Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Dipilih
Arena mulai tenang. Debu perlahan turun. Langit kembali terang, seolah badai tadi hanyalah ilusi.
Namun—ketegangan belum hilang.
Di tengah arena—Reyd masih tergeletak. Napasnya pelan. Tubuhnya belum sepenuhnya merespons.
Seyron berdiri di dekatnya.
Lalu—ia mengangkat pandangannya. Bukan ke raja. Bukan ke penonton. Namun—ke satu titik.
Di atas tribun.
Iselle.
Tatapan mereka bertemu. Hanya sesaat. Tanpa kata. Tanpa gerakan mencolok.
Namun—cukup.
Iselle mengerti. Matanya sedikit berubah.
“Baik.”
Bisiknya pelan.
Ia segera berbalik. Langkahnya cepat, namun tetap terkontrol. Turun dari tribun. Menuju arena.
Beberapa orang memperhatikannya. Namun tidak ada yang menghentikan. Statusnya sebagai tamu kerajaan—memberinya celah. Dan mungkin—karena tidak ada yang menyangka. Bahwa langkah itu memiliki tujuan lain.
Di tengah arena—Seyron melangkah menjauh. Memberi ruang. Seolah semua ini bukan lagi urusannya.
Namun matanya tetap mengamati sekitar. Dari sudut yang tidak terlihat.
Iselle akhirnya sampai. Ia berlutut di samping Reyd. Wajahnya berubah. Penuh kekhawatiran.
“Oh, Reyd.”
Suaranya pelan.
Tangannya terulur. Menyentuh bahu Reyd dengan hati-hati.
“Apakah kamu baik-baik saja?”
Nada suaranya—sempurna. Cukup tulus untuk dipercaya. Cukup halus untuk tidak mencurigakan.
Namun—Reyd tidak merespons. Matanya setengah terbuka. Namun pandangannya kosong.
“Reyd?”
Iselle mendekat sedikit. Seolah benar-benar khawatir. Namun di balik itu—matanya mengamati.
Di atas tribun—Lein melihat semuanya. Tangannya mengepal pelan.
“Siapa dia?”
Bisiknya lirih.
Vaks melirik.
“Putri dari Bervala.”
Felixa menambahkan.
“Jelas saja bukan orang biasa.”
Lein tidak menjawab. Tatapannya tetap pada Iselle. Yang berada terlalu dekat dengan Reyd. Sangat dekat.
Bukan sekadar curiga. Namun—cemburu.
Ia berdiri perlahan. Angin berhembus ringan di sekitarnya.
“Dia tidak punya alasan berada di sana.”
Nada suaranya tetap tenang. Namun—lebih dingin dari biasanya.
Di arena—Iselle masih di samping Reyd. Tangannya masih menyentuhnya. Namun kini—ia sedikit menunduk. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya.
“Maaf, ya…”
Bisiknya sangat pelan.
“Atau mungkin tidak.”
Ia mengangkat wajahnya kembali. Ekspresinya kembali tenang.
---
Langkah ringan terdengar dari tribun. Tidak tergesa. Namun pasti.
Lein turun ke arena. Tatapannya lurus ke depan. Menuju kekasihnya—Reyd.
Iselle menyadari itu. Namun tidak bergerak. Ia tetap berlutut di samping Reyd. Senyumnya masih ada. Seolah tidak ada yang berubah.
Namun—matanya sedikit menyipit.
Lein akhirnya sampai. Tanpa melihat Iselle—ia langsung berlutut di sisi lain Reyd.
“Reyd, bangun.”
Suaranya datar. Namun jelas.
Reyd sedikit menggerakkan kepalanya. Matanya yang setengah terbuka kini lebih fokus. Ia melihat Lein. Dan tanpa banyak kata—ia mengerti.
“Ya.”
Dengan sisa tenaga yang ada—Reyd mencoba bangkit. Lein langsung menopangnya. Gerakannya cepat, namun tidak kasar.
Iselle memperhatikan. Tangannya perlahan ditarik kembali. Memberi ruang. Namun tetap tersenyum.
“Syukurlah, kalau kamu tidak apa-apa.”
Ucapnya lembut.
Reyd tidak menjawab. Bukan karena sengaja—namun karena fokusnya sudah berpindah.
Beberapa langkah. Cukup untuk menciptakan jarak. Namun terasa jauh. Lebih dari sekadar ruang.
Iselle tetap di tempatnya. Masih berlutut. Sampai mereka benar-benar menjauh.
Baru kemudian—ia berdiri perlahan.
Debu masih bertebaran di sekitarnya. Namun ia tampak bersih. Senyumnya tetap terukir. Ramah. Anggun. Tidak ada yang aneh.
Namun—di balik itu—ada sesuatu yang berubah.
“Dasar pengganggu.”
Bisiknya sangat pelan.
Matanya mengikuti Reyd yang pergi bersama Lein. Tatapannya dingin. Bukan marah yang meledak—melainkan rasa kesal yang ditahan.
“Dia lebih cepat dari yang kupikirkan…”
Ia menutup matanya sejenak. Mengatur ulang pikirannya. Lalu membukanya kembali. Senyumnya kembali sempurna.
---
Di sisi lain arena—Lein membantu Reyd berjalan. Tanpa menoleh ke belakang. Namun ia tahu. Seseorang masih melihat mereka.
“Jauhi dia.”
Ucap Lein pelan.
Reyd mengernyit sedikit.
“Siapa? Aku tidak mengerti.”
Lein tidak langsung menjawab. Namun genggamannya sedikit menguat.
“Kamu tahu sendiri.”
Sunyi sejenak.
Reyd tidak membantah. Tidak juga setuju. Namun langkahnya tetap mengikuti Lein.
---
Di tengah arena—Iselle berdiri sendiri.
Angin berhembus pelan melewati rambutnya. Ia menatap kosong ke arah depan. Namun pikirannya jauh bergerak.
“Tidak masalah…”
Bisiknya.
Senyumnya perlahan kembali muncul. Lebih tipis. Namun lebih berbahaya.
“Lain kali… Pangeran Kedua akan berlutut padaku.”
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?