Azura seorang gadis cantik yang hidup dalam sangkaan buruk semua keluarganya kurang lebih 13tahun. Ia di sangka telah membunuh mamanya rasa sakit yang ia alami kerap membuat nya salah dalam mengambil tindakan.
Semua rasa sakit dan kekecewaan hampir semuanya ia alami, namun di sisi itu dia di temani oleh seorang pria yang senantiasa bersabar dalam memberikannya arahan.
Cinta pertamanya yang entah akan berakhir seperti apa kisah mereka, akankah hidup Azura berakhir dengan bahagia dan berdamai dengan keluarganya? Atau justru malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Do'a mantan paling mujarab
Keesokan harinya di rumah two family,ruang makan.
"Azura Abang mau jemput temen Abang,kamu berangkat sama Enver atau Anver yah" ucap Calvin.
"Eum, Azura di anterin sopir aja deh bang" ucap Azura.
"Kamu berangkat sama aku aja Azura" ucap Enver.
"Nga!! Azura berangkat sama aku" ucap Anver.
"Apaan sih Azura berangkat sama aku pokonya, lagian kan kamu mau jemput Dendy" ucap Enver.
"Cek" Anver melihat ke arah Enver dengan tak suka.
"Kalo gitu kamu berangkat sama Enver yah,nanti pulang nya bareng Abang" ucap Calvin.
"Yaudah deh" ucap Azura pasrah.
Azura berangkat sekolah bersama Enver mengunakan motor sport terbaru berwarna hijau dan hitam.
"Azura ayo pengangan"ucap Enver.
"Udah ini" ucap Azura, Enver melihat ke arah tangan Azura yang berpegangan ke belakang motornya.
"Jijik banget ya sama aku, sampai-sampai kamu lebih memilih pegangan sama motor kebanding sama aku" gumam Enver.
Azura mendengar gumaman Enver hanya saja Azura pura-pura tidak tau.
"Ka Enver bilang apa? Azura nga denger jelas, soalnya berisik sama suara kendaraan bermotor yang lain" ucap Azura.
"Bukan apa-apa" ucap Enver.
Enver menjalankan motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, semata-mata untuk menghilangkan emosi dan rasa sesak di dadanya.
Azura memeluk Enver lumayan kencang, Enver melihat ke arah tangan Azura yang melingkar di pinggangnya.
"Kecepatannya di kurangin ka,kalo kecelakaan kan bukan hanya ka Enver saja yang terluka tetapi Azura juga" ucap Azura sambil menyandarkan kepalanya ke punggungnya Enver.
Enver mengurangi kecepatan laju motornya sambil tersenyum manis,suasana menjadi sedikit hangat di antara Enver dan Azura.
Di sekolahhan Anver sedang menunggu kedatangan Enver dan Azura dengan sedikit kesal di parkiran, beberapa menit kemudian Enver datang dengan Azura yang memeluknya dengan nyaman.
"Kenapa lama? Perjalanan dari rumah ke sekolah kan cuma memakan waktu sepuluh menit, kenapa sekarang baru nympe? Tiga puluh menit ngapain aja?" Tanya Anver dengan kesal saat Enver memberhentikan motornya.
"Nikmatin indahnya suasana perjalanan ke sekolah, kenapa sih sirik banget" ucap Enver sambil membantu Azura turun dari motornya.
"Ck dari kapan kamu suka nikmatin indahnya suasana perjalanan" ucap Anver dengan tak suka.
"Beberapa detik yang lalu, ayo Azura kita ke kelas, sebentar lagi bel sekolah akan berbunyi" ucap Enver sambil menggandeng tangan Azura meninggalkan Anver dengan segala kekesalannya.
Saat masuk kedalam kelas, Azura langsung di sambut oleh Devan dengan senyuman manis yang terpancar dari wajahnya.
"Pagi ayy" ucap Devan yang membuat seluruh siswa siswi melihat ke arah mereka.
"Ayy apa an? Ayam maksudnya" ucap Azura sambil berjalan ke arah kursinya yang di ikuti oleh Devan.
"Kamu ko gitu sih,kita kan udah resmi jadian" ucap Devan sambil ikut duduk di depan Azura.
"Kapan?" Tanya Azura dengan mengeryitkan dahinya.
"Tadi malam setelah pulang dari tempat itu" ucap Devan dengan kesal.
Kemarin saat mengantar Azura pulang Devan menyatakan perasaannya bahwa Devan menyukai Azura, Azura hanya menjawab hmm.
"Aku nga ngerasa jadian sama kamu,lagian kan aku cuma jawab hmm, jawaban yang nga pasti" ucap Azura dengan acuh.
"Tapikan...,aku ga mau tau Pokoknya kita itu udah jadian" ucap Devan dengan memaksa.
"Nga ada yah, Azura juga nga minat jadian sama modelan kaya kamu" ucap Azura.
"Kamu ko ngomong gitu sih" ucap Devan dengan kesal, padahal kan visual dia sangat luar biasa tampan,bahkan dari awal masuk smk sampai sekarang banyak yang menyukai Devan.
"Hmmm" ucap Azura sambil memainkan hp nya.
"Ckk, Azura" ucap Devan dengan kesal.
"Apa?" Tanya Azura sambil terus memainkan hp nya.
"Aku lagi kesel sama kamu" ucap Devan.
"Terus Azura harus apa? Harus bom atom planet tempat tinggal kamu gitu?" Tanya Azura sambil melihat ke arah Devan dengan ekspresi polosnya.
"Ishh,planet kamu sama aku kan sama" jawab Devan.
"Kata siapa? Kamu ga tau apa setelah di teliti oleh profesor Surip mpd.rpd, dengan berbagai macam penelitian serta perjuangan yang cukup melelahkan akhirnya, penelitian itu keluar dan hasilnya benar, kamu itu tinggal di planet mars sedangkan aku di pelanet bumi" ucap Azura dengan serius.
"Mana ada yang kaya gitu,kamu kalo pinter jangan kelewatan deh akhirnya kan jadi begini" ucap Devan.
"Ohh" ucap Azura.
"Azura aku mau kamu itu jangan kaya begitu" ucap Devan dengan lesu.
"Yaudah deh kaya gini dulu,nanti kaya gitu nya" ucap Azura.
"Kapan? Pas kita udah nikah" ucap Devan dengan kesal.
"Iya nanti Azura nikah sama orang luar negeri,do'a in aku yah. Do'a mantan kan paling mujarab" ucap Azura dengan polos.
"Mantan apanya masih pacaran ban*sat" ucap Devan dengan sedikit tinggi. Tadi bilang nya ga jadian sekarang bilangnya mantan, sungguh Azura sangat pandai memainkan emosi orang lain.
"Sutt jangan kasar-kasar sayang nanti aku smakdown loh" ucap Azura sambil meletakkan telunjuknya tangannya di depan bibir Devan. Devan pun menghembuskan nafasnya pelan.
"Makanya kamu jangan kaya gitu" ucap Devan pelan.
"Kaya gitu gimana nyet?" Tanya Azura dengan tersenyum tipis.
"Buat aku emosi" ucap Devan sambil menaikkan sedikit intonasi suaranya.
"Aku nga pernah buat kamu emosi" ucap Azura.
"Buat,dari awal masuk kelas malahan" ucap Devan sambil mengatur nafasnya.
"Nga" ucap Azura.
"Buat" ucap Devan.
"Nga" ucap Azura, Devan menghembuskan nafasnya dengan panjang. Devan melihat ke arah Azura yang kembali memainkan hp nya.
"Lagi ngapain?" Tanya Devan.
"Mabok janda" ucap Azura sambil sekilas melirik ke arah Devan.
"Aku do'a in kamu mabok beneran" ucap Devan dengan kesal,saat Azura menjawab pertanyaan yang tak sesuai dengan keinginannya.
"Iya nih,mabok duit gimana donk" ucap Azura sambil melihat ke arah Devan setelah menyimpan hp nya.
"Mabok Amer" ucap Devan dengan kesal.
"Ameer,apaan?" Tanya Azura dengan ekspresi bingungnya.
"Anggur merah" jawab Devan.
"Aku nga tau yang begitu, taunya cuma duit" ucap Azura dengan ekspresi polosnya.
"Duit,duit,duit terus yang kamu tau nga ada yang lain apa" ucap Devan dengan kesal.
"Nga, karena hidup tanpa duit bagaikan nga hidup" ucap Azura dengan santai.
"Terserah" ucap Devan sambil berdiri dan berjalan ke arah tempat duduknya dengan perasaan kesal dan kecewa.
Devan kesal dengan semua ucapan Azura dan Devan kecewa dengan hubungan yang tidak jelas dengan Azura.