Kinara Novelya Putri
Sakit hati tidak membuat Kinar menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Karena ia percaya, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta yang begitu tulus dari seorang pria.
Jefan Bintang Yudhistira
Jefan yang merasa dikhianati oleh Mecca akhirnya mendekati Kinar yang ia ketahui sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebenarnya apa sih status hubungan kita?" Tanya Kinar sangat pelan tapi Jefan masih mampu mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Jefan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kinar. Ia diam, menunduk seakan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Kinar lagi.
"Kita ciuman, kamu panggil aku sayang, bahkan sikap kamu begitu manis sama aku. Tapi status hubungan kita nggak ada kejelasannya."
"Kamu sabar ya! Aku janji akan selesaikan hubungan aku sama Mecca secepat mungkin."
"Aku nggak butuh janji, Jef. Aku hanya butuh kamu jawab apa status hubungan kita selama ini?"
"Kamu maunya gimana?" Jefan membalikkan pertanyaan Kinar yang membuat Kinar kecewa dan keluar dari mobilnya begitu saja.
Akankah Kinar dan Jefan dapat bersatu dalam ikatan cinta? Akankah jalan cinta mereka mulus tanpa adanya lika-liku? Cerita selengkapnya langsung baca ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon is fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 21 Kemana Jefan?
Waktu terus bergulir. Kinar menjalani aktivitasnya seperti biasa. Ia juga masih bekerja di toko bunga milik Jefan. Walaupun sebenarnya ia ingin menghindar dari segala apapun yang menyangkut tentang laki laki itu, tapi Kinar berusaha lebih berfikir rasional daripada harus mengedepankan egonya.
Semenjak kejadian malam itu, Jefan maupun Kinar tidak lagi saling bertukar kabar. Nomor Jefan nampaknya juga sedang tidak aktif, itu terlihat ketika Kinar tak sengaja membuka room chatnya dengan Jefan. Di profil atas tertera jika waktu terakhir Jefan online adalah malam ketika mereka terlibat perdebatan kecil. Bukan perdebatan, tapi lebih tepatnya Kinar yang meminta kejelasan dari kedekatan mereka selama ini.
Selain itu, Jefan juga tidak pernah datang ke toko lagi. Hanya Felly yang sesekali datang untuk mengontrol keadaan toko saja. Itu pun juga tidak setiap hari, hanya 2 atau 3 hari sekali. Terbesit pertanyaan dalam diri Kinar. Kemana Jefan? Ia pun mulai merasa khawatir setelah Felly sama sekali tak muncul ke toko selama 5 hari. Ia memberanikan diri untuk menghubungi nomor Jefan, tapi benar seperti dugaannya jika nomor tersebut sedang tidak bisa dihubungi.
Kinar sudah tidak bisa fokus lagi dalam bekerja. Ia sering melakukan kesalahan dalam melayani pesanan pelanggan. Hal itu yang akhirnya membuat Putri kewalahan ketika menangani komplain dari pelanggan.
"Put, gue minta maaf. Gue emang nggak becus kerja." Kinar menghampiri Putri yang sedang merangkai bunga.
"Nggak apa apa, Kin. Lo nggak harus minta maaf!" Jawab Putri yang masih tetap melakukan pekerjaannya.
"Tapi kalau bukan karena keteledoran gue, lo nggak akan sesibuk ini, Put."
Putri menghentikan aktivitasnya, meletakkan rangkaian bunganya di atas meja. Kemudian menatap Kinar yang tertunduk lesu di sampingnya.
"Kin, lo lagi ada masalah?" Kinar mendongak seraya menatap Putri.
Seketika ia teringat dengan Elsa. Sahabat yang selalu mengerti tentang apa pun yang sedang menimpanya. Tatapan Putri pun sama dengan tatapan Elsa. Ada ketulusan yang terpancar dari mata mereka.
"Apa ini ada hubungannya sama mas bos Jefan yang udah lama nggak kesini?" Putri bertanya lagi karena Kinar tak kunjung membuka suara.
Kinar menggelengkan kepalanya pelan. Dengan raut wajahnya yang masih saja terlihat lesu.
"Kalau seumpama lo mau cerita, gue siap jadi pendengar. Tapi kalau nggak mau, gue juga nggak maksa." Sikap Putri kembali mengingatkan awal persahabatannya dengan Elsa.
Tiba tiba Kinar memeluk Putri dari samping. Bulir bening perlahan menetes hingga membasahi pundak Putri yang tertutup baju.
"Makasih ya, Put. Lo udah baik banget sama gue. Padahal gue yang jadi penyebab semua pelanggan komplain. " Kinar melepaskan pelukannya dari Putri.
"Gue tau kalau lo lagi ada masalah, Kin. Jadi gue nggak mau nambahin masalah lo dengan cara marah marah sama lo. Lagian kan kesalahan lo juga nggak fatal-fatal banget." Putri tertawa kecil di akhir kalimatnya yang membuat Kinar sedikit senyum.
"Nggak fatal gimana, orang customer yang gue layani semua pada komplain kok." Kinar cemberut tapi akhirnya ia kembali tersenyum lebar karena sikap Putri yang sama persis dengan Elsa.
"Mbak Felly tau, Put soal masalah toko?"
"Tau kok. Dia nyuruh gue buat handle dulu, dia juga minta gue supaya nggak marahin lo."
"Oh pantes aja nggak marah, ternyata dapat perintah dari bu bos." Kinar manyun merasa kesal karena ternyata Putri mendapat arahan dari Felly, bukan karena dari hatinya.
"Nggak usah cemberut gitu! Tanpa mbak Felly minta gue juga nggak mungkin marah sama lo, Kin. Karena lo mengingatkan gue sama sahabat gue yang udah meninggal." Kinar mengerutkan keningnya.
"Sahabat?"
"Iya, dulu tuh gue punya sahabat. Tapi dia meninggal karena sakit liver. Sosoknya mirip sama kamu. Cara dia bicara, cara dia memperlakukan orang lain, cara berpikirnya, semua mirip seperti kamu." Tutur Putri mengingat sosok sahabatnya yang sudah lama meninggal.
"Ternyata yang kita pikirin juga sama. Lo itu juga mirip sama sahabat gue. Dia lagi liburan ke Singapore. Udah 1 bulan gue nggak ketemu. Kangen banget rasanya. Biasanya dia selalu ada buat gue dalam keadaan apapun. Nanti kalau dia pulang, gue kenalin deh. Pasti kalian langsung nyambung, anaknya baik, rame kayak lo." Kinar tersenyum lebar hingga menampakkan jejeran giginya yang putih.
"Kok bisa samaan gini ya?" Putri pun tertawa dan langsung diikuti oleh Kinar.
Tapi tidak dengan Sinta dan Arya. Sejak tadi mereka sudah memperhatikan Putri dan Kinar. Sesekali mereka berbisik membicarakan Putri yang tidak memarahi Kinar karena kesalahan yang sudah dilakukan. Terlebih Sinta, ia geram sendiri melihat kedekatan Putri dan Kinar. Pasalnya, ia sudah sangat senang karena Kinar yang mendapat banyak komplain, itu berarti Kinar akan secepatnya dipecat. Dan ia tidak akan lagi melihat Kinar yang sering berduaan dengan Jefan.
*****
Kinar melangkahkan kakinya dengan wajah yang lesu. Semuanya terasa lelah. Jefan sudah memenuhi otaknya lagi, semua aktivitas yang ia kerjaan tak lepas dari bayang bayang Jefan. Kemana dia berada sekarang? Sudah hampir 1 bulan, laki laki itu tak menampakkan wajahnya lagi. Kinar benar benar merasa galau. Ditambah lagi dengan Elsa yang menunda kepulangannya. Tapi ia tidak sepenuhnya merasa kesepian, karena ada Putri yang bisa sedikit mengobati kerinduannya dengan Elsa. Walaupun sebenarnya bagi Kinar tidak ada yang bisa menandingi sosok Elsa.
"Jef, kamu kemana? Kenapa nggak pernah ada kabar lagi? Apa yang terjadi sama kamu?" Gumam Kinar sendiri di atas ranjangnya.
"Aku benci, Jef karena masih saja memikirkan mu. Aku kangen sama kamu." Tak terasa Kinar meneteskan air matanya. Sungguh rasa yang menyakitkan.
"Elsa, kapan sih lo pulang? Gue udah kaya orang gila mendem semua ini sendiri. Gue butuh lo, Sa."
Ceklek
Terdengar suara pintu kamar Kinar terbuka. Nampak sosok yang Kinar rindukan berdiri diambang pintu seraya tersenyum lebar. Kinar diam tak beranjak dari tempatnya.
"Saking kangennya sampai halusinasi gini." Kinar menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Lo nggak lagi halusinasi, Kin." Suara itu terdengar nyata di belakang Kinar. Seketika Kinar melonjak dari tempat tidurnya. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Kemudian langsung berhambur memeluk Elsa yang sudah berdiri di hadapannya.
"Elsa! Kok nggak bilang kalau pulang hari ini? Kan gue bisa jemput di bandara." Kinar cemberut tapi bahagia melihat Elsa sudah pulang.
"Kan biar surprise."
"Lo kenapa, Kin acak-acakan begini penampilannya? Rambut udah kaya nggak pernah disisir, wajah pucat, mata sembab, badan juga kelihatan kurus lagi." Elsa memperhatikan rambut, wajah, serta badan Kinar yang memang mengurus.
"Nggak apa apa." Jawab Kinar tenang. Padahal hatinya sudah sangat ingin meluapkan semua kegundahannya. Tapi karena Elsa baru saja sampai, ia menahan dulu untuk tak bercerita, biar sahabatnya istirahat terlebih dahulu.
"Lo pasti capek kan, mending lo istirahat trus tidur!" Kinar mendorong pelan tubuh Elsa agar keluar dari kamarnya.
Ketika Kinar hendak menutup pintu, Elsa menahannya.
"Lo nggak bisa bohong gue, Kin! Besok lo harus bayar utang. Nggak boleh nunggak lagi!" Kinar mengangguk mengerti dengan hutang yang Elsa maksud.
Kinar menutup pintu kamarnya setelah Elsa sudah tidak lagi ada di kamarnya.
cuma sangat disayangkan,, alurnya muter muter..
selalu diceritakan lagi dan lagi, bisa 1 bab tu yg muter..
semoga kedepan lebih baik lagi.. semangat
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti