Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Bugh!
Danzel yang baru saja datang dan bergabung dengan teman temannya langsung terhuyung ke belakang menerima bogeman dari Raja. Memang tidak keras, tapi kepalanya yang agak pusing membuatnya tak dapat menjaga keseimbangan.
"Apa apaan ini!" Sentak Danzel tak terima.
"Hukuman untukmu karena memecahkan rekorku!"
Bugh! Ariel yang duduk di sofa turut melemparkan bantalan sofa ke arah temannya yang menyebalkan itu.
"Hukuman untukmu karena membuat suara keramat semalam yang membuat semua orang tidak bisa tidur. Dasar mesum!" Tambah Ariel. Masih kesal karena semalam nalurinya ikut bangkit karena kegiatan mereka. Dan sialnya, para wanita yang dipesan sudah pulang duluan meninggalkan mereka.
Baru saja Danzel akan menyumpal mulut Ariel yang kelewatan, salah siapa mereka tidak pulang semalam?. Memangnya ada yang menyuruh mereka menunggunya hingga bangun tidur?. Danzel sepertinya melupakan rencana mereka pagi ini.
"Siapa yang menyuruh kalian mengungsi ke apartemen ku? Kenapa tidak pulang?!" Ujarnya ketus.
"Hei tuan Anderson, sepertinya anda lupa rencana kita pagi ini." Ariel berucap.
"Bagiamana bisa dia ingat, kalau semalam saja sedang enak enak dengan daun muda?" Cakra tertawa menimpali.
Siaal. Danzel mendengus kesal. Habis dia menjadi bahan olok olokan teman temannya pagi ini.
"Siapa dulu yang bilang, "aku tidak suka gadis kampung itu." Cakra menirukan suara Danzel dulu saat ia mengolok oloknya telah jatuh cinta pada gadis desa. Lelaki itu menggeleng dan membantah, mengatakan ini karena ulah Opa Johan yang membuatnya tak bisa berkutik.
Tawa mereka berangsur lenyap saat gadis cantik dengan rambut basahnya, hanya mengenakan kaos dan celana sederhana menghampiri mereka. Tangannya nampak membawa nampan yang berisikan minuman hangat yang baru saja ia siapkan.
Tatapan lelaki itu tak lepas dari pemandangan di depannya. Membuat Danzel berdecak pelan. Lihatlah, wajah Cakra yang seperti melihat bidadari surga. Wajah natural tanpa polesan apapun. Bau segar sabun mandi yang menguar.
"Oh. Hai, Mala. Kita sempat bertemu saat pernikahan mu. Tapi belum sempat berkenalan. Aku Cakra, keturunan ningrat. Kamu bisa main ke rumahku kapan saja kalau mau." Cakra memecah suasana yang lengang. Memperkenalkan dirinya dengan ramah, ya walaupun agak sombong memperkenalkan dirinya. Cakra memang selalu memamerkan darah birunya apalagi dengan gadis semanis Mala.
"Shitt, menyingkirlah!" Ariel menyikut lengan temannya kasar, membatalkan niatannya berjabat tangan. "Aku Ariel, anak tuan Zach yang merupakan pengusaha tambang terkenal. Senang bertemu denganmu." Ariel mengulurkan tangan. Lagi lagi, saat Mala ingin menjabatnya, Raja mendorong bahu Ariel ke belakang tubuhnya yang besar.
"Jangan dengarkan omong kosong mereka nona, mereka memang agak sombong." Raja tersenyum lembut, pria itu memang paling pandai merayu wanita. Ia menggenggam jemari Mala dan menuntunnya duduk di sofa. Meraih teko, menuangkan teh ke dalam cangkir dan mempersilakan perempuan itu meminumnya.
Mala tersenyum hangat diperlakukan seperti itu, ia belum dapat kesempatan bicara. Teman teman Danzel terlalu antusias menyambutnya. Berbeda dengan wajah suaminya yang masih kesal, karena kejadian setelah pertempuran kedua mereka selesai tadi. Danzel mungkin marah, tapi biarlah. Ia tak peduli.
"Silahkan," Seru Raja lagi. Mala meneguknya sedikit.
"Aku Raja, nice to meet you." Kali ini uluran tangan Raja tak sia sia seperti dua teman yang lain. Mala menjabat tangannya, melemparkan senyum paling ramah yang ia punya.
"Mala," Menyebutkan namanya singkat.
Teman temannya ternyata seantusias itu pada istrinya, baru beberapa menit saling kenal, namun mereka sudah sangat akrab. Mala mudah bergaul dan masuk dalam topik pembicaraan. Bahkan kini Danzel malah merasa asing diantara mereka. Tidak ada yang mengajaknya bicara.
"Dein, istrimu sangat berbakat ternyata. Aku yakin usaha yang akan ia bangun akan sukses besar nanti." Lelaki berwajah western itu hanya mengulas senyum menanggapi.
"Sepertinya liburan kita tunda besok saja, bagaimana? Sekalian ajak Mala juga, nanti aku akan membawa Dena dan Gisel untuk menemaninya." Usul yang brilian, bagi beberapa orang. Tapi untuk Danzel, itu adalah ide paling buruk.
"No, no way! Apa apaan kalian mau mengajak dia. Yang ada nanti akan merepotkan. Teriak takut ulat, ular, kalajengking. Wanita selalu seperti itu." Danzel membantah ide gila itu. Ia ingin liburan dengan tenang. Tanpa ada perdebatan dengan Mala yang akan menguras tenaganya.
"Aku tidak seperti wanita lain! Aku bisa, ya, aku mau ikut." Rasanya tidak ada salahnya ikut dengan mereka. Pasti akan seru mengingat teman teman Danzel yang selalu pandai menghidupkan suasana.
"No-"
"Tidak ada bantahan, Mala akan ikut. Lagipula dia pintar memasak, pasti akan berguna Dein. Soal keperluan, bisa pinjam punyaku nanti." Bantahan Danzel tak akan ada gunanya. Lima lawan satu. Jelas ia kalah telak. Lelaki itu memijat pelipisnya, rasa pusing di kepalanya belum reda.
Setelah mengucapkan satu dua kalimat, teman temannya yang menyebalkan itu akhirnya angkat kaki dari kediamannya. Danzel baru bisa bernapas lega. Lalu kepalanya menoleh pada perempuan yang telah ia gauli semalam, membuatnya senang tak terkira. Namun kesenangannya sirna karena perdebatan mereka pagi tadi.
"Jangan senang dulu, mereka baik padamu bukan berarti menyukaimu. Mereka begitu karena kamu istri seorang Anderson."
Mala yang tengah menyuapi Ely makan, menghentikan kegiatannya, menatap tak ramah pada sang suami.
"Memang siapa yang senang, jadi istrimu? Tenang saja, setelah aku mengembalikan uangmu yang kupakai modal itu, semuanya akan selesai."