Season 1
Sara Anjani Salim anak tunggal dari keluarga terpandang, namun nasibnya berubah ketika orang tuanya kecelakaan dan harus membuatnya "MENGHARGAI" dirinya untuk biaya pengobatan orang tuanya yang sedang koma.
Diawal perjuangannya ayahnya meninggal dunia, membuat Sara begitu sakit harus ditinggalkan ayahnya itu, tapi dia tidak bisa berhenti karena dia masih memiliki mamah yang harus dia perjuangan.
Setelah beberapa bulan mamahnya sadar dari Komanya, namun semua itu bukanlah apa-apa, bagaimana dia harus menutupi pekerjaannya agar mamahnya tidak mengetahui.
Namun serapat-rapatnya dia menyimpan itu semua, ada yang mengatakan pada mamahnya hingga membuat dia ketakutan.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang memiliki "KELAINAN" menawari dia sebagai istrinya.
Season 2.
Gara-gara sering mengejar muridnya yang nakal. Rizal pun harus berakhir dipelaminan dengan Siswi nakalnya.
Sebuah kesalah paham mengharuskan Rizal menikahi Siswi yang terbilang sangat nakal.
Bagaimana jadinya rumah tangga mereka setelah menikah, langsung baca saja ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon henti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku jadi ingin punya bayi..
Sara menjatuhkan tubuhnya disofa, bahkan tas dan laptopnya itu dia simpan sembarang.
Sungguh lelah dan menguras otak sekolah untuk hari ini, apalagi skripsi yang terus saja disuruh mengulang oleh dosen pembimbingnya membuat dia setres.
Bahkan tanpa sadar dia tertidur disofa itu, bahkan dia tak sempat membuka sepatunya.
Leon yang pulang lebih awal pun, langsung disambut dengan pemandangan itu. Kaki dibahu sofa dan kepala sedikit hampir jatuh.
"Dasar wanita ini, apa dia tak takut jika dia terjatuh" Ujarnya sebari memangku Sara dan membawanya ke kamar.
Leon pun turun kembali saat sudah menidurkan Sara dikamar.
Dia melihat pembantunya yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam.
"Bi, biar saya saja yang masak" Tutur Leon sebari mengulung bajunya.
"Baik tuan" Pembantu itu pun langsung mundur, dia hanya membantu mencuci dan memotong bahan-bahan yang disiapkan tuannya itu.
Leon memhidangkan masakan yang sudah dia masak itu setelah selesai dia kembali kedalam kamarnya, Sara masih saja memejamkan matanya.
Mungkin wanita itu lelah, Leon pun membersihkan dirinya.
Dia mengoyangkan bahu wanita itu setelah berpakaian.
"Bangun sudah malam, kamu harus makan" Titah Leon, dia bahkan harus sedikit menaiki kasur itu karna Sara yang menutup tubuhnya dengan selimut.
"Aku tidak mau bangun" Serunya.
"Ayo cepat bangun, kamu harus makan, nanti kamu sakit" Tuturnya lembut, dengan satu gerakan dia mengendong Sara yang tertutup selimut itu.
Leon menurunkannya didalam bathtub, dia mengambil sower dan menyiramnya hingga basah.
"Aaaaaaaaaaaaaa" Teriak Sara kaget, dia bahkan langsung membuka matanya sempurna.
"Aku tunggu diluar" Tutur Leon meninggalkan Sara sendiri. Dengan kesalnya Sara pun mandi, setelah mandi dia hanya dia didalam kamar mandi itu enggan keluar. Hari ini dia bener-bener malas bergerak.
"Leonnn!! Teriaknya didalam.
Leon pun masuk"Apa"
"Gendong" Titahnya.
Leon pun mengendong Sara, Entah kenapa wanita ini sangat malas bergerak, padahal jarak kamar mandi kekamar itu tidak jauh.
"Pakaikan baju"
Leon memakaikan pakaian Sara bahkan sampai **********, dia seperti memiliki bayi. Tapi ini bayi besar, Drama pun belum selesai, sekarang Sara juga minta digendong untuk turun kebawah.
Leon mengendong Sara dibelakang punggungnya, Sara sudah seperti anak kecil yang sangat susah dibangunkan pagi saja.
Aroma makanan sudah mulai tercium, Sara mendongkak dan meminta turun dari gendongan Leon.
"Siapa yang masak ini?" Tanyanya pada pembantu yang selalu berdiri itu.
"Tuan, nyonya" Tuturnya.
Sara langsung insecure melihatnya, bagaimana bisa laki-laki ini memasak makanan mewah seperti ini.
"Rasanya jiwa wanitaku insecure melihat ini" Gumamnya pelan, namun masih terdengar.
"Kenapa?"
"Tidak, aku hanya malu saja."
"Malu kenapa?" Tanyanya bingung.
"Masakanku tidak sebaik masakanmu" Tuturnya.
Leon terkekeh mendengarnya, ada apa dengan wanita ini. Seharian ini sedikit aneh.
"Kalau kamu sering masakin aku, kasian pembantu gak punya kerjaan" Tuturnya sebari membalikan piringnya dengan pembantu yang sigap mengisi makanan.
Sara hanya makan dengan wajah cemberutnya itu, seperti tidak ada gairah tapi bisa menghabiskan seluruh makanan dengan wajah badmoodnya. Wanita memang luar biasa.
Setelah makan kini Leon sedang bersantai disofa ruang tamu dengan Sara yang menyender kebahunya sebari memainkan hpnya.
"Kuliah kamu gimana?" Tanyanya.
"Lagi pusing-pusingnya" Sahutnya tanpa mengalihkan matanya dari hp itu.
"Terus mamah kamu gimana kabarnya?"
Sara pun menegakan duduknya, kini dia pun menyimpan hpnya.
"Iyaa aku baru inget, mamah nyuruh kita kerumah" Tuturnya.
"Yasudah besok kita kesana," ujarnya, karna memang besok hari libur dan semenjak menikah dia tidak pernah mengunjungi mertuanya itu meski dia tidak pernah lupa umtuk uang bulanannya.
"Ohhh okeee"Sahutnya sebari kembali ke asal semula.
Sara kembali ke posisi semula sebari chatingan dengan teman-temannya itu.Memiliki suami gay membuat hidupnya tenang-tenang saja, apalagi rumah tangganya tidak ada drama malu-malu kucing bener-bener mulus seperti pahanya itu.
Sebari chatan, dia terus saja menegok ke atas melihat suaminya yang sedang fokus dengan hpnya itu, kenapa ada ya laki-laki kaya gini udah kaya ganteng tapi gay. Ahh bener manusia itu gak ada yang sempurna selalu saja ada kurangnya.
Sara pun sedikit menaiki posisi duduknya, dia menarik tengkuk Leon yang sedang sibuk dengan hpnya itu. Sara ******* bibir Leon yang sedari tadi terasa sangat mengoda itu. Meskipun awalnya Leon kaget, dia tetap membalas tautan bibirnya itu.
"Kenapa?" Tanyanya Leon saat tautan itu terlepas
"Tidak ada, hanya bibirmu itu seperti sedang mengejekku" Jawabnya ngasal.
"Hah!! bagaimana bisa" Sahutnya merasa aneh. Perasaan sedari tadi dia diam saja bahkan tidak bicara.
"Mau kemana?" Tanya Sara yang merasa Leon beranjak itu.
"Mau tidur, ini sudah malam" Sahutnya.
"Gendong aku!!" Titahnya.
"Oh astaga, bukankah tadi kamu sudah bisa berjalan" Tuturnya.
"Tapi aku malas," Apa katanya, bahkan wanita ini untuk berjalan pun malas. Leon pun mengendong Sara, dia tersenyum saat Leon mengendongnya.
"Kenapa kamu hari ini sangat manja?" Tanyanya Leon yang sedang menaiki tangga itu.
"Kenapa memangnya"
"Tidak, hanya sedikit aneh saja" Tuturnya.
Leon pun menurunkan Sara dikamar king sizenya. Sebelum tidur mereka pun mencuci kakinya, lampu kamar pun berganti menjadi lampu tidur.
Sara mulai memeluk suaminya itu sebelum benar-benar memejamkan mata, Meskipun hidupnya disampuli dengan drama tapi isinya sungguh kehidupan suami istri asli, yang tidak ada pemeran laki-laki dingin atau drama wanita yang malu-malu. Namun ada satu yang sama, dia juga sedang menunggu bagaimana perasaan suaminya terhadapnya meskipun Leon masih sangat baik-baik saja dengan sikapnya itu.
Pagi itu Leon sedang mengendarai mobilnya bersama istrinya itu, karna mereka berencana mengunjungi mamah Sara, namun sebelum sampai Sara menyuruh Leon berhenti disebuah mall.
Leon mengikuti apa yang mau dilakukan wanita ini di mall, Sara mengambil beberapa mainan dan peralatan tulis menulis dengan jumlah yang sangat banyak itu.
"Apa yang kau lakukan dengan barang-barang itu?" Tanyanya setelah mereka antri di kasir.
"Kau lupa ya, rumah mamah kan dekat panti, aku hanya ingin memberikan mereka ini saja" Tuturnya, Leon hanya ber oh ria saja, namun tanpa diduga Leon memasuki restoran ternama.
"Heyy mau kemana" Teriak Sara sebari mengikuti Leon itu.
Leon meletakan barang-barang yang dibelinya tadi sebelum memesan makanan dengan porsi banyak itu, dia memberikan bayarannya lalu meninggalkan tempat tersebut.
"Aku kira kau mau makan" Ujarnya sebari beranjak mengikuti Leon.
Leon hanya tersenyum tanpa menjawab membuat Sara sedikit kesal dengan laki-laki itu.
Sara dan Leon pun sampai dirumah mamahnya setelah menempuh perjalanan 1jam lebih itu karna sebagian waktu dipakai belanja.
"Mamah"
Sara mencari mamahnya itu, setelah mereka memasuki rumah satu atap itu.
"Ehh sayang, sama siapa kesini?" Tanyanya.
"Selamat pagi mah" Sapa Leon.
"Oh ada nak Leon, Ayoo duduk" Titahnya.
Ini memang pertama kalinya Leon berkunjung jadi dia sedikit cangung dengan mertuanya itu. Mereka pun mengobrol sebari meminum teh, setelah 2jam lamanya Sara memutuskan untuk mengunjungi panti yang tidak jauh dari rumah mamahnya itu.
"Mah aku mah ke panti dulu ya, tadi soalnya beli barang buah anak-anak disana" Tuturnya.
"oh yasudah mamah juga ikut" Ujarnya sebari beranjak dari duduknya.
Anak-anak disana masih sangat lucu-lucu, bahkan ada yang masih bayi. Bagaimana bisa orang tua membuang bayinya yang masih merah dan munggil ini.
"Bu boleh gendong" Pintanya pada pengurus panti itu.
"Oh silahkan neng" Tuturnya sebari memberikan bayi itu. Ah kenapa Sara jadi ingin punya bayi juga ya.
Suara kelakson membuat orang saling menoleh, Leon yang sedang bermain dengan anak-anak panti pun beranjak dan keluar rumah itu. Ternyata mobil box dari restoran tempat dia memesan makanan tadi.
"Tolong dibantu bawa kedalam ya pak" Titahnya pada supir dan kenek mobil itu.
"Anak-anak panti itu begitu senang saat melihat mereka mendapatkan makanan enak hari ini, apalagi tadi mereka juga mendapatkan mainan dan alat tulis baru dari Sara.
"Terima kasih nak Leon" Ucap penjaga panti itu.
"Tidak perlu sungkan bu" Sahutnya.
Sara hanya melihatnya dengan bayi digendongannya, Setelah membagikan makanan itu pada anak-anak Leon mendekati Sara yang sedang mengajak bayi munggil itu bicara.
"Ah dia sangat lucu, lihat lah." Titahnya, Leon pun mengoel-ngoel pipi bayi itu sebari tersenyum.
"Ah, aku jadi ingin punya bayi" Ucapnya tanpa sadar membuat Leon terdiam.
"Ahh maksudku!!" Sara menjadi tidak enak karna ucapannya itu.
"Maksudku, kalian vote dulu lah"