Sudah jatuh tertimpa tangga plus diludahi, sebuah gambaran kehidupan yang dialaminya, Akibat kecerobohannya, ia terjebak malam panas dengan lelaki yang paling dibencinya di sekolah,
Kehidupan yang tadinya damai berubah drastis menjadi kekacauan baik di sekolah dan keluarganya.
Beruntung ada sang ibu yang selalu menguatkannya melewati masa-masa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua puluh tiga
Setelah berjam-jam menyetir, mobil sport berwarna hitam itu memasuki sebuah gerbang yang cukup tinggi, ada penjaga yang membukakannya, dan Milano hanya membunyikan klakson.
Mobil melewati pepohonan yang terlihat gelap, karena waktu sudah berganti malam, hingga berhenti tepat di sebuah bangunan Villa.
Penjaga pintu gerbang Lari tergopoh-gopoh menghampiri lelaki yang baru keluar dari sisi kemudi.
"Apa kabar Aden? Udah lama tidak main kesini," Sapa penjaga gerbang itu.
"Saya baik mang, bisa tolong siapkan kamar,"
"Bisa atuh Aden," Sahut lelaki yang mungkin berusia sekitar lima puluhan.
"Tolong besok pagi-pagi sekali, isi kulkas dengan bahan makanan,"
"Baik Aden," sahut Mang Asep, "Lalu apa aden mau makan malam? Mau saya beliin?"
"Tidak usah mang, ada mie instan?"
"Ada den, cuman nggak ada telur sama sayur, kalau Aden mau kopi, juga ada, apa mau saya buatkan?"
"Tidak usah, tolong bereskan kamar saya saja dan siapkan dua bath rob,"
Mang Asep mengangguk dan masuk terlebih dahulu ke dalam villa untuk membereskan kamar tuan mudanya.
Milano berjalan ke sisi penumpang ia membuka pintu, "Keluar Ri," ucapnya dingin.
Mau tak mau Rindu menurutinya, ia membuka seat belt, lalu keluar dari mobil hitam itu, hawa dingin mulai terasa untuknya yang menggunakan baju tipis.
Milano menggandengnya, menaiki beberapa anak tangga dan masuk ke pintu kayu yang terbuka.
Rindu hanya bisa menunduk, melihat langkah sepatu kets miliknya, ia terlalu takut pada lelaki yang tengah menggandengnya, hingga dahinya membentur punggung kekar Milano, ia mendongak mendapati lelaki itu berbalik dan menatapnya.
"Duduk Ri, aku masakin mie dulu,"Tunjuk Milano pada Stool yang menghadap dapur bersih.
Rindu menuruti, namun ia masih belum berani menatap lelaki yang beberapa jam lalu menghajar habis-habisan teman masa kecilnya.
Begitupun Milano, ia tak bertanya dulu apakah wanita itu menginginkan mie instan kuah atau goreng.
Beberapa menit kemudian, dua piring mie instan goreng polos tersaji, aromanya yang khas, membuat Rindu menelan ludahnya,
Keduanya makan dalam diam, hanya terdengar suara dentingan, piring beradu dengan garpu.
Keheningan itu pecah, setelah kedatangan mang Asep yang mengatakan jika kamar sudah selesai dibersihkan, Milano hanya berdehem lalu mengambil beberapa lembar uang merah untuk esok berbelanja.
Selesai keduanya makan, mereka beranjak menuju kamar, yang berada dilantai bawah.
"Silahkan kamu mandi dulu, untuk sementara pakai bath rob dulu, besok aku ajak berbelanja baju," ucap Milano begitu memasuki kamar.
Rindu menurutinya, ia melangkah menuju toilet yang berada disalah satu sudut kamar.
Hanya beberapa menit kemudian, wanita itu keluar mengenakan bath rob berwarna putih yang panjangnya sebetis.
Rindu mendapati Milano sedang menggosok rambutnya dengan handuk kecil, "Mana baju kamu, biar aku cuci dulu," ujarnya menyodorkan tangan, Lagi-lagi wanita itu hanya menurut tak banyak protes.
Sepeninggal Milano, ia mengecek ponselnya, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Kartika dan nomor asing yang ia tau itu siapa.
Ia membuka pintu dan mengintip ke luar, memastikan, jika tak ada lelaki jangkung itu.
Rindu menutup pintu dan masuk kembali ke toilet, tak lupa menguncinya, ia menghubungi Kartika, dan memberitahukan jika dirinya sedang menginap bersama temannya, beruntung sang mama tidak banyak bertanya, hanya mengatakan agar dirinya berhati-hati.
Setelah mengakhiri panggilannya dengan Kartika, ia menghubungi nomor asing itu,
"Halo,"
"Lo kemana sih? Kan gue bilang jangan keluar dulu, ini malah keluar bareng Adrian lagi, untung dia nggak mati," David mengomel diseberang sana.
"Terus keadaannya Adrian bagaimana? Dia baik-baik aja kan?" Tanya Rindu khawatir.
"Untungnya nggak ada yang patah, cuman bengep-bengep doang, udah ditangani dokter tadi, masalahnya keluarganya Adrian mau lapor polisi, soalnya belum genap dua bulan, dia udah babak belur kayak gitu, sama orang yang sama lagi,"
"Sorry banget, serius gue nggak nyangka dia bakal ada di mall itu,"
"Terus sekarang Lo dimana?"
"Gue nggak tau, yang jelas, Ini jauh banget dari Jakarta,"
"Yang penting Lo hati-hati aja, jangan mancing emosinya dia, kalau bisa turuti semua keinginannya dia, sorry gue nggak bisa bantu,"
"Nggak apa-apa, makasih udah ingetin,"
Baru saja Rindu mengakhiri panggilannya, suara ketukan pintu kamar mandi mengagetkannya, Milano memanggilnya.
Rindu menekan tombol flush di kloset layaknya orang yang membuang hajat, tentu itu hanya pura-pura, sebelum keluar dari sana, tak lupa menghapus log panggilan dari David, juga membuka aplikasi Novel favoritnya.
Ia keluar dari toilet dan mendapati Milano bersandar didinding sambil memainkan ponselnya, "Apa kamu baru saja menghubungi Dave?" tanyanya, "berikan ponsel kamu, " Pintanya menyodorkan tangannya.
Milano menerimanya lalu mengotak-atik nya, ia menyunggingkan senyumannya, "Apa sedekat itu kamu dengan sahabat aku? Kamu pikir aku tidak tau, aku bisa saja melukai dia?"
Rindu terkejut, ia tak menyangka jika lelaki itu tau jika selama ini, ia sering bertukar pesan dengan David.
"Rindu, Kenapa jika dengan lelaki lain, kamu bisa berbicara dan tertawa lepas, sementara dengan pacar kamu sendiri, kamu diam membisu? apa sebegitu bencinya kamu sama aku? Tak adakah sedikit rasa suka kamu buat aku?"
Sayangnya wanita dihadapannya hanya diam tak bicara, menatapnya pun tidak, seolah benar adanya jika ia dibenci, ia sadar pernah merenggut mahkota wanita itu, tapi saat itu ia bahkan tidak sadar sepenuhnya, lalu setelahnya, ia hanya bersikap sewajarnya layaknya sepasang kekasih pada umumnya.
Padahal jika wanita itu tau, jika selama ini dirinya mati-matian menekan nafsu birahinya.
Andai wanita itu tau, jika setiap ia bermain solo, yang menjadi fantasinya adalah ingatan samar saat kejadian malam itu.
Namun sepertinya wanita itu tak kunjung sadar, bahkan semakin menjauhinya, dan kenyataan yang paling menyakitkan baginya adalah saat tau jika diam-diam salah satu sahabatnya, berhubungan dengan wanita itu.
"Apa yang harus aku lakukan supaya kamu melihat aku?"
Rindu masih saja diam membisu, ia sendiri bingung, apa yang harus dilakukannya, saat ini hanya ada rasa takut pada lelaki itu, ingatan tentang malam itu, cerita David tentang masa lalu Milano, belum lagi kejadian tadi sore yang membuatnya semakin takut.
Milano mendongak dan memejamkan matanya, amarahnya mulai naik mendapati wanita itu hanya diam membisu, mungkin Rindu menganggapnya, hanya mahluk tak kasat mata yang tak terlihat.
Berhasil meredam amarah, Milano menuntut tangan Rindu, menuju ranjang queen size, lalu Keduanya duduk disisi ranjang secara berdampingan.
Milano mengambil tangan yang terdapat gelang berwarna gold pemberiannya, ia mencium gelang itu lembut, "Aku berharap suatu saat kita akan bersama, memiliki anak-anak yang lucu, bukankah kamu suka anak-anak? Kita akan saling setia, hingga maut memisahkan,"
Tangan besar itu beralih memegang kedua sisi wajah wanita dihadapannya, lalu mencium kening itu lembut, seolah ia ingin mengungkapkan rasa cintanya.
Milano menyatukan keningnya dan kening wanita itu, "Aku sayang banget sama kamu, aku nggak tau sejak kapan, yang jelas aku takut jika kamu menjauh dari aku, jadi tolong jangan jauhi aku lagi," Ia kembali mencium kening itu lagi.
Beralih ke kedua mata yang sekarang ini terpejam, lalu ke ujung hidung, berhenti sejenak, sedikit ragu ia melanjutkan ke bibir yang selama ini, hanya bisa ia bayangkan.
Milano mengecup bibir itu pelan, lalu ******* nya sedikit, hanya sebentar, mulai tak sabar ia memasukan lidahnya, meski belum ada balasan dari wanita itu, tak masalah.
Ia memejamkan matanya, menikmati setiap lidahnya bersenggolan dengan lidah wanitanya, hanya begini saja hasratnya mulai naik, terasa tubuhnya mulai memanas.
Tangan yang tadinya berada disisi wajah, perlahan berpindah ke leher, hingga belakang telinga, mulai merasakan sesuatu yang aneh, Rindu berontak dan mendorong lelaki itu,
"Stop jangan lanjutkan, lebih baik kita tidur,"
Milano terkejut, ini kali pertama dirinya didorong ketika berciuman, rasanya kecewa, tapi ia berusaha menutupinya, ia pun menurut.
Akhirnya mereka berbaring bersama, namun ada guling sebagai pembatas diantara keduanya, ulah Rindu tentunya.