NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:329.8k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 - Syarat Dari Prof. Hadi

Prof. Hadi tidak datang ke rumah sakit mewah.

Ia meminta semua orang datang ke klinik risetnya di Bogor, pukul tujuh pagi, tanpa rombongan keluarga. Pesannya disampaikan melalui asistennya dengan kalimat singkat.

Pasien membawa rekam medis lengkap. Maksimal dua pendamping. Tidak ada fotografer. Tidak ada unggahan media sosial. Tidak ada drama.

Alina membaca salinan pesan itu dari Nadia dan hampir tersenyum.

Tidak ada drama.

Andai aturan itu bisa ditempel di pintu rumah Wicaksono sejak lima tahun lalu.

Adrian meminta Alina ikut.

Bukan lewat pesan pribadi, tapi melalui Hendra. Nadia meneruskan permintaan itu dengan wajah datar.

"Pihak Pak Adrian meminta kehadiranmu sebagai pihak yang mengatur akses awal."

Alina mengangkat alis. "Akses awal?"

"Bahasa pengacara untuk: mereka tidak ingin datang tanpa kamu karena takut Prof. Hadi menolak."

"Aku bukan jaminan."

"Benar. Tapi tampaknya Prof. Hadi lebih percaya padamu daripada mereka."

Alina menatap jadwal di ponselnya. Besok pagi ia seharusnya melihat ruang kerja baru yang bisa ia sewa untuk proyek desain kecilnya. Namun masalah Vania, suka tidak suka, masih terikat pada perceraian.

"Aku ikut," katanya. "Tapi hanya sampai pemeriksaan dimulai. Setelah itu urusan medis mereka."

Nadia mengangguk. "Aku akan tulis batasnya."

*****

Keesokan pagi, Alina tiba di klinik Prof. Hadi bersama Nadia.

Adrian sudah ada di halaman, berdiri di samping mobil hitam. Vania duduk di kursi belakang, wajah pucat, cardigan krem menutupi bahunya. Tidak ada Ratna. Tidak ada Melisa. Tidak ada Bimo.

Itu kemajuan.

Vania melihat Alina dari balik kaca mobil.

Tatapannya lembut di permukaan, tapi Alina bisa melihat ketegangan di rahangnya.

Adrian mendekat. "Terima kasih sudah datang."

"Aku datang untuk memastikan prosesnya tidak dipelintir."

Adrian menerima kalimat itu tanpa membalas.

Vania turun pelan, seolah setiap gerakan menguras tenaga. Ia tersenyum pada Alina.

"Alina, terima kasih. Aku tahu kamu tidak perlu melakukan ini."

"Benar. Aku tidak perlu."

Senyum Vania membeku.

Nadia menahan senyum.

Adrian berdeham. "Kita masuk."

Klinik itu jauh dari kesan VIP. Ruang tunggunya bersih, tapi sederhana. Ada rak majalah lama, dispenser air, dan papan kecil bertuliskan: Pasien terlambat lebih dari lima belas menit harus membuat janji ulang.

Alina membaca tulisan itu.

Adrian juga.

Tidak ada yang berkomentar.

Asisten Prof. Hadi memanggil mereka tepat pukul tujuh.

Prof. Hadi duduk di ruang konsultasi dengan kacamata di ujung hidung. Ia tidak berdiri menyambut. Ia hanya menunjuk kursi.

"Pasien?"

Vania mengangkat tangan pelan. "Saya, Prof."

"Nama."

"Vania Safira."

"Rekam medis."

Adrian menyerahkan map tebal.

Prof. Hadi membuka halaman pertama, membaca, lalu halaman kedua, lalu berhenti. Alisnya naik.

"Ini tidak lengkap."

Vania langsung tegang. "Itu semua yang saya punya."

"Tidak mungkin."

Suara Prof. Hadi datar.

Vania tampak tersinggung. "Saya sudah sering pindah dokter. Ada beberapa data mungkin..."

"Kalau Anda sering pindah dokter karena penyakit serius, seharusnya data lebih lengkap, bukan lebih kosong."

Ruangan sunyi.

Alina menunduk, menyembunyikan reaksi.

Adrian menatap map itu. "Apa yang kurang, Prof?"

"Riwayat obat enam bulan terakhir. Hasil lab asli, bukan salinan foto. Catatan rawat inap. Surat diagnosis awal. Laporan perkembangan. Ini hanya potongan yang cocok untuk ditunjukkan pada orang awam."

Wajah Vania memucat.

"Saya tidak mengerti dokumen medis, Prof. Saya hanya menyimpan yang diberikan dokter."

Prof. Hadi menatapnya dari balik kacamata. "Kalau begitu hubungi dokter Anda sekarang."

"Sekarang?"

"Ya."

Vania menggenggam tasnya. "Dokternya mungkin sibuk."

"Penyakit Anda katanya mengancam hidup. Dokter yang baik akan memahami urgensi."

Adrian menatap Vania. "Hubungi."

Vania memandangnya, mata langsung basah. "Adrian, aku merasa seperti tersangka."

Prof. Hadi menutup map dengan bunyi pelan.

"Nona Vania, di ruangan saya hanya ada dua jenis orang: pasien yang ingin ditolong dan orang yang ingin dipercaya tanpa diperiksa. Anda mau jadi yang mana?"

Nadia hampir batuk menahan tawa.

Alina menatap meja.

Vania tidak bisa menjawab.

*****

Pemeriksaan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

Prof. Hadi tetap memeriksa tanda vital, membaca gejala, dan meminta beberapa tes darah baru. Ia tidak menyimpulkan apa pun hari itu. Namun ia memberikan daftar syarat tertulis.

Satu, Vania harus menyerahkan rekam medis lengkap dalam tujuh hari.

Dua, semua obat yang ia konsumsi harus dibawa langsung, termasuk suplemen.

Tiga, tidak boleh ada unggahan media sosial terkait pemeriksaan.

Empat, selama evaluasi, Vania tidak boleh menggunakan status penyakitnya untuk klaim publik atau proses hukum.

Poin keempat membuat Vania mengangkat wajah.

"Apa maksudnya?"

Prof. Hadi menatapnya. "Maksudnya, sampai saya menyelesaikan evaluasi, jangan menjual nama penyakit Anda untuk mendapat simpati."

"Saya tidak menjual..."

"Bagus. Maka syarat itu mudah."

Adrian menerima kertas itu.

Alina melihat jemarinya menegang.

Ia tahu Adrian mulai memahami sesuatu.

Bukan kebenaran penuh.

Belum.

Tapi cukup untuk membuatnya tidak bisa lagi berlindung di balik kalimat Vania sakit.

Setelah keluar dari ruang konsultasi, Vania berjalan lebih cepat dari biasanya menuju mobil. Ia tidak tampak selemah saat datang.

Nadia berbisik pada Alina, "Menarik."

"Sangat."

Adrian berhenti di samping Alina.

"Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu. Belum ada hasil."

"Tapi kamu benar. Ini perlu dilakukan."

Alina menatapnya.

Dulu, ia akan merasa senang mendengar Adrian berkata ia benar.

Sekarang kalimat itu datang terlalu terlambat untuk menjadi hadiah.

"Aku harus pergi."

"Alina."

Ia berhenti.

"Soal mediasi kemarin..."

"Lewat pengacara."

"Aku ingin meminta maaf langsung."

Alina menatap halaman klinik, lalu kembali padanya. "Permintaan maaf langsung tidak menghapus catatan langsung."

Adrian terdiam.

Alina berjalan ke mobil Nadia.

Di dalam mobil hitam, Vania menatap mereka dari kaca spion dengan mata basah dan marah.

Untuk pertama kalinya, penyakitnya tidak menjadi mahkota.

Penyakit itu menjadi pintu pemeriksaan.

Dan Vania belum siap orang lain masuk.

*****

Malam itu, tidak ada Story baru dari Vania.

Tidak ada caption sedih.

Tidak ada foto obat.

Tidak ada kalimat tentang bertahan hidup.

Publik mungkin tidak menyadari keheningan itu.

Alina menyadarinya.

Ia duduk di apartemennya, membuka laptop, mencoba mengerjakan sketsa gaun untuk proyek kecil yang ia ambil diam-diam. Garis pertama masih kaku. Tangannya sudah lama tidak bekerja untuk dirinya sendiri.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Damar.

Damar:

Prof. Hadi bilang kamu membawa data dengan rapi. Itu pujian besar dari beliau.

Alina:

Beliau juga hampir menguliti Vania dengan kalimat datar.

Damar:

Itu versi lembutnya.

Alina tersenyum.

Nara mengirim voice note dari ponsel Damar.

"Tante Alina, Papa bilang dokter galak itu suka orang rapi. Aku juga rapi kok, tapi cuma kalau disuruh tiga kali."

Alina tertawa.

Ia membalas voice note singkat, "Kalau disuruh satu kali lebih bagus."

Beberapa detik kemudian, Nara menjawab:

"Terlalu sulit, Tante."

Alina tertawa lagi.

Suara tawa itu memenuhi apartemen kecilnya, membuat ruangan yang masih sederhana terasa sedikit lebih hidup.

Di rumah Wicaksono, Adrian duduk sendirian di ruang kerja, membaca ulang syarat Prof. Hadi.

Poin keempat terus menarik matanya.

Tidak boleh menggunakan status penyakit untuk klaim publik atau proses hukum.

Ia mengingat semua kali Vania menangis.

Semua kali ia meninggalkan Alina.

Semua kali ia berkata, "Vania tidak punya banyak waktu."

Di meja kerjanya masih ada salinan jadwal mediasi baru. Di sebelahnya, ada syarat Prof. Hadi. Dua kertas itu seperti dua sisi kehidupan yang selama ini ia pisahkan: rumah tangga sah yang ia abaikan, dan perempuan sakit yang ia jadikan alasan.

Jika data Vania lengkap, ia akan tetap bersalah karena menyakiti Alina. Jika data itu tidak lengkap, kesalahannya menjadi lebih buruk.

Adrian baru sadar ia takut pada dua kemungkinan itu.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Vania masuk.

Aku takut dokter itu tidak mau menanganiku karena Alina.

Adrian membaca kalimat itu dua kali. Dulu, ia akan langsung menelepon. Malam ini, ia hanya menatap layar.

Prof. Hadi tidak pernah menyebut nama Alina sebagai hambatan. Justru Alina yang membuka jalan.

Untuk pertama kalinya, Adrian tidak membalas dengan kalimat menenangkan.

Untuk pertama kalinya, Adrian bertanya pada dirinya sendiri.

Bagaimana jika waktu itu tidak sesedikit yang ia kira?

1
Lilik 383
saya suka karakternya mbak Lia
nira ritawatty
Alhamdulillah
Baca Maraton tapi takut kehilangan makna
nira ritawatty
Lho kok tiba tiba hamil?
Thewie
aku baca sampe bab ini jam 01.10 malam Thor. hilang ngantukku
Thewie
terlambat sudah bodoh
Thewie
awalnya si ulat bulu pura2 sakit, tapi akhirnya jadi sakit beneran.. cucoklah itu Thor buat si ulat bulu🤣🤣🤣
Thewie
kotor juga otak kau ya Vanir keparat
Thewie
tahan kan setan
Thewie
nyesek thor
Anonim
AWOKAWOK COVER MUKA KOREA GBLK
Fitrian
namanya raka adiguna🤔
psikopat sinting tolololllll down normal otak nya massa kurang satu kwintal 🔪🔪🔪🔪🖕🖕
sweetpurple
Awalnya bingung dan butuh waktu untuk mencerna cerita, tapi endingnya di luar ekspektasi ..
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🐽🐽🐽🐽🐽🐽🐽🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh teratai putih bysssuuukkkk💦💦💦💦💦💦🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh🤮🤮🤮🤮🤮🤮🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam tidak jadi istri dah tapi merupakan ular keket hitam beracun Jahannam judahhh💦💦💦💦💦🔪🔪🖕🖕
ayu cantik
ribet
Fitrian
ni pasti gi golo nya vania jalang beracun cuuuuhhhhhhh💦💦💦💦💦🖕🔪
Fitrian
cuuuuhhhhhhh pelakor Jahannam🖕🖕
Fitrian
cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh cuuuuhhhhhhh cuiiiiiihhhhh ciiiiiiiiiiihhhhh💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
pelakor Jahannam semoga tersemogakan cepat mampossss🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🖕🔪🔪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!