NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Angin laut di Pelabuhan Istanbul malam itu berembus cukup kencang, membawa aroma garam dan gemuruh ombak yang menghantam dermaga.

Di bawah keremangan lampu jalan yang berpijar kuning, Aliya duduk memeluk lututnya di tepi beton pelabuhan yang dingin.

Di sampingnya, Emirhan—sang CEO yang biasanya selalu terlihat kaku dan berkuasa—kini duduk bersandar pada tiang besi dengan dasi yang sudah dilonggarkan.

Aliya perlahan mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Emirhan yang terasa hangat di tengah dinginnya malam.

Genggaman itu erat, namun bergetar, seolah sedang menyalurkan segala beban yang menghimpit dadanya.

Mereka berdua terdiam, menatap kerlip lampu kapal di kejauhan, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kegelapan itu, sebuah rahasia besar dari masa lalu orang tua mereka baru saja mulai merayap keluar.

Mereka tidak tahu bahwa Maria dan Onur pernah memiliki janji yang dihancurkan oleh garis keturunan yang sama yang kini mengikat mereka.

"Emir..." lirih Aliya, suaranya hampir tertelan oleh suara mesin kapal yang melintas.

Emirhan menoleh, menatap mata Aliya yang tampak berkaca-kaca.

"Ya, Sayang?"

Aliya menarik napas panjang, sebuah napas yang terasa sangat berat hingga bahunya sedikit terguncang.

Ia melepaskan genggaman tangannya perlahan, membuat Emirhan merasa ada sesuatu yang hilang secara tiba-tiba.

"Lupakan aku, Emir. Carilah wanita lain yang lebih pantas untukmu," ucap Aliya dengan nada yang datar, namun penuh dengan luka yang tersembunyi.

Emirhan mengerutkan kening, rahangnya mengeras.

"Apa yang kamu katakan? Setelah semua yang kita lalui, kamu memintaku pergi?"

"Dunia kita terlalu berbeda," lanjut Aliya sambil menunduk, tidak berani menatap sorot mata pria yang dicintainya itu.

"Ibu sangat membenci keluargamu tanpa alasan yang jelas, dan keluargamu, mereka memandangku seolah aku adalah debu yang menempel di sepatu mahal kalian. Aku tidak ingin menjadi alasan hancurnya hubunganmu dengan orang tuamu."

Aliya menelan ludah, dadanya terasa sesak saat ia harus mengucapkan kalimat yang paling menyakitkan dalam hidupnya.

"Carilah wanita yang setara, Emir. Wanita yang tidak akan membuat Ayahmu malu saat memperkenalkannya di depan media. Aku hanya gadis biasa dari rumah makan sederhana. Aku hanya akan menjadi noda bagi namamu."

Emirhan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru meraih kembali tangan Aliya, menggenggamnya jauh lebih erat dari sebelumnya, seolah sedang menegaskan bahwa ia tidak akan pernah membiarkan gadis itu menjauh.

"Kamu bilang kamu tidak tahu alasan ibumu membenci keluargaku?" tanya Emirhan dengan suara rendah dan berat.

"Begitu juga denganku. Aku tidak tahu apa yang terjadi antara Ayahku dan Ibumu di masa lalu. Tapi ada satu hal yang pasti, Aliya..."

Emirhan mendekatkan wajahnya, memaksa Aliya untuk menatap matanya yang berkilat penuh tekad.

"Aku bukan Ayahku. Aku tidak akan membiarkan status sosial mendikte kepada siapa aku harus memberikan hatiku. Jika kamu memintaku mencari wanita lain, maka kamu meminta hal yang mustahil. Karena bagiku, dunia ini hanya berisi kamu."

Aliya terisak, air matanya akhirnya jatuh membasahi punggung tangan Emirhan.

Di dermaga yang sunyi itu, mereka terjebak dalam cinta yang suci, namun berdiri di atas fondasi masa lalu yang sangat beracun—rahasia dua puluh tahun lalu yang siap meledak dan menghancurkan segalanya jika mereka melangkah sedikit lebih jauh lagi.

Angin malam di pelabuhan Istanbul semakin menusuk tulang, namun genggaman tangan Emirhan di jemari Aliya tak sedikit pun mengendur.

Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, tiba-tiba ponsel di saku jas Emirhan bergetar hebat.

Emirhan merogoh ponselnya. Nama "Ayah" berkedip di layar.

Ia menghela napas panjang sebelum menggeser ikon hijau.

"Ya, Ayah?" ucap Emirhan dengan nada datar.

"Emirhan," suara berat Onur terdengar di seberang telepon, namun kali ini nadanya tidak meledak-ledak seperti tadi siang. Ada ketegasan yang lebih tenang, namun tak terbantahkan.

"Bawa Aliya pulang ke rumah besar. Sekarang juga."

Emirhan mengerutkan kening, ia segera berdiri dari duduknya.

"Ayah, jangan menekannya lagi. Dia sudah cukup menderita hari ini. Aku akan membawanya ke apartemen pribadiku agar dia bisa tenang."

"Tidak," potong Onur cepat.

"Ayah sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar khusus untuk Aliya di sayap kanan mansion. Ayah tidak mau Aliya tinggal di apartemenmu, Emir."

Emirhan terdiam, mencoba mencerna perubahan sikap ayahnya yang mendadak.

"Ingat, kalian belum menikah," lanjut Onur dengan penekanan di setiap katanya.

"Ayah tidak akan membiarkan putraku merusak kehormatan seorang gadis di bawah atap yang sama tanpa ikatan resmi. Jika kamu benar-benar ingin melindunginya, bawa dia ke rumah ini. Di sini, dia akan berada di bawah pengawasanku langsung."

Emirhan melirik Aliya yang masih duduk termenung menatap laut.

Ada keraguan di hati Emirhan; membawa Aliya kembali ke mansion berarti menghadapkannya lagi pada tatapan sinis Zaenab dan Laura.

Namun, perkataan ayahnya tentang "kehormatan" dan "belum menikah" adalah tamparan moral yang cukup keras.

"Baik, Ayah. Kami akan ke sana," jawab Emirhan singkat sebelum menutup telepon.

Ia berlutut di depan Aliya, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya.

"Aliya, Ayah memintamu tinggal di rumah besar. Beliau sendiri yang menyiapkan kamarmu."

Aliya tersentak, matanya yang sembab membelalak.

"Tapi Emir... Ibu Zaenab dan Laura... aku takut."

Emirhan mengecup dahi Aliya dengan lembut, mencoba menyalurkan keberanian. "Ayah sudah menjamin keamananmu.

Beliau benar, jika kamu tinggal di apartemenku, orang-orang akan bicara buruk tentangmu. Ayah ingin menjagamu dengan cara yang terhormat."

Aliya hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan Onur Karadağ.

Apakah ini bentuk penerimaan, ataukah sebuah strategi untuk memisahkan mereka secara perlahan di bawah pengawasan ketat?

Mereka pun meninggalkan pelabuhan, membelah malam menuju mansion mewah yang kini terasa seperti benteng yang penuh misteri.

Di dalam mobil, Emirhan terus menggenggam tangan Aliya, tidak menyadari bahwa di balik jendela ruang kerjanya, Onur sedang menatap ke arah gerbang dengan pikiran yang berkecamuk.

Onur tahu, membiarkan Aliya tinggal di rumahnya adalah satu-satunya cara untuk memastikan apakah gadis itu benar-benar "darah dagingnya" yang hilang, atau sekadar pengingat akan dosa masa lalunya pada Maria.

Sesampainya di mansion, suasana terasa sangat formal.

Onur sudah menunggu di lobi utama. Zaenab berdiri di belakang suaminya dengan wajah yang kaku, sementara Laura tampak membuang muka.

"Bawa Aliya ke kamarnya, Emirhan. Biarkan dia istirahat," perintah Onur tanpa ekspresi berlebihan.

Saat Aliya berjalan melewati Onur, langkahnya sempat terhenti. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Ada sebuah getaran aneh yang dirasakan Aliya—bukan rasa takut, melainkan rasa rindu yang asing, seolah ia pernah mengenal sosok pria tegas ini jauh sebelum ia lahir ke dunia.

"Terima kasih, Tuan," bisik Aliya lirih.

Onur hanya mengangguk kecil. "Istirahatlah. Besok kita bicara lagi."

Malam itu, Aliya berbaring di atas ranjang sutra yang sangat empuk, namun matanya tak kunjung terpejam.

Di balik dinding mansion yang megah ini, rahasia dua puluh tahun lalu seolah sedang berbisik, bersiap untuk meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja ia cicipi bersama Emirhan.

Setelah memastikan Aliya merasa nyaman di kamar barunya, Emirhan melangkah menuju kamarnya sendiri dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.

Beban di pundaknya terasa sedikit terangkat meski ia tahu esok akan menjadi hari yang panjang.

Emirhan melepas kemejanya, menyisakan tubuh atletisnya yang terlihat tegang akibat stres seharian ini.

Seperti rutinitasnya sebelum tidur untuk menjernihkan pikiran, ia mulai melakukan olahraga ringan—beberapa set push-up dan sit-up.

Ia memasang headset dengan volume yang cukup keras, menenggelamkan dirinya dalam dentuman musik yang membantunya fokus.

Saking asyiknya dengan aktivitasnya, Emirhan sama sekali tidak mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka perlahan.

Ia juga tidak menyadari sosok Laura yang menyelinap masuk dengan tatapan mata yang terobsesi.

Tiba-tiba, Emirhan merasakan sepasang lengan melingkar erat di pinggangnya dari belakang.

Sentuhan itu membuatnya tersentak. Ia segera melepas headset-nya dan berbalik dengan gerakan kilat.

"Laura! Apa yang kamu lakukan di sini?!" bentak Emirhan, napasnya masih menderu karena sisa olahraga.

Wajah Laura tampak memerah, matanya mulai berkaca-kaca karena emosi yang meluap.

"Emir, aku mencintaimu. Aku sudah menunggumu bertahun-tahun!" ucapnya dengan suara gemetar, kembali mencoba mendekati Emirhan.

"Jangan lakukan ini, Emir. Jangan bawa gadis itu ke rumah ini. Tinggalkan Aliya! Dia tidak pantas untukmu!"

"Keluar, Laura! Kamu sudah gila!" Emirhan mencoba melepaskan cengkeraman tangan Laura.

Di saat yang bersamaan, di luar koridor, Aliya berjalan perlahan menuju kamar Emirhan.

Ia merasa tidak bisa tidur dan ingin menanyakan sesuatu pada pria itu.

Suara langkah kakinya terdengar mendekati pintu kayu besar kamar sang CEO.

"Emir, apa kamu sudah tidur?" suara lembut Aliya terdengar dari balik pintu, tepat saat tangannya memutar kenop pintu.

Mata Emirhan membelalak. Jika Aliya melihat Laura di kamarnya dalam keadaan seperti ini, segalanya akan hancur.

Dengan gerakan cepat dan panik, Emirhan mendorong tubuh Laura ke arah walk-in closet atau lemari besarnya yang terbuka.

"Diam di sana!" desis Emirhan dengan nada mengancam.

Ia membanting pintu lemari itu hingga tertutup rapat, tepat beberapa detik sebelum Aliya melangkah masuk ke dalam kamar.

Emirhan segera menyambar kaos oblong di atas tempat tidur dan memakainya dengan terburu-buru, mencoba mengatur napasnya agar terlihat senormal mungkin di depan Aliya yang kini berdiri di ambang pintu dengan wajah polos.

Emirhan berdiri mematung di tengah ruangan, berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap datar meski jantungnya berdegup kencang karena ketegangan yang baru saja terjadi.

"Ada apa, Aliya?" tanya Emirhan dengan suara yang sedikit parau, mencoba mengalihkan perhatian dari lemari besar di belakangnya.

Aliya melangkah masuk dengan ragu. "Aku tidak bisa tidur, Emir. Rasanya, rumah ini terlalu asing bagiku," jawab Aliya pelan.

Kemudian ia berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Emirhan, menatap lantai dengan tatapan kosong.

Namun, saat ia menunduk, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di atas karpet, tepat di dekat kakinya.

Sebuah anting-anting berlian dengan desain yang sangat feminin dan elegan—anting yang jelas bukan milik seorang pelayan, apalagi miliknya sendiri.

Jantung Aliya mencelos. Ia mengenali gaya perhiasan itu, namun ia memilih untuk tidak bersuara.

Dengan gerakan yang sangat halus dan cepat, ia memungut anting itu dan menyembunyikannya di dalam kepalan tangannya.

Ia tidak ingin bertanya, setidaknya tidak sekarang, karena ia tidak tahu anting siapa itu dan ia takut mendengar jawabannya.

"Aliya? Kamu baik-baik saja?" tanya Emirhan, menyadari keterdiaman gadis itu.

Aliya mendongak dan memaksakan sebuah senyuman tipis yang tidak sampai ke matanya.

"Aku, rasa aku kembali ke kamar saja. Mungkin aku hanya butuh udara segar dari jendela kamarku sendiri."

Emirhan merasa sedikit lega meski ia merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Aliya yang mendadak.

Ia melangkah mendekat, mengusap helai rambut Aliya, dan memberikan sebuah ciuman lembut di kening gadis itu.

"Istirahatlah. Besok pagi semua akan terasa lebih baik. Aku janji."

Aliya mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun. Ia bangkit dan berjalan keluar kamar dengan satu tangan tetap terkepal erat, menyembunyikan bukti bisu yang baru saja ia temukan.

Begitu pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki Aliya menjauh, rahang Emirhan mengeras.

Ia langsung berjalan menuju lemarinya dan menyentak pintunya hingga terbuka lebar.

"Keluar!" desis Emirhan dengan suara rendah yang penuh amarah.

Ia menarik lengan Laura dan mendorongnya dengan kasar agar segera keluar dari kamarnya.

"Jangan pernah berani masuk ke kamarku lagi seperti ini, Laura. Atau aku sendiri yang akan memintamu pergi dari rumah ini selamanya!"

Laura hanya bisa menatap Emirhan dengan penuh kebencian dan rasa malu, sementara di kamarnya sendiri, Aliya membuka kepalan tangannya dan menatap anting itu dengan air mata yang mulai menggenang.

Sebuah keraguan baru mulai tumbuh di hatinya, tepat di jantung rumah keluarga Karadağ.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!