap di hari esok. Segalanya telah tertata dengan sempurna di bawah bimbingan sang penguasa sejati yang hanya ingin menjadi manusia biasa yang bahagia. Tanpa harus melihat ke belakang, ia melangkah menuju masa depan yang ia ciptakan sendiri, satu benih pada satu waktu._