Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Siapa yang membuat keributan di rumah ini! Apa kalian lupa, nyonya Shakira menyukai ketenangan."
Suara yang menggelegar keras itu membuat Rasya ketakutan. Ia bersembunyi di balik tubuh Rania, memeluk erat tubuh ibunya. Hal itu membuat Rania tahu seberapa menakutkan rumah bagi anaknya.
Rania memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, menekan gejolak emosi yang meledak di dalam dirinya. Urat-urat di wajahnya menegang, kulitnya yang putih memerah, rasa panas dari api amarah membakar jiwanya.
"Ibu, aku takut!" Suara Rasya yang bergetar lirih semakin menyulut bara di hatinya.
Rania menarik napas panjang lagi dan menghembuskannya perlahan. Ia berbalik, menatap mata Rasya yang ketakutan.
"Apakah Mayra baik kepadamu?" tanya Rania sembari mengelus rambut Rasya.
Anak itu melirik pelayan yang berdiri sedikit jauh dari mereka dengan wajah terlihat cemas dan gelisah. Lalu, kembali menatap ibunya dan mengangguk kecil. Rania tersenyum, sekali lagi mengelus rambut anaknya sebelum berbalik menatap Mayra.
"Kau, bawa Tuan Muda ke kamarnya!" titah Rania kepada Mayra.
Ia percaya yang dikatakan Rasya bahwa pelayan muda itu adalah orang baik. Rania sendiri pun bisa melihat itu. Mayra bingung, sosok yang berkuasa di antara para pelayan telah muncul bersama yang lainnya.
"Mayra, apa yang kau lakukan? Siapa yang membuat keributan di sini?" bentak kepala pelayan itu tanpa segan.
Mayra menundukkan kepala, tak berani menjawab. Ia hanya menunjukkan pecahan kaca yang terberai di lantai. Wanita paruh baya itu menatap lantai yang dipenuhi dengan pecahan kaca juga figura dan bekas bakaran.
Dia membelalak, berlari mendekati tempat itu memungut gambar yang tersisa. Dengan tangan bergetar, dia mengangkat gambar itu sembari berdiri. Amarah semakin bergelora di dalam dirinya. Dalam keadaan menunduk itu, ia melihat sepasang sepatu kulit hitam yang mendekat.
Kepala pelayan itu mengangkat wajah, menatap Rania yang berwajah dingin. Ia terhenyak, langkahnya terpukul mundur ke belakang. Tangan yang memegang sisa gambar itu semakin bergetar hingga menjatuhkan gambarnya.
"Nyo-nyonya!" Lidahnya kelu menyebut sang majikan. Dia masih sangat mengenali bagaimana wajah majikannya dulu. Meksipun ....
"Tunggu! Kau bukan nyonya. Kau hanya gadis yang menyamar sebagai nyonya. Mana mungkin nyonya semuda ini?" katanya menolak kebenaran.
Dia mencibirkan bibirnya, wajah yang semula ketakutan berubah penuh cibiran. Dia melirik Rasya yang berdiri di belakang Rania.
"Bagus! Ternyata Tuan Muda berani kembali ke rumah. Bukankah nyonya sudah menyuruh orang-orangnya untuk membawa Anda ke rumah sakit jiwa? Kenapa kembali dan juga membawa penipu ini ke rumah," katanya seraya mendekati Rasya hendak menarik tubuh kecil itu.
Namun, tangan Rania dengan cepat mencekal lengan wanita itu, dan meremasnya dengan kuat. Ia meringis, mengernyit wajahnya merasakan sakit pada urat-urat di tangan.
"Argh! Sa-sakit! Le-lepaskan!" Dia merintih, mencoba melepaskan jemari Rania, tapi tak mampu. Semakin dia mencoba, semakin kuat cengkeraman Rania.
"Mayra! Bawa Tuan Muda ke kamarnya!" Sekali lagi Rania memerintah, tanpa menoleh pada Mayra yang mematung bingung.
"Mayra! Apa kau mendengar perintah Ibuku?" Suara Rasya yang dingin menyadarkan gadis itu.
Ia bergegas menghampiri Rasya dan membawanya ke lantai dua di mana kamarnya berada. Semua pelayan tak ada yang berani bergerak, mereka berkumpul saling berbagi ketakutan. Melihat Rania kembali setelah sekian tahun, membuat mereka terkejut sekaligus tak percaya.
"Jadi, selama aku tidak ada kau sering menindas anakku?" desis Rania semakin kuat mencengkram tangannya hingga memucat.
"Nyo-nyonya, ampun! Ampuni saya! Argh ... sakit sekali!" ratapnya dengan sangat.
Keringat memenuhi wajah bercampur dengan air mata yang berderai, tapi Rania tak terenyuh sama sekali. Tak ada belas kasih untuk mereka yang telah menindas anaknya. Ia terus menekan tangan itu hingga tubuh kepala pelayan tersebut jatuh di lantai.
Rania berjongkok tanpa melepas tangannya, menatap begitu tajam pada mata yang berair itu.
"Jadi, bagaimana cara kalian menindas anakku selama ini? Katakan!" kecam Rania.
Kenapa? Kenapa tangannya kuat sekali? Benarkah dia nyonya Fattana? Tapi, kenapa bisa sekuat ini?
Hatinya dipenuhi tanya, semua kebingungan di depan mata, tak mampu dijelaskan pikirannya.
"Katakan! Apakah tangan ini sering memukul tubuh kecilnya?" Rania bertanya lagi, melirik tangannya yang sudah tak bertenaga. Kali ini, suaranya terdengar seperti pekikan malaikat maut yang bersiap mencabut nyawanya.
Krak!
Argh!
Bunyi itu terdengar mengerikan, disusul pekikan memilukan yang membuat para pelayan lain bergidik ngeri. Wajah mereka semua pucat, hanya tinggal menunggu giliran.
"Tanganku ... tanganku!" Ia memegangi tangannya yang lunglai, tak bisa merasakan jemarinya sendiri.
Rania menoleh kepada mereka semua, beberapa bahkan sudah menangis karena ketakutan.
"Kalian ...."
"Ampun, Nyonya! Ampuni kami!"
Rania mengepalkan tangannya, gejolak amarah di dalam diri benar-benar tak dapat ia bendung mengetahui kenyataan bahwa sang anak ditindas di rumahnya sendiri. Dari semua pelayan, hanya Mayra yang terlihat lebih tenang. Sedangkan mereka, ketakutan bahkan sebelum Rania mengatakan apapun.
😄😄
Biar authornya upnya double" trus biar g' nanggung bacanya..😄😄