Siapa sangka jika pria yang membuat gue naik pitam adalah lelaki yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami sejak dulu. No way. 😬 (Fiza)
Siapa sangka si tomboy yang gue jadikan rival dalam menebar pesona ke cewek - cewek klub adalah calon istri gue. 😑(Aksa)
Siapa sangka seseorang yang gue sangka babang hensem dan sempat gue taksir adalah calon kakak Ipar. kyaaaa 😱😱 (Yuna)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fiza : Usil
Sudah satu bulan gue bekerja sebagai asisten Aksa. Tingkah kami semakin hari mirip Tom dan Jerry saja. Tiada hari damai untuk gue karena Aksa selalu saja membuat gue jengkel.
Gue membayangkan jika Aksa itu si kucing sombong yang tidak suka kehidupannya di usik dan langsung marah kalau gue kerjai, dan gue si tikus yang suka usil demi membalas rasa kesal karena perilakunya yang seenak hati. Gue juga ingin dong diperhatikan dan diperlakukan dengan baik.
Pasti pada bertanya ke gue kan, sebenarnya perasaan gue terhadap big baby boy itu bagaimana? Disakiti tapi kok masih bertahan. Jawabanya ambigu banget, Sob! Di bilang naksir juga enggak, tapi kok gue cemburu banget saat big baby boy berpacaran dengan Arneta, si seksi yang sebelas duabelas kemiripannya dengan Ariel Tatum. Lah, dia yang baru saja dikenal oleh pria itu langsung mendapat perlakuan istimewa, sedangkan gue selalu dibuat merana.
Keberadaan Arneta si makhluk Tuhan yang sangat seksi itu membuat kepercayaan diri gue terjun bebas, Sob! Gue jadi menderita minder akut. Apalagi big baby boy tidak pernah melihat gue. Dia selalu memejamkan mata saat gue membacakan berkas laporan, ataupun proposal yang bertumpuk dimejanya. Beda sekali dengan sikapnya saat menghadapi Arneta.
Makanya gue kerjai dia. Gue membelikan dia squishi. Dampaknya, dia jadi semakin marah saja ke gue.
Gue jadi kepikiran, mungkin sebaiknya gue menerima pinangan mas Lanang untuk menjadi artis saja ya, Sob?
Ketika gue sedang menunggu reaksi big baby boy mengenai keinginan gue menerima tawarannya mas Langang, si Ariel Tatum KW datang. Ia langsung menggelendot manja di pangkuan pria itu.
Dan yang membuat hati gue semakin sesak. Big baby boy langsung meminta gue untuk segera keluar dari ruangannya.
Gue segera naik ke atap gedung dan menelpon Bobby. Duh gue kangen berat dengan teman - teman ngeband gue.
"Assalamualaikum?"
"Waalaikumsalam. Bob, Lo lagi apa?" tanya gue sambil membayangkan ketika sedang mengamen bersama.
"Gue lagi menunggu dosen bimbingan skripsi, Za. Gue jadi semangat mengejar kelulusan biar bisa kerja kantoran seperti, Lo!"
"Alhamdulillah.... akhirnya dapat hidayah juga Lo!" Gue tertawa terkekeh senang.
"Tapi bukan karena dikejar detlen untuk segera melamar Rayya kan bro?" selidik gue atas inisiatif ingin segera lulus si Bobby.
"Ya enggak, lah." Bobby ikut terkekeh.
"Lo udah menemukan pengganti gue belom?"
Jujur saja gue merasa tidak enak hati. Sejak big baby boy berpacaran dengan si Ariel Tatum KW. Setiap malam minggu, gue jadi tidak bisa ke Black Cat. Soalnya Arneta tidak suka dengan tempat itu. 'Nggak level', katanya. Sedangkan gue yang mempunyai tugas untuk ngintilin big baby boy, tidak punya hak veto untuk membantah. Kami sudah berusaha membohongi Budhe Harsono, tapi gara - gara hadiah ponsel dari beliau itu, kami jadi mati gaya jika berbohong.
"Bobby and the gank bubar, Za. Nggak ada Lo, nggak rame." Jawaban bobby membuat gue semakin dilanda perasaan bersalah.
"Maafkan gue ya, Bob!"
"Udah santai aja, Za. Gue juga tahu ini semua Ko lakukan demi membahagiakan bokap Lo. Melihat Lo semangat untuk ortu, gue jadi sadar kalau gue juga harus cepat lulus demi kebahagiaan ortu gue."
Ya Allah.... meskipun selengekan, ternyata dia memang teman yang paling peduli banget. Meskipun gue mangkir dari band, dia tidak marah, bahkan memberi support. Gue jadi tidak tega mengkianati Bobby dengan menerima tawaran mas Lanang untuk debut solo.
"Ya udah Bob, semangat ya menngejar lulus skripsi! Assalamualaikum!"
"Thanks, Za. Waalaikumsalam."
Gue kembali melamun. Sebulan ini gue sudah melalui hari yang sangat berat. Awalnya gue berpikir bakalan kuat. Demi bokap gue, demi almarhumah nyokap gue. Gue berusaha bertahan menghadapi big baby boy.
Dan hari ini, gue menyerah. Gue merasa lelah. Mungkin memang sudah waktunya gue dan Aksa terlepas dari beban yang mengikat kami semenjak kami belum lahir. Gue tidak mau menjadi Siti Nurbaya, dan Aksa juga tidak ingin menjadi Datuk Maringgih katanya. Hahahaha..... gue jadi membayangkan big babby boy sudah menjadi aki - aki, Sob!
Lamunan gue terganggu dengan panggilan telpon dari big baby boy yang meminta gue untuk kembali masuk ke ruangannya. Ternyata kedua sejoli itu sudah selesai bercumbu rayu, toh? Ketika gue melihat notif, ternyata di saat gue sedang menelpon bobby, budhe Harsono melakukan panggilan ke nomor gue. Gue langsung blingsatan.
Karena gue sedang kalut dan baper saat tadi menelpon Bobby, gue sampai tidak menyadari bunyi tut tut yang menandakan ada panggilan masuk baru. Duh.... semoga budhe tidak marah.
Sebelum kembali ke ruangan big baby boy, gue sengaja ke kantin dulu untuk membawakan es lemon tea kesukaan Arneta. Biar si neng geulis tidak marah karena keasyikan indehoy mereka terganggu.
Di dalam ruangan big babby boy, gue dan Arneta duduk di sofa. Wanita cantik itu tidak lagi bermanja mesra dipangkuan pria itu. Masa acara nininananina mereka sudah selesai? Kok cepet banget ya, sob. Ngejar kereta apa ya? supaya tidak ketahuan staf yang butuh tanda tangan pria itu?
Yaela... kenapa gue jadi ketularan mesumnya big baby boy coba?
"Mbak Arneta, ajarin aku biar bisa dandan secantik Mbak, dong!"
Gue mencoba mengajak ngobrol Arneta. Macam geng sosialita gitu. Supaya perhatian big baby boy tidak mesum melulu.
"Mimpi kali kamu bisa cantik karena berdandan. Entar malah mirip ondel - ondel"
Bukan Arneta yang menjawab, tapi malahan big baby boy yang nyolot. Semoga lidahnya jadi keriting supaya tidak bisa berbicara julid lagi. Amin
Kali ini gue berniat tidak ingin kalah. "Biar saja mirip ondel - ondel. Tapi ada yang berminat menjadikan saya artis lho pak!"
Gue mengingatkan bos gue itu. Gue lirik sekilas si big baby boy. Wajahnya tampak jutek. Entah tersinggung karena jawaban gue, ataukah karena gue ikutan nimbrung diantara dia dengan kekasih cantiknya itu.
Untunglah Arneta segera pamit ketika seseorang menelponnya untuk segera kembali ke kantor. Lagipuls sudah punya kantor sendiri, tidak ada meeting pula, ngapain juga menyatroni kantor orang lain?
കകകകക
Malam ini selepas makan malam, gue sempat mengobrol dengan bokap. Obrolan yang tadinya terasa menyenangkan, tapi tiba - tiba berubah menjadi tidak mengenakkan ketika bokap gue menanyakan Aksa.
"Piye hubunganmu mbi Aksa, Nduk?"
(Bagaimana hubunganmu dengan Aksa, nak?)
"Sae pak."
(Baik pak)
Gue mencoba menutupi keadaan yang sebenarnya. Dan jawaban gue berhasil membuat bokap gue tersenyum.
"Wingi bapak ngimpi, Nduk. Ibumu teko terus arep ngejak bapak lunga."
(Kemarin bapak bermimpi, Nak. Ibumu datang mau mengajak bapak pergi)
Jantung gue langsung berdetak lebih cepat. Mendadak Gue dihinggapi perasaan cemas dan khawatir, Sob. Soalnya ada mimpi yang bisa menjadi sebuah firasat atau pertanda akan terjadi sesuatu yang tidak baik. Semoga saja mimpi bokap gue karena efek kangen istri aja, ya?
Kemudian bokap melanjutkan ceritanya, "Terus bapak nolak, Nduk. Bapak iseh duwe kewajiban dadi wali nikahmu. Iyo to?"
(Lalu bapak menolak, Nak. Bapak masih mempunyai kewajiban menjadi wali nikahmu. Iya kan?)
Bokap gue tertawa. Gue ikut tertawa untuk mengenyahkan perasaan yang semakin campur aduk.
"Injih, Pak. Bapak tasih gadah kewajiban dados wali nikah kulo kalian momongaken wayah!'
(Iya, Pak. Bapak masih mempunyai kewajiban menjadi wali nikah saya dan momong cucu)
Gue mencoba membalas guyonan yang di ucapkan bokap sambil menyembunyikan keresahan di hati.
"Lha yo mulane kuwi Bapakmu iki takon, Nduk. Kowe mbi Aksa iku piye. Gelem dijodohke opo ora?"
(Lha ya makanya itu bapakmu ini tanya, Nak Kamu dan Aksa itu bagaimana. Mau dijidohkan atau tidak?)
Pertanyaan bokap gue terasa jlep banget ya, Sob? Di saat bokap bertanya tentang Aksa, orang yang ditanyaain sudah berpacaran dengan wanita lain. Kalaupun gue berusaha meraih hati Aksa demi bokap gue, jelas saja gue tidak sanggup. Bagi gue terlalu berat untuk melawan seorang Ariel Tatum meskipun hanya versi KW.
Kalau seandainya gue menerima mas Lanang untuk serius menjalin hubungan. Reaksi bokap gue bagaimana ya?
Tbc
bayikk pikir ini crta tntang anak betawi ...ehh ternyata ada campuran jawax ...keren
klamaan tinggal di kalimantan kangen jg potongan2 bahasa kramanya