"Seandainya Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa melihat, aku ingin melihat wajahmu walau itu hanya satu hari saja," ucap Safira.
Demir yang dari kecil hidup tanpa cinta, membuatnya menjadi sosok yang dingin dan tidak percaya akan adanya cinta, tapi kehadiran seorang wanita bernama Safira bisa membuat Demir merasakan cinta yang selama ini dia rindukan.
Akankah Demir bisa menemukan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian Sekertaris
🌻
🌻
🌻
🌻
🌻
Keesokan harinya...
Seperti biasa, Safira bangun pagi-pagi sekali rencananya hari ini dia ingin mencari pekerjaan.
"Pagi Ma, pagi Mas!" sapa Safira.
"Loh, kok kamu sudah rapi? Kamu mau ke mana?" tanya Bara.
"Hari ini aku mau melamar pekerjaan Mas."
"Melamar pekerjaan? Fira, memangnya uang bulanan yang aku kasih buat kamu kurang ya? Sampai-sampai kamu mau bekerja?" kesal Bara.
"Bukanya kurang Mas, uang yang Mas berikan kepada Fira semuanya Fira simpan, Fira gak pernah memakainya buat apa juga karena Mas selalu memenuhi semua kebutuhan Fira."
"Kalau begitu, kenapa sekarang kamu harus capek-capek melamar pekerjaan?"
"Mas, kita itu belum menikah, Fira gak mau terus-terusan bergantung kepada Mas apalagi Mas sudah terlalu baik sama Fira."
"Kalau begitu kenapa kita tidak menikah saja? Kenapa kamu selalu punya alasan untuk mengundur pernikahan kita? Apa kamu memang tidak mencintaiku dan sama sekali tidak mau menikah denganku?" kesal Bara membuat Safira merasa kaget.
"Bukan begitu Mas, tapi----"
"Sudahlah Fira, terserah kamu saja. Kamu mau bekerja kek, mau ngapain juga, terserah kamu. Kamu memang tidak pernah mau mendengarkan ucapanku!" sentak Bara.
Bara bangkit dari duduknya dan langsung pergi dari rumahnya, Safira yang panik akhirnya menyusul Bara.
"Ma, Fira susul Mas Bara dulu ya."
Bara sangat marah, dia pun segera masuk ke dalam mobilnya dan Safira pun ikut masuk ke dalam mobil Bara membuat Bara menatap tajam ke arah Safira.
"Ngapain kamu masuk ke dalam mobilku? Bukanya kamu mau pergi melamar pekerjaan?" seru Bara dengan kesalnya.
Safira menggenggam tangan Bara. "Mas, maafkan Fira kalau sudah membuat Mas marah. Fira itu kuliah menghabiskan waktu bertahun-tahun, sayang kalau ilmu yang Fira dapatkan tidak Fira manfaatkan. Kalau Fira ingin menikah, sudah saja Fira tamat SMA saja tidak perlu capek-capek kuliah menghabiskan waktu dan biaya. Please Mas, Fira ingin memanfaatkan ilmu yang Fira punya. Hanya satu tahun, dan Fira janji setelah satu tahun bekerja, Fira mau menikah denganmu, Mas."
Fira menatap Bara dengan wajah yang memelas, sehingga Bara merasa bersalah. Bara pun menatap Safira yang saat ini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Ya sudah, hanya satu tahun ya? Setelah satu tahun, aku akan menikahi kamu dan aku tidak mau mendengar alasan apa pun lagi dari kamu," seru Bara.
Safira tersenyum dengan menganggukan kepalanya. "Fira janji Mas."
Bara pun memeluk Safira dan menghujani pucuk kepala Safira dengan ciumannya.
"Baiklah, sekarang kamu rencananya mau melamar pekerjaan ke mana? Biar aku antar."
"Fira mau melamar ke PT. SUGIONO GRUP, soalnya Fira lihat perusahaan itu sedang membutuhkan seorang sekertaris."
"Wah, itu merupakan perusahaan besar, aku yakin kamu pasti akan diterima di sana."
"Amin, mudah-mudahan saja ya, Mas."
Bara pun mulai melajukan mobilnya menuju perusahaan yang Safira maksud.
***
Sementara itu di perusahaan, Demir baru saja sampai di perusahaan.
"Tuan, pencarian sekertaris yang Tuan inginkan, hari ini adalah penutupannya karena wanita yang melamar sudah sangat membludak jadi saya tutup saja," seru Wildan.
"Terserah kamu saja, urus semuanya dan saya ingin yang jadi sekertaris saya nanti, harus pintar soalnya penampilan tidak harus cantik yang penting wanita itu harus pintar dan rajin, soalnya saya tidak mau mempunyai sekertaris yang lemot dan lambat dalam berpikir," sahut Demir.
"Baik Tuan, kalau begitu saya ke aula dulu dan akan mencari sekertaris yang terbaik untuk Tuan."
Demir tidak menyaut ucapan Wildan, dia langsung masuk ke dalam lift menuju ruangannya.
"Astaga, kalau bukan pemilik perusahaan ini, sudah aku bejek-bejek tuh si Bos. Dingin banget jadi orang," gerutu Wildan.
Wildan pun dengan cepat menuju aula, dan benar saja di sana sudah sesak sekali dengan para pelamar. Mereka berbondong-bondong ingin masuk ke perusahaan itu, karena gaji di perusahaan Demir sangat besar maka dari itu Demir ingin mencari karyawan yang tidak sembarangan.
Sementara itu, Safira baru saja sampai di perusahaan itu.
"Mas, aku masuk dulu ya, sepertinya aku sudah telat."
"Iya, kamu hati-hati."
"Oke."
Safira pun segera berlari ke dalam perusahaan dan langsung menghampiri resepsionis.
"Maaf Mba, saya mau melamar pekerjaan untuk jadi sekertaris," seru Safira.
"Aduh maaf Mba, pendaftarannya sudah ditutup."
"Loh, kok sudah ditutup? Bukanya hari terakhir pendaftaran, besok ya?" seru Safira.
"Awalnya memang seperti itu Mba, tapi pelamar sudah sangat membludak jadi perusahaan memutuskan untuk menutup pendaftaran."
"Mba, ayolah izinkan aku untuk ikut melamar soalnya aku ingin sekali bekerja di sini," rengek Safira.
"Maaf Mba, tidak bisa."
"Ya sudah, Mba bisa tunjukan siapa pemilik perusahaan ini? Biar saya yang bicara langsung kepadanya."
"Maaf Mba, tidak bisa. Bos kami tidak sembarangan menerima tamu, setidaknya harus buat janji dua hari sebelumnya untuk bertemu dengan Bos kami."
"Astaga, ribet banget sih. Ya sudah, pokoknya saya mau menunggu di sini, saya ingin bicara dengan pemilik perusahaan ini," keukeuh Safira.
"Terserah Mba saja."
Safira pun akhirnya memilih untuk duduk di lobi, menunggu pemilik perusahaan muncul dan bernegosiasi dengannya.
Berbeda di aula, Wilda memijit keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
"Ya ampun, kenapa yang melamar semuanya seperti ini sih? Tidak ada satu pun yang masuk kriteria si Bos," gumam Wildan.
Hingga beberapa jam kemudian, Wildan mulai stres. Dia melihat ternyata waktu sebentar lagi sudah menunjukan jam makan siang.
"Astaga, tidak terasa sudah mau jam makan siang dan aku sama sekali belum menemukan pelamar yang pas untuk si Bos, bagaimana ini?" gumam Wildan frustasi.
Wildan pun akhirnya memutuskan untuk istirahat sejenak dan akan dilanjut lagi sehabis jam makan siang. Perutnya sudah terasa sangat lapar dan kalau lapar, Wildan tidak bisa berpikir.
Wildan pun keluar dari aula, Wildan melangkahkan kakinya menuju kantin kantor. Tapi di saat Wildan hendak memasuki lift, Wildan melihat seorang wanita cantik yang saat ini sedang tertidur di kursi tunggu lobi.
Wildan mengurungkan niatnya masuk ke dalam lift dan menghampiri resefsionis.
"Siapa wanita itu?" tanya Wildan.
"Oh, itu wanita yang ingin melamar jadi sekertaris, Pak. Saya sudah bilang kalau pendaftarannya sudah di tutup tapi dia keukeuh ingin mengikuti interview."
Wildan terdiam sejenak, hingga akhirnya Wildan pun menghampiri Safira.
"Maaf Nona, tolong jangan tidur di sini," seru Wildan.
Safira mengerjapkan matanya, dan mendongakan kepalanya. Safira terkejut, dan ia langsung berdiri.
"Apa Bapak, pemilik perusahaan ini?" tanya Safira.
"Bukan, saya Asisten Bos. Kamu ngapain tidur di situ?"
"Maaf Pak, saya ingin melamar pekerjaan tapi kata Mbanya sudah ditutup, padahal saya lihat kalau pendaftaran ditutup besok."
"Pendaftaran memang sudah ditutup karena pelamar sangat membludak, jadi lebih baik sekarang Nona pergi dari sini dan jangan tidur di sini."
Wildan hendak melangkahkan kakinya, tapi dengan cepat Safira menahannya.
"Pak, saya mohon, saya ingin ikut interview," rengek Safira.
Wildan yang tidak tega, akhirnya luluh juga.
"Coba lihat CV kamu."
Safira pun segera memberikan CVnya kepada Wildan, Wildan mulai melihat-lihat data diri Safira dan Wildan tampak membelalakan matanya.
"Kamu lulusan dari Belanda?"
"Iya Pak."
Wildan memperhatikan penampilan Safira yang terlihat cantik dan anggun, Wildan pun melihat kalau Safira lulus dengan predikat cumlaude.
"Perfect, kamu adalah orang yang saya cari. Kamu tidak perlu interview, langsung diterima di sini."
"Hah, serius Pak? Saya diterima bekerja di sini?"
"Iya, sekarang kamu istirahat dulu dan makan siang dulu nanti habis makan siang, saya tunggu kamu di sini lagi."
"Oke Pak, terima kasih ya Pak."
"Sama-sama."
Akhirnya dengan perasaan bahagia akhirnya Safira pun pergi ke restoran dekat kantor untuk makan siang.