Ini kisah tentang diriku yang mencintai seseorang dalam diam dan berusaha untuk tidak memiliki sikap yang egois yang ingin berusaha untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tml_8TR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMAN
...Riska POV...
...1 minggu kemudian...
Waktu telah berlalu...Ujian Riska pun telah selesai, dan kini Riska tengah menunggu hasil ujiannya untuk bisa melengkapi berkas-berkas yang akan ia ajukan di beasiswa Korea.
Didalam kamar Riska, Riska tengah membereskan beberapa berkas, dan juga mencatat list barang-barang yang akan ia bawa.
Keadaan Riska sekarang begitu aneh, di satu sisi ia merasa senang dan berharap bisa lulus dalam tes beasiswanya, sedangkan disisi lain ia merasa sedih karena belum pergi ke taman, biasanya ia akan pergi ke taman dan bertemu dengan Pria yang ia cintai secara diam-diam itu.
"Hm...apa hari ini aku akan melihatnya?, tapi kalau di pikir-pikir dia kan punya kekasih pasti dia begitu senang dengan perempuan itu" Batin Riska yang menerka-nerka akan apa yang terjadi, jika ia mengunjungi Taman dan menemui Pria yang sudah ia duga punya kekasih yang begitu cantik.
"Sungguh beruntungnya Perempuan itu" Riska melanjutkan kegiatannya dan tersenyum, kuat hati dan pikiran yang membuatnya menjaga hatinya agar tak salah menaruh perasaan, walau masih saja ia berpikir untuk merindukan pria tersebut.
Sambil melanjutkan kegiatanya, Kakak Riska juga masuk kedalam kamar dan mengobrol bareng dengan Adiknya yang akan menunjang pendidikan sepertinya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam kakak"
"Lah...lagi ngapain nih?" Siska duduk disamping adiknya yang tengah mengatur dan memikirkan apa yang akan ia bawa.
"Yah seperti yang kakak lihat...lagian aku hanya tinggal tunggu waktu saja lagi" Riska yang sibuk dengan catatanya tak memperhatikan kakaknya yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Yah..Yah..Yah...adik aku bakal di luar negeri, titip oleh-oleh ya" Canda Sang Kakak membuat Riska tersenyum dan memeluk kakaknya itu.
"Aduh kakak...jangan begitu, aku bisa gila loh" Ucap Riska yang memang benar, karena ia sulit berjauhan dengan keluarga, apa lagi Kakaknya yang mengerti keadaanya.
"Hei Bodoh...belum lagi berangkat malah bilanv gitu, Lagian kapan pengumumannya keluar?"
"Masih lama...lagian aku kan hanya mencatat apa saya yang perlu disiapkan"
"Kau ini...yasudah catat yang penting, dan ia disana ada teman kakak yang akan membantumu"
"benarkah?"
"iya...jadi kau bisa sedikit tenang disana"
"Ah...makasih kakak, kau sudah banyak membantuku" Riska pun memeluk kakaknya itu.
"Kau ini...aku ini kakak mu, jadi wajar bagiku untuk menjaga dan membantu adikku"Siska membalas pelukan sang adik yang senang dan juga sedih akibat kedekatan mereka yang akan menghilang.
"Ah kakak, kakak luar biasa"
"Sudah...kau lebih baik mengunakan waktu mu ini untuk bersama dengan keluarga dan teman-temanmu"
"Kakak benar...gimana kalau hari ini kita ke taman?"
"Kau benar...yasudah siap-siap sana, aku akan izin sama ibu"
"Baik Kakak"
Riska yang sudah mengajak kakaknya itu pun langsung bersiap-siap.
Setelah bersiap-siap Riska pun langsung menyusul kakaknya yang sudah siap terlebih dahulu. Ia juga sudah meminta Izin kepada Ibunya sebelum mereka berangkat.
......................
...Ditaman...
Riska yang biasa mencari GAZEBO sebelum melihat Pria yang sudah menjadi orang penting dan dicintai secara diam-diam, kini malah datang langsung melihat-lihat ke segala arah demi menemukan wajah Pria cinta diamnya itu.
Siska yang melihat wajah Adiknya yang mencari-cari seperti orang ke binggungan, membuatnya ikut melihat-lihat. dan menerka-nerka apa yang dipikirkan Adiknya itu.
"Hmm...apa dia mencari Pria yang ia cintai dalam diam itu" Batin Siska begitu kuat, saat adiknya melihat Pria yang berpakaian satpam di taman.
"Ris!!!" Panggilan sang Kakak tak di hiraukan oleh sang adik saking Fokus melihat pria yabg ia cari.
"Ris!" Siska pun menyentuh pundak Adiknya itu, yang membuat Riska kaget.
"ah!!iya kakak!"
"Kau ini, masa melamun di tengah jalan?" Siska menunjukan wajahnya yang sedikit malu akibat adiknya yang beraksi seperti orang aneh.
"Ah!!!maaf kakak...aku kelewatan ya"Riska mengaruk kepalanya yang tak gatal tapi seperti kenyataan bahwa itu memang gatal.
"Sudahlah...kita cari GAZEBO dulu"
"Ah iya" Riska dan Kakaknya pun mencari Gazebo yang tak terlalu dalam di Taman.
Setelah menemukan tempat duduk, Tak lupa dengan cemilan yang menemani waktu mereka di taman, sambil menunggu orang yang ingin di jumpai Riska.
"Ris..kau yakin di akan datang?"
"Entahlah kakak, biasanya ia akan bekerja di jam seperti ini" Ada rasa sedih di hati Riska saat menunggu dan melihat sambil mengingat awal ia bertemu pria di depannya itu.
"Tenang...kakak yakin mungkin di lagi ada urusan jadi tak ada disini" Tepukan Siska sedikit membantu adiknya yang sedang bersedih.
"Kakak benar..lagian aku tak boleh egois dengan keinginanku, kalau jodoh aku akan bertemu lagi dengannya" Senyum Riska begitu terpancar dengan indahnya yang di sambut senyuman hangat oleh Kakaknya.
"Yasudah kita sudah lama disini, lebih baik kita pulang, dan kau juga harus belajar bahasa bukan?" Ajakan Siska ke adiknya memang hal yang sulit untuk Riska yang masih ingin menunggu, namun wakti mereka sudah lama saat tiba dan duduk serta mengobrol walau itu tak berjalan lancar, karena Riska lebih fokus dengan pandangannya.
"Baik Kakak" Ucap Riska sambil bangun dari duduknya yang disusul oleh Kakaknya itu.
Saat tiba di tempat parkir, Riska bertemu Dimas yang baru saja tiba.
"Hai Ris!!hai Kak Sis!!" Sapa Dimas dengan ramah.
"Hai dimas...!!!"Senyum kedua kakak adik ini membuat Dimas sempat salpok akibat dekat.
"Ah!!!...Kalian kenapa disini?" Tanya Dimas yang sudah terbawa perasaan akibat senyuman dari Kakak dan Adik itu.
"Kau ini bodoh atau apa?...kan ini Taman, masak engak tahu fungsi taman?" Nada Riska yang membuat Kakaknya menahan tawa dan membuat Dimas jadi diam akibat kesalahan dalam pertanyaannya.
"Lagian kau juga ngapain ke taman?" Tanya Riska membalikkan pertanyaan dari Dimas. Dimas hanya tertawa dan menahan malu akibat pertanyaannya.
"Sudahlah...kalian ini!!Ris ayuk pulang" Ajakan Kakak Riska menghentikan Ocehan Riska yang akan memangsa tergetnya karena sudah membuat pertanyaan yang tak masuk akal. Dimas yang melihat kepergian mereka, hanya terdiam dan bingung akibat sikaf Riska yang mengerikan itu.
"Ah...pantesan dia bisa dibilang penolong, kalau di yang bully orang pasti pada jadi anak pendiam deh, anak orang." Batin Dimas yang sadar akan kata-kata yang dikeluarkan oleh Riska.
...----------------...
...~Selesai~...
berarti ini cerita sudah lama ya kak 🙏🙏🙏
rate 5
tombol ❤
semangat kak
salam my boss psychopath