Rania Anandira, mati mengenaskan di tangan sahabatnya sendiri yang cemburu pada kehidupannya. Tak ada yang tahu tentang kematiannya itu, suami dan anaknya hanya tahu Rania menghilang tiba-tiba.
Shakira, sahabatnya itu kemudian tinggal di rumah Raina dengan alasan menggantikan Raina sebagai ibu pengasuh untuk anaknya. Namun, perlakuannya terhadap Rasya, tidaklah manusiawi. Bersama paman dan bibinya, mereka menekan Rasya yang masih berusia tujuh tahun.
Karena tangisan anak itu, jiwa Rania tak tenang. Dia kembali menggantikan jiwa seorang gadis nelayan yang hidup di bawah garis kemiskinan, jauh dari tempatnya tinggal dulu. Rania harus mencari cara untuk bisa kembali ke sisi sang anak.
Bagaimana caranya dia kembali untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Seorang penjahat mengulurkan tangannya hendak menyentuh Rania, seringai di bibirnya yang menyebalkan semakin membuat Rania tak sabar ingin menghantam wajah itu. Dengan gerakan cepat, Rania menangkap tangan laki-laki tersebut dan menekuknya ke bawah hingga terdengar bunyi tulang yang patah.
Krak!
"Argh!"
Tak sampai di situ, Rania berputar menghantam dada penjahat itu dengan sikunya. Lalu, membanting tubuhnya ke depan hingga menimbulkan bumi berdebum yang keras saat menghantam jalanan beraspal.
Debhum!
"Argh!"
Sekali lagi Rania menginjak punggung penjahat itu dengan kuat hingga membuatnya tak berkutik. Dia pingsan dengan mulut yang mengeluarkan cairan bening bercampur merah.
Kedua penjahat lainnya terkesima melihat teman mereka. Kejadian itu terlalu cepat hingga membuat mereka mematung di tempat.
"Kurang ajar!" umpat salah satu penjahat dengan geram.
Rania menoleh, menatap keduanya dengan tajam. Rambutnya yang basah oleh keringat sebagian menutupi wajah, membuatnya semakin terlihat misterius. Ia mengangkat kaki dari punggung penjahat dan berdiri tegak berhadapan dengan keduanya.
"Kita serang sama-sama," ucap salah satu dari mereka seraya bersama-sama menerjang Rania.
Dua kepalan tinju melayang cepat menyasar wajah Rania, tapi wanita itu memiringkan tubuhnya ke belakang dan menangkap tangan salah satu dari mereka, sedangkan kakinya menendang yang lain hingga jatuh tersungkur. Lalu, menarik penjahat itu kembali ke depan. Rania mengepalkan tangan melayangkan tinjunya mengenai wajah penjahat kedua.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Dia tak sempat mengelak, tiga tinju dengan kekuatan besar mendarat di wajahnya. Beberapa giginya tanggal, darah merembes keluar dari mulut. Tubuh penjahat kedua itu terhuyung ke belakang, tak sempat meratapi giginya yang tanggal. Dia jatuh menyusul temannya tak sadarkan diri.
Dari dalam mobil, Rasya bersorak gembira meski tubuhnya dicekal laki-laki penjahat terakhir. Dia tidak takut sama sekali.
"Ibuku sudah datang. Tak satu pun dari kalian akan selamat malam ini," katanya dengan tegas dan penuh dengan keyakinan.
Di dalam mimpiku ibu adalah sosok yang kuat dan hebat. Dia mampu mengalahkan sekelompok penjahat bersenjata lengkap sendirian. Ternyata itu bukan hanya sekedar mimpi, tapi kenyataan. Ibu memang benar-benar hebat.
Batin Rasya memuji, bibirnya tersenyum bahagia. Dia benar-benar bertemu dengan ibunya. Walaupun tak tahu apakah sang ibu mengenalinya atau tidak.
"Ibu hebat! Luar biasa!" teriaknya antusias.
"Diam!" Penjahat di dalam mobil menyumpal mulut Rasya dengan sapu tangan dan mengikat kedua tangannya.
Sementara di luar mobil dokter Pri dan supirnya sedang mengintai dengan sebuah balok kayu yang mereka temukan di pinggir jalan. Mereka akan menyergap penjahat itu saat ia membuka pintu keluar hendak menyelamatkan rekannya.
Benar dugaan, setelah mengikat tangan Rasya, dia membuka pintu hendak keluar. Namun, pukulan keras tepat menghantam kepalanya saat baru saja muncul. Dia jatuh tak sadarkan diri, supir dokter Pri menariknya dan menyeretnya menjauh dari mobil.
Sementara dokter Pri membuka sumpal di mulut Rasya dan membuka ikatan tangannya. Ia membawa Rasya keluar dari mobil dan melihat Rania yang sedang melakukan aksinya.
Rania berbalik, menatap satu orang penjahat yang berdiri dengan tubuh gemetar menatap kedua rekannya yang sudah terkapar tak sadarkan diri. Dia membalik tubuh dan mengambil langkah seribu, melarikan diri dari pertarungan.
Namun, Rania tidak memberinya kesempatan itu, dia mengejar tak kalah cepat. Kejar-kejaran di jalanan sepi pun tak terelakkan. Rania harus tahu siapa yang menyuruh mereka membawa anaknya pergi.
Setelah beberapa saat saling mengejar, Rania berhasil menyusul. Dia menarik kerah belakang penjahat itu dan mendorongnya hingga jatuh di aspal. Lalu, Rania menekuk lutut berjongkok di atas punggungnya. Mengunci kedua tangan penjahat di belakang tubuh.
"Katakan, ke mana kalian akan membawa anakku pergi?" tanyanya sembari menekan kepala penjahat itu dengan tangan hingga pipinya menempel di aspal.
"Ru-rumah sakit jiwa," jawab laki-laki itu terbata-bata. Ia meringis merasakan sakit saat Rania menekan lutut.
Mendengar Jawaban itu, rahangnya mengeras. Emosinya memuncak. Rania semakin menekan kepalanya ke atas aspal.
"Kenapa? Siapa yang menyuruh kalian membawa anakku ke rumah sakit jiwa?" Suaranya berubah serak dan dingin.
Bara amarah berapi-api di dalam dadanya hingga membuat sesak.
"I-itu ... nyo-nyonya Fattana sendiri yang menyuruh kami membawanya. Ka-mi hanya menjalankan perintah saja," jawabnya lagi sembari meringis saat kulit pipi bergesekan dengan aspal yang kasar.
Nyonya Fattana? Apakah Hadrian sudah menikah lagi?
Batin Rania bergumam, bertanya-tanya siapa istri suaminya yang baru.
"Siapa nyonya yang kalian maksud?" Rania semakin tidak terima, hatinya membenci sang suami yang tidak memenuhi janjinya dulu.
"I-itu, nyo-nyonya Shakira."
Deg!
"Shakira?" Lidahnya tanpa sadar mengulang nama itu.
Jadi, Hadrian benar-benar menikahi Shakira?
Rania mengangkat tangan, menghantam kepala penjahat itu hingga terjadi benturan keras. Lalu, dia terkulai tak sadarkan diri. Rania berdiri, napasnya terasa berat setelah mendengar kenyataan dari mulut penjahat itu.
Kalian benar-benar menjijikkan! Tunggu saja aku datang untuk menuntut balas!
Rania mengepalkan tangan, menatap jauh pada udara hampa dengan tatapan membunuh.
"Ibu!"
Panggilan Rasya menghapus semua amarah, suaranya menjadi embuh penyejuk di hatinya yang membara. Rania menoleh, melihat seorang anak laki-laki kecil yang diapit dokter Pri dan supirnya. Anak itu berlari dengan kedua tangan membentang. Di bibirnya terkembang senyum yang lebar meski air menetes dari matanya.
Rania berjongkok, turut membentang kedua tangan menyambut kehangatan yang sudah lama ia rindukan.
"Ibu!" Rasya mendekap Rania, membenamkan kepala di pundaknya.
"Anakku!" Rania menangis, memeluk erat tubuh kecil Rasya. Rasa rindu yang terpendam, kini terobati sudah.
"Akhirnya Ibu kembali," ucap Rasya dengan suara lirih. Lalu, tubuhnya lunglai, pelukannya terlepas.
"Anakku! Anakku!" Rania melepas pelukan, Rasya tak sadarkan diri.
"Anakku! Ada apa denganmu?" Ia menjerit, menangis takut.
"Rania, dia terluka. Kita harus secepatnya ke rumah sakit," ucap dokter Pri saat melihat darah yang menetes dari tangan Rasya.
Tanpa berpikir panjang, Rania membawa Rasya ke dalam gendongan dan berlari masuk ke dalam mobil. Mereka pergi ke rumah sakit.
Kepala pelayan jga mau" nya sich jdi kesetnya si kere itu..
😄😄