Suami Bajinganku Tersayang.
Aku tak menyangka pertemuanku yang tak sengaja dengan Leon, lelaki romantis dan super tampan itu adalah awal dari kisah hidupku yang nelangsa.
Betapa tidak, di umurku yang baru menginjak 18 tahun aku sudah di tinggalkan kedua orang tuaku akibat kecelakaan tunggal dijalan tol.
Kedua orang tuaku hangus terbakar di dalam mobil, sedangkan aku bisa diselamatkan dari kecelakaan maut itu.
Dialah Leon Maleva, pahlawan yang menyelamatkan hidupku sekaligus menjadi suamiku kelak.
Dibalik sikapnya yang manis dan romantis tersimpan sejuta rahasia yang terpendam.
Bisakah aku hidup bahagia dengannya?
Karya ini kolaborasi dari Yoevanca, Fery Tamaki, Tiyan Wijayanti & Nenk triska Zeka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoevanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23 - Hamil???
Leon menelan ludah kasar tatkala matanya menangkap dua sosok yang tak asing di seberang sana.
Seperti pagi-pagi sebelumnya Leon sudah memarkirkan mobilnya di seberang kampus Ivanka, nampak dari dalam mobilnya Leon melihat Ivanka dan Adrian tengah memperbincangkan sesuatu yang serius.
Leon tidak mengerti apa yang mereka bicarakan dan ia juga tidak ingin mengetahuinya, dirinya saat ini hanya ingin memandang wajah cantik itu saat tersenyum. Pandangannya terfokus pada Ivanka yang tampak sangat bahagia dari hari-hari sebelumnya saat bersama Adrian.
Jujur hati Leon cemburu, ia iri dengan kedekatan dua manusia yang sedang tertawa bahagia.
Leon hanya meratapi kebodohannya yang sekarang menjadi jurang pemisah antara ia dan Ivanka untuk bersatu.
Hatinya sedih jika mengingat perbuatan bejadnya ketika itu, yang telah menyakiti dan melukai hati wanita kesayangannya.
Ingin rasanya ia berlari untuk memeluk dan menarik Ivanka dalam dekapannya, membawa gadis itu kembali dalam kehidupannya seperti waktu yang lalu.
Namun semua hanya mimpi, tidak mungkin semua akan kembali lagi seperti kemarin.
Semua ini terjadi karena sebuah kesalahan yang sudah ia perbuat, memaksa Ivanka untuk kembali padanya itu sangat mustahil bagi Leon ia hanya ingin melihat wanita itu bahagia.
"Aahhh Tuhan, takdir apa yang sedang Tuhan siapkan untukku? Kalau boleh aku memohon kembalikan Ivanka kepadaku?" Teriak Leon sambil memukul stir mobilnya.
Sebuah potret menyedihkan terlintas dari pikirannya bahwa hubungan mereka hancur bahkan sebelum dimulai, hubungan yang layu bahkan sebelum tumbuh.
Leon tertawa masam, setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ivanka baik baik saja sejauh ini.
Hanya itu yang bisa dilakukannya, menjaganya dari jauh, menjadi bayangan yang tak nampak, namun ia akan maju paling depan jika gadisnya terusik.
Leon kembali menatap jalanan, melajukan mobilnya, meninggalkan Ivanka dan Adrian dengan sejuta perasaan cemburu.
Seharusnya Leon yang harus di posisi itu sekarang, menjaga dan melindungi Ivanka bukan Adrian.
Sementara itu, Adrian dan Ivanka yang tidak menyadari kehadiran Leon dan masih sibuk berbincang, sesekali tangan adrian yang jahil mencubit pipi Ivanka karena gemas atau sekedar mengacak rambutnya dan membuat bibir Ivanka yang manis itu cemberut. Menimbulkan asumsi bahwa mereka adalah pasangan bahagia pada setiap mata yang memandang.
Meski itu hanya sebuah harapan buat Adrian, kenyataannya tidak demikian hati Ivanka hanya milik Leon.
Nyatanya Ivanka masih sangat berharap kalau Leon masih mencintainya dan suatu hari mereka akan kembali lagi.
"Cinta, apa kamu yakin baik baik saja?" Mengingat apa yang terjadi semalam membuat pria ini begitu khawatir.
"Huuuuhhhhft."
Ivanka menarik nafas panjang lagi.
Pasalnya pertanyaan itu telah sekian kali di dengar dari mulut Adrian sejak bangun tidur sampai sekarang.
"Kakak aku baik baik saja, sumpah!" Jawab Ivanka sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Dengar Cinta aku hanya khawatir." seru Adrian lagi.
"Oke, kalau begitu berhentilah khawatir sekarang. Aku harus ke kelas sekarang sebelum terlambat jadi ... arrkhh." sahut Ivanka sambil menahan rasa sakit di kepalanya.
Belum selesai ia berbicara tiba-tiba kepalanya kembali pusing, badan Ivanka mengeluarkan keringat dingin dan perutnya kembali merasakan mual yang teramat sangat.
Tubuhnya seperti merasakan lemas dan tidak bertenaga dan pandangan menjadi kabur seketika.
"Cinta ..., Cinta kamu kenapa?" teriak Adrian panik.
Adrian ikut memegangi kepala Ivanka dan tiba tiba saja gadis itu jatuh, terkulai lemas di pelukan Adrian.
"Cinta ..., cinta Astaga ada apa denganmu? Bangun Cinta!" teriakan Adrian semakin panik.
Adrian menggoyang goyang tubuh Ivanka dan menepuk pelan kedua pipinya, tapi tak ada respon.
Ivanka pingsan dan pelukan Adrian, sekalipun Adrian sudah menepuk-nepuk pipinya dan menggoyangkan tubuhnya dengan kuat tetap tidak bisa membangunkan wanita itu.
Dengan segera Adrian mengangkat tubuh Ivanka dan memasukkan kembali ke dalam mobilnya lalu dengan segera membawanya ke rumah sakit terdekat guna mendapat pertolongan.
"Cinta bertahanlah aku akan membawa kamu segera sampai ke rumah sakit, kamu harus kuat," ucap Adrian sambil melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sampai di rumah sakit Adrian segera meminta pertolongan segera untuk memeriksa Ivanka, ia penasaran dengan sakit yang sedang di derita gadis itu.
Adrian membuang jauh perasaan jeleknya yang sejak semalam berkecamuk dalam pikirannya.
*****
Adrian hanya mondar mandir tak jelas di depan ruang periksa pasien, ia tidak diizinkan masuk karena kepanikannya yang berlebihan saat membawa Ivanka membuat dokter memintanya untuk menunggu di luar.
Ia bahkan memarahi semua perawat dengan tidak jelas apa masalahnya saat menggendong Ivanka dan membawanya masuk ke ruang periksa dan tentu saja ini di nilai sangat menggangu kerja tim medis.
Setelah beberapa lama melakukan pemeriksaan terhadap Ivanka akhirnya dokter yang menangani pasien keluar dari ruang periksa, ia menghampiri Adrian dan meminta pria itu untuk mengikutinya ke ruang Dokter. Adrian dipersilahkan duduk, tapi terlihat sekali pria itu sangat tegang dan ia tidak bisa santai sedikitpun.
Dokter wanita itu melepas kacamatanya sebelum mulai mengawali pembicaraan. Kenapa harus seorang dokter wanita? Jelaslah ini ulah Adrian.
Di saat panik sekalipun, ia masih tidak rela jika pria lain menyentuh Ivanka, meski seorang dokter sekalipun.
Sudah pasti pria ini akan maju di garis terdepan jika membayangkan dokter pria akan menyentuh Ivanka.
"Jadi bagaimana keadaannya dok? Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa pingsan? Semalam tiba tiba saja dia mual, pusing dan muntah. Lalu baru saja mendadak dia pingsan." tanya Adrian mulai di serang rasa panik dan ia melayangkan banyak sekali pertanyaan.
Sifat yang biasanya cool mendadak berubah seketika, kini Adrian terlihat seperti lelaki yang banyak bicara.
"Bapak tenang dulu nanti saya jelaskan," ucap sang Dokter.
"Bagaimana saya bisa tenang dok? Saya tidak tahu apa yang terjadi dan___" ucapan Adrian terhenti seketika.
Nampaknya Dokter itu mulai pusing dengan ocehan Adrian. Jadi sebelum pria itu semakin tak jelas Dokter berkata.
"Istri anda hamil." Sela sang dokter sebelum lelaki itu melanjutkan ucapannya.
Kepanikan Adrian mendadak reda, berganti seketika dengan rasa terkejut dan bingung. Ia terdiam dan bibirnya terkatup rapat.
Pertama karena si dokter mengatakan Ivanka adalah istrinya dan yang kedua Ivanka hamil?
"Ehhh ba ... Bagaimana dokter?" tanya Adrian tergagap.
"Iya, istri bapak sedang hamil muda usia kandungannya sekitar 8 minggu atau kurang lebih 2 bulan. Pasti hamil anak pertama ya, makanya sepanik itu." ucap sang dokter sambil tersenyum.
Glek... Adrian menelan ludah. Benarkah apa yang didengarnya Ivanka hamil? Dia hamil dan yang pasti bukan anak dari Adrian.
"Ini ada resep vitamin dan penguat kandungan yang bisa diambil di depan ya." ucap sang dokter sambil menyodorkan secarik kertas namun tak kunjung disambut oleh Adrian.
Pria itu masih termenung sendiri dalam lamunannya.
"Bapak ... pak... pak !" Dokter mengeraskan volume suaranya pada kata terakhir dan berhasil membuat Adrian tersadar.
"Ahhh iya, dokter?" jawabnya ragu ragu.
"Ini silahkan obatnya diambil dan istrinya boleh pulang kalau sudah siuman. Saya akan memberitahukan apa saja yang harus di lakukan selama hamil. Minum obat dan vitamin secara teratur, kurangi hubungan suami istri dan kalaupun di lakukan harus dengan gerakan yang sangat lembut jangan sampai membahayakan janin yang di kandungnya. Makan makanan sehat dan jangan sampai telat makan ya pak," terang sang dokter dengan sangat hati-hati.
"Ba ... baik dokter," sahut Adrian.
Setelah bertanya beberapa hal, Adrian keluar ruangan dokter dan beralih menuju ruang pasien, ia menghampiri Ivanka yang masih memejamkan mata.
Lututnya kian melemah, rasanya ia ingin sekali menjatuhkan diri, mendengar si Cinta kini mengandung anak dari pria lain.
Ia menatap wajah Ivanka dengan sedih, namun bayang bayang pria itu kini hadir dalam benaknya.
Kemarahanya tersulut, Adrian keluar dari ruangan Ivanka, dan bicara pada perawat yang kebetulan lewat.
"Suster boleh saya minta tolong?" kata Adrian seramah mungkin.
"Apa yang bisa saya bantu pak?" jawab perawat itu ramah.
"Saya ada urusan sebentar, bisa saya titip istri saya di sini? Setelah semua urusan saya selesai pasti saya akan kembali dengan segera. Tolong kalau nanti istri saya terbangun jangan dulu bilang kalau saat ini dia hamil anak kami, saya mau memberi kejutan kepada istri saya," kata Adrian kepada perawat itu dan ia berusaha menyembunyikan emosinya.
"Wah ... bapak romantis sekali, istri bapak pasti bahagia mempunyai suami seperti anda," balas seorang perawat sambil tersenyum.
Setelah berterima kasih pada perawat tersebut Adrian bergegas keluar.
Dengan rasa amarah yang sejak tadi ditahannya dan otaknya sudah mulai kalut. Tak ada lagi tujuan lain, selain ia harus memberi pelajaran kepada Leon si ******** tengik yang sudah menghamili Ivanka.
Jadi ia bergegas menyalakan mobil yang terparkir di halaman rumah sakit dan dalam sekejap mobil itu sudah melesat masuk meninggalkan jejak kemarahan di jalan aspal dan Adrian mengemudikan mobil tersebut dengan brutal.
Beberapa umpatan dan makian dari pengendara lain tak lagi digubrisnya, ia hanya tahu bahwa hari ini Leon mungkin harus mengakhiri hidupnya.
Tak lama kemudian ia sudah sampai di kantor Leon, sangat mudah baginya menemukan kantor Leon mengingat Adrian juga pebisnis muda.
Adrian memandangi kawasan Maleva Corporation Gedung tinggi menjulang nan megah, yang membuat kemarahannya sudah berada di puncak ubun ubun.
Ia keluar dari mobil dan membanting pintu, tapi mendadak sesuatu meyadarkannya.
"Tunggu dulu, aku bisa saja menghajarnya sekarang, mengatakan dia adalah baji*ngan yang sudah menghamili Ivanka. Tapi bagaimana jika ia tergesa-gesa memberitahu Ivanka, dan menjadikan ini alasan agar Ivanka bisa kembali lagi kepadanya. Sejauh ini aku dan Ivanka baik baik saja kan?" gumam Adrian dalam hati dan menciutkan nyalinya karena takut kehilangan Ivanka .
Adrian diam lalu bersandar pada mobilnya. Cukup lama ia bergelut dengan batinnya.
"Bukankah ini bagus? Baji*ngan itu tidak perlu bertanggung jawab dan akan membuatku menjadi pahlawan di mata Ivanka." hati Adrian berbisik.
Sepertinya rasa Cinta sudah mulai membutakan hatinya. Sampai akhirnya ia memutuskan, untuk membiarkan semua terjadi. Sampai ia memiliki rencana berikutnya.
🌴🌴🌴🌴🌴🌴🌴
Jangan lupa untuk memberikan like, komen, dan vote setelah membaca dengan cara itu kalian memberi semangat penulis untuk tetap berkarya.
Tekan tombol ❤️ dan tolong di bantu rate bintang 5 ya ... happy reading makasih.
ya iyalah gila, kan kepalanya ngebentur, pasti geser dikit lah.
g ada dewasa2 nya....
kejam bngt......🤣🤣🤣🤣🤣😂😂
Aku kemari ngapain😭