"Jangan terlalu berlebihan Alya, ingat pernikahan kita ini hanya pura-pura. Kita menikah bukan karena keinginan kita, jalani saja sewajarnya. Jangan berharap aku akan menjamahmu!"
Alya Adelia Wijaya. Gadis muda yang statusnya masih pelajar, harus merelakan masa mudanya untuk menikah dengan seorang pria yang menjadi pilihan orang tuanya.
Tanpa sepengetahuannya, orang tuanya sudah menjodohkannya semenjak mereka masih kecil dan Alya sendiri tidak pernah tahu kalau dirinya ternyata sudah dijodohkan.
Setelah menikah, ia merasakan kehidupannya berubah drastis. Awalnya dimanja oleh orang tuanya, kini harus mengabdikan hidupnya pada suaminya yang selalu bersikap dingin dan jutek.
Mampukah Alya membuat pria jutek itu berubah sikap dan bisa menerimanya dengan baik?
Atau mungkin dia putuskan untuk meninggalkan pria yang tidak pernah menganggapnya sebagai pasangan?
Cover: free licence, freepik.com
Edit : sampul buku written by Ika Dw.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Aku Menganggapmu hanya sebatas Adik
Setiba di rumahnya, Alya langsung masuk ke dalam kamar diikuti oleh Rivaldo. Gadis itu agak kecewa saat waktu bermainnya kurang puas dan dipaksa buat pulang, karena alasan sang suami.
"Tau gitu mendingan tadi nggak usah keluar sekalian. Mengecewakan," gerutunya dengan menghempaskan tubuhnya ke kasur.
Rivaldo juga masuk ke dalam dengan membawa laptop yang akan digunakan untuk meeting.
"Katanya mau meeting, ngapain masuk kamar? Jangan bilang tadi cuman alasan kamu aja yang tidak ingin berlama-lama di luar."
Gadis itu memicingkan tatapannya pada sang suami yang tengah menghempaskan tubuhnya di sofa dengan memanggul laptop.
"Siapa juga yang alasan. Ini aku lagi pegang laptop, sebentar lagi aku mau meeting. Masih ada waktu 10 menit lagi," ungkapnya dengan menatap jam tangan di pergelangan tangannya.
"Terus kalau meeting kenapa di kamar kenapa nggak di ruang kerja saja?"
"Ya suka-suka dong!"
Pria egois itu sungguh menyebalkan. Alya pun memutuskan untuk tengkurap dan menutup kepalanya dengan bantal.
"Al! Aku ingin bicara denganmu. Jangan buru-buru tidur," tegas Rivaldo menatap Alya yang tengah tengkurap di atas kasur.
Alya mendongak dengan menjepitkan tatapannya. "Emangnya kamu ingin bicara apa? Ini sudah malam. Aku capek, mau istirahat. Lebih baik putus saja meeting mu itu dengan teman-temanmu," jawab Alya dengan memandangnya sengit.
Rivaldo tahu Alya kecewa karena ia buru-buru mengajaknya pulang. Padahal baru sampai di restoran dan belum sempat bermain-main di tempat lain.
"Oh ayolah Al, cuma 10 menit doang. Setelah ini aku janji nggak akan mengganggumu dan kamu bisa istirahat."
Alya menghela nafas dan memutuskan untuk duduk di atas kasur. Ya sudah, ini cuman 10 menit tidak lebih dari itu. Sekarang katakan apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
Rivaldo melepaskan jaketnya dan melemparnya ke sofa. Ia memutuskan untuk bergabung bersama Alya di ranjang.
"Ini masalah tadi yang dibahas di luar. Menurut kamu gimana tentang permintaan Mama?" tanya Rivaldo.
"Tentang permintaan mama? Maksudnya punya anak?"
Rivaldo mengangguk. "Iya."
"Yang jelas aku masih belum siap untuk punya anak, apalagi usiaku masih terlalu muda, ditambah lagi aku masih belum lulus sekolah," jawab Alya dengan tegas. "Bukannya kamu menganggap pernikahan ini hanya sekedar pura-pura di depan orang tua kita? Kau tidak mencintaiku dan aku juga tidak mencintaimu. Bagaimana mungkin aku berpikir untuk memiliki anak denganmu?"
Rivaldo hanya diam tidak menjawabnya entah sampai kapan ia harus bersikap pura-pura di depan orang tuanya. Tapi ia tidak punya keberanian jika harus mengatakan yang sesungguhnya, jika ia sebenarnya masih belum bisa menerima Alya sepenuh hatinya.
"Aku sendiri juga bingung. Bagaimana kalau mama terus mendesak ku untuk segera memiliki keturunan? Sedangkan di antara kita tidak ada saling cinta. Apa kita selamanya akan tetap berpura-pura seperti ini?"
"Ya terus gimana solusinya? Jangan bilang kamu juga memiliki keinginan yang sama seperti mereka kamu ingin meminta hakmu dan membuatku mengandung darah dagingmu?"
Rivaldo berdecak memandangnya jenggah. "Nggak usah ngaco, Al! Siapa juga yang meminta hakku. Bahkan selama pernikahan kau tidak memberikan hakku, dan aku juga tidak pernah memintamu untuk melayaniku. Mungkin kalau kau menikah dengan orang lain kau tidak akan sebebas sekarang. Walaupun tidak ada saling cinta mungkin kau akan dipaksa untuk melayani suamimu."
"Halah, sok suci loh!! Padahal dalam hati juga pingin kan? Bilang saja Om! Nggak usah ditutup-tutupi. Kau itu terlalu gengsi mengakui ketololanmu," desis Alya sengaja memancing emosi suaminya.
Dia benar-benar dibuat kesal oleh Rivaldo yang selalu bersikap jutek. Mungkin saja kalau Rivaldo bisa bersikap baik, dirinya bisa belajar untuk mencintainya.
"Eh, apa tadi kau bilang? Aku tolol? Sembarangan aja kamu ngatain aku tolol. Kalau aku tolol aku tidak akan bisa sesukses ini. Perusahaanku ada empat, Alya. Dan aku menanganinya sendirian. Aku sukses dengan kinerjaku tanpa bantuan dari siapapun, termasuk orang tuaku."
Alya tersenyum menyeringai. "Memangnya aku tanya perusahaanmu ada berapa? Aku nggak tanya tentang perusahaanmu, atau kesuksesanmu, Om! Nggak usah arogan jadi orang. Mentang-mentang jadi orang kaya sok pamer. Memangnya aku menikah ingin memiliki apa yang kau punya? Sorry ye ...,, aku bukan tipenya cewek matre."
Dalam diamnya, Alya maupun Rivaldo sama-sama memikirkan apa yang tengah dikatakan oleh orang tuanya. Tarisa sampai menangis hanya karena ingin mendapatkan seorang cucu, tapi sayangnya mereka tidak bisa memberikan harapan.
"Jujur,, Aku tidak tega sama Mama . Beliau sampai menangis hanya ingin mendapatkan cucu dari kita. Tapi aku juga belum siap untuk menjalaninya. Aku bingung harus berbuat apa. Apakah aku salah jika menolaknya? Kurasa Mama sangat kecewa sekali dengan penolakanku tadi."
"Iya kelihatannya Mama tadi juga sangat kecewa dengan penolakan kita, tapi ya harus bagaimana lagi? Kamu sendiri juga belum siap, apa harus dipaksakan juga? Bukannya itu hanya menyakitkan buat kita?"
Rivaldo sendiri juga ketar-ketir sudah menyakiti perasaan ibunya. Selama ini mereka selalu memberikan apa yang ia inginkan, tapi saat mereka meminta ia tidak bisa menurutinya.
"Ya .., kali aja kamu menginginkannya, kita bisa kok, melakukannya. Siapa tahu aja diam-diam kamu sudah jatuh cinta padaku."
Seketika bola mata Alya melebar dengan memukul punggung suaminya. "Cih! Najis! Yang ada kamu tuh, pura-pura nolak tapi dalam hati menginginkan," balas Alya.
"Mana ada kayak gitu! Jangan bilang najis! Entar kamu bucin padaku," jawab Rivaldo dengan senyuman menyeringai.
Alya mengumpat dalam hati. Ingin sekali dia memberikan bogeman untuk suami lakhnatnya.
"Kalau aku jujur, alasanku menolak mereka karena aku tidak ingin membuatmu kecewa. Kamu pasti kepikiran terus sama sekolahmu. Aku tidak ingin moodmu hancur hanya karena keegoisanku dan juga orang tuaku."
"Tuh kan akhirnya mengakui. Sebenarnya kau ingin melakukannya kan? Udah lah Om. Nggak perlu menutup-nutupinya, aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau itu terlalu munafik jadi orang."
"Munafik? Munafik bagaimana? Aku tidak pernah munafik ya Al. Aku bahkan menganggapmu tak lebih dari sekedar adik. Bagaimana mungkin aku akan memaksa adikku untuk melayaniku?"
Tatapan kecewa nampak jelas di wajah Alya. Seketika raut wajahnya lesu saat mendengar pengakuan dari suaminya.
"Adik? Jadi selama kau menikahiku kau hanya menganggap aku sebagai adik? Aku bahkan baru tahu kalau kau menganggapku hanya sebatas adik? Kupikir kau ada niatan untuk belajar untuk mencintaiku, ternyata pemikiranku salah. Entah apa yang membuatmu terlalu egois dan lebih mementingkan dirimu sendiri dibandingkan mementingkan orang lain. Ya maksud aku bukan mementingkan diriku tapi setidaknya kau bisa memahami dengan hubungan kita. Kau bahkan memintaku untuk menghargai hubungan ini tapi kau sendiri ...? Munafik sekali kau jadi orang, jujur aku sangat kecewa padamu."
Setetes air bening itu jatuh di wajah cantiknya, dan itu membuat Rivaldo salah tingkah.