NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kau Abaikan

Cinta Yang Kau Abaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Romansa
Popularitas:58.2k
Nilai: 5
Nama Author: h.alwiah putri

8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.

Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.

Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.

Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.

Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Suasana pusat perbelanjaan dan arena permainan itu begitu riuh, namun bagi Aldric, segalanya seolah melambat dalam keheningan yang menyesakkan. Di depannya, pemandangan itu tampak begitu sempurna sekaligus menyakitkan. Rion tertawa lepas sambil menggendong Sera untuk meraih mesin capit, sementara Eveline berdiri di samping mereka, tersenyum lebar sembari merapikan rambut Sera yang berantakan.

Mereka bertiga terlihat seperti sebuah potret keluarga kecil yang bahagia di hari Minggu.

Alex, yang sejak tadi bersandar di pilar sambil memperhatikan raut wajah Aldric yang mengeras, menyunggingkan senyum miring. Dia mengeluarkan pemantik, memainkannya sebentar, lalu berbisik tepat di samping telinga Aldric.

"Lihat mereka, Al. Seperti keluarga harmonis, ya? Ada ibu, anak, dan ayah... tapi sayang, ayahnya bukan lo."

Rahang Aldric mengatup rapat. Matanya menatap tajam ke arah Alex, kilat kemarahan mulai terpancar dari manik matanya. "Jaga mulut lo, Lex."

Alex tertawa kecil, sama sekali tidak merasa terintimidasi. "Gue cuma bicara fakta. Gue heran sama lo. Dulu lo paling anti sama Sera dan Eveline. Setiap ada mereka, lo bawaannya mau kabur atau marah-marah. Tapi sekarang? Lo malah ikut-ikutan main di sini. Apa lo udah insyaf?"

Aldric tidak menjawab. Dia hanya terus memperhatikan bagaimana Rion dengan telaten mengajari Sera menekan tombol permainan.

"Syukur deh kalau lo udah sadar," lanjut Alex dengan nada provokatif. "Tadinya gue berniat mau bantuin Rion jadi papi barunya Sera. Liat deh, Rion emang pantes jadi seorang ayah. Daddyable banget, kan? Perhatian, sabar, dan yang paling penting... dia nggak gengsi menunjukkan rasa sayangnya."

Alex menepuk bahu Aldric cukup keras, seolah ingin membangunkan pria itu dari lamunannya. "Tapi gimana sama emaknya? Jangan sampai lo terlambat, Al. Masih banyak yang ngantri nungguin Eveline menjanda. Gue harap lo segera sadar biar nggak ada penyesalan nantinya. Jangan sampai mata hati lo tertutup sama ego tinggi lo itu. Kalau butuh konsultasi tentang percintaan, call me aja."

"Gue nggak butuh saran lo," desis Aldric dingin.

"Oh ya? Kalau gitu, sana gabung," Alex menunjuk ke arah kerumunan. "Jangan cuma diam di sini kayak patung. Jangan sampai orang-orang di sini ngira lo itu om-nya Sera, dan Rion adalah papinya. Bisa hancur reputasi lo sebagai 'Daddy' kandung."

Kata-kata Alex seperti belati yang menghunjam ego Aldric. Dengan langkah kaku, Aldric akhirnya mendekat, mencoba masuk ke dalam lingkaran kebahagiaan yang selama ini dia abaikan. Namun, posisi Rion sudah terlalu sentral. Sera bahkan tidak menyadari kehadiran Aldric karena terlalu asyik bercanda dengan "Papi Rion"-nya.

Sore berganti malam. Perjalanan pulang terasa sangat sunyi di dalam mobil, namun suasana berubah drastis saat mereka duduk di meja makan.

Sera, dengan semangat yang meluap-luap, tidak berhenti bicara. Sendok di tangannya digerak-gerakkan seolah sedang mempraktikkan kembali kejadian di arena permainan tadi.

"Terus ya, Mommy! Tadi Papi Rion hebat banget! Papi bisa dapet boneka kelinci yang paling gede buat Sera. Papi Rion juga pinter banget main basketnya, Sera diajarin cara lempar bola sampai masuk!" Sera berceloteh dengan mata berbinar. "Papi Rion janji minggu depan mau ajak Sera ke kebun binatang. Papi Rion itu baik banget, ya kan Mommy?"

Eveline tersenyum tipis, mengusap puncak kepala anaknya. "Iya, Sayang. Rion memang baik."

Goncangan di dada Aldric semakin menjadi. Setiap kata "Papi Rion" yang keluar dari mulut mungil Sera terasa seperti siraman bensin pada api yang sudah berkobar di hatinya. Rasa sesak, sakit, dan cemburu yang luar biasa bercampur menjadi satu. Dia merasa tersisih di rumahnya sendiri. Dia merasa gagal, namun egonya menolak untuk mengakui bahwa kegagalan itu adalah buah dari sikapnya sendiri selama ini.

"Sera juga mau kasih liat Papi Rion gambar Sera yang di sekolah kemarin—"

"Cukup, Sera!"

Benturan tangan Aldric ke meja makan membuat denting sendok dan piring terdengar nyaring. Suara Aldric naik beberapa oktat, berat dan penuh penekanan yang menggelegar di ruang makan yang tadinya ceria.

Sera tersentak. Celotehnya terhenti seketika. Matanya yang bulat kini membesar karena terkejut dan takut.

"Berhenti menceritakan tentang Papi Rion-mu itu!" gertak Aldric dengan napas memburu. "Daddy kamu cuma satu, yaitu Daddy Aldric! Tidak ada yang lain! Jadi berhenti memanggil Rion dengan sebutan Papi. Dia bukan siapa-siapa!"

Hening mencekam.

Bibir Sera mulai bergetar. Air mata dengan cepat menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak pernah melihat Aldric semarah ini, apalagi hanya karena dia menceritakan hari bahagianya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Sera turun dari kursinya dan berlari sekencang mungkin menuju kamarnya di lantai atas. Suara pintu yang tertutup keras menggema di seluruh rumah.

Aldric masih berdiri dengan napas tersengal, namun perlahan kemarahannya mulai luntur, digantikan oleh rasa bersalah yang teramat sangat saat melihat kursi kosong tempat Sera duduk tadi.

Dia menoleh ke arah Eveline, berharap mendapatkan pembelaan atau setidaknya pengertian. Namun, yang dia temukan adalah tatapan paling dingin yang pernah Eveline berikan padanya. Tatapan itu seolah menelanjangi semua keburukan Aldric.

"Puas?" suara Eveline rendah, namun tajam seperti sembilu.

"Eve, aku hanya—"

"Kamu hanya apa, Aldric? Hanya ingin memuaskan egomu yang setinggi langit itu?" Eveline berdiri, menatap suaminya dengan rasa kecewa yang mendalam.

"Selama ini kamu ke mana saat Sera butuh sosok seorang ayah? Kamu yang mendorongnya menjauh, kamu yang bersikap dingin padanya. Dan saat ada orang lain yang memberinya kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan darimu, kamu marah?"

Aldric terdiam. Lidahnya kelu.

"Sera itu masih kecil. Dia tidak mengerti tentang ego orang dewasa. Dia hanya tahu siapa yang membuatnya merasa disayangi," lanjut Eveline. "Kalau kamu masih mau dianggap Daddy sama Sera, bujuk anakmu. Jangan salahkan dia kalau suatu saat nanti dia benar-benar menganggapmu orang asing."

Eveline pergi meninggalkan meja makan, meninggalkan Aldric sendirian dengan sisa-sisa amarahnya yang kini berubah menjadi penyesalan pahit.

Aldric berdiri di depan pintu kamar Sera. Dia bisa mendengar isak tangis tertahan dari dalam. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memutar knop pintu dan masuk dengan perlahan.

Lampu kamar temaram. Di atas tempat tidur, Sera meringkuk di balik selimut, memeluk boneka kelinci pemberian Rion dengan erat. Bahunya naik turun karena tangisan.

Aldric duduk di tepi ranjang. Hatinya terasa remuk melihat pemandangan itu. Dia mengulurkan tangan, mengusap pelan punggung kecil anaknya.

"Sera..." bisiknya lembut.

Isakan Sera semakin keras. "Daddy jahat... Daddy bentak Sera..."

"Maafkan Daddy, Sayang," Aldric menarik napas panjang, mencoba menahan sesak di dadanya. "Daddy minta maaf karena sudah bicara kasar tadi. Daddy tidak bermaksud menyakiti Sera."

Aldric menggendong Sera, membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Sera awalnya memberontak kecil, namun akhirnya menyerah dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aldric, membasahi kemeja ayahnya dengan air mata.

"Daddy cuma... Daddy cuma cemburu," aku Aldric jujur, sebuah pengakuan yang sulit keluar dari mulut pria sepertinya. "Daddy takut Sera lebih sayang sama Papi Rion daripada sama Daddy. Daddy takut Sera lupa kalau Daddy adalah ayahnya Sera."

Sera mendongak dengan mata sembab. "Tapi Papi Rion baik, Daddy. Papi nggak pernah marah sama Sera."

Aldric tersenyum getir. Dia menyadari betapa buruknya citra dirinya di mata anaknya sendiri. Dia mencium kening Sera dengan penuh perasaan, sebuah kasih sayang yang selama ini dia simpan rapat-rapat karena ego.

"Iya, Daddy tahu. Daddy yang salah. Daddy tidak suka Sera memanggil sebutan ayah pada orang lain, karena Daddy ingin menjadi satu-satunya pria yang Sera panggil seperti itu," Aldric mengusap air mata di pipi Sera.

"Tapi Sera boleh kan tetep main sama Papi Rion?" tanya Sera polos.

Aldric terdiam sejenak. Kata-kata Alex dan Eveline kembali terngiang. Jika dia terus melarang, dia hanya akan menjadi tokoh jahat di mata Sera. Dia harus mengalah. Dia harus mulai memenangkan hati Sera dengan cinta, bukan dengan perintah.

"Boleh," jawab Aldric akhirnya, suaranya parau. "Sera boleh panggil dia Papi Rion kalau itu buat Sera senang. Tapi janji sama Daddy, jangan pernah lupa kalau Daddy sangat sayang sama Sera. Daddy akan berusaha jadi Daddy yang lebih baik lagi."

Sera tersenyum kecil, lalu melingkarkan lengan kecilnya di leher Aldric. "Janji, Daddy. Sera juga sayang Daddy Aldric."

Malam itu, di bawah cahaya lampu kamar yang redup, Aldric memeluk Sera dengan erat, tidak membiarkan ada jarak sedikit pun. Dia terus membisikkan kata-kata maaf dan kasih sayang sampai perlahan napas Sera menjadi teratur dan mata kecil itu terpejam rapat.

Aldric menidurkan Sera di ranjang, menyelimutinya dengan hati-hati. Dia memandangi wajah putrinya cukup lama, menyadari bahwa ego setinggi apa pun tidak akan pernah sebanding dengan senyuman anaknya. Dia berjanji pada dirinya sendiri, mulai besok, dia tidak akan membiarkan kursi "Ayah" di hati Sera diisi oleh orang lain, bukan dengan paksaan, tapi dengan kehadiran yang nyata.

1
nn
next
Syifa
ko engga up sih tour udah lama nunggunya
Uthie
Kayanya bakalan Gol proyek nya sehabis ini nanti 😁👍
Nia nurhayati
mongho sing wareg mas aldric😂😂😂
Uthie
Semoga segera launching proyek adik baru nya Sera 👍😁
Yeni Wahyu Widiasih
bagus
Uthie
ikut senyum-senyum juga bacanya 😁👍👍
Uthie
Lanjuuttttt 😁👍
Daulat Pasaribu
selamat sera mommy dan daddymu lagi buat kan kamu adik🤣
smoga segera launching adikmu
Yeni Wahyu Widiasih
umur balita cadel wajar lah ini udah 7 thn
Dewi Yanti
aku setuju dengan tasya, bertahan demi anak tp malah anak nya yg menderita jg bodoh itu
Syifa
aaah udah engga sabar nunggu lonceng adeknya sera 🤩
Daulat Pasaribu
akhhh cepetan dong gak sabar kalau sera punya adik pasti lucu 😍
Uthie
Nahh....buruan dehhh bikin nya 🤩😂😂
Uthie
btw, sy senang sekali cerita-cerita soal kesempatan kedua yg Chemistry nya gak pudar pada tokoh2nya 👍👍👍🤩
Uthie
Ikut happy dengan kebahagiaan mereka 👍🤗🤗🤗
Uthie
Cerita lagi mengenai perkembangan hubungan mereka 👍👍🤗
Daulat Pasaribu
smoga langgeng rumah tanggamu aldric dan evlyn
Nia nurhayati
ya kesempatan kedua yang harus kamu gunakan dengan sebaik bauk nya aldric
Syifa
suka dengan ceritanya ..lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!