NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Debu beterbangan di pinggir lapangan SMA Garuda, tertimpa cahaya matahari sore yang terik.

Dari koridor lantai dua, Xena berdiri mematung. Senyum tipis terukir di wajahnya yang polos tanpa riasan, matanya tidak lepas dari sosok remaja laki-laki yang sedang menggiring bola dengan lincah di bawah pengawasan Pak Haris.

Prabu. Nama itu selalu membuat jantung Xena berdegup dengan irama yang tidak beraturan.

"Wah, Prabu! Beruntung banget kamu disukai sama cewek pinter kayak Xena," goda Yanuar, sahabat kental Prabu, sambil menyikut lengan sang kapten tim bola itu saat mereka menepi untuk minum.

Prabu mendengus kasar, menyeka keringat di dahinya dengan kasar.

Ia melirik sekilas ke arah koridor, di mana Xena buru-buru membuang muka.

"Ish, apaan sih? Dia bukan tipeku sama sekali, Yan." ucap Prabu dengan suara yang lantang terbawa angin, sampai ke telinga Xena.

"Tipeku itu yang kayak Tryas. Seksi, cantik, fashionable. Bukan kutu buku yang kaku kayak Xena," lanjut Prabu tanpa beban, memicu gelak tawa teman-temannya yang lain.

Hari itu, sesuatu di dalam dada Xena terasa retak. Sejak saat itu, ia belajar satu hal: mencintai Prabu berarti siap untuk tidak terlihat.

Ia melipat perasaannya rapat-rapat, menyembunyikannya di balik tumpukan buku kedokteran yang tebal, dan membiarkan Prabu tetap menjadi bintang yang tak terjangkau.

Sepuluh Tahun Kemudian

"Cinta pertama yang memang susah untuk dilupakan," gumam Xena lirih.

Ia sedang duduk di kursi kebesarannya, memandangi selembar foto lama yang sudutnya sudah mulai menguning.

Di sana, ada sosok Prabu yang sedang tertawa lebar—sosok yang kini kabarnya telah kehilangan tawa itu sepenuhnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu memecah keheningan ruangan yang hanya diterangi lampu meja.

Seorang perawat melongokkan kepalanya dari balik pintu.

"Dokter Xena? Maaf mengganggu, ada satu pasien terakhir di jadwal darurat malam ini," ucap perawat itu dengan nada sungkan.

Xena tersentak dari lamunannya. Ia melirik jam dinding kayu yang melingkar di ruang praktiknya.

Jarum jam menunjukkan tepat pukul sebelas malam.

Matanya terasa pedas karena lelah, namun sumpah profesinya selalu lebih kuat dari rasa kantuknya.

"Pasien baru?" tanya Xena sambil merapikan snelli (jas putih) yang tersampir di kursinya.

"Iya, Dok. Pasien rujukan khusus. Keluarganya sudah menunggu di ruang konsultasi utama."

Xena menghela napas panjang, menutup laci meja tempat ia menyimpan foto masa lalunya.

Ia mengikat rambutnya dengan rapi, berusaha mengembalikan fokus sebagai seorang psikiater profesional.

Xena merapikan posisi duduknya, mencoba menghapus sisa-sisa kelelahan dari wajahnya. Namun, saat pintu jati itu terbuka lebar, seluruh oksigen di paru-parunya seolah tersedot keluar.

"Silakan masuk," ucap Xena dengan suara profesional yang seketika tercekat di tenggorokan.

Di ambang pintu, berdiri dua sosok yang sangat ia kenali: orang tua Prabu.

Wajah mereka tampak kuyu dan penuh kecemasan. Namun, yang membuat jantung Xena berhenti berdetak sejenak adalah sosok pria di antara mereka.

Prabu. Pria yang dulu begitu gagah di lapangan bola, kini berdiri dengan bahu merosot.

Wajahnya pucat pasi, tatapan matanya kosong seolah jiwanya telah pergi mendahului raganya.

Belum sempat Xena menyapa, tubuh tegap yang kini tampak ringkih itu limbung.

"Prabu!" pekik sang ibu histeris.

Bruk!

Prabu jatuh pingsan tepat di atas lantai marmer ruang praktik Xena.

Tubuhnya terkulai lemah, tidak memberikan respons sedikit pun terhadap guncangan tangan ibunya.

Insting dokter Xena langsung mengambil alih. Ia melompati meja kerjanya tanpa peduli pada martabat atau kesantunan.

Ia berlutut di samping Prabu, jarinya dengan gemetar namun cekatan langsung mencari denyut nadi di leher pria itu.

"Suster Dina! Suster Dina, cepat ke sini!" teriak Xena kencang, suaranya menggema di lorong rumah sakit yang sepi.

Pintu terbuka kasar. Suster Dina berlari masuk dengan wajah tegang, membawa peralatan darurat.

"Bantu saya angkat dia ke bed pasien! Siapkan oksigen dan cek tanda-tanda vitalnya sekarang!" perintah Xena dengan nada tegas yang tak terbantahkan, meski di dalam hatinya, ia sedang menjerit.

Sepuluh tahun ia menunggu untuk bertemu kembali dengan cinta pertamanya, namun ia tidak pernah membayangkan akan bertemu dalam kondisi di mana Prabu nyaris tidak bernapas di bawah tangannya sendiri.

"Dokter, tekanan darahnya sangat rendah," lapor Suster Dina cepat.

Xena menatap wajah pucat Prabu yang terpejam rapat.

"Apa yang terjadi padamu, Prabu? Kenapa sang pilot yang dulu terbang tinggi kini bisa jatuh sekeras ini?" gumamnya dalam hati sambil terus berusaha memberikan pertolongan pertama.

Di sudut ruangan, tangis ibu Prabu pecah, menambah suasana mencekam di pukul sebelas malam itu.

Suster Dina dengan cekatan menusukkan jarum dan memasang selang infus ke pergelangan tangan Prabu yang tampak pucat.

Suara denting peralatan medis menjadi satu-satunya pengisi keheningan yang mencekam di ruangan itu, sementara monitor di samping ranjang mulai menunjukkan ritme jantung Prabu yang lemah namun stabil.

Xena menarik napas panjang, berusaha menekan getaran di tangannya.

Ia mengalihkan pandangan dari sosok pria yang masih tak sadarkan diri itu menuju dua orang paruh baya yang duduk tergugu di hadapannya.

Xena melipat tangannya di atas meja, mencoba tetap terlihat tegar sebagai seorang dokter, meski batinnya berkecamuk.

"Sebenarnya ada apa dengan Prabu, Om, Tante?" tanya Xena lembut, namun sarat dengan nada menuntut penjelasan.

Ayah Prabu, pria yang biasanya tampak gagah dengan seragam pilotnya, kini hanya bisa menunduk dalam sambil meremas jemarinya sendiri.

Ibunya lah yang kemudian menjawab dengan suara serak akibat tangis yang tertahan.

"Dia hancur, Xena. Prabu kehilangan segalanya sejak kecelakaan itu," isak sang ibu.

"Kecelakaan?" Xena mengernyit.

Ia memang tahu Prabu adalah seorang pilot hebat, tapi ia tidak pernah mendengar kabar buruk mengenai penerbangannya.

"Bukan kecelakaan pesawat, tapi kecelakaan yang merenggut nyawa Tryas, tunangannya, tiga bulan yang lalu," lanjut sang ayah dengan suara berat.

"Sejak saat itu, Prabu tidak mau terbang lagi. Dia berhenti makan, berhenti bicara, dan hanya mengurung diri di kamar yang gelap. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Tryas."

Mendengar nama Tryas, jantung Xena mencelos. Nama itu—nama yang dulu disebut Prabu sebagai tipe idealnya—ternyata masih menjadi pemenang di hati pria itu, bahkan hingga membawa kehancuran pada mentalnya.

"Dia mengalami depresi berat, Xena. Kami sudah membawanya ke banyak dokter, tapi dia menolak semua pengobatan. Kamu adalah harapan terakhir kami," mohon sang ibu sambil memegang tangan Xena dengan erat.

"Om dan Tante mohon, tolong selamatkan Prabu. Menikahlah dengannya, Xena. Hanya itu cara agar kami bisa memastikan ada dokter yang menjaganya dua puluh empat jam."

Xena tertegun. Dunia seolah berhenti berputar. Ia diminta menikahi pria yang pernah menolaknya mentah-mentah, hanya untuk menjadi "obat" bagi duka yang disebabkan oleh wanita lain.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!