Tentang Anya yang harus menerima perjodohan dan menikah dengan lelaki kasar dan dingin bernama Dante, demi menghujudkan keinginan sang ayah yang sedang kritis di rumah sakit. Luka dan derita mengiringi setiap langkah kakinya setelah pernikahannya berlangsung. Bukan hanya harus menerima perilaku kasar dari sang suami, ia juga harus menerima kenyataan jika suaminya telah tega menghamili wanita lain dan berniat menikahi wanita tersebut.
Juga dendam dimasa lalu, yang menutut pembalasan membuat orang-orang yang Anya sayangi satu persatu jatuh dan terluka. Dapatkan Anya bertahan dengan hidupnya yang malang? Ditengah problema rumah tangga yang begitu rumit, serta kehadiran orang ketiga yang berusaha merusak rumah tangganya.
Akan banyak adegan kekerasan terhadap wanita di beberapa part, juga perkelahian serta umpatan-umpatan kasar mohon bijak untuk membacanya dan memberikan komentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon N.P Sukaryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
WARNING DI BAB INI MENGANDUNG UNSUR KEKERASAAN. MOHON BIJAK BAGI PEMBACA. JANGAN LUPA BERI LIKE DAN VOTE AGAR AUTHOR SEMANGAT UPDATED...
***
Hujan malam itu tak urung juga berhenti. Walau hanya rintikannya saja, namun cukup membuat tubuh sedikit merasa menggigil. Jalanan pun begitu sangat bersahabat. Terlihat lengang dan sepi. Berbeda dengan malam-malam minggu sebelumnya, yang sangat di padati muda-mudi yang ingin menghabiskan malam minggu mereka.
Mobil yang di tumpangi Layla, melaju dengan kecepatan sedang memecahkan malam ibukota. Masuk ke dalam perumahan elit komersil di daerah Tanggerang, dan berhenti tepat di halaman apartemen mewah Green Lake City. Tak lama Rendi keluar dari dalamnya, dan membukakan pintu untuk Layla.
Senyuman mengembangkan begitu tulus dari bibir ranum wanita itu. Sebelum Rendi pergi, Layla tak lupa mengucapkan terimakasih kepada anak buah kekasihnya itu. Walaupun hanya di anggukan kepala dan wajah datar dari lelaki itu. Membuat Layla sedikit agak kesal.
Setelah mobil milik Rendi pergi meninggalkan apartemen, Layla pun masuk ke dalam gedung mewah dengan keamanan tinggi itu. Tak lupa, wanita itu mengirimkan pesan kepada Dante mengatakan jika dirinya telah tiba di apartemennya.
Sepanjang perjalanan menujuh unitnya, Layla sudah membayangkan akan mandi dengan air hangat di temani lilin aromaterapi dan musik klasik yang menenangkan jiwa. Ah! Tubuhnya terasa amat begitu lelah hari ini. Entah mengapa semenjak dia berbadan dua dan diagnosis mengidap kanker, tubuhnya menjadi lebih sensitif dan selalu terasa lemas dan lunglai. Padahal dia sudah meminum obat-obatan dan vitamin yang di anjurkan dokter. Namun, semuanya serasa tidak mempan untuk tubuh Layla. Dirinya tetap merasakan lemas, bahkan sakit diarea bagian-bagian tertentu.
Lift berbunyi, menandakan jika ia telah tiba di lantai unitnya. Dengan langkah gontai, Layla menelusuri lorong berdinding putih dengan beberapa lukisan sebagai ornamen indah untuk menghiasi dinding.
Dengan lihai tangannya mungil miliknya, menekan kode sandi pintu apartemen. Membuka pintu besi itu dan masuk kedalamnya sebelum kemudian ia kembali menutup pintu otomatis tersebut.
Keningnya mengerut binggung, saat maniknya melihat sebuah sepatu pantofel pria yang begitu asing berada di rak sepatu. Tubuhnya seketika kaku, kepalanya mendongak sedikit kearah ruang tamu apartemen, mengecek apakah ada seseorang di dalam sana. Namun, nihil. Tak ada seorangpun yang bisa ia lihat. Tunggu, Layla terdiam sesaat disana. Matanya membulat, saat menyadari apakah di dalam sana ada maling?
Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Bukannya keluar dari dalam apartemen itu,ndan mencari pertolongan Layla justru memberanikan diri masuk ke dalam apartemennya seorang diri dengan memegangi sebuah tongkat basbol yang berada di bawah rak sepatu.
Dengan langkah takut, dan gemetaran. Layla melangkahkan kaki masuk ke dalam apartemen. Namun sial baginya, ia tidak dapat melihat apapun karena semua lampu di apartemen sengaja ia matikan tadi sebelum pergi. Membuat ia, akhirnya berjalan sambil meraba-raba benda sekitar. Jantungnya terpacu begitu kencang, sesekali Layla menoleh ke belakang dan kanan kirinya. Takut-takut, jika ada seseorang yang tiba-tiba menikamkan dari salah satu arah tersebut.
Namun, hingga ia naik ke dalam kamarnya, dan Kembali turun ke bawa. Dia tidak menemukan maling itu. Hingga dirinya berpikir, apa sepatu yang ada di rak tersebut kepunyaan Dante? yang sengaja ia tinggalkan sewaktu menginap kemarin?
Tidak ingin terus monolog dan menerka-nerka. Akhirnya Layla mencari tombol lampu dan menyalahkan lampu apartemen. Layla tersenyum, saat lampu menerangi apartemennya dan menampilkan apartemennya yang kosong tiada orang selain dirinya. Ia tertawa, menertawakan dirinya yang amat begitu bodoh dan lebay. Seharusnya dia tau, jika tidak mungkin ada seseorang yang begitu saja masuk ke dalam apartemen. Sudah jelas-jelas apartemen di sana adalah apartemen terbaik dengan keamanan yang begitu terjamin
Ah, aku terlalu parno. Ucapnya sambil melemparkan tongkat bisbol ke kursi dan mengeratkan kedua tangannya tinggi, untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
"Jadi kau terlalu parno?"
Layla tersentak kaget, saat mendengar suara seorang lelaki dari arah balkon, sejurus dengan sebuah tangan kekar menyeka gorden emas yang menutup balkon.
Sejenak Layla terdiam, terdiam dengan tatapan waspada, berusaha melihat siapa lelaki yang berada di balik gorden itu. Namun, matanya langsung membulat saat lelaki itu muncul dari balkon. Seketika itu pula tubuhnya bergetar hebar, wajah pucat milik Layla terlihat semakin memucat, ditambah desiran darah yang tiba-tiba saja ia rasakan.
Lelaki yang tak lain adalah Danish itu menyeringai. Masuk dan berjalan kearah Layla, sambil mengangkat tangannya, untuk menunjukkan sesuatu yang kini sedang ia genggam.
"Kau sekarat Layla?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Ku mohon jangan apa-apakan obatku, Danish. Aku membutuhkan itu."
Danish berdecak dan terkekeh, "Dengan atau tanpa obat ini, malam ini kau akan mati di tanganku, Layla." Kekehannya terhenti, dan kini berubah menjadi tatapan tajam mengintimidasi.
Tubuh Layla bergetar cukup hebat. Reflek seluruh saraf-sarafnya bekerja begitu cepat saat Danish mencoba mendekati dirinya, dia melangkah mundur berusaha menghindar dari lelaki itu.
Apa salahku? Kenapa lelaki ini ada di sini? Tuhan, apa dia sungguh-sungguh akan membunuhku?
Wajah Layla semakin memucat. Peluh membasahi wajahnya, saat tubuh Danish semakin mendekatinya.
"A...aku mohon tolong jangan sakiti aku, Danish." Menggosok-gosokkan kedua tangannya, mengiba kepada Danish untuk tidak disakiti.
Tanpa berniat menjawab perkataaan Layla, dengan kasar Danish langsung menarik tangan Layla dan mendorong tubuh gadis itu hingga membentur sofa.
Layla meringis, perutnya terasa amat begitu sakit. Namun Danish malah terkekeh melihat Layla kesakitan.
"Ini untuk lo yang berani bertemu dengan suami adik gue."
"Akhhh..." Pekik Layla, saat tangan kekar Danish menjambak rambutnya hingga membuat wajah gadis itu mendongak ke atas.
"Dan ini buat lo yang udah menggoda sahabat gue."
PLAK... PLAK... PLAK
Layla mulai terisak merasakan perih di pipi miliknya.
"Bangun..."
Danish menarik rambut Layla, dan menyuruh gadis itu untuk berdiri. Tanpa basa-basi, Danish langsung mendorong tubuh Layla hingga membentur tembok, dan membenturkan kepala Layla beberapa kali disana.
Gadis itu tidak dapat memberontak, tubuhnya sudah terlalu lemas ditambah kepalanya yang begitu amat sakit hingga rasanya ingin pecah.
Danish tersenyum puas ketika Layla tidak mampu memberontak dan malah pasrah dengan perbuatannya. Setelah puas membentur kepala Layla yang sudah mengeluarkan darah itu, Danish akhirnya melepaskan cekalnya dari rambut Layla. Seketika itu pula tubuh Layla ambruk tersungkur ke lantai.
"Da...danish a...aku minta ma..."
BRUK... BRUK...
"AKHHHH...." Layla memeluk perutnya, saat Danish menendang perut wanita itu dengan membabi buta. Tak ada rasa kasian sedikitpun terlintas di wajah dan benak Danish. Yang terlihat hanya api kemarahan yang semakin berkobar ketika Layla berucap sepatah kata.
"*******! ******! Lo murahan yang hanya deketin Dante demi popularitas lo doang."
BRUK...
"Akh..."
Tubuh Layla bergetar begitu hebat. Perutnya terasa amat begitu sakit. Ia meronta-ronta, namun Danish tidak memperdulikannya dan terus menendang bahkan menginjak perut, pinggul, dan dada wanita itu. Air mata tak dapat di bendung lagi. Ia terisak, sambil menatap nanar kearah atas.
Tuhan apakah ini akhir dari hidupku?
Menyadari Layla sudah tak berdaya. Danish akhirnya menghentikan aksi gilanya. Lelaki itu jongkok menatap tubuh Layla yang sudah begitu berantakan. Lelaki itu tersenyum, sambil mengusap lembut kepala Layla yang sudah mengeluarkan darah. Samar-samar Danish pun berkata
"Gue tau anak ini anak Dante, dan gue ga akan biarin anak ini lahir. Lo paham?
TO BE COUNTINUE....
dan jgn mengedepankan dendam , serahin saja sama Allah .
jalani lah hidup dgn kerukunan , cinta kasih dan sayang yg tulus serta ikhlas , serta syukuri apapun yg pemberian Allah .
anda akan menang dlm menjalani kehidupan .
hidup Istiqomah dan menghembuskan nafas terakhir dalam keadaan Husnul khotimah Aamiin