Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisi Gelap di Balik Keramahan Desa Kenanga
Malam semakin larut. Setelah makan malam yang penuh dinamika, si kembar akhirnya terlelap di kamar yang telah Azura siapkan. Kelelahan setelah seharian bermain dan mengaji membuat mereka tidur sangat nyenyak. Azura menatap wajah polos itu sejenak, mengingat janjinya untuk membawa mereka ke wisata air Desa Kenanga di hari Minggu besok.
Setelah suasana rumah benar-benar sunyi, Farhan menghubungi Angga memulai pesan singkat. Ia meminta Angga membawa bosnya, Rayyan, menuju ruang kerja mereka di rumah itu. Azura sudah siap membahas tuntas perkara penculikan ini
Saat melangkah masuk, Rayyan terpana. Ruang kerja itu sangat besar dan mewah, kontras dengan tampak luar rumah yang asri. Di sana terdapat dua meja kerja besar milik Azura dan Farhan.
Malam ini, wajah Azura berubah total. tidak ada lagi sapaan ramah atau senyum manis. Yang duduk di hadapan Rayyan adalah sosok Azura yang tegas, dingin, dan sangat serius.
"Semua sudah berkumpul," Azura membuka suara dengan nada rendah yang berwibawa. "Saya sengaja tidak melibatkan orang tua kira dalam pembicaraan ini, karena ini adalah penculikan profesional."
Farhan kemudian mengambil alih untuk menjelaskan hasil penyelidikan sementara.
"Penculikan itu disuruh oleh seorang wanita misterius. Mereka dibayar 100 juta rupiah. Tujuannya bukan minta tebusan, melainkan untuk mengirimkan si kembar kepada seseorang. Kami belum tahu lokasinya, karena lusa wanita itu akan mengabari tempat pertemuan. Nomor kontaknya berasal dari luar negeri."
Azura kemudian menyodorkan beberapa lembar foto ke depan Rayyan. Foto-foto itu memperlihatkan punggung Arka dan Aidan yang penuh lebam dan bekas luka di punggung mereka. "Ini akibat perbuatan pengasuh yang sudah bekerja selama empat tahun di rumah anda."
Rayyan mengambil foto itu. Tangannya gemetar lalu meremas kertas-kertas itu hingga hancur
"tidak mungkin.. Dia pengasuh profesional rekomendasi rekan kerja saya yang sangat terpercaya."
"Profesional?" Azura mencibir. "Pengasuh itu juga terlibat langsung dalam penculikan ini. Dan tujuannya bukan hanya anak-anakmu. Dia punya rencana untuk melenyapkan ibumu. Sepertinya dia terobsesi ingin menjadi nyonya Rayyan yang baru." Azura tertawa pendek, tawa yang terdengar sinis.
Di tengah ketengangan itu, angga tiba-tiba bertanya dengan wajah polos, "Azura, ngomong-ngomong... Di mana Dimas, suamimu?"
Seketika, tatapan mata Azura berubah merah padam. Aura di ruangan itu mendadak mencekam.
Farhan dengan refleks kilat langsung membekap mulut Angga dan berbisik tajam, "Jangan sebut nama Dimas atau menanyakannya kalau kau tidak mau berakhir di rumah sakit!"
Angga mengangguk. Rayyan yang menyaksikan kejadian itu hanya tersenyum tipis dalam hati. "Wanita ini benar-benar menarik," pikirnya.
Pukul sepuluh malam, atas instruksi Azura, Farhan membawa Rayyan dan Angga ke sesuatu tempat sesuai prosedur keamanan, mata mereka ditutup rapat selama perjalanan. Begitu sampai di sebuah rumah minimalis yang tampak sederhana, mereka diperbolehkan membuka penutup mata.
Ternyata, di balik kesederhanaan rumah itu, terdapat ruang rahasia luas. Puluhan penjaga berseragam gelap berdiri tegak dan memberi hormat pada Farhan. "Selamat datang Tuan Farhan."
"Bagaimana kondisi tahanan?" tanya Farhan
"Tuan bisa lihat sendiri," jawab salah satu penjaga.
Mereka berjalan masuk lebih dalam hingga tiba di depan sel jeruji besi. Disana, empat pria penculik itu tergeletak tak berdaya dengan wajah bengkak dan penuh luka. Rayyan dan Angga terkejut melihat kondisi mereka.
"Lapor, kemarin malam Nona Azura datang dan memukul mereka hanis-habisan. Sepertinya Nona sedang melampiaskan kemarahannya," lapor Aldo, pengawal kepercayaan Azura.
"Pasti ada sesuatu yang memicunya. Biasanya Nona selalu lembut, bahkan kepada penjahat sekalipun," gumam Aldo pelan.
Angga tidak percaya. Azura yang dia kenal dulu adalah gadis culun, kalem dan sangat irit bicaramu
"Jangan bingung, Angga," sahut Farhan seolah membaca pikiran Angga. "Kejadian lima tahun terakhir telah membangunkan sosok Azura yang sebenarnya. Ini dia yang asli, kebalikan dari yang kau kenal dulu. Dan ingat, jangan sebut nama Dimas kalau tidak mau wajah gantengmu jadi seperti mereka itu," Farhan menunjuk pada penculik.
"Jadi... Sekarang Azura janda? Tanya Angga lagi dengan polosnya.
"Kalau dibilang janda, ya janda. Tapi di mata hukum, dia masih single," Farhan tertawa kecil .
"Kok bis?"
"Suami brengsek itu menipu Azura dan kami semua. Ternyata pernikahan mereka tidak di daftarkan secara hukum, hanya nikah siri saja," Jelas Farhan.
Rayyan hanya diam, menyerap setiap informasi sambil mendengarkan perdebatan Angga dan Farhan.
Mereka kemudian berpindah ke ruang informasi.
Dika, sang ahli IT mulai melacak nomor luar negeri yang menghubungi penculik itu. Awalnya nomor itu tidak bisa terlacak. Tapi sekarang bisa di lacak dan posisinya ada di kota.
Rayyan terperanjat saat melihat nomor yang muncul di layar monitor. "Ini... Ini nomor Clarissa!"
"Siapa Clarissa?" tanya Farhan
"Mantan istri Bos?" jawab Angga cepat
Farhan kemudian meminta data rekan kerja yang merekomendasikan pengasuh itu kepada Rayyan. Dika segera bekerja. Tak butuh lama, sebuah nama muncul: BRAMASTA.
"Ternyata Bramasta ini kerabat jauh Clarissa," ujar Dika. "Dan ada satu info tambahan, Tuan Farhan. Bramasta ini jugalah yang selama dua bulan terakhir terus mengganggu dan mencoba menyabotase bisnis properti Nona Azura di kota."
Rayyan mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
Tetapi, Dika belum selesai. Ia memunculkan satu folder rahasia lagi.
"Tunggu, Tuan ada percakapan enkripsi antara Bramasta dan seseorang di dalam negeri selama satu bulan terakhir."
Mata Farhan membelalak melihat nama yang muncul di sana. "Dimas?"
Semua orang di ruangan itu tertegun. "Ternyata Bramasta bukan cuma kerabat Clarissa, tapi dia juga punya hubungan dengan Dimas, mantan suami siri Azura itu!" seru Farhan dengan nada puas yang mengerikan. "Wah, berita mengejutkan! Sekali tepuk, tiga nyamuk mati sekaligus!"
Angga yang sedari tadi menyimak dengan mulut ternganga, tiba-tiba nyeletuk, "Waduh, Mas Farhan... Ini mah bukan sekali tepuk nyamuk lagi, ini namanya pesta barbeque penjahat! Sekali sikat langsung gosong semua."
Farhan tertawa kecil menanggapi celetukan Angga. "Kamu benar, Angga. Musuh kami dan musuh bosmu ternyata sedang arisan di lubang yang sama."
Angga menggaruk kepalanya sambil menatap Rayyan. "Bos, kalau dipikir-pikir, hidup Bos ini kok kayak sinetron jam tayang utama saja? Rekan kerja baik ternyata musuh dalam selimut, berteman dengan musuh Azura. Jangan-jangan nanti mereka bikin grub WhatsApp judulnya 'Persatuan Manda dan Kolega Kurang Ajar',"
"Diam, Angga!" potong Rayyan tajam, meski dalam hati ia membenarkan betapa rumitnya tali benang merah ini.
Farhan kembali menatap Rayyan dengan sangat serius. "Sekarang kamu tahu kan? Kamu... Yang mengaku sebagai mafia, ternyata cuma bisa melindungi dirimu sendiri dan perusahaanmu saja? Cih," sindir Farhan.
"Bagaimana kamu tahu identitas itu?" Rayyan terkejut rahasianya terbongkar.
"Mencari informasi itu gampang bagi kamu," balas Farhan enteng.
"Jangan berlarut dalam kesedihan masa lalu. Kamu harus bangkit. Dan kamu punya anak-anak yang membutuhkan ayahnya, mereka tidak bersalah. Aku tidak bermaksud ikut campur, tapi aku juga dikhianati mantan istri dan aku misa move on demi Rafa."
Angga kembali menyambar dengan nada polis.
"Ooo . Jadi ini sesi curhat antar anggota persatuan duda keren ya? Saya kira Mas Farhan masih bujang, soalnya auranya masih kayak anak kuliahan, beda sama Bos saya yang auranya kaya bapak-bapak pemarah."
Farhan tertawa terbahak-bahak mendengar ocehan Angga. " Langkah selanjutnya, kita akan menunggu perintah Azura."
"Kenapa harus menunggu Azura?" tanya Angga bingung.
"Karena Azura adalah bos tertinggi di markas ini. Strategi perang ada di tangannya," tegas Farhan mantap.
Angga melongo, menatap Rayyan dengan tatapan penuh arti. "Wah... Bos, dengar itu? Azura bosnya! Keren banget! bos, mending buru-buru deketin Azura deh. Lumayan kan, kalau Bos jadi suaminya, saya bisa jadi punya dua Bos sekaligus. Jika Bos marah-marah, saya akan berlindung ke Bos Azura. Hidup saya pasti akan makin tenang!"
PLAK!
Rayyan mendaratkan pukulan di pundak Angga. "Berhenti bicara sampah, atau aku potong gajimu jadi 1,5 juta, bukan 150 juta!"
"Ampun, Bos! Saya kan cuma menyuarakan isi hati rakyat jelata," runtuh Angga sambil cengengesan.
Tetapi di balik candaan itu, suasana kembali mencekam. Rayyan menyadari bahwa musuhnya kini bukan hanya masa lalu, tetapi sebuah jaringan yang sengaja ingin menghancurkan apa yang tersisa dari hidupnya, termasuk wanita yang kini menjadi pelindung anak-anaknya.
biar banyak up lagi🤭🤭
mohon maaf lahir dan batin juga 🙏