Kisah remaja Dea yang tenang mulai berubah ketika dia bertemu dengan Andre, siswa baru di sekolahnya dan juga salah satu anggota Scorpio. Dia sempat tenang karena sosoknya sekarang sebagai Dea, gadis tomboi dan merupakan ketua osis. Namun tidak diduga, kalau cowok itu sangat mengenalnya sebagai Dion. Bukan itu saja, dia mengancam bahwa dia akan membongkar identitasnya sebagai pemenang drumer terbaik Kompetisi Berbakat Musik.
Dengan terpaksa, Dea setuju untuk bergabung menjadi anggota Scorpio. Setelah bergabung dengan band itu, Dea mulai menemukan prahara-prahara kehidupan kisah seragam putih abu-abunya. Dia dan anggota Scorpio bertemu dengan Five Lions, musuh mereka, dan Andika, salah satu dari anggota band itu yang menyukai dirinya. Andika juga mengetahui sosok lain dari Dea, sosok sebagai Dion. Dan saat itupula terjadi persaingan untuk mendapatkan cinta dan kepandaiannya.
#SelamatMembaca #Alsaeida
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alsaeida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6.3
Ting… tong… ting… tong…
Sudah beberapa kali, Dea dan Bian menekan bel rumah Andre. Masih tidak ada yang keluar dari rumah. Dea mulai gelisah, benar-benar sangat takut terjadi sesuatu kepada Andre. Sudah cukup laki-laki itu membuat hatinya sedih. Dia tidak mau mengalami sakit yang lebih dari ini.
“Dea, sebaiknya kita pulang saja!” kata Bian sudah mulai kecewa.
Dea mengangguk. Studio Scorpio. Itu tujuan terakhir. Dia berharap, Andre berada di sana. Tiba-tiba terdengar suara gerbang di buka. Sebuah sepeda motor merah masuk. Kemudian pengemudinya membuka helm dan … Andre. Raut cowok itu terlihat bad mood. Dan benar, ada memar-memar merah di wajahnya.
“Andre, kamu tidak apa-apa?” tanya Dea khawatir. Dea mendekatinya dan meneliti wajah memar cowok itu.
Andre diam. Dia tidak mengubris perkataan Dea. Perlahan, dia melangkah masuk ke dalam rumah. Melihat itu, Dea tak berkutik seperti patung. Air matanya tumpah. Benarkah itu? Andre mengabaikannya. Bagaimana ini, air matanya terus mengalir?
Tiba-tiba, Bian memberhentikan langkah Andre. Memandang mata cowok itu dengan tatapan tajam. Dia tahu bahwa Andre sedang terluka. Begitupula dengan Dea.
Andre segera menuju ke tempat Dea. Dia memeluk gadis pujaan hatinya dengan lembut. Spontan, Dea merangkul cowok itu erat.
“Maafkah aku!” kata Dea sembari terisak-isak.
“Tidak apa-apa kok!” jawab Andre lembut.
Cukup berlangsung lama kejadian romantis itu berlangsung. Hingga sebuah suara sepeda motor yang berlalu memecahkan suasana hangat itu. Kemudian, Andre menyuruh Dea dan Bian masuk ke dalam rumah. Tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Papa dan mama Andre sedang pergi ke luar negeri. So, dia harus tinggal sendiri di rumah megah ini. Bian, yang tadi hanya penengah mulai memberikan mereka waktu. Dia beranjak ke dapur untuk membuat minuman.
“Kamu ada kotak P3K?” tanya Dea dengan malu-malu.
Andre mengangguk pelan. Perlahan dia beranjak dan pergi mengambil kotak P3K itu. Dia memberikan kepada Dea. Dea mengambilnya dengan senang hati lalu memandang Andre dengan tajam.
“Apakah aku boleh mengobati kamu?” tanya Dea lagi. Kini wajah memerah, malu banget.
Andre mengangguk lagi tanpa berbicara. Dia mempersilahkan Dea untuk mengobati luka itu. Banyak sekali memar-memar merah pada wajahnya. Sungguh mengerikan!. Dan lagi, ada darah beku di bibir bawahnya. Terkoyak lebar dan berdarah merah.
Andre meringis kesakitan. Sekali-kali dia menjerit kecil. Dan Dea hanya tertawa. Lucu. Wajah Andre terlihat seperti anak kecil yang manja kepada ibunya. Sungguh-sungguh lucu. Sedangkan Andre, dia hanya diam. Dia membiarkan senyuman bibir Dea berkembang. Mungkin karena senyuman itu menyejukkan hatinya.
“Nih, ponsel kamu?” beri Andre.
“Terima kasih,” jawab Dea. Dea mengambilnya lalu memasukkan ke dalam saku bajunya.
Gara-gara benda itu, Andre sampai terluka. Benda itu? Ah, bukan. Semua ini gara-gara Andika. Seandainya dia tidak bertemu dengan Andika, kejadian ini pasti tidak akan terjadi. Dan wajah Andre… ya, memar itu pasti tidak ada.
Dea kembali diam, duduk dengan santai di sofa ruang keluarga. Dia menantikan Andre untuk bercerita tentang memar itu. Namun tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan membuka mulut tentang luka ini. Dan lagi, dari tadi dia hanya diam. Tidak berkutik. Tidak pula berbuat jahil seperti biasanya.
Dea ingin bertanya. Tapi takut. Biarlah seperti ini. Tunggu Andre mau bercerita dengannya. Lagipula dia tidak boleh geer. Belum tentu memar itu karena adu kekuatan dengan Andika. Namun… namun… ekspresi awalnya tadi. Entahlah, Dea belum mau mengambil pusing. Cukup dulu dengan keadaan seperti. Mengobati memar-memar merah di wajah cowok itu.
HEY YANG DI SANA! PLEASE LIKENYA!
apa ngk ada visualx yaa kk aku jadi penasaran hehehe😅
Dramanya bagus,,,
Semangat thor,,,
Lanjuuuuttttt
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" Fighting 🥰
harusnya bereaksi dong saat perjanjian itu dibuat..bukan diem aja....
Mampir juga ya ke novelku ya
"Kekasih Sahabatku"
Terima Kasih
-Pengorbanan Cinta Arya dan Isyana
-Antara cinta dan misi
like,komen,rate 5, dan vote 😊
Jangan lupa singgah dicerita aku juga
"pretend lover"
Salingg support thor❤
apakah dia ada trauma ?
atau jangan"......