Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berguru Lagi
"Tapi kenapa Gusti Pangeran Mapanji Wijaya masih belum sadar, Resi? ", Rara Lembayung bersuara.
" Semua darah beku di tubuhnya sudah aku keluarkan. Tulang nya yang retak juga sudah diperbaiki dengan Kembang Dewantara. Saraf-saraf yang rusak juga sudah disusun ulang dengan ramuan khusus. Bahkan aku juga sudah menambahkan tingkat tenaga dalam nya hingga tingkat ketujuh.
Perkara kapan ia bisa siuman, itu tergantung kecepatan penyembuhan tubuh nya sendiri ", jawab Resi Sapu Jagat yang membuat Rara Lembayung, Rara Kuning dan Dewi Kembang Sore mengangguk paham.
Rampung diobati, Pangeran Mapanji Wijaya yang masih belum sadarkan diri di bawa ke balai tamu Padepokan Gunung Kemukus untuk memulihkan diri.
Tiga hari lamanya, Pangeran Mapanji Wijaya tak sadarkan diri. Setiap hari, Rara Lembayung yang ditugaskan oleh Resi Sapu Jagat untuk mengantarkan obat, selalu telaten menyuapi sang pangeran yang masih belum juga siuman. Subadra yang biasanya paling keras bila ada wanita lain yang mendekat, tak berani melarang. Dia dan Nararya Candrawulan bergantian menjaga sang pangeran.
Kokok ayam jantan bersahut-sahutan menjadi penanda bahwa pagi sudah tiba di kawasan sekitar Gunung Kemukus. Cahaya kuning keemasan sang mentari pagi hangat menyinari pucuk pucuk dedaunan yang masih berselimut embun pagi. Perlahan embun mulai berkumpul di ujung daun sebelum akhirnya jatuh ke bumi, memberi minum akar tumbuhan yang menjadi pembawa kesejukan bagi semua manusia.
Pagi itu, Rara Lembayung datang sambil membawa ramuan obat yang direbus sejak pagi buta tadi.
"Selamat pagi Gusti Pangeran..
Lihat aku datang membawa obat untuk mu", ucap Rara Lembayung sambil meletakkan mangkok dari tanah liat yang berisi cairan berwarna merah gelap dengan bau manis yang samar ke samping Pangeran Mapanji Wijaya yang baru saja dibersihkan badannya oleh Subadra.
Dengan hati-hati Rara Lembayung menyuapkan obat ke bibir sang pangeran Medang tapi mulut Pangeran Mapanji Wijaya yang membuka sama sekali tidak mau menelan nya. Obat itu mengalir keluar dari sudut mulutnya.
"Aneh... Tidak biasanya Gusti Pangeran tidak mau menelan obat ini. Apa yang salah dengan obat ini? ", Rara Lembayung menggumam lirih.
Dia langsung mencoba rasa obat racikan Resi Sapu Jagat itu dengan mencelupkan jari tangan nya dan menjilatnya perlahan-lahan.
" Tidak ada yang salah, rasa dan bau obat ini tetap sama dengan biasanya. Tapi kenapa Gusti Pangeran tidak mau menelannya? "
Rara Lembayung mengerutkan keningnya dan berpikir keras mencari cara agar obat ini masuk ke perut Pangeran Mapanji Wijaya. Tiba-tiba sebuah ide nakal terbersit di benak putri pimpinan Padepokan Gunung Kemukus ini.
Dengan sekali tuang, obat itu masuk ke mulut Raea Lembayung. Lalu dengan cepat ia mencium bibir Pangeran Mapanji Wijaya dan memasukkan cairan obat kedalam mulut sang pangeran.
Cleguukk cleguukk..!!
Habis sudah cairan obat di mulut Rara Lembayung ditelan Pangeran Mapanji Wijaya. Saat Rara Lembayung hendak melepaskan ciumannya, tiba-tiba tangan Pangeran Mapanji Wijaya memeluk pinggang ramping sang kembang Padepokan Gunung Kemukus.
Hal ini tentu saja membuat Rara Lembayung kaget setengah mati. Dia berusaha untuk menjauhkan diri dari Pangeran Mapanji Wijaya tapi rengkuhan sang pangeran tak bisa membuat nya lolos begitu saja.
Lidah Pangeran Mapanji Wijaya menelusup ke dalam mulut Rara Lembayung, membelit lidahnya dan menjelajahi setiap bagian mulut kembang Padepokan Gunung Kemukus itu, membuat perempuan yang baru pertama kali merasakan ciuman panas ini langsung gelagapan. Awalnya dia menolak tetapi lama-lama terhanyut juga dalam adegan panas ini. Terlebih lagi ketika tangan kiri Pangeran Mapanji Wijaya mulai bergerak meremas benda bulat di balik kemben hijau pupus nua, Rara Lembayung semakin blingsatan tidak karuan.
Uhhhhh uhhhhhh....
Melepaskan ciuman panas nya, bibir Pangeran Mapanji Wijaya merambat turun ke arah leher Rara Lembayung. Ini membuat sang putri dari Dewi Kembang Sore ini semakin kelojotan menghadapi tindakan luar sang pangeran. Apalagi setelah dua gigitan kecil pada leher Rara Lembayung meninggalkan dua bekas merah.
Saat kedua insan ini sedang terbuai dalam gairah membara, tiba-tiba...
"Apa yang sedang kalian lakukan?!! "
Teriakan keras Subadra seketika membuyarkan adegan panas antara Pangeran Mapanji Wijaya dan Rara Lembayung. Putri Dewi Kembang Sore ini segera menjauhkan diri dan merapikan pakaiannya yang berantakan sementara Pangeran Mapanji Wijaya mengusap bibirnya sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Kalian ini huhh...
Gusti Pangeran, sejak kapan kau sadar hah?! Bukankah tadi pagi kau masih belum siuman? ", tanya Subadra segera.
" Siapa bilang aku belum sadar tadi pagi?
Aku sudah sadar sejak tadi malam cuma badan ku masih lemah hingga terpaksa harus tidur lagi untuk memulihkan diri", jawab Pangeran Mapanji Wijaya dengan santainya.
'Jadi dia sudah sadar sejak tadi malam? Lantas tadi pagi waktu aku bermain pada benda itu, berarti dia juga sudah merasakannya?
Aduuuuh, malunya aku... ', batin Subadra.
"Kau.. kau... huh... ", Subadra kehabisan kata-kata.
" Aku juga tahu tadi pagi ada seseorang yang me.. Pepppffffffhhhh... ", Pangeran Mapanji Wijaya tak bisa meneruskan omongan nya setelah Subadra dengan cepat bergerak membekap mulutnya.
" Gusti Pangeran, aku mohon jangan bongkar aib ku...
Aku berjanji akan selalu patuh pada mu. Aku mohon tolonglah aku.. ", bisik Subadra sambil mengedip-ngedipkan matanya. Pangeran Mapanji Wijaya mengangguk paham dan Subadra segera melepaskan bekapan tangannya.
" Anggap saja aku tak melihat apa-apa..
Nisanak Rara Lembayung, sekarang keluarlah. Aku akan membantu Gusti Pangeran berganti pakaian. Nanti kita bicara lagi di luar "
Mendengar ucapan Subadra, tanpa menunggu lama, Rara Lembayung segera bergegas keluar dari bilik peristirahatan Pangeran Mapanji Wijaya.
Semua orang menyambut gembira kabar siuman nya Pangeran Mapanji Wijaya setelah pingsan 3 hari lamanya.
"Aku ucapkan terimakasih banyak atas kebaikan hati Resi Sapu Jagat dan Nini Dewi Kembang Sore. Tanpa bantuan dari kalian berdua, mungkin aku sudah mati karena pertarungan melawan Dua Iblis Berwajah Dewa kemarin.
Sebagai seorang pangeran, janji yang telah diucapkan oleh orang-orang ku saat aku pingsan kemarin akan tetap berlaku", ucap Pangeran Mapanji Wijaya di hadapan para petinggi Padepokan Gunung Kemukus, Resi Sapu Jagat dan para pengikutnya yang berkumpul bersama di aula utama Padepokan Gunung Kemukus.
"Sungguh Gusti Pangeran bijaksana..
Kalau boleh tahu, diantara Rara Kuning dan Rara Lembayung, Gusti Pangeran ingin siapa yang dijadikan sebagai selir ? ", tanya Nini Rowang, salah satu sesepuh Padepokan Gunung Kemukus.
" Tentu saja Rara Lembayung..
Bukan aku tidak menyukai Rara Kuning tetapi selama aku pingsan, dia yang setiap hari datang merawat ku. Jadi sudah sepantasnya kalau dia yang menjadi selir ku. Tetapi ada yang perlu aku ingatkan bahwa aku sebenarnya dalam perjalanan ke Kalingga untuk menikahi Putri Nararya Candrawulan. Aku baru bisa mengangkat Rara Lembayung sebagai selir setelah aku menikah dengan putri itu", tegas Pangeran Mapanji Wijaya.
"Perkara itu bukan masalah besar, Gusti Pangeran.
Kau bisa membawa Rara Lembayung dalam perjalanan mu ke Kalingga. Tapi setelah kau menyelesaikan pendidikan mu pada Resi Sapu Jagat", tukas Dewi Kembang Sore yang membuat Pangeran Mapanji Wijaya kaget.
HAAAAAHHHHHHHH....??!!
"Pendidikan? Maksudnya aku berguru lagi begitu? Sejak kapan aku punya guru baru? ", sergah Pangeran Mapanji Wijaya setengah tak percaya.
" Aku sudah memutuskan untuk menurunkan ilmu ku pada mu saat tahu kau memiliki Raga Bintang Api, Nakmas Pangeran...
Apa kau ingin menolak ku sebagai guru mu?! ", Resi Sapu Jagat mendelik ke arah Pangeran Mapanji Wijaya.
Tentu saja Pangeran Mapanji Wijaya langsung mengkeret nyalinya. Dia tahu ilmu kanuragan Resi Sapu Jagat sangat tinggi. Mencoba untuk menolaknya sama dengan cari perkara. Terlebih lagi ia sudah ditolong dari pintu kematian, menolak keinginan nya jelas tidak tahu terimakasih.
"Mana berani aku menolak keinginan Resi? Aku bersedia untuk menjadi murid Resi.. ", ujar Pangeran Mapanji Wijaya pasrah.
" Hahahahahaha... Bagus bagus, aku akhirnya bisa menurunkan ilmu yang selama ini bersama dengan ku... ", tawa bahagia terdengar dari mulut Resi Sapu Jagat sebelum ia kembali bicara,
" Mulai besok aku akan menggembleng mu dengan seluruh ilmu kanuragan yang aku miliki Nakmas Pangeran,
Agar kau menjadi ksatria nomor satu di Tanah Jawa.. "