Ardian dan kebahagiaan nya.
Kembali berkumpul dengan putrinya serta menikah dengan wanita yang merubah dirinya menjadi pria dengan pribadi yang baik, membuatnya sangat bahagia walaupun cerita masalalu yang sedikit demi sedikit terbuka.
Jidan dan kisah cintanya.
Tidak sama seperti tuannya yang memilih berlabuh ke hati lain dan berdamai dengan masalalu nya. Jidan malah terjebak dengan perasaan nya yang belum benar-benar mencintai wanita lain. Seakan takdir berputar-putar ditempat nya, membuat Jidan selalu terjebak dengan perasaan sendiri, walaupun ada hati lain yang menariknya untuk beralih.
Bagaimana kisah selanjutnya? Simak yuk, biar nggak penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfa Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Mobil Ardian berhenti didepan rumah nya setelah tadi singgah ke rumah Fazar untuk menjemput Harum. Rumah yang jarang Ardian tinggali itu masih terlihat rapi dan bersih walaupun mereka tidak tinggal di sana karena rumah itu selalu dirawat oleh tukang bersih-bersih yang Ardian bayar.
"Harum mau istirahat nak?" tanya Nalda setibanya mereka di dalam rumah.
"Iya bunda."
"Harum tau kan kamar harum di mana?"
"Tau bunda." jawab Harum sebelum dia pergi ke kamar nya yang berada di lantai dua bersebelahan dengan kamar Ardian.
"Hubby!" panggil Nalda lembut saat melihat suaminya sedang duduk memangku laptop padahal pria itu baru saja sampai di dalam rumah."Hubby nggak capek apa habis perjalanan jauh langsung pegang pekerjaan."
Ardian lantas menutup setengah laptopnya saat mendengar perkataan sang istri."Ada sedikit masalah di kantor sayang, tapi sudah ditangani oleh Jidan dan juga asisten nya." jelas Ardian.
Ardian meraih tangan Nalda hingga wanita itu duduk di sampingnya. Ardian lantas memeluk tubuh ramping itu dan menghirup aroma harum mawar yang lembut.
"Apakah itu masalah besar hubby?"
"Hanya masalah kecil sayang dan aku tidak perlu turun tangan untuk menanganinya." jawab Ardian menjauhkan sedikit wajahnya dari kepala Nalda lalu menatap manik hitam itu dengan serius."Sayang, apakah kita perlu memberitahukan ke ayah dan ibu mengenai kebenaran Harum, kalau Harum cucu kandung mereka?"
Nalda tidak langsung menjawab, wanita itu terdiam sebentar untuk memikirkan pertanyaan itu."Aku juga bingung by. Apakah harus memberitahukan mereka atau tidak. Kalau Harum cucu kandung mereka dan anak yang dianggap telah tiada ternyata masih hidup hingga melahirkan seorang keturunan," terang Nalda terlihat gurat lelah di sana. Sejak tadi otak nya tidak beristirahat, dia terus memikirkan masalah ini. Ia takut kedua orang tuanya akan terluka jika ia menceritakannya sekarang. Termasuk ayah nya. Ayah akan menyalahkan serta menyakiti dirinya sendiri seperti bertahun-tahun yang lalu saat adik nya dinyatakan meninggal karena kecelakaan. Nalda tidak tau akan seperti apa sikap Ayah nya nanti. Apakah akan bersikap tenang atau lebih dari itu, dia akan membenci dirinya sendiri.
"Apakah kita sembunyikan untuk sementara by. Aku takut ayah akan merasa bersalah dan itu akan mengganggu kesehatannya. Biarkan seperti ini saja by, sampai aku siap mengatakannya,"
Melihat wajah Murung Nalda, lantas Ardian memeluk nya untuk menenangkan nya."Jika itu keputusanmu, aku akan mengikuti nya yang terpenting itu tidak membuatmu sedih dan murung seperti tadi," Ungkap Ardian.
"Terimakasih hubby sudah mau mengerti."
"Sama-sama sayang, yang terpenting kamu bahagia."
*****
Nalda memandangi foto terakhir almarhumah adik nya dengan penuh kerinduan. Bertahun-tahun ia tidak tau kalau adik yang sudah dianggap tiada ternyata masih hidup dan dia menjalani hidupnya dengan kesulitan dan sakitnya saat mengingat cerita Harum kalau Mayla merawat anaknya tanpa peran siapapun termasuk wanita yang dipanggil Tante oleh Harum. Tapi yang lebih sakitnya lagi saat mengingat adiknya hancur karena ulah suami yang dia cintai. Perasaan itu coba Nalda singkirkan dari kepala nya walaupun agak mengganjal di dadanya.
"Ayolah Nalda lupakan kesalahan itu. Dia tidak sengaja melakukannya dan dia sudah menyesali semuanya. Semua bukan sepenuhnya kesalahan nya." Kata-kata pengingat itu selalu terlintas walaupun dia ingin marah jika mengingat kesalahan suaminya.
"Sayang..." Ardian masuk kedalam kamarnya dan melihat Nalda sedang berdiri di balkon seraya menatap kearah luar. Melihat tidak ada jawaban, Ardian melangkah dengan pelan-pelan ke arah istri nya dan Nalda sendiri tidak menyadari nya.
"Kenapa diam disini...hmmm. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Nalda tersentak kaget saat tiba-tiba saja ada tangan melilit nya dan memeluk dengan mesra.
"Hubby! Aku kaget tau!" ucap Nalda memukul pelan tangan itu karena berhasil membuat nya terkejut.
"Maaf sayang. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini. Apa sih yang sedang kamu pikirkan kamu tidak menyadari kehadiranku,"
"Aku hanya memikirkan keadaan Mayla by, aku sedang membayangkan seberapa menderitanya dia selama bertahun-tahun dan kami tidak mengetahuinya," lirih Nalda berkata jujur.
"Maaf sayang.. ini salahku, seharusnya dari awal aku sadar kalau Mayla adikmu mungkin semuanya tidak akan seperti ini," ucap Ardian merasa bersalah."Maaf sayang..."
Mendengar ungkapan sang suami, Nalda membalikan tubuhnya menghadap Ardian dan dengan lembut dia menggenggam tangan itu."Semua bukan salah mu by. Semuanya sudah jalan nya seperti ini, lalu apa yang harus aku sesali." ucap Nalda ."Seharusnya aku minta maaf karena ku hubby semakin merasa bersalah. Seharusnya aku tidak terus-menerus mengingatnya."
"Tidak apa sayang. Jika kamu memikirkannya lagi berbagi lah dengan ku jangan seperti tadi. Ingat ada janin yang sedang kamu kandung dan jika kamu kepikiran dia akan ikut merasakan apa yang bundanya rasakan." ucap Ardian mengingatkan mengenai kandungan istri nya. Mungkin dengan dia mengingatkan istrinya, istrinya tidak akan kepikiran lagi.
"Maaf hubby, aku sampai melupakan dia." ucap Nalda merasa bersalah.
"Untuk itu kita sama-sama mengingatkan saja yang." Jawab Ardian.
Bersambung….