Aaron Bradley, seorang pekerja konstruksi di Kota New York, mendapati keluarganya tewas terbunuh saat ia kembali bekerja. Tidak hanya sampai di situ, ia juga tertangkap tangan sedang memegang sebuah pistol yang menjadi senjata pembunuhnya.
Ia harus membuktikan dirinya tidak bersalah dengan mencari pembunuh sebenarnya. Selain itu, dendam di hatinya yang begitu besar membawanya pada liku liku kejahatan di Kota New York. Kehidupannya yang bahagia berubah 180 derajat karena ia sudah kehilangan semuanya.
Apakah ia bisa menemukan pembunuh sebenarnya? Hanya waktu yang akan menjawabnya.
Kisah ini mengandung sedikit adegan kekerasan dan juga action.
Salam,
PimCherry
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBALAS KEBAIKAN
"Ar, kamu sudah kembali?" tanya Elbert yang baru saja keluar dari rumah dan kembali ke kantor.
"Ya, aku berjalan jalan sebentar. Sudah lama sekali tidak merasakan hal seperti ini."
Elbert menepuk bahunya, kemudian tersenyum.
"Kamu harus menikmati kebebasanmu, Ar. Jangan biarkan orang lain menghancurkannya. Oya, aku ada 1 berita untukmu, dan aku yakin kamu akan menyukainya."
"Ada apa?"
"MonPro sedang mencari asisten pribadi. Tidak! tidak! Bukan MonPro, tapi Edward. Ia secara pribadi mencari seorang asisten. Apa kamu ingin mencobanya?" tanya Elbert.
"Apa mereka akan menerima mantan narapidana sepertiku?"
"Kita tidak akan tahu jika tidak mencoba. Tidak ada salahnya kamu mengirimkan lamaranmu, siapa tahu Kamu diterima. Kamu adalah pribadi yang sangat luar biasa, Ar. Kamu membutuhkan pekerjaan dan aku tahu kamu ingin masuk ke MonPro untuk mencari kebenaran, bukan begitu?"
"Terima kasih, El. Kamu sangat mengerti diriku."
"Tentu saja! Jika aku sepertimu, aku akan melakukan hal yang sama. Aku tak akan membiarkan kasus ini menghilang begitu saja. Ingatlah! aku mendukungmu, selama yang kamu kerjakan itu benar," sekali lagi Elbert menepuk bahu Aaron, kemudian melambaikan tangannya dan meninggalkan tempat itu.
*****
Aaron mempersiapkan CV yang akan ia tujukan ke MonPro. Tidak ada salahnya mencoba, begitu pikirnya. Setelah itu, ia mengirimkan CV tersebut melalui surat elektronik yang langsung ditujukan kepada Edward Whitman.
Selesai mengirimkan CV, ia membuka beberapa file yang ada di dalam laptop milik David. Teringat akan sebuah flash disk, Aaron merogoh salah satu kantung kecil di bagian dalam tas, tempat ia meletakkan flash disk tersebut. Ia pun segera memeriksanya sesaat setelah file di dalamnya terlihat.
"Wow, Dave. Kamu sangat luar biasa. Dari mana kamu mendapatkan semua ini? Seharusnya mereka tidak mengincarku, tapi mengincarmu," gumam Aaron sambil terus menelusuri beberapa file yang ada dalam flash disk tersebut.
Tokk ... tokkk .... tokkk ....
"Masuklah," ucap Aaron.
"Kamu belun tidur?" tanya Peter.
"Belum. Aku baru selesai mengirimkan lamaran dan sekarang sedang memeriksa sesuatu."
Peter masuk ke dalam kamar Aaron dan duduk di atas tempat tidur.
"Apa kamu akan melamar ke MonPro?" tanya Peter hati hati.
"Apa Elbert yang memberitahumu?"
"Ya, Elbert menceritakan semuanya, bahkan ia mendukungmu. Apa kamu yakin akan melakukan itu?"
"Sebenarnya aku sedikit ragu. Aku juga yakin aku tidak akan diterima. Mereka mengetahui semua tentangku, bagaimana aku keluar dari sana dan apa yang terjadi setelahnya. Tapi tidak ada salahnya aku mencoba."
"Aku hanya tidak ingin kamu menghadapi masalah lagi, Ar. Tidakkah kamu ingin hidup tenang?" tanya Peter.
Aaron tersenyum dan menoleh ke arah Peter.
"Aku ingin hidup nyaman, tenang dan damai. Bahkan aku sudah merencanakan akan hidup di pedesaan saja, menghindari kerasnya perkotaan. Tapi, aku belum bisa. Aku harus menemukan semua kebenarannya. Membiarkan semuanya seperti ini, justru akan membuat hidupku tidak tenang."
"Apa kamu ingin kembali bekerja di proyek?" tanya Peter.
"Jika MonPro menolakku, mungkin aku akan kembali ke proyek .... jika masih diterima," candanya.
"Kalau masalah itu, kamu tenang saja. Aku bisa mempekerjakanmu kembali. Bagaimana kalau kita tinggal bersama?"
"Kita?"
"Ya, tinggalah bersamaku, Ar. Kita tidak mungkin merepotkan Elbert dengan tinggal di sini. Rumahku sudah selesai diperbaiki dan aku sudah berpikir untuk kembali."
"Apa tidak merepotkanmu jika aku tinggal bersamamu?"
"Tentu saja tidak. Kamu adalah sahabatku. Kita akan melewati semua hal bersama. Bukan begitu?"
"Terima kasih, Pete. Aku benar benar sangat beruntung memilikimu sebagai sahabat," ujar Aaron.
"Baiklah, kita akan bicarakan lagi besok. Kamu harus beristirahat," Peter pun akhirnya keluar dari kamar Aaron.
Aku memang berniat untuk mencari tempat tinggal sendiri setelah mendapatkan pekerjaan. El, aku pasti akan membalas semua kebaikanmu padaku.