Karena menghindari sebuah kejaran kelompok preman, Bulan bersembunyi di kamar milik Awan. Sahabat yang baik dan lembut kepadanya. Namun, Awan berubah begitu memasuki pintu suite room itu, menjadi Awan yang buas, kasar, bahkan merenggut kegadisan Bulan. Hingga Gadis malang itu menjadi tawanan dalam pelukan sang iblis...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Bulan berlarian di lorong rumah sakit, wajah pucat karena semalam melayani Awan dan gelisah akan keadaan sang ibu, membuat wajah Bulan semakin redup.
"Paman..."
Seorang pria berusia hampir 50tahun berdiri dengan gelisah di depan pintu sebuah bangsal.
"Bulan."
Bulan semakin mendekat, "bagaimana keadaan ibu, paman?"
"Dia harus segera di operasi, bul."
"Apa? Bukankah ibu sudah membaik?"
"Iya, tapi semalam ibu mu kritis."
"Semalam kritis? Kenapa paman tak menghubungiku?"
"Nomormu tidak aktif bul."
Tubuh Bulan seketika lemas, semalaman Bulan tersiksa melayani Awan. Hp miliknya memang tidak aktif karena ia terlupa tidak mengisi batre nya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, paman?"
"Dokter tidak bisa melakukan operasi jika belum melakukan pembayaran." Jelas paman seketika membuat Bulan lemas.
"Berapa?"
Bulan menguras semua tabungannya, namun uang yang di butuhkan masih sangat kurang. Satu-satunya hal yang terlintas dalam pikirannya hanyal, Awan. Meski keadaan dan suasana hati mereka sedang tidak baik-baik saja. Bulan tetap harus menebalkan muka untuk menemui dan meminta bantuan dari Awan.
Saat itu, Awan menatap sendu foto Ang. Ada banyak sesal di dadanya atas meninggalnya Ang.
"Mau sampai kapan kau menyiksa diri dan wanita itu? Aku yakin Ang pasti tidak akan menyukainya." Suara Keanu menarik foto dari tangannya Awan. Lalu meletakkan gambar itu menghadap dasar meja.
"Hentikan semua ini Sam. Kau akan menyesali."
Awan bergeming.
"Terserah kau saja." Ucap Keanu merasa Awan mengacuhkannya membuat Pria itu kesal. Lalu pergi meninggalkan Awan di ruang kerjanya.
Pintu di ketuk. Bulan muncul di saat Awan juga sedang merasa rindu. Namun, pria itu sangat benci pada wanita yang sudah membuat Ang meninggal. Yaahh, Awan memang menyalahkan Bulan atas terbunuhnya Ang. Dan kini pria itu sedang menyiksa perasaan beserta tubuh Bulan sebagai pelampiasan.
Dengan ragu, Bulan mendekat pada pria yang menatapnya dingin.
"Aku... Bisa kah kamu membantuku?" Ucap Bulan ragu walau begitu, ia tetap harus mengatakannya. Ia butuh uang Awan.
"Aku... Aku butuh uang..."
Awan tertawa kecil yang membuat Bulan merasa buruk dan terhina. Tapi, demi ibunya apapun dia rela.
Awan berjalan mendekat dan mengitari tubuh Bulan.
"Berapa yang kamu mau?"
"Seratus lima puluh juta."
"Aku bisa memberikannya padamu."
Binar bahagia terbit di matanya, namun wajah dingin Awan yang menatap tajam padanya membuat Bulan meredup.
"Buat aku tergugah... Aku akan membayar sebanyak aku menilai harga mu."
Walau merasa sangat hina dan di rendahkan, Bulan mengangguk menyanggupinya. Meski air mata udah memenuhi pelupuk matanya. Sekuat hati, Bulan membendungnya agar tak jatuh. Kelangsungan hidup ibunya ada di tangannya saat ini. Bulan harus mendapatkan uang itu, tak perduli apapun. Malam ini, operasi ibunya harus berjalan.
Bulan mengumpulkan semua keberanian dan tekatnya. Jika dulu, bulan akan dengan senang hati melakukannya, tapi kali ini sangat berbeda. Awan sudah sangat berubah, cara pria itu memandangnya ataupun cara Awan memperlakukan dirinya sangatlah buruk.
Bulan mulai bergelayut manja di tubuh Awan yang tegak tak bergeming. Mencium bibir pria itu meski tak mendapatkan balasan. Jangan di tanya lagi rasa sakit yang Bulan rasakan.
Bulan membuka bajunya, memberi sentuhan dan ciuman pada Awan. Wajah pria itu masih saja datar, saat Bulan butuh cepat, dan Bulan sendiri sedang tak memiliki hasrat. Rasanya sangat menyiksa, dalam pikirannya hanya ada bayangan sang ibu bagaimana dia bisa melakukan hal semacam ini?
Saat Bulan ingin menyerah, dan membuat jarak pada tubuh Awan. Pria itu menarik tubuhnya semakin dekat. Lalu mencumbuinya dengan penuh nafsu. Air mata bulan menetes deras. Ia biarkan saja Awan menuntaskan hasrat. Satu hal yang dia harapkan, mendapatkan uang itu dan ibu segera mendapatkan penanganan.
"Kamu sudah tak seenak dulu lagi. Setelah ini kamu pergi dari kediamanku. Aku tak mau melihatmu. Uang yang kau minta akan masuk ke dalam rekening." Ucap Awan panjang lebar sembari membenahi pakaiannya. Lalu berjalan keluar dari ruangannya, meninggalkan Bulan yang masih tergolek lemas tanpa busana.
Air mata itu terus jatuh, hatinya sakit, tubuhnya juga. Tidak da lagi yang tersisa, Luka yang Awan timbulkan sangat dalam dan perih.
Bayangan sang ibu membuat Bulan bangun, menyeret tubuhnya setelah memunguti pakaian yang berserakan dan sobek sebagian.
***
Di depan ruang operasi, Bulan duduk dengan lemas, masih menggunakan pakaian yang sama, namun bagian baju yang robek, Bulan tutupi dengan jaket agar pamannya tak curiga.
Selama dalam keheningan menunggu jalannya operasi sang ibu. Pikiran Bulan yang kalut perlahan mulai tenang, membenahi hati dan dirinya, ia bertekad tak akan kembali lagi pada Awan. Pria itu sudah membuangnya. Seperti pecahan porselin yang sudah tak ada harganya.
Bulan menatap cincin yang dulu Awan berikan saat melamarnya. Bulan tersenyum getir. Kenapa? Semua berubah begitu cepat dan kejam baginya? Kesalahan apa yang sudah dia perbuat sampai harus mendapat hukuman seperti ini?
tpi untuk yg lnjut d lnjut dan lnjut.keren keren💪💪💪💪
like
komen
give
sub
star
tersemat k D, thx nt ke-8 mu, ini yg bikin u. tidak menyia yiakan hidup
thx k D, nt ke-8 mu yg q baca inilah.. yg bikin hati nyesek sekalipun indah walupun tak seperti yg kt mau i.. thx alot sak kebun bunga🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌹🌹🌷🌹🌹🌹🌷🌹🌹🌷🌹🌷🌷🌷🌹🌷🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌹🌷🌹🌹🌹🌹🌷
samudra mendengar..
jk q diposisi sam.. q akn spt dia, menyalahkannya ats kematian saudara kembar, tp q sakit hati dia bercumbu dg mu.
semangat Thor
kutunggu episode selanjutnya😘😘😘😁😁