NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Mie Pertama dan Latihan Berat

Setiap pagi buta, bahkan sebelum mentari menyentuh puncak bukit, Lin Cheng sudah memulai latihannya. Ia berlari maraton mengelilingi kaki bukit, napasnya teratur, melatih daya tahannya. Setelah itu, ia melancarkan gerakan dasar beladiri yang dulu ia pelajari dari Kakek Zhou, setiap pukulan dan tendangan melesat dengan presisi.

Namun, bagian terberat datang setelahnya. Lin Cheng memanggul ransel kayu miliknya, yang kini tidak lagi diisi herbal, melainkan batu-batu besar yang berat. Beban itu luar biasa, jauh melampaui kemampuan orang biasa.

Ia kemudian menapaki tangga bukit yang curam, menempa tubuhnya dalam proses Body Refinement yang ia pelajari dari catatan Xiao An. Keringat membanjiri tubuhnya, otot-ototnya menegang hingga batas, namun setiap langkah adalah janji untuk menjadi lebih kuat.

Sesampainya di puncak bukit, dengan napas yang masih memburu dan keringat membasahi tubuhnya, Lin Cheng disambut oleh pemandangan yang menakjubkan. Xiao An berdiri di samping kebunnya, tersenyum lebar.

"Lin Cheng, lihat ini!" serunya penuh bangga, tangannya menunjuk ke arah petak-petak tanah.

Lin Cheng mendongak. Di hadapannya, kebun benih Xiao An sudah menghijau subur, seolah semalaman disirami embun keajaiban. Batang-batang jagung berdiri kokoh, daun-daunnya yang lebar dan hijau gelap berkibar lembut ditiup angin pagi. Sulur-sulur ubi jalar menjalar cepat, membentuk karpet hijau yang rapi.

Tanaman tomat tampak gagah, bahkan beberapa kuncup bunga kecil sudah terlihat, menjanjikan buah-buah merah dalam waktu singkat. Rumpun bawang berdiri tegak dengan daunnya yang runcing, dan tunas-tunas cabai yang mungil pun tampak segar dan penuh vitalitas.

Lin Cheng tersenyum misterius.

"Aku juga punya kejutan untukmu, Xiao An!" serunya.

Dari balik punggungnya, ia mengeluarkan sebuah ember kayu yang cukup besar. Saat Xiao An melongok ke dalamnya, matanya membelalak. Di dalam ember itu, berenang-renang puluhan ekor loach (ikan gabus kecil) sebesar kelingking jarinya, gesit dan lincah.

"Aku menangkapnya dengan susah payah di sungai," jelas Lin Cheng, sedikit terengah mengingat perjuangannya menangkap ikan-ikan licin itu.

Mereka berdua kemudian berjalan ke salah satu telaga yang ukurannya lebih besar, tak jauh dari pondok. Dengan hati-hati, Lin Cheng menuangkan isi ember itu. Puluhan loach itu segera melesat, menghilang ke dalam air jernih telaga, siap untuk berkembang biak dan menjadi sumber protein di masa depan. Ini adalah langkah kecil namun signifikan untuk keberlanjutan hidup mereka di bukit.

Melihat Lin Cheng yang masih sedikit terengah dan senyumnya yang lebar setelah melepaskan loach, Xiao An tahu pasti sahabatnya itu lapar, meski Lin Cheng tak mengeluh.

"Lin Cheng, duduklah. Aku akan membuatkan sesuatu yang lebih mengenyangkan dari roti," kata Xiao An, matanya berbinar penuh ide.

Ia kembali ke dalam pondok. Dengan cekatan, Xiao An mengambil lagi tepung dari karung yang baru, menuangkannya ke dalam mangkuk besar. Sejumput garam ditambahkan, lalu sedikit minyak dan air secukupnya.

Tangannya mulai menguleni adonan dengan ritmis, meremas dan melipat hingga adonan menjadi kalis dan elastis. Ia lalu mengambil bilah bambu tipis dan panjang, dan dengan gerakan cepat dan mahir, ia mulai menipiskan adonan itu.

Lembaran tipis adonan itu kemudian dilipat, dan dengan sekali tebasan, lembaran itu berubah menjadi untaian-untaian mie yang panjang dan halus. Aroma tepung segar yang baru saja berubah bentuk itu memenuhi udara. Ia tersenyum puas melihat hasil karyanya.

Xiao An tidak menunggu lama. Setelah mie selesai dibuat, ia segera menyalakan kembali kompor batu api. Sebuah panci berisi air diletakkan di atas api, dan tak lama kemudian, uap mulai mengepul. Untaian mie yang baru saja ia potong dimasukkan ke dalam air mendidih.

Sambil menunggu mie matang, Xiao An bergegas ke kebunnya. Dengan lincah, ia memetik beberapa helai sayur sawi yang daunnya hijau segar dan beberapa batang asparagus seta daun bawang yang tampak renyah, hasil panennya yang "lebih awal" dari pertumbuhan kebun ajaibnya. Ia mencucinya bersih dan mengirisnya tipis-tipis.

Setelah mie matang sempurna, ia meniriskannya. Kemudian, ia membuat kuah sederhana. Air direbus, lalu sayur sawi dan asparagus yang sudah diiris dimasukkan, direbus sebentar hingga layu namun masih renyah. Hanya sedikit garam yang dibubuhkan untuk memperkaya rasa alami dari sayuran segar itu.

Mie yang sudah matang diletakkan dalam mangkuk, lalu disiram dengan kuah sayur sawi dan asparagus yang hangat. Aroma segar sayuran dan kuah gurih memenuhi pondok, mengundang selera. Xiao An tersenyum puas melihat hasil masakannya.

Tanpa menunggu lebih lama, Lin Cheng dan Xiao An segera menyantap mie buatan Xiao An. Suapan pertama membawa kehangatan yang langsung menyebar ke seluruh tubuh. Mereka berdua lahap memakannya, suara slurupan memenuhi pondok kecil.

INI

"Ini... ini sungguh lezat, Xiao An!" puji Lin Cheng, matanya berbinar penuh penghargaan. Rasa gurih kuah sayuran yang segar berpadu sempurna dengan kenyalnya mie.

"Kau benar-benar koki yang hebat!"

Xiao An hanya berkelakar, senyumnya merekah.

"Ah, ini belum seberapa, Lin Cheng. Tunggu saja sampai tanaman rempah di kebunku bisa dipanen. Itu baru akan memperkaya rasa masakan kita! Akan lebih lezat dari ini!"

Senja kembali tiba, mewarnai langit dengan rona keemasan. Lin Cheng, setelah menikmati hidangan lezat dan obrolan hangat bersama Xiao An, kembali bersiap untuk latihan malamnya.

Ia mengisi kembali ransel kayu miliknya dengan penuh batu-batu besar, beban yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas latihannya. Dengan beban berat di punggungnya, ia bergegas turun bukit, siap untuk menempa tubuhnya lagi di tengah kegelapan.

Demikianlah, hari demi hari dilewati di bukit perkebunan itu. Setiap pagi Lin Cheng berlatih keras, mengikuti panduan Body Tempering yang ia dapat dari catatan Xiao An. Setiap senja ia menuruni bukit dengan ransel penuh batu, kembali ke Kuil Mukui, lalu naik lagi keesokan paginya.

Sementara itu, Xiao An terus merawat kebunnya yang semakin subur, memetik hasil panen yang berlimpah, dan sesekali menciptakan hidangan baru yang mengejutkan Lin Cheng.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!