karya : Rosnila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Suasana di restoran hening sesaat, Tak ada yang bicara, Dan mendadak perasaan ku semakin tidak karuan, Bahkan aku yang tadinya tenang kenapa tiba-tiba jadi gundah.
Aku bahkan saat itu seperti kesusahan menelan ludah ku sendiri , Dan Susana hening itu pun di pecahkan dengan kehadiran, Seorang pelayan restoran yang membawakan buku menu saat itu.
"Maaf mas, mbak mau pesan apa ,silahkan!" Ucap perempuan itu yang terlihat menebar senyum ke arah mas Angga.
Dan Tampa basa-basi aku langsung meraih menu tersebut, Namun terlihat wanita itu masih berdiri. dan terlihat menatap mas Angga. Namun yang ditatap seakan tak ambil pusing.
Namun aku malah kesal dengan pelayan wanita tersebut, menurutku sikapnya itu tidak sopan. Aku pun mencairkan suasana saat itu dengan bertanya kepada mas Angga akan memesan apa.
"Mas mau pesan apa?" Tanya ku.
Dan terlihat mas Angga hanya tersenyum, dan meraih buku menu yang barusan ku tunjukkan.
"Kamu mau makan apa?" tanya mas Angga balik ke aku
" Terserah mas aja, Icha ikut aja." jawab ku.
Dan akhirnya kami pun memesan nasi goreng seafood, dan kebetulan juga ternyata kami punya selera makan yang sama.
setelah memberikan pesanan pelayan itu pun pergi, meninggalkan meja kami.
"Mas!" Panggil ku.
Dan terlihat mas Angga yang mengalihkan pandanganya terhadap ku.
"Mas, Kenapa gak bilang kalau kita akan makan di restoran ini, harusnya Icha bisa pakai pakaian yang sesuai."ucap ku lagi.
Namun dia hanya tersenyum, dan terlihat membuka jas nya dan hanya kemeja yang berwarna biru muda yang tersisa saat itu, Ya krena memang restoran itu memang dikunjungi oleh orang-orang kantoran.
Pesanan kami pun datang, Dan kami langsung menyantap nasi goreng, Tampa ada yang bicara lagi, dan Aku juga paham kalau mas Angga pasti akan bicara setelah makan siang ka.i hari itu selesai.
Setelah meja kami dibersihkan dan saat itu hanya ada es krim disana, ya kebetulan Aku memang sangat menyukai es krim. Namun akau tak ingin menunggu lama untuk hal apa yang akan disampaikan oleh mas Angga.
"Mas, Apa yang ingin mas katakan?" tanya ku.
"Habiskan dulu es krim nya."jawab mas Angga.
"Tidak apa-apa mas, Mas bicara lah." jawab ku.
Aku bisa melihat kalau yang ingin disampaikan mas Angga sepertinya sangat penting, bahkan dia terlihat menarik nafas berat nya.
"Apa ada masalah?" tanya ku tidak sabar.
Dan bukannya jawaban yang kudapat saat itu, Namun malah tiba-tiba mas Angga meraih jemariku dan menggenggam nya, tentu saja aku terkejut, dan bertanya ada apa ini.
"Icha, tolong kasih saya waktu untuk bicara." Ucap mas Angga yang saat itu memang menahan jemari ku yang ingin aku lepaskan dari genggaman nya.
Akhirnya aku mengalah, membiarkan jemariku di genggam oleh mas Angga.
"Icha, Seandainya saja ada Yang ingin serius dengan kamu, Apa kamu setuju?" tanya mas Angga.
Aku masih bingung, dan belum bisa memberikan jawaban, seakan aku tidak paham dengan yang mas Angga tanya kan.
"Mungkin pertanyaan ini akan membuat kamu bingung Cha, tapi saya tetap haru bicara dengan kamu."Ucap mas Angga lagi.
Dan terlihat mas Angga meraih sesuatu dari dalam saku jas nya yang saat itu diletakkan di sandaran kursi.
"Cha, Menikah lah dengan ku."ucap mas Angga sambil mengeluarkan sebuah kota berbentuk
love.
Dan ternyata isinya ada sebuah cincin berlian, Aku hanya menatap bingung ,tak tau apa yang harus ku katakan, menurut ku mas Angga terlalu terburu-buru , bahkan kita belum saling kenal.
"Saya tau kamu kaget, Bahkan mungkin menganggap saya aneh, Untuk apa yang saya lakukan saat ini, Namun kamu harus tau saya serius." Kata mas Angga.
Aku masih dia, Tak berkutik, bahkan eskrim yang tadi beku terlihat mulai mencair, namun hati ku seakan sedang diaduk-aduk.
"Icha, Saya tau apa yang ingin kamu tau dari saya, makanya kamu juga setuju bertemu saya hari ini."Tambah mas Angga.
aku mengangkat pandangan ku yang saat itu menunduk bingung, Aku saat itu bertatapan dengan mas Angga, Dan tentu saja tatapan itu meminta penjelasan.
"Icha, Orang tua kita telah menjodohkan kamu dengan saya, Dan saya sudah menyetujuinya, begitu juga kedua orang tua saya dan kamu."
Ucapan mas Angga saat itu, bukanya membuat ku bahagia, Namun seakan menjadi sebuah tamparan luar biasa untuk ku saat itu, kenapa semua orang mengatur perjodohan ini Tampa memberikan ku sebuah pilihan terlebih dahulu.
Mata yang tadi menatap mas Angga, kurasakan mulai meredup, aku seakan kehilangan pandangan itu, mata yang tadi jernih kini sudah dipenuhi air mata, kucoba untuk menahan agar air mata itu tak berjatuhan di pipi, namun aku tak sekuat itu, Pipi ku mulai basah, Namun tak terdengar suara Isak tangis, Seakan tangan ku melemah.
Mas Angga pun melepaskan genggaman tangannya , Dan aku melihat dia bangun dari duduk nya, saat itu aku berpikir, pasti mas Angga sedang marah dengan reaksi ku.
Namun yang kupikirkan malah berbanding terbalik, dia berjalan ke arah kursi dimana aku duduk dan menghapus air mata dikedua pipi ku saat itu.
"Icha, Saya tidak bisa memaksa jika kamu menolak menikah dengan saya, Namun kamu tau Icha, kedua orang tua saya begitu berharap kalau kamu lah yang akan menjadi menantunya nanti." ucap mas Angga.
Aku masih terdiam, Tak tau jawaban apa yang harus aku berikan, seharusnya seseorang yang dilamar, akan bahagia dan tersenyum, Namun berbeda dengan diriku, yang seakan sedang diatur kebahagiannya oleh orang lain.
Tiba-tiba saja mas Angga berlutut di samping ku yang saat itu masih duduk tegak di kursi , Dan tentu saja apa yang mas Angga lakukan menyita perhatian bnyak pengunjung restoran saat itu.
"Icha, menikah lah dengan ku."Ucap mas Angga masih dalam posisi yang sama.
Aku begitu bingung dan terdengar suara di sekeliling yang meminta ku untuk menerima, Dan sialnya disana begitu bnyak kolega nya mas Angga, yang juga kolega nya papa, yang saat masih ku ingat wajah nya.
Dalam keadaan bingung, Aku merasa tenggorokan ku tercekat saat itu, hampir tak bisa mengeluarkan suara.
"Mas, jangan seperti ini." Ucap ku yang hampir tak terdengar.
Namun mas Angga masih tetap pada posisinya, Dan terlihat seorang wanita separuh baya, yang juga merupakan orang kantoran yang sedang makan siang disana, mendekati ku, tersenyum dan tiba-tiba merangkul bahu ku.
"Nak, Kamu beruntung ada orang yang ingin mengajak mu serius, kami kenal dengan direktur Angga, beliau orang yang baik."
Aku masih diam, Masih belum tau mau menjawab apa, Dan wanita yang tadi berada dibelakang ku pun meraih tangan kiri ku dan menyodorkan nya ke depan mas Angga, Tampa kata setuju dan menolak dari ku, cincin itu pun terpasang dijari manis ku saat itu.
"Saya janji akan menggantinya dengan cincin pernikahan kita."Kata mas Angga.
Mungkin mendengar kata itu, ada hembusan angin bahagia yang saat itu singgah di hatiku, namun ada rasa bingung yang melebihi hal itu.
Namun aku seakan beku dan tak bisa berbuat apapun saat itu, Sesat setelah cincin itu terpasang, semua orang pun bertepuk tangan dna akhirnya menjauh.
Namun aku masih diam, mematung ditempat ku, Sampai tangan mas Angga menggenggam jemari ku dan membawa ku keluar dari sana, Namun aku masih seperti kehilangan ruh.
Aku sudah duduk di samping mas Angga, yang juga sudah berad dibelakang setir. aku mengumpulkan keberanian ku untuk bicara saat itu.
"Mas kasih aku waktu." ucap ku dengan Sura parau.
Aku bisa melihat mas Angga yang saat itu menatap ku walaupun tatapan ku masih lurus ke depan.
"Baik." Hanya itu jawaban yang ku dengar
Dan mobil pun mulai melaju menembus keramaian kota siang itu. Tampa ada aba-aba apapun dari ku ,Mobil terlihat melaju dan masuk ke pekarangan rumah ku.
Dan aku pun turun dengan hanya mengucapkan kata terima kasih, dan ku percepat langkah ku menuju kedalam rumah, Aku tidak mengerti dengan perasaan ku saat itu.