Alissa Moon seorang yatim piatu yang tumbuh di sebuah panti asuhan, ia memiliki kecerdasaan yang luar biasa hingga mampu menghidupkan dirinya sendiri semenjak remaja, berkat beasiswa yang di dapatkan, Alissa telah menyelesaikan pendidikan diusia dini. Selain itu, Alissa memiliki kelebihan berbeda, gadis itu bisa membaca masa lalu dan mengetahui masa depan seseorang.
Hingga suatu waktu, Alissa di hadapkan pada hubungan sepasang kekasih yang pelik, Alrescha Nero sangat mencintai Arabella Kalista, kekasihnya. Sayangnya gadis itu tidak mencintai Alrescha, ia menyukai saudara tirinya bernama Georgi Nero, membuat Alissa percaya di dunia ini manusia adalah makhluk yang tidak tahu diri dan paling egois.
Namun hal tak terduga terjadi, Alissa tidak bisa melihat dan membaca masa depan serta masa lalu Alrescha, namun anehnya setiap kali pria itu berada dalam bahaya, Alissa selalu ada disana, terjerat di dalam takdir yang membuatnya terjebak untuk melindunginya, hingga akirnya Alissa mencinta Alrescha sekalipun ia sadar, jika pria itu masih bertahan pad Arabella yang sudah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon della meyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[Episode : 23] Hanya rasa hutang budi.
Alissa di larikan ke Rumah Sakit di kota itu, bahkan Alrescha ikut dalam mobil yang membawa sekretaris pribadinya, tentu saja Alrescha cukup cemas ketika gadis itu di berikan oksigen untuk menunjang kesadaran diri. Bahkan beberapa Dokter yang baru saja menemukan pasien gawat darurat yang di perintahkan langsung oleh Alrescha nero, terkesiap tidak percaya jika itu bukanlah kekasih Alrescha Nero, Arabella. Melainkan gadis lain yang mungkin baru kali ini mereka temui, tapi dari reaksi dan gurat cemas itu, mereka menyadari jika wanita yang terbaring itu, bukanlah gadis sembarangan dan di pastikan seseorang yang cukup berarti bagi Alrescha sendiri.
“Segera bawa pasien ke ruang Emergency” ucap seorang Dokter wanita yang kala itu memprotokoli jalannya perawatan untuk Alissa, bahkan Alrescha yang sudah bercucur dengan keringat serta baju lusuh dan kotor itu membuat mata Dokter Carlie terpaku.
“Alrescha apa kau baik-baik saja?” tanya wanita itu saat menahan pundak Alrescha.
“Aku baik-baik saja, kau pastikan gadis itu selamat dan sehat, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun”
“Siapa wanita itu?’ tanya Carlie kearah Alrescha.
“Dia-“ ucapnya ketika menanguhkan penjelasan. “Dia sekretarisku” lirih Alrescha ketika mengepalkan tangan, entah kenapa jantungnya berdegup kencang ketika Carlie menanyakan siapa Alissa bagi Alrescha, tidak mungkin dia menyukai Alissa kan, sebab hanya arabella yang ada di hati Alrescha, dan ai tidak akan mungkin mengkhianati gadis yang ia cintai itu, jikapun ia merasa cemas dan gugup, bahkan ada seuntai takut yang tadinya melingkup, semua itu hanya karna perasaan hutang budi semata, ia berhutang nyawa untuk kesekian kalinya kepada Alissa Moon, hanya itu saja.
“Yasudah, pergilan membersihkan diri dan nanti kau tunggu aku di ruagan” ucap Carlie seraya berlalu untuk meninggalkan Alrescha, ia menyusul rombongan yang sudah membawa Alissa pergi ke ruangan Emergency.
Alrescha menaiki lift khusus yang ada di rumah sakit itu, tentu saja ia memiliki fasilitas terbaik yang hanya terkhusukan untuk keluarga Nero saja, bahkan Alrescha tidak menyangka apa yang Alissa alami kali ini semua itu karna menyelamatkan nyawanya, hingga dentingan lift itu menyaring kencang, membuat pintu lift terbelah dua sebagai tanda Alrescha sudah sampai di tempat tujuanya, kaki jenjang yang gagah itu melangkah kearah luar, sembari menatap nanar dengan pandangan kosong, belum sempat Alrescha membuka pintu kamar, ia teringat akan kejadian Alissa Moon memberikan nafas buatan pada dirinya, sebelum memasangkan alat bantu pernafasan.
Sentuhan lembut itu sungguh membuai Alrescha hingga ia hilang kesadaran untuk bersuara, bahkan Alrescha yang hampir menyarah kali itu berusaha mempertahankan diri, sikap Alissa yang penuh pengorbanan seperti mengajaknya untuk terus bertahan, membantu dirinya keluar dari kegelapan dan bahkan memeluknya dari belakang, menangkis pedang yang seharusnya menyakiti Alrescha pada akirnya di tahan oleh Alissa Moon, semenjak ada Alissa segala hal seperti hadiah yang di berikan tuhan untuknya, gadis itu berulang kali menyelamatkan dirinya dan berulang kali mengisi kekosongan hatinya, untuk kali pertamanya Alrescha hancur akibat Arabella yang terlibat pembuhunan dirinya, dan untuk kali itu juga sebuah tawa dan senyum menenangkan Alissa mempu membuatnya tegar.
Tapi sungguh, Alrescha tidak akan bisa melupakan Arabella, bahkan sekalipun Alissa mempertaruhkan nyawanya. Cinta dan rasa kemanusiaan yang menganggu hatinya dua hal yang berbeda, perasaan Alrescha pada Alissa hanya sebatas gadis yang menyelamatkan dirinya, itu semua tentu saja hutang budi dan rasa menghargai dan peduli, tapi perasaan Alrescha pada Arabella adalah cinta, yang tidak memiliki ungsur apapun selain ia mampu mencintai Arabella tanpa alasan, bahkan sekalipun Arabella melukai, mengkianati dan juga menyakiti hatinya.
*
Beberapa jam kemudian.
Dokter Carlie memasuki ruangan setelah memeriksa keadaan Alissa, bahkan ia menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memastikan semuanya baik-baik saja, bahkan ketika membuka pintu ruagan, Carlie bersirobok dengan Alrescha yang berdiri untuk menyambut dirinya.
“Bagaimana keadaan Alissa?” sambar Alrescha dengan tidak tenang, membuat Carlie menyelisik menatap sabahatnya.
“Bukankah dia hanya sekretaris-mu saja, kenapa reaksimu berlebihan” ucap Carlie sembari melepaskan jas putih untuk ia letakan di tempatnya, wanita itu menyisingkan lengan panjang sambil membuka beberapa laci disana, Carlie mengambil peralatan yang di perlukan untuk sahabatnya.
“Tapi dia sekretaris yang cukup handal bagiku, jadi aku membutuhkannya. Untuk itulah aku menanyakan keadaan gadis itu”
“Kita mengenal tidak hanya satu tahun dua tahun saja, bahkan sudah sedari kecil kita tumbuh dan besar sampai akirnya kau menjadi pangeran yang siap mengorbankan apapun untuk putri Arabella” ejek Carlie pada temanya itu.
“Kenapa kau berlebihan sekali” ketus Alrescha ketika dirinya di deskripsikan seperti itu, membuat Carlie membalikan pandangan kearah belakang.
“Bukankah kau yang berlebihan Alrescha Nero” tembaknya hingga membuat pria itu terdiam.
“Terserah kau saja, bagaimana dengan Alissa?” tanya Alrescha sekali lagi, membuat Carlie berjalan menghampiri Alrescha sembari membawa kotak yang sudah di temukanya.
“Dia baik-baik saja sekarang, aku sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dah hanya tersisa sedikit racun saja di paru-paru, tapi itu akan hilang setelah di netralkan. Beruntung tim medis sangat gesit dan cekatan, hal itu mendukung keselamatanya. Tapi lain dari itu, apakah Georgi lagi penyebabnya?” tanya Carlie kepada temanya.
Membuat Alrescha terdiam lantaran ia enggan menjawab, melihat respon sahabat kecilnya itu, Carlie hanya bisa menghela nafas dalam, bahkan ia tidak mengerti kenapa pria itu tidak pernah berhenti dan tidak pernah lelah untuk membunuh sudara tirinya.
“Alrescha, sudah saatnya kau membalas, maksudku jangan pernah tingal diam lagi. Sampai kapan kau akan menyerah dan mundur dari hak mu sendiri, sampai kapan kau membiarkan orang lain merasa menang untuk terus menyakitimu, kau seharusnya sadar. Dengan terus membiarkan Georgi, itu hanya akan membuat Georgi menjadi mengerikan. Ia tidak akan bisa tidur nyeyak sebelum kau tiada, dan seharusnya kau lebih sadar, jika hati manusia sudah sepekat warna hitam, secercah cahaya tidak akan bisa mencerahkanya" jelas Carlie saat memberikan Alrescha suntikan, tentu saja itu untuk vitamin dan ia sudah menyiapkan obat atas kondisi Alrescha saat ini.
“Aku tidak pernah ingin ikut campur sebelumnya, aku percaya apa yang kau lakukan adalah keputusan mu sendiri, tapi kenapa kau harus seperti ini hanya karna Arabella. Tidakah kau bisa berfikir sedikit saja, Arabella memintamu mundur dari hak keluarga Nero, memintamu pergi ke negara lain, dan memintamu untuk tidak membalas apapun yang Georgi lakukan, apa kau yakin semua itu karna Arabella mencintaimu, bahkan aku melihat semua yang ia lakukan terkesan untuk membuat Georgi memuluskan rencananya padamu”
“Carlie, aku rasa ini sudah selesai” tukas Alrescha hingga menepiskan tangan Carlie yang ingin memeriksa dirinya, tentu saja Carlie terpaku sembari menatap nanar pada sahabatnya, sedari awal saat Alrescha mengenal Arabella, ia sudah merasa tidak suka pada gadis itu, akibat Arabella hubungan pertemanan Carlie dan Alrescha mulai merengang, dan pada akirnya, Carlie memilih pergi melanjutkan studi karna ia ingin membiarkan Arescha bahagia bersama Arabella.
Tapi saat mendengar perkembangan tentang Alrescha, rasanya Carlie tidak bisa berkata-kata jika Alrescha mau melakukan semua itu hanya karna gadis itu, apa yang sebenarnya di inginkan oleh Arabella hingga ia membuat Alrescha mengalah, dan pergi dari Negara ini.
“Baiklah, aku juga sudah selesai mengobatimu. Aku ingin mengatakan sesuatu terkait Nona Alissa” tukas Carlie hingga menghentikan langkah Alrescha.
“Aku tidak mau mengatakan hal apa yang sat ini terjadi, tapi tenang saja aku sudah melakukan pemeriksaan tentang itu, di leher sebelah kanan Nona Alissa terdapat benjolan yang sepertinya terjadi cukup lama” timpal Carlie hingga membuat tubuh Alrescha menegang, bahkan matanya menajam kearah Carlie seolah ada ketidak sukaan tentang hal itu.
“katakan padaku apa yang tengah kau curigai, aku sangat mengerti dirimu carlie, kau tidak akan bicara jika kau tidak yakin akan hal tersebut”
“Aku tidak tahu Alrescha, aku tidak berani untuk mendiagnosis sebelum hasilnya keluar”
“Carlie.....” lirih Alrescha hingga membuat mata wanita itu menatap kearah Alrescha, hingga helaan nafas terdengar lirih seraya wanita itu menduduki kursi kerjanya.
“Saat ini aku mencurigai ada kelenjar getah bening yang tengah ia derita selama ini, namun tidak pernah di obati”
“Apa itu berbahaya?" tanya Alrescha dengan penuh cemas.
“Itu akan semakin bahaya jika Nona Alissa tidak mengobatinya, dengan beberapa treatmen dan pengobatan serta konsultasi dengan dokter, hal itu akan sembuh dengan tingkat kesembuhan yang cukup besar, namun jika dia tidak mau mengobatinya, aku sebagai Dokter tentu tidak bisa melakukan apapun”
“Persiapkan seluruh hal terkait kondisi Alissa, carikan Dokter yang handal untuk menangani dirinya. Aku akan membujuk gadis itu” kekeh Alrescha hingga membuat Carlie menyipitkan mata kearahnya.
“Kenapa kau peduli pada wanita lain, bukankah kau sangat menyayangi Arabella saja, sejak kapan di hidup Alrescha memiliki wanita lain selain Arabella” cela Cerlie kearah sahabatnya itu, bahkan membuat wajah Alrescha mengelap seolah penghinaan atas kata-kata carlie sangat menyingungnya.
“Paman Nelo” timpal seorang gadis kecil hingga mengurungkan niat Alrescha membalas perkataan Carlie, bahkan mereka berdua terpaku kearah sumber suara, hinga warna gelap di wajah pria itu berubah menjadi terang, tentu saja Lirania yang memanggil Alreacha dengan paman Nelo, lantaran ia sulit menyebutkan hufuf "R"
“Lirania” sapa Alrescha pada anak dari sahabatnya itu, bahkan Alrescha mengambil alih tubuh mungil yang baru saja mengunakan pakaikan sekolah dasar.
“Paman, kau kemana saja. Apa kau tidak tahu jika Lira sudah bisa membaca” celoteh Lirania hingga membuat Alrescha mengulas senyum hangat.
“Paman sedang sibuk bekerja di luar Negri sayang, tapi paman selalu merindukan mu. Mami mu sudah membagikan potret Lira mengunakan seragam di sertai dengan tulisan jika Lirania-ku sudah pintar membaca” ucap Alrescha hingga membuat mata Carlie menatap sendu kearah sahabat dan anaknya itu.
“Lira, astaga anak ini” timpal seseorang yang sepertinya tengah kepanikan akan seseorang, tentu saja pria itu ialah ayah kandung Lirania yaitu suami Carlie sahabat akrab Alrescha.
“Alrescha” sapa Steven Hans hingga mengulas senyum kaget melihat temanya itu, bahkan Steven yang berprovesi sebagai Dokter juga memiliki keakraban dengan Alrescha, bahkan sebelum Carlie pulang ke Negara ini, Steven yang selalu menjadi Dokter pribadi bagi Alrescha untuk itulah ia cukup kaget melihat Alrescha Nero ada di depan matanya, setelah 2 tahun lebih meninggalkan kota ini.
“Kau semakin tua saja Steven” ejek Alrescha dengan senyuman kearah temanya.
“Hei, kenapa saat bertemu dengan ku kau malah menghina. Kau harus tau, jika saat ini istriku tengah hamil 7 bulan, dan aku akan menjadi ayah lagi. Sudah sepantasnya aku semakin tua” ucap Steven kerah Alrescha.
“Benar paman, Lira akan memiliki adik lagi. Tapi paman jangan mengejek Daddy seperti itu, lira tidak suka jika Daddy cepat tua” celoteh Lirania yang kala itu masih senang di pangkuan Alrescha.
“Maafkan paman sayang, paman hanya bahagia bertemu Daddymu, karna itulah paman mengejeknya” balas Alrescha dengan rasa bersalah.
Bahkan melihat suami dan temanya itu ingin bercengkrama, Carlie mengambil alih anaknya dari pangkuan Alrescha, ia membawa Lirania untuk masuk kedalam sana, seraya memberikan Lira makan siang.
“Astaga, anak mu semakin bijak saja. Sepertinya aku tidak akan bisa menghinamu” dengus Alrescha dengan bercanda kearah Steven, bahkan membuat keduanya tersenyum seraya keluar dari ruangan Carlie untuk membicarakan beberapa hal.
Up dong thor🙏🙏🙏
semangat Thor aku padamu🤗