Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Rencana yang gagal.
Malam perlahan turun, langit gelap dipenuhi kerlap-kerlip bintang, udara makin dingin dan sejuk. Di dalam kabin, lampu sudah diredupkan, dan Zinnia berbaring di atas kasur dengan mata terpejam, napasnya teratur seolah dia sudah tidur nyenyak sekali.
Rion duduk di sampingnya, menatap wajah damai kekasihnya cukup lama, mengusap pipinya lembut, lalu berdiri perlahan. Dia berpikir gadisnya sudah lelah karna menangis sejak tadi dan butuh istirahat, jadi dia memutuskan kembali ke kabinnya sendiri yang berada di belakang, keluar dengan hati-hati, tak mau mengganggu tidur Zinnia. Setelah memastikan pintu tertutup dengan baik, Rion pun pergi.
Begitu suara langkah kaki itu hilang dan jaraknya sudah cukup jauh, mata Zinnia langsung terbuka lebar. Dia tak tidur sama sekali, cuma berpura-pura saja. Dan begitu sendirian, pikirannya langsung kembali melayang ke satu orang, yaitu Darren.
Dia ingat cerita Darren sendiri, ingat betapa parahnya rasa sakit yang diderita lelaki itu, dan ingat juga bahwa hanya dirinyalah yang bisa meredakannya. Semua itu membuatnya gelisah, cemas, dan di saat yang sama bingung setengah mati. Dia tak mau terus begini, tak mau jadi alasan yang membuatnya harus memilih antara dua orang, tak mau jadi beban sekaligus penyelamat bagi salah satunya.
Dan akhirnya dia dapat ide. Dia bangkit, memakai jaket tebal, lalu keluar dari kabin berjalan menyusuri lorong kayu, berharap bertemu dengan seseorang yang pas. Tak lama kemudian, matanya menangkap sosok gadis berjalan sendirian membawa botol air minum. Wajahnya cantik dan manis, kulitnya putih, bentuk tubuhnya bagus, meski kalau dibandingkan dengan dirinya sendiri jelas masih jauh, tapi menurut Zinnia gadis ini sudah cukup menarik.
" Maaf.. kamu nginap disini juga? " Tanya Zinnia seraya mendekat, memulai basa-basi.
Gadis itu menoleh, matanya sedikit terbelalak melihat siapa yang bicara padanya.
" Iya. Kenapa ya? Apa kita saling kenal? " Tanya dia balik dengan nada sopan.
" Ah jelas sekali tidak. Tapi, Apa Kamu sudah punya pacar? aku punya teman yang mau ku kenalkan sama kamu, dia orangnya baik, kaya, tampan, kamu juga pasti tahu siapa dia, karma dia cukup terkenal." Tawar Zinnia sambil tersenyum ramah.
" Oh ya sebelum itu kita kenalan dulu saja, Aku zinnia. "
" Diana.. "
Meski terlihat bingung tapi gadis itu tetap menerima uluran tangan Zinnia untuk bersalaman.
" Gimana kamu punya pacar gak? " Tanya Zinnia lagi. Seketika diana langsung menggelengkan kepala.
" Enggak sih.. tapi.. siapa orang yang mau kamu kenalkan ya..? "
" Kamu tahu gak Darren Pradikta Mahendra? Dia nginap disini juga loh, dia sepupuku. Kamu kenalan sama dia mau gak? Soalnya dia lagi cari pacar. " ucap Zinnia seolah baru ingat sesuatu.
Mendengar nama itu mulut Diana langsung terbuka lebar tak percaya, matanya berbinar terang seperti melihat bintang jatuh.
" Serius??? Itu Darren? pengusaha muda sukses itu kan? Yang sering ada di majalah bisnis dan kadang muncul di Tv itu? Mau banget lah ya.. aku udah lama pengen ketemu dia. Selama ini, cuman bisa dengar dan lihat dari media saja, gak pernah ketemu langsung. Ini beneran kan kamu gak bohong? "
" Iya, beneran kok. Dia ada di kabin nomor 7 itu loh. Kamu ketuk saja kabinnya, aku udah bilang ke dia kalau ada cewek yang mau aku kenalkan sama dia, dia pasti ngerti. " Bohong Zinnia dengan lancarnya, hatinya berharap semuanya berjalan sesuai rencana.
" Oh Ok ok makasih ya kak!! " Tanpa banyak tanya lagi Diana langsung melangkah cepat menuju kabin yang ditunjuk, semangatnya membara.
Zinnia tak ikut, dia malah bersembunyi di balik pohon besar tak jauh dari situ, mengintip dan mengamati diam-diam. Dia berharap, gadis ini bisa membuat Darren tertarik, terlebih gadis itu cantik dan punya tubuh yang mengoda dengan lekuk sempurna hak seorang model. Berharap bisa menggantikan posisinya, menjadi penyembuh untuknya, sehingga dia tak perlu lagi merasa bersalah, tak perlu lagi dihantui rasa iba, dan bisa fokus pada Rion saja.
Di dalam kabin, Darren sedang duduk bersandar di tepi kasur, kedua tangannya memegangi kepala erat-erat. Sakitnya mulai kambuh lagi, perlahan tapi pasti menusuk sampai ke tulang sumsum, keringat dingin sudah mulai membasahi dahinya. Dia berusaha menahannya sendirian, sampai ketukan di pintu terdengar jelas.
Dengan susah payah dia bangkit dan membuka pintu, dan di hadapannya berdiri Diana, tersenyum manis dengan wajah penuh harapan.
Darren menatapnya sekilas. Cantik, manis, bentuk tubuhnya bagus, penampilannya menarik... tapi tak ada apa-apa. Tak ada sensasi apapun, tak ada perubahan sedikitpun di tubuhnya, rasa sakitnya masih ada sama seperti tadi. Gadis ini tak ada bedanya dengan puluhan bahkan ratusan wanita yang pernah mendekatinya sebelumnya.
" Cari siapa ya? " Tanya Darren datar, nadanya sudah terdengar tak sabar.
" Aku cari Kak Darren Pradikta Mahendra.. Apa dia disini? " Jawab gadis itu seraya bertanya dengan mata berbinar.
" Saya sendiri.. ada apa ya? "
" Kebetulan saya juga sendiri disini, mau gabung gak sama saya? Kita ngobrol atau jalan-jalan keliling sini, saya tau tempat bagus loh. " Tawar Diana dengan nada genit, matanya menatap penuh kekaguman.
Seketika Darren menepuk wajahnya pelan dengan telapak tangan kanannya, kesal setengah mati. Disaat dia sedang sakit begini, disaat kepalanya mau pecah, ada orang datang mengganggu dan mengajak main? Dia tak ada mood sama sekali, bahkan kalau orang itu bidadari sekalipun.
" Maaf lain kali saja !! aku mau istirahat. " Jawabnya Tegas, singkat dan dingin, lalu langsung menutup pintu tepat di depan wajah Diana dengan agak kasar, BAM! suara pintu tertutup terdengar keras.
Diana terdiam terpaku ditempatnya, wajahnya langsung berubah kecewa dan malu, matanya berkaca-kaca, lalu dia berbalik dan berjalan cepat kembali ke kabinnya, hatinya hancur berkeping-keping.
Sementara di balik pohon, Zinnia melihat semuanya, dan dia tahu... rencananya gagal total. Dia menghela napas panjang, perasaan campur aduk di dadanya. Dan saat itulah, telinganya menangkap suara.
" Aarrghh... sial... hhhh... "
Suara erangan kesakitan yang pelan tapi jelas, keluar dari balik pintu kabin Darren. Suara itu menusuk telinga dan hati Zinnia, rasa iba dan kasihan yang selama ini dia tahan meledak begitu saja, dia tak bisa berpikir apapun lagi, tak bisa beralasan apapun lagi.
Dia berjalan cepat menuju pintu, Tapi kemudian langkahya terhenti karna ragu. Mengingat bagaimana Rion marah padanya dan juga alasan di balik itu semua, dia hendak pergi tapi suara Darren yang kesakitan itu kembali terdengar kini dengan suara barang jatuh, semakin membuatnya khawatir, lalu dirinya mengetuk pintu berkali-kali.
" Pergi !! " Usir Darren dari dalam, mengira orang yang datang tadi itu kembali lagi.
" Darren ini aku.. Zinnia.. "
Seketika suara di dalam berhenti, dan kurang dari satu detik pintu terbuka lebar. Darren menarik tangan Zinnia dengan cepat dan kasar, menariknya masuk ke dalam lalu menutup dan menguncinya kembali. Dia berdiri tepat di depan gadis itu, wajahnya pucat, keringat membasahi seluruh tubuhnya, napasnya terengah-engah menahan sakit.
" Ada apa Zinnia? Kenapa kamu kesini? Harusnya kamu bersama Rion. " Tanyanya dengan suara berat.
" Kamu sakit lagi? " Zinnia langsung menatap tepat ke matanya, tak mau dijawab lain.
" Sudahlah lupakan soal itu, sebaiknya kamu kembali saja ke kabin, nanti ketahuan Rion kita berdua bisa dalam masalah besar. " Darren memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya.
" Darren.. aku ingin bantu kamu.. kamu bawa obat pereda nyeri kan? Minum lagi aja, aku carikan sekarang, kamu taruh di laci kan... "
" Sudah ku minum.. tapi cuma meringankan sedikit saja, tak hilang total... " jawab Darren pasrah, akhirnya mengaku perihal keadaannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Zinnia melangkah maju lalu memeluk erat pinggang lelaki itu, menempelkan tubuhnya penuh pada tubuh Darren.
Dan seperti mantra ajaib, Darren langsung berhenti bicara, seluruh otot tubuhnya yang tadinya tegang perlahan mengendur. Dia tak bisa menolak, atau lebih tepatnya tak mau menolak, tangannya otomatis melingkar di punggung gadis itu, memeluknya balik erat-erat, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Zinnia, menghirup dalam-dalam aroma khas bunga mawar yang selalu ada di tubuhnya.
Bau itu... kehadiran ini... sentuhan ini... semuanya bekerja dengan cepat, rasa sakit yang menusuk perlahan memudar, ketenangan dan kenyamanan menggantikannya, seolah gadis ini membawa obat mujarab yang tak ada di dunia manapun.
Tapi di tengah rasa lega itu, Darren mengangkat wajahnya sedikit, bibirnya hampir menyentuh telinga Zinnia saat berbisik pelan, nadanya berat dan penuh peringatan.
" Jangan begini terus Zinnia.. ini berbahaya.. untuk kita berdua, lebih tepatnya kamu sendiri... "
Tapi di saat dia berkata begitu, pelukannya makin erat, seolah takkan pernah melepaskan gadis ini sampai kapan pun juga.
***