Haikal yang sebelumnya impotent tiba-tiba menjadi pria normal saat bertemu Laura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Call Me Nunna_Re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Sementara di kamar lain, Laura masih memeluk lututnya, tidak tahu bahwa fotonya sedang dipakai sebagai senjata, dan bahwa seorang pria yang seharusnya menjadi batas. aman—justru kini berdiri di tengah badai perasaannya sendiri.
Setelah memastikan seluruh rumah benar-benar sunyi, Haikal melangkah keluar dari kamarnya. Jam dinding menunjukkan lewat tengah malam. Lampu-lampu sebagian telah dipadamkan, hanya menyisakan cahaya temaram dari koridor.
Ratna sudah terlelap.
Haikal berdiri di depan kamar Laura cukup lama sebelum akhirnya mengetuk pelan.
Satu ketukan.
Lalu satu lagi.
Tidak ada jawaban.
“Laura,” panggilnya rendah. “Ini saya.”
Pintu itu terbuka perlahan. Laura berdiri di sana dengan wajah pucat, rambutnya tergerai, mata sembap seperti baru saja menangis. Ia terkejut melihat Haikal berdiri di depan kamarnya di jam seperti ini.
“Tuan…” suaranya nyaris tak terdengar.
“Masuk ke kamar saya,” ujar Haikal tenang. “Kita bicara.”
Laura menelan ludah. Jantungnya berdegup tidak karuan, namun ia tetap mengangguk dan mengikuti Haikal dengan langkah ragu.
Di kamar Haikal, suasana terasa asing bagi Laura. Rapi, dingin, dan beraroma maskulin. Haikal menutup pintu, lalu berdiri menghadap Laura tanpa duduk. Jarak mereka cukup dekat, cukup untuk membuat Laura gugup.
“Sagita tidak pulang lagi malam ini,” kata Haikal singkat. “Jadi kita tidak akan diganggu.”
Laura menunduk.
“Ratna memperlihatkan foto-foto itu padaku,” lanjut Haikal, suaranya datar namun tegas. “Aku ingin dengar langsung darimu. Siapa pria itu?”
Laura terdiam lama. Tangannya saling menggenggam, jemarinya gemetar. Ada ketakutan lama yang kembali mencengkeram dadanya takut tidak dipercaya, takut disalahkan.
“Dia…” suara Laura bergetar. “Dia mantan kekasih saya, Tuan.”
Haikal tidak menyela.
“Kami bersama hampir empat tahun,” lanjut Laura lirih. “Saya pikir dia akan menjadi masa depan saya. Tapi ternyata…” napasnya tercekat. “Dia berselingkuh dengan sahabat saya sendiri. Dan saya melihat semuanya.”
Laura mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, namun tidak ada kepura-puraan di sana hanya kejujuran yang telanjang.
“Itu sebabnya saya menghilang,” katanya. “Saya tidak kuat. Saya pergi tanpa tujuan, tanpa uang, tanpa siapa pun. Malam itu saya benar-benar putus asa.”
Laura terdiam. Ingatan samar tentang malam hujan itu kembali muncul ketika dia terluka, duduk di pinggir jalan, basah, pucat, nyaris tidak bernyawa secara emosional.
“Waktu itu… asisten pribadi Tuan menemukan saya,” lanjut Laura. “Dia menawari pekerjaan. Saya tidak peduli apa pun selain bertahan hidup. Saya tidak punya tempat untuk pulang.”
Ruangan itu hening.
Laura menunduk lagi, seolah takut tatapan Haikal akan menghakiminya.
“Pria itu datang hari ini tanpa saya undang,” katanya cepat. “Saya tidak ingin bertemu dengannya. Saya jijik. Saya marah. Saya tidak punya perasaan apa pun lagi.”
Haikal menatap Laura lama.
Terlalu lama.
Ada sesuatu di dadanya yang perlahan mengendur, ketegangan yang bahkan tidak ia sadari sejak kapan muncul. Ia tidak marah seperti yang ia bayangkan. Tidak kecewa. Tidak merasa dikhianati.
Yang ada justru… kelegaan.
“Kamu yakin?” tanya Haikal akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Tidak ada perasaan apa pun?”
Laura mengangguk tegas. “Tidak ada, Tuan. Yang tersisa hanya luka.”
Haikal menghembuskan napas panjang. Ia berpaling sejenak, mencoba memahami dirinya sendiri. Ia tidak mengerti kenapa kepastian itu membuat dadanya terasa lebih ringan.
Padahal seharusnya ia tidak peduli.
Padahal Laura hanyalah pembantu di rumah ini.
Namun kenyataannya berbeda.
“Kamu tidak salah,” ujar Haikal akhirnya. “Dan aku tidak akan memecatmu hanya karena masa lalu.”
Laura terkejut. Matanya membesar. “Tuan…?”
“Ratna terlalu jauh mencampuri urusan yang bukan haknya,” lanjut Haikal. “Aku akan mengurus itu.”
Laura menggigit bibirnya, air mata kembali menggenang. “Terima kasih… karena mau mendengarkan saya.”
Haikal menatapnya lagi, kali ini lebih lembut. “Mulai sekarang, jika ada siapa pun dari masa lalumu yang mengganggumu, katakan padaku.”
Ucapan itu meluncur begitu saja—refleks, tanpa perhitungan.
Laura terdiam. “Tuan… kenapa?”
Haikal tidak menjawab. Ia sendiri tidak tahu alasannya.
“Kau boleh kembali ke kamarmu,” katanya akhirnya. “Istirahatlah.”
Laura mengangguk dan melangkah pergi. Sebelum keluar, ia sempat menoleh, menatap Haikal dengan ekspresi campur aduk—syukur, bingung, dan rasa aman yang perlahan tumbuh.
Setelah pintu tertutup, Haikal berdiri sendirian di kamarnya.
Ia menyadari satu hal yang tidak bisa ia sangkal lagi.
Ia merasa lega…
karena Laura tidak mencintai pria lain.
Dan kesadaran itu membuat Haikal terdiam lama, menyadari bahwa batas yang selama ini ia jaga—telah mulai retak tanpa ia sadari.