Vianne Collins, seorang wanita yang berhasil mendapat gelar dokter, karena bantuan dari seorang pria paruh baya bernama George Orlando. Baginya, tak ada yang lebih penting selain Tuan George Orlando.
Zayn Richard, atau dikenal dengan nama Zero, merupakan asisten pribadi dari Axton Williams. Ia menjalin hubungan dengan Vianne, demi melupakan seorang wanita yang tak lain adalah adik dari atasannya sendiri, Alexa Williams.
Namun, Zero menganggap bahwa ia tak bisa melanjutkan hubungannya dengan Vianne karena ia tak bisa mencintai wanita itu dan memutuskan untuk mencintai Alexa dalam diam, meski wanita itu sudah menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANTAN KEKASIHMU
Vianne akhirnya mengikuti Wesley ke restoran di hotel tersebut. Ia sebenarnya sedang malas keluar karena tak ingin bertemu dengan Zero lagi.
Wesley memesan makanan kemudian melihat ke arah Vianne yang kembali berwajah datar dan sedikit dingin. Ia juga melipat kedua tangan di depan dadanya karena melihat Wesley yang sepertinya sulit untuk dibohongi.
"Sejak kapan kamu tahu kalau aku hanya berbohong?" tanya Vianne.
"Sejak di rumah sakit," jawab Wesley.
"Whatt?! Bagaimana bisa?" Vianne masih mengira ngira apa yang membuat aktingnya bisa dengan mudah diketahui oleh Wesley.
"Lalu mengapa kamu tidak langsung mengatakan padaku kalau kamu mengetahui semuanya?" tanya Vianne lagi.
"Karena aku suka melihatmu yang ceria. Uncle selalu tersenyum bahagia saat melihatmu seperti itu."
"Uncle tidak tahu masalah ini kan?" Wesley menggelengkan kepalanya.
"Aku tak ingin Uncle berpikir kalau kamu membohonginya. Ia sangat menyayangimu dan juga mengkhawatirkanmu."
"Maafkan aku," ucap Vianne.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan dengan melakukan ini semua, Vi? Apa kamu ingin menghancurkan Samantha, Julian, atau bahkan Ayahmu?" tanya Wesley.
"Mengapa kamu selalu mengetahui semuanya?" tanya Vianne. Nafas Vianne sedikit memburu dan jantungnya berdetak cepat. Ia benar benar bingung dengan Wesley.
"Apa yang tidak kuketahui tentangmu, Vi?"
Ada yang tidak kamu ketahui, Wes. Kamu tidak akan pernah tahu mengenai hubunganku dengan Zero. - batin Vianne.
"Sok tahu," goda Vianne tersenyum.
"Aku lebih menyukai dirimu yang amnesia, sungguh. Aku suka jika kamu menjadi dirimu sendiri, Vi. Kamu tak perlu khawatir akan apapun lagi. Tak akan ada yang mengganggumu lagi," ucap Wesley kemudian mencubit hidung Vianne.
"Ishh kamu ini. Banyak hal yang kupikirkan, Wes. Banyak sekali."
"Kupastikan tak akan ada lagi yang mengganggumu, jika itu yang kamu pikirkan," ucap Wesley dengan yakin sekali lagi.
Vianne menautkan kedua alisnya seakan bertanya pada Wesley.
"Samantha sudah berada di dalam penjara, begitu juga dengan Ayahmu. Aku pastikan mereka akan lama mendekam di sana dan membayar setiap perbuatan mereka padamu."
Vianne menatap Wesley. Ia sungguh kaget akan apa yang telah dilakukan oleh Wesley.
"Dad Jay?"
"Hmm ... Polisi telah menangkapnya."
Vianne memegang tangan Wesley dan menggenggamnya erat, "Kamu serius dengan apa yang kamu katakan? Dad Jay sudah dipenjara? Wes, apakah polisi bisa memberikan hukuman mati padanya? Ia membunuh Mommy!"
"Hukuman mati terlalu mudah untuknya, Vi. Kalau seperti itu, ia tak akan merasakan penderitaan sedikit pun. Biarkan ia mendekam di dalam penjara seumur hidup, bagai mati segan hidup pun tak mau," ucap Wesley.
Vianne langsung berdiri dan menghampiri Wesley. Ia memeluk pria di hadapannya itu, "Terima kasih, Wes. Aku menyayangimu."
"Aku juga menyayangimu. Jangan memikirkan hal yang tak perlu kamu pikirkan. Serahkan semua padaku aku akan menyelesaikannya untukmu. Dan tentang Julian .... Ia pasti akan segera menjauh darimu," ucap Wesley berbisik di telinga Vianne.
Dari kejauhan, Zero memperhatikan interaksi keduanya. Ia mengepalkan tangannya melihat bagaimana Vianne menggenggam tangan Wesley, bahkan sekarang ia memeluk pria itu.
Zero akhirnya meninggalkan restoran tersebut karena ia tak bisa melihat kelanjutan interaksi antara Vianne dengan Wesley. Ia berjalan cepat menuju kamar hotelnya dan menutup pintunya rapat.
Ia duduk di tepi tempat tidur dan menghela nafasnya kasar. Zero mengepalkan tangannya dan memukul tempat tidurnya sendiri.
"Arghhhh!!! Mengesalkan sekali. Kenapa kamu harus amnesia? Apa jangan jangan Wesley sedang mengambil keuntungan dari hilangnya ingatanmu?" ucap Zero bermonolog dengan dirinya sendiri.
Sementara itu di restoran hotel, Vianne yang memeluk Wesley pun sangat berterima kasih.
"Ia sudah pergi," bisik Wesley di telinga Vianne.
"Sudah pergi? Siapa?" tanya Vianne heran.
"Mantan kekasihmu."
Vianne menoleh, tapi tak menemukan siapapun. Lalu ia kembali menoleh ke arah Wesley dan melihat pria itu tersenyum.
"Apa sebenarnya yang kamu ketahui, Wes?"
"Sudah kukatakan, semuanya."
Wesley melihat ke arah Vianne dan tersenyum.
🧡 🧡 🧡