NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:99.6k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 23

"Pak." Suara seseorang memanggil, Aabid mengalihkan pandangannya dengan segara.

Seorang lelaki bertopi yang sempat ia lihat di depan masjid datang menghampiri.

"Ya."

"Ini, makan siang untuk bapak," ujar Pria tersebut lalu menyerahkan semangkuk soto dan teh manis yang ia bawa menggunakan nampan ke arah Aabid.

"Saya nggak pesen." Aabid tak lantas menerima, ia menolak karena memang tidak pesan dan belum lapar.

"Neng yang tadi yang pesen. Katanya suruh antar jam 12."

"Neng? Siapa?" Aabid bertanya dengan dahi berkerut.

"Neng yang kulitnya putih seperti kapas itu, yang hidungnya mancung seperti orang arab itu, lo. Yang dijemput mobil besar warna putih." Pria tersebut berusaha menjelaskan panjang lebar agar Aabid memahami.

"Selina?" tebak Aabid.

"Ya, selina, laki-laki yang jemput tadi manggilnya selina. Katanya untuk Om-nya yang ada di sini."

Aabid terdiam.

Di tengah sibuknya selina mempersiapkan pernikahan, rupanya ia masih mengingat hal sekecil ini. Padahal ia sendiri mungkin tak akan berpikir perihal makanan sama sekali jika perutnya tidak berbunyi.

"Pak." Panggilan penjual soto itu menyadarkan Aabid dari perasaan bersalah yang terus menguasainya ketika berhadapan dengan selina, sementara tak ada hal sekecil apapun dari selina yang menunjukkan keburukan selama mereka bersama.

Caranya memperlakukan bahkan sama seperti memperlakukan orang tuanya.

"Oke, makasih." Aabid menerima nampan tersebut.

"Sudah dibayar, tadi ada pesan yang ditulis Neng nya sebelum buru-buru pergi, saya taruh di bawah mangkuk supaya tidak ketiup angin," ujar sang pedagang ketika Aabid hendak membayar.

Aabid menganggukkan kepala.

Penjual soto itu pun bergegas pergi setelah mangkuk dan teh manis diterima oleh Aabid.

Aabid lalu duduk di serambi masjid. Sambil termenung ia menatap makanan di tangan yang masih mengepul.

Harus bagaimana ia menilai dan bersikap pada gadis yang terus menunjukkan perhatian sekalipun kata-kata Aabid sering menyakiti bahkan kadang seolah tak ada hati.

Aabid menghela napas. Tatapannya beralih ke arah nampan yang terdapat kertas. Kertas yang ada di bawah mangkuk seperti apa kata penjual soto terlihat kala mangkuk diangkat olehnya.

Gegas ia meraih dan membukanya.

Jangan lupa obatnya diminum, Om.

Satu kalimat tertulis di kertas berukuran kecil dan tanpa sadar bibir Aabid tertarik sempurna kala membacanya.

Namun tak lama senyumnya memudar. Ia lalu menggeleng kuat-kuat, radina bahkan lebih perhatian dan manis dibanding selina. Tapi, caranya menyakiti sungguh luar biasa mengena tepat di jantungnya.

Ponsel berdering kala Aabid sibuk dengan trauma yang menjangkiti. Ia pun tersadar dan merogoh ponsel dari saku jaketnya.

"Hem, halo." Aabid menerima panggilan dari Arga.

"Alhamdulillah udah sampe berarti HP-nya," seloroh Arga dari seberang.

"Kenapa? Mau nagih utang?"

"Ah, enggak lah. Kayak sama siapa aja kamu. Eh, bid, sudah ada sedikit informasi yang didapat petugas yang ditugaskan di titik yang kamu perintahkan."

"Oh, ya?" Aabid menoleh ke segala sisi, memastikan tak ada orang di sana yang mendengar.

Setelahnya dirasa aman ia kembali bicara.

"Katakan."

"Mereka melihat anak mancing di tempat itu sebelum kejadian. Mereka sedang mencari tahu tentang anak itu."

"Apa?!" Sentak Aabid, apa yang ditakutkan akhirnya terjadi.

"Iya. Aku curiga anak itu yang kamu maksud kemarin. Yang kamu bilang nolong kamu dan sekarang jadi incaran."

"Artinya sudah ada yang kalian curigai."

"Ya."

"Teruskan saja, masalah anak itu. Dia ada dalam pengawasanku. Anak itu urusanku. Dia di bawah perlindunganku. Fokus pada target, pastikan oknum polisi yang dicurigai ikut berperan dalam hal ini tidak lolos."

"Oke, aku sudah sampaikan ke Pak Hakam masalah ini."

"Lalu?"

"Perintahnya ringkus sampai ke akarnya. Dia percaya sama kamu, bid."

"Aku hanya membantu, bukankah aku sedang masa cuti."

"Ya lah, terserah kamu." Arga tak mau mendebat sahabat yang keadaan hatinya sedang tidak stabil itu.

"Ya sudah, informasi sekecil apa pun kirim ke sini. Supaya aku bisa segera bertindak dan berpikir cepat."

"Siap, Ndan!"

"Ndan, Ndan."

"Kan atasan, Cuy."

"Thanks, Arga, atas bantuannya. Thanks juga untuk bajunya."

"Oke. Tapi memangnya itu baju untuk siapa? Jangan bilang kamu naksir janda anak satu di sana."

"Sembarangan! Jangan mulai ngelantur kamu."

"Ya oke lah, yang penting kamu seneng. Ngomong-ngomong kamu gimana hasil periksanya?Tadi orang suruhanku hampir nggak kenal sama kamu katanya. Kalau kamu nggak ngasih kode."

"Hasilnya baik. Bukannya memang sedang menyamar. Bagus dong kalau nggak kenal berarti penyamaranku berhasil," ujar Aabid terdengar santai namun sebenarnya tidak demikian, ia tersenyum kecut di balik layar.

Penampilannya jelas tidak ada hubungannya dengan penyamaran melainkan keterpurukan.

"Ya udah, bid. Aku tutup, mau makan."

Aabid menyimpan kembali ponsel di dalam saku celana.

"Masih, gini aja ...," keluh Aabid kecewa pada dirinya sendiri.

Aabid selama ini berharap, apa yang rusak dalam dirinya berangsur sembuh dengan menjauh dari tempat di mana lukanya tergores begitu dalam.

Tapi kenyataannya rasa itu masih sama, tak berubah, bahkan rasa itu mampu mengubah kepribadian Aabid dalam sekejap ketika datang menyerang.

Detik berselang, menit berganti, jam berputar terasa begitu lama bagi Aabid yang terlunta-lunta menunggu Harun.

Tak jarang jamaah shalat yang datang bertanya padanya dan ia hanya bisa menjawab sedang beristirahat menunggu jemputan untuk menutupi rasa malu.

Menunggu adalah hal yang paling ia benci. Selama menunggu ia menghabiskan waktu dengan melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan ponsel baru dari Arga.

Menghubungi yang bisa dihubungi termasuk sang mama. Lalu setelah itu ia pun beralih ke sosial media.

"Radina ...." gumamnya sambil mengetik nama mantan di pencarian, mencari sosial media yang mungkin bisa ia gunakan sebagai pengusir kebosanan.

"Radina, radina. Ngapain?" batinnya, kemudian bergidik ngeri dan dengan cepat ia keluar dari aplikasi biru sebelum nafsu menguasainya kembali.

"Aabid," seru Harun mengagetkan Aabid yang bahkan tak mendengar deru motor datang.

Mendengar suara Harun Aabid langsung menoleh.

Dengan cepat pula menyimpan ponsel di dalam jaketnya.

Wajah yang terlihat begitu lelah, tapi tetap cerah dengan senyumnya menyapa Aabid.

Aabid bergegas menghampiri dan duduk di sebelah Harun.

"Pak Harun sudah selesai kerjanya? Kata selina jam 9, ini baru jam berapa?" tanya Aabid sembari melihat ke arah jam dinding yang di pasang di dinding utama bagian dalam masjid, tepatnya di atas mihrab.

"Saya teh cepet- cepet kerjanya, kepikiran kamu terus dari siang tadi. Tapi nggak bisa tengok karena banyak kerjaan," kata Harun sambil melepas sepatu.

"Kelihatannya bapak capek sekali ya, Pak? Banyak kerjaannya?" tanya Aabid tanpa mengalihkan pandangan pada Harun yang tampak bersemangat sekalipun keringat masih basah dan belum mengering.

"Banget, sampe nggak sempet istirahat. Apa lagi bapak tadi berangkat siang. Malah tambah menumpuk kerjaannya," ujar Harun tersenyum lagi.

Aabid menganggukkan kepalanya. Ada hal yang ia pikirkan tentang hotel milik sang mama.

"Saya denger Hotel Seruni itu mau bangkrut dan sepi. Tapi kok, kayaknya banyak sekali pekerjaan bapak?Apa karena mau tutup hotelnya jadi banyak yang diberesin?" tanya Aabid pada akhirnya.

"Masak?!" Harun langsung menoleh ke arah Aabid.

"Dapat kabar dari mana kamu teh? Ya enggak lah. Hotelnya rame sekali. Alhamdulillah, malah sampe nolak-nolak tamunya. Rencananya teh mau dibangun lagi sama Pak Setya," lanjut Harun dengan raut bangga.

"Rame?! Pak Setya?" Mata Aabid menyipit, ia mencoba mengingat nama yang disebutkan Harun barusan.

"Pak Setya teh pimpinan di Hotel Seruni. Udah kamu teh sudah laper, kan? Ya sudah Bapak shalat isya' dulu setelah itu kita makan. Kamu teh sudah shalat belum?"

"Oh, sudah tadi."

"Ya sudah, sebentar ya. Sabar."

Aabid mengangguk dan tersenyum samar setelah Harun melangkah pergi menuju ke tempat wudhu, dalam benak Aabid sekarang dipenuhi curiga dan berbagai tanya.

"Bagaimana bisa Mama seceroboh ini?!" gumamnya dalam hati.

1
bude gemoy
up lagi thor.....😍😍😍😍😍
aliyya
wallpaper nya foto spa y,,,?
trs d rmh selina ad tamu spa,,,? jd penasaran 🤔🤔🤔
Danny Muliawati
mksih Thor lumayan banyak update nya😄
Reni Anggraeni
udah unboxing aja 🤭
aliyya
akhirnya udh bisa menyatu selina dan Aabid,besok selina mo d boyong ke jakarta am Aabid,selina harus kuat dan sabar nanti takut ketemu radina yg akan bt ulah bt balas dendam,,,(sotoy)🤭🤣🤣🤣
Intan Nurwulan
Up ka othor
Price Nada
lanjut Thor
aliyya
ceee ileyyyy,,,
d tanya in tuh selina klo Aabid cinta sama selina gmn ,,,?
mau gak bikin generasi penerus,,,?
🤣🤣🤣🤣🤣
Reni Anggraeni
up LG kk
Siti Siti Saadah
sudah memang buat jujur
Danny Muliawati
semakin seruuuuuu semangat thor
raditya Sujana
ceriganya terlalu bertelele kk, udah waktunya abaid bicara jujur berihal hatinya, jangan terlalu monoton,, tp aku ttp suka, ttp penasaran juga,, 10bunga deh buat kk biar daubel update nya💪💪💪💪kk
Intan Nurwulan
Knpa pd gengsi ya,coba saling jujur kalo mrk sdh mulai ada rasa. Jd gemezzzz😁
Reni Anggraeni
kak kok kmarin up 1 tok
Intan Nurwulan
Double up ka othor
Kharisma Afifa
ayo kang aabid segerah beraksi👍😄
Yus Marni
selalu tambah penasaran aku thor,lanjutt
Siti Siti Saadah
dibandingkan Selina trauma aabid lebih parah. meskipun dia seorang polisi dalam hal jiwa dia belum mampu mengelola traumanya
Fazira Fazira
asyeeeek makin seruuu💪semangat ya Thor
aliyya
sabar y selina Aabid blm jujur sama km,krna Aabid msh sakit hati sama mantan istrinya yg sudah selingkuh,dan dia jg blm sadar klo skrg udah mulai jatuh cinta ke kamu,,,❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!