Satria adalah cowok SMA yang memiliki "berkah" sekaligus kutukan: ia bisa melihat makhluk halus. Sialnya, Satria tidak seperti tokoh indigo di film-film yang terlihat misterius dan keren. Satria adalah seorang Indigo Semprul. Bukannya mengusir setan dengan doa yang khusyuk, ia lebih sering bernegosiasi dengan kuntilanak menggunakan voucher kuota atau menawar pocong agar tidak melompat di depannya karena ia punya penyakit jantung ringan.
Pindah ke SMA Wijaya Kusuma—sekolah tua peninggalan Belanda yang kabarnya sangat angker—Satria berharap bisa hidup normal. Namun, harapannya pupus saat ia bertemu Arini, gadis manis ketua OSIS yang ternyata adalah cinta pertamanya saat SD.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satria Terjebak di Dimensi Lain
Setelah kedamaian yang baru saja dirasakan Arini dengan kenangan masa kecilnya, SMA Wijaya Kusuma seharusnya menjadi tempat paling tenang di dunia. Namun, keseimbangan antara dunia nyata dan ghaib ibarat sebuah neraca yang sangat sensitif. Ketika satu sisi mendapatkan cahaya yang terlalu terang, sisi gelap akan mencari celah untuk menarik kembali keseimbangan itu ke arahnya.
Kejadian ini bermula pada Selasa sore yang mendung. Satria sedang berjalan melewati lorong menuju gudang belakang untuk mengembalikan kunci Lab Biologi. Tanpa peringatan, suhu udara turun drastis hingga napas Satria mengeluarkan uap putih. Suasana sekolah mendadak sunyi—bukan sunyi biasa, melainkan sunyi yang tuli, di mana suara gesekan daun pun tidak terdengar.
"Meneer? Ucok? Mbak Suryani?" Satria memanggil, namun suaranya tidak bergema. Ia merasa seolah-olah sedang berbicara di dalam ruang kedap suara yang sangat luas.
Tiba-tiba, lantai koridor yang ia injak terasa melunak seperti lumpur hisap. Satria mencoba berlari, namun bayangan hitam yang panjang dan pekat merambat dari dinding, menjerat pergelangan kakinya. Sebelum ia sempat berteriak, dunia di sekelilingnya berputar hebat. Cahaya matahari sore yang oranye tertelan oleh kegelapan total, dan Satria merasa dirinya jatuh ke dalam sebuah lubang tanpa dasar.
Ketika Satria akhirnya mendarat, ia tidak merasakan kerasnya lantai semen. Ia jatuh di atas tanah yang berwarna abu-abu pucat seperti abu rokok. Ia berdiri dan terbelalak melihat sekelilingnya.
Ia masih berada di SMA Wijaya Kusuma, namun ini bukan sekolah yang ia kenal. Bangunannya tampak seperti pantulan di cermin yang retak. Dinding-dinding kelas terlihat transparan dan bergetar seperti jeli. Langit di atasnya tidak berwarna biru atau hitam, melainkan berwarna ungu pekat dengan awan-awan yang bergerak melawan arah angin.
"Gue... gue di mana?" Satria bergumam. Ia melihat jam tangannya, namun jarum jamnya berputar berlawanan arah dengan kecepatan tinggi.
Ini adalah Dimensi Antara, sebuah ruang hampa yang tercipta dari residu energi negatif yang ditinggalkan oleh Intel Ghaib saat mereka hancur. Rupanya, ledakan cahaya dari liontin Arini kemarin menciptakan robekan dimensi kecil, dan Satria yang memiliki energi indigo paling kuat secara tidak sengaja tersedot masuk ke dalamnya.
Di tengah lapangan yang kini berupa hamparan abu, berdiri sesosok makhluk yang belum pernah Satria lihat sebelumnya. Tingginya hampir tiga meter, mengenakan jubah yang terbuat dari jaring laba-laba ghaib, dan wajahnya hanya berupa satu mata besar yang bercahaya biru redup.
“Satria... sang penyeimbang dua dunia... Kau telah melangkah terlalu jauh ke dalam wilayah yang bukan milikmu,” suara makhluk itu bergema langsung di dalam kepala Satria.
"Gue nggak sengaja ke sini! Gue mau balik!" teriak Satria sambil merogoh tasnya, mencari garam atau botol air suci, tapi tasnya kosong. Di dimensi ini, benda-benda fisik tidak memiliki kekuatan.
“Untuk kembali, kau harus menemukan 'Titik Jangkar' milikmu. Sesuatu yang menghubungkan sukmamu dengan dunia nyata. Jika kau gagal menemukannya sebelum jam ghaib itu berputar penuh, kau akan menjadi bagian dari abu di sini selamanya.”
Makhluk itu menghilang, meninggalkan Satria sendirian di tengah sekolah hantu yang sunyi senyap.
Sementara itu, di dunia nyata, Arini mulai panik. Ia sudah menunggu Satria di gerbang depan selama satu jam, tapi Satria tidak kunjung muncul. Ia mencoba menelepon, tapi ponsel Satria berada di luar jangkauan.
"Ucok! Lo lihat Satria nggak?" tanya Arini pada tuyul kecil yang sedang duduk melamun di atas pagar.
“Nggak lihat, Noni! Tapi bau Satria mendadak hilang di koridor sayap barat. Kayak... kayak disiram parfum penghilang nyawa!” jawab Ucok dengan wajah cemas.
Arini segera berlari menuju koridor tersebut. Ia menemukan kunci Lab Biologi tergeletak di lantai, namun Satria tidak ada di sana. Di tempat kunci itu jatuh, terdapat sebuah lubang hitam kecil yang bergetar di udara, hanya terlihat oleh mereka yang memiliki sensitivitas ghaib.
"Dia terjebak," bisik Arini. Ia teringat kata-kata kakeknya tentang dimensi bayangan. "Ucok, panggil semua hantu! Kita harus bantu Satria menemukan jalan pulang sebelum gerbang ini tertutup!"
Di Dimensi Antara, Satria mulai mengalami halusinasi. Dinding sekolah berubah menjadi layar yang menampilkan kegagalan-kegagalan masa lalunya. Ia melihat dirinya saat masih kecil, menangis karena ditertawakan teman-temannya karena bicara sendiri. Ia melihat saat ia hampir menyerah pada kemampuannya.
"Ini nggak nyata! Ini cuma tipuan dimensi!" Satria mencoba menutup matanya.
Tiba-tiba, muncul sosok Reza, si kapten basket, yang berjalan ke arahnya dengan tatapan meremehkan. "Lo emang nggak pantas buat Arini, Sat. Lo cuma beban buat dia. Lihat, gara-gara lo, dia hampir celaka terus."
"Diem lo!" Satria mencoba memukul, namun tangannya menembus tubuh Reza seperti asap.
Lalu muncul lagi sosok kakek Arini yang menyeramkan, mencoba menarik Satria ke dalam lantai. Satria mulai merasa lemas. Energi di dimensi ini secara perlahan menyedot semangat hidupnya. Ia mulai merasa mengantuk, dan debu abu-abu mulai menutupi kakinya, perlahan mengubahnya menjadi patung.
Tepat saat Satria hampir menyerah dan memejamkan matanya, ia mendengar suara sayup-sayup yang sangat familiar.
“Sat... Satria! Dengerin gue!”
Itu suara Arini. Suara itu tidak datang dari telinganya, melainkan dari liontin perak yang entah bagaimana bayangannya muncul di leher Satria.
“Satria, fokus ke bau seblak level gila yang kita makan kemarin! Fokus ke rasa kerupuk kulit yang lo kasih ke Ucok! Fokus ke gue, Sat!”
Satria tersentak. Ia membuka matanya. Bau melati yang khas dari Arini mulai menembus udara dimensi yang berbau busuk ini. Ia menyadari bahwa 'Titik Jangkar' miliknya bukanlah sebuah benda, melainkan ikatan emosionalnya dengan Arini.
Di dunia nyata, Mbak Suryani, Pocong Dudung, dan Suster Lastri berkumpul di koridor. Mereka mulai menyalurkan energi mereka ke arah lubang dimensi itu.
“Ayo, Semprul! Jangan mati dulu, utang kelereng kamu belum lunas!” teriak Ucok sambil melemparkan seluruh kelereng ghaibnya ke dalam lubang sebagai penunjuk jalan.
Meneer Van De Berg, meskipun sudah menipis energinya, muncul kembali sesaat untuk memberikan perintah. “Satria! Bayangkan koridor ini! Bayangkan langkah kakimu yang berat! Tarik dirimu keluar!”
Suster Lastri meniupkan aroma minyak kayu putih ghaib ke dalam lubang, memberikan stimulus penciuman yang kuat bagi Satria agar tetap terjaga.
Di Dimensi Antara, Satria melihat sebuah cahaya putih kecil yang berkedip-kedip di ujung koridor yang tak berujung. Itu adalah kelereng-kelereng ghaib Ucok yang bersinar seperti bintang penuntun.
"Gue nggak boleh mati di sini!" Satria bangkit dengan sisa tenaganya. Ia berlari sekuat tenaga.
Abu di lantai mencoba menahannya, bayangan-bayangan hitam mencoba memeluknya, namun Satria terus berlari. Ia membayangkan wajah Arini, tawa Budi, dan kegaduhan SMA Wijaya Kusuma yang meskipun horor tapi sangat ia cintai.
"ARINIIII!" teriak Satria saat ia melompat ke arah titik cahaya tersebut.
DUAAG!
Satria mendarat dengan keras di lantai koridor nyata. Cahaya matahari sore yang hangat kembali menyapa kulitnya. Ia terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat, dan seluruh seragamnya tertutup debu abu-abu yang aneh.
"SATRIA!" Arini langsung memeluknya erat-erat. "Jangan pernah hilang kayak gitu lagi! Gue beneran takut lo nggak balik!"
Satria tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa membalas pelukan Arini dengan tangan yang masih gemetar. Di sekeliling mereka, para hantu sekolah tampak lega. Ucok sibuk memunguti kelerengnya yang tercecer di lantai, sementara Suster Lastri langsung menyodorkan minyak kayu putih ke hidung Satria.
"Gue... gue balik, Rin," bisik Satria akhirnya. "Tadi di sana... rasanya lama banget."
"Cuma sepuluh menit di sini, Sat. Tapi energi lo hampir hilang sepenuhnya," Arini membantu Satria berdiri.
Setelah Satria mulai stabil, lubang dimensi di udara itu perlahan menutup. Sebelum benar-benar hilang, sebuah bisikan terdengar oleh Satria.
“Kau kembali hari ini, Satria. Tapi ketahuilah, gerbang itu kini sudah memiliki bekas lukamu. Suatu saat, kau harus memilih di dunia mana kau benar-benar ingin berada.”
Satria menatap koridor yang kini kembali normal. Ia menyadari bahwa kekuatannya sebagai Indigo bukan hanya sebuah bakat, tapi juga sebuah tanggung jawab yang berbahaya. Ia terjepit di antara dua dunia yang sama-sama membutuhkannya.
Malam itu, Satria dan Arini duduk di atap sekolah, menatap bintang-bintang. Tubuh Satria masih terasa sedikit dingin, namun kehangatan dari kehadiran Arini di sampingnya perlahan memulihkannya.
"Rin, makasih ya. Kalau bukan karena suara lo, gue mungkin sudah jadi patung abu di sana," kata Satria tulus.
Arini menoleh, menatap Satria dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya. "Gue bakal selalu teriak buat manggil lo balik, Sat. Sampai suara gue habis."
Ucok yang sedang duduk di ujung atap sambil menghitung kelerengnya tiba-tiba berteriak, “Woi! Jangan pacaran terus! Itu ada kuntilanak baru di pohon kamboja sebelah, kayaknya dia butuh bimbingan konseling ghaib dari Satria!”
Satria dan Arini tertawa bersama. Dunia mungkin masih penuh dengan teror dan dimensi yang mengancam, namun selama mereka bersama, tidak ada kegelapan yang tidak bisa mereka lalui.
Bab hari ini ditutup dengan Satria yang akhirnya memahami bahwa kekuatannya adalah jembatan, dan jembatan itu harus dijaga agar tidak runtuh. Ia bukan lagi sekadar remaja yang bisa melihat hantu, melainkan pelindung perbatasan antara realitas dan misteri.