Terlahir menjadi anak yang terbuang tak membuatnya berkecil hati. Semangat yang dimilikinya kembali berkobar kala melihat banyaknya orang yang menyayanginya.
Namun dunianya berubah kala dirinya memutuskan untuk menikah. Meski harus merasakan kepahitan akan cinta pertamanya. Denisa tetap bisa bertahan meski pada akhirnya dia memilih mematikan hatinya demi membuang rasa sakitnya.
~Kau tak pernah tahu perihnya luka yang tak nampak namun terasa sangat menyayat jiwa. Jika luka gores itu akan hilang dengan sendirinya namun tidak dengan luka hati, sampai kapanpun dia akan tetap kekal abadi.... Denisa
~ Kuakui aku bodoh. Seharusnya aku menggunakan akal dan hatiku bukan menggunakan emosiku... Raka.
Bagaimana kisah mereka mengarungi biduk rumah tangga dengan bayang bayang cinta lain yang masih melekat di hati Raka.
Mampukah Denisa kembali merasakan cinta dalam hatinya yang telah mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serra R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Ke jujuran
Denisa
Lama aku terdiam dalam remang malam. Terbesit satu kerinduan yang entah mengapa aku memilih untuk menikmatinya.
Tak pernah ada sesal akan kisah yang mungkin hanya berkesan bagiku saja. Setidaknya aku mempunyai kenangan tentang cinta meski hanya sendiri.
Benar kata orang, cinta sendiri itu sakit. Bagai menepuk angin, walau mengerahkan segenap usaha namun hasilnya akan tetap sama saja.
Seperti yang ku katakan, jika aku tak pernah menyesalinya. Aku jatuh cinta!! cinta pada suamiku sendiri. Sosok tampan yang menjadi bunga di setiap mimpiku dan menjadi duri dalam setiap nafas cintaku. Sakit namun aku tak pernah rela untuk kehilangannya.
Terkadang aku bertanya pada semesta. Apa arti dari mencintai? tak pernah ada jawaban pasti membuat hati ini semakin tak terkendali.
Sadar sesadar sadarnya jika luka yang pada akhirnya akan aku terima namun entah mengapa debaran jantungku memanggil namanya disetiap waktu.
Bodohkah aku?
Bahkan ketika mataku menatap bintang yang berkelip di atas sana. Wajahnya yang tersenyum terpampang secara nyata diantara bintang bintang yang entah sedang ikut berbahagia atau malah mengejekku dengan kerlingan mereka diatas sana.
Aku merindukannya!! hanya beberapa bulan namun rasanya aku telah melalui banyak waktu bersamanya.
Andai bisa, aku ingin meminta waktuku lebih lama lagi bersamanya. Walau tak mungkin, aku masih berharap meski hanya dalam mimpi.
Menutup hatiku hanya untukmu dan menjalani hidup dengan bayang cinta yang akan selalu ku kenang sepanjang waktu.
.
.
.
Ikhlas, satu kata yang mungkin sangat mudah untuk diucapkan namun hanya beberapa orang saja yang mampu untuk melakukannya.
Raka berulang kali mengusap wajahnya kasar. Ditatapnya ke dua adik kembarnya yang kini berada dihadapannya. Keduanya tetap bungkam tak ingin berbicara.
"Sampai kapan? sampai kapan kalian akan membohongi abang?kalian tahu bukan jika selama ini abang kebingungan mencari keberadaan kakak ipar kalian?"
Raka menghela nafas panjang, tak habis pikir dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Semalam dirinya menerima laporan jika Denisa berada dan tinggal di kota A tak hanya itu. Istri yang selama ini dicarinya itu ternyata sedang mengelola restoran sang adik yang tak lain adalah Rico dan lebih mencengangkan lagi, semuanya masih bungkam seolah olah memang sengaja untuk menyembunyikan keberadaan Denisa darinya.
"Kenapa? tolong jawab abang."
"Kami hanya ingin melindungi Kak Nisa."
"Melindungi? apa maksud kalian?"
"Kak Nisa sudah cukup menderita bang. Dan kami tak ingin dia kembali terluka nantinya. Cukup abang membuat hatinya hancur selama ini. Abang tidak tahu bukan, bagaimana kak Nisa selama ini berjuang untuk mengobati sakitnya?"
"Abang tak pernah mengerti bukan bagaimana dia selalu tersenyum meski hatinya hancur. Kak Nisa tak pernah jatuh cinta namun sekalinya jatuh cinta pada yang halal namun luka terparah yang harus dia terima. Senyum yang selalu tersemat dibibirnya adalah semu dan kecerian yang selalu dia tunjukkan hanya untuk menutupi lukanya. Abang tak pernah tahu semua itu kan?"
Raka terdiam, dia benar-benar tak tahu menahu tentang istrinya selama ini. Yang Raka tahu, Denisa selalu ceria dan bahkan senyum manisnya tak pernah lepas dari bibir gadis itu. Tak pernah ada protes atau apapun dengan segala sikap yang dilakukannya.
Teringat saat dirinya pulang larut malam. Denisa nampak tertidur di atas sofa di ruang tengah. Gadis itu bahkan telah menyiapkan makan malam, terbukti dengan masih adanya masakan yang terhidang di meja makan.
Tak hanya sekali dua kaki dia mendapati sang istri tertidur di ruang tengah. Namun Denisa selalu berdali jika dirinya ketiduran saat nonton TV. Padahal nyata nyata TV dalam keadaan mati.
Raka mengusap wajahnya sekali lagi. Penyesalan semakin menenggelamkan dirinya. Selama ini Raka memang tak pernah mengikut sertakan sang istri dalam segala masalahnya. Raka hanya ingin menyelesaikan masalah pribadinya yang kala itu belum selesai dengan Laras.
Saat itu diakuinya jika belum ada cinta sebesar saat ini dihatinya. Namun Raka tak pernah ingin membuat Denisa menjalani posisi yang serba salah, karena itulah sebisa mungkin Raka menyelesaikan semuanya tanpa melibatkan siapapun termasuk keluarganya.
Tapi dirinya tak pernah menyadari jika sikapnya yang demikian malah menimbulkan luka dihati sang istri.
"Abang harus bagaimana sekarang??Terus terang abang sangat merindukannya."
"Kakk Nisa sudah bahagia dengan hidupnya saat ini bang. Aku hanya takut, kehadiran abang akan mengacaukan kehidupannya kembali."
"Tapi abang mencintainy, dek. Abang tak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun."
"Cinta?? abang yakin? bukankah cinta abang selama ini hanya untuk wanita itu seorang, sampai sampai abang rela bertengkar dengan mama hanya demi membelanya."
"Itu dulu, sebelum abang menyadari cinta abang pada Denisa. Abang tak ingin kehilangannya dek."
Ujar Raka lirih.
"Bukannya kalian sudah bercerai?"
Raka secepat kilat mendongakkan wajahnya. Gelengan kepala pun terlihat disana dengan tatapan nanar dan sorot mata yang frustasi.
"Abang belum pernah menjatuhkan talak pada Denisa. Itu artinya sampai saat ini dia masih istri sah abang secara hukum dan agama."
"Tapi, bukankah abang pernah mengajukan perjanjian sebelum kalian menikah?"
"Itu adalah salah satu kebodohan abang. Tapi semua itu tak berarti karena abang tak pernah mengajukan gugatan perceraian. Denisa masih istri abang, dan sampai kapanpun abang tak akan pernah menceraikannya." Sentaknya frustasi.
"Abang yakin kak Nisa akan kembali menerima kehadiran abang setelah semua ini?"
Raka menggelengkan kepalanya pelan. Hal itulah yang menjadi pemikirannya saat ini. Rasa menggebu ingin bertemu karena rindu yang tak pernah bisa dibendungnya lagi. Namun ketakutan dan rasa khawatir akan penolakan Denisa lebih dominan disana.
Rico dan Rena saling menatap, keduanya pun tak tahu harus melakukan apa saat ini. Namun yang pasti senyum tersungging di bibir Rena sangat tipis hingga ke dua kakaknya tak menyadari.
Disebrang sana, nampak Denisa dengan dada yang berdegup kencang. Wajahnya merona meski ketegangan masih terlihat disana. Tangannya gemetar namun rasa bahagia tak dapat dipungkiri datang menyeruak dalam hatinya.
Rasa tak percaya itu hadir, sungguh Denisa tak ingin lagi berharap. Dia telah pasrah dengan cintanya yang mungkin hanya beberapa waktu dapat dirasakannya. Akan tetapi, mendengarkan apa yang diucapkan oleh Raka tentu saja membuat bunga dalam hatinya kembali mekar.
Tanpa sepengetahuan Raka maupun Rico. Rena melakukan panggilan pada Denisa. Gadis itu berdali jika dirinya ingin curhat. Pada kenyataannya suara Raka lah yang terdengar disana.
Di awal kesadarannya, Denisa bahkan berniat untuk menutup panggilan itu. Akan tetapi rasa penasaran membuatnya menguatkan diri untuk tetap mendengarkannya.
Pendar kerinduan kian nyata di pelupuk matanya. 2 tahun ternyata tak mampu baginya untuk menghapus segala rasa yang mengikat erat jiwanya. Bahkan ketika Denisa telah berniat mematikan segala rasa dalam dirinya, kenyataannya nama Raka tak pernah bisa terhapuskan.
tpi rayyan udah sama jennie kan thor di kota B..
selamat ya ren
jangan menunda momongan lah.. biar kan berjalan sesuai kehendak yg kuasa.. kalian cukup ngadon aja 🤭
mau liat live streaming ini 🤣🤣
gass yok
ibu telat 🤭🤭
akhirnya rencana berjalan lancar.
selamat untuk rena dan radit