NovelToon NovelToon
NIKAH KONTRAK 9 BULAN

NIKAH KONTRAK 9 BULAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Hada

Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Petugas medis yang siap menancapkan jarum suntik itu mengambil peran. Bersiap setelah memastikan kulit itu di bersihkan yang akan di tempelkan jarum.

“Dok,maaf, saya berubah pikiran,” ucap Sarah langsung bangkit dari ranjang. Ada ketakutan di matanya. Dia tidak memperdulikan petugas medis yang sudah siap disana. Sarah langsung keluar begitu saja.

Entah itu sebuah keputusan yang di benarkan atau tidak. Namun, hati kecilnya meronta. Walaupun dalam benak, tidak menginginkan anak ini. Tetapi dia tidak bisa mengakhirinya dengan sengaja.

Sarah berlari dengan tangis . Hatinya menjerit pilu penuh kebimbangan.

“Ya Tuhan … beri aku kekuatan untuk melewatinya. Hanya sembilan bulan saja aku bersamanya.” Sarah menangis dalam diam menuju masjid rumah sakit.

Ia tergugu disana, mencurahkan isi hatinya yang tak biasa.

“Tidak ada yang salah dengan keputusanmu. Bersabarlah ….maka Allah akan memudahkan jalan untukmu,” kata seorang pria yang entah muncul dari mana. Menyodorkan sebuah sapu tangan ke hadapannya.

“Kak Raja, aku tidak tahu ini keputusan benar atau tidak. Jujur, aku takut tapi aku seperti tidak bisa membiarkan semua ini berlalu.” Sarah meraih sapu tangan itu dengan wajah tertunduk bingung.

“Kamu punya rencana, Allah yang akan memberikan keputusan final pada akhirnya. Semoga di berikan kemudahan untuk menjalani hari esok. Walaupun ini berat, aku percaya, kamu perempuan istimewa.”

“Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, orang-orang di luar sana bahkan mungkin akan bersiap menggunjing ku.”

“Semoga kamu sabar ya, aku tahu ini tidak mudah. Tapi, bisakah sekali saja kita berprasangka baik pada-Nya. Allah pasti akan memberikan jalan untuk mu. Yakinlah itu Sarah, kamu perempuan yang kuat, banyak orang yang menyayangimu.”

Sarah mengelap pipinya yang basah dengan sapu tangan yang di berikan Raja untuknya sedikit kasar.

“Pelan saja, wajahmu memerah,nanti sakit,” tegur pria itu yang sedari tadi memperhatikan dirinya

“Kenapa kamu disini, emangnya tidak ada pekerjaan?” tanya gadis itu dengan perasaan lebih tertata. Walaupun mukanya cemberut maksimal.

“Ada, sebentar lagi kan waktu ashar, jadi aku menyempatkan singgah di sini sebelum pulang.”

“Owh ….” Tak berselang lama, banyak oranh yang tidak di kenal masuk menuju tempat suci itu. Raja dan Sarah saling memberi jarak. Sarah sendiri keluar lebih dulu mengambil wudhu, kembali masuk dan ikut jamaah di sana. Hatinya jauh lebih tenang setelah mengadukan pada sang pemilik kehidupan.

Usai menunaikan empat rakaat, gadis itu masih berlama-lama disana. Ia baru keluar setelah sepi. Siap menghadapi dengan segenap hati kehidupan baru yang akan bersamanya selama janin itu tumbuh sampai nanti lahir ke dunia.

“Bagaimana perasaanmu, jauh lebih baik?” tanya seorang pria yang membuat Sarah yang tengah sibuk memasang sepatunya menoleh.

“Kamu belum pergi,aku kira diriku penghuni terkahir,” jawab Sarah lalu berdiri setelah menali sepatunya dengan benar.

“Ini udah mau pergi, sampai bertemu lagi. Jaga kesehatan ya,” ucap Raja tersenyum lalu beranjak meninggalkan tempat itu.

“Terima kasih orang baik,” ucap Sarah melihat kepergian Raja dengan perasaan lebih damai. Hatinya selalu menghangat setiap kali bertemu dengannya. Setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh doa dan hal baik.

“Sarah, sudah siap pulang?” Bu Alice, Pak Re, dan Bu Maryam menghampiri Sarah yang hampir beranjak.

Gadis itu mengangguk. Tak banyak kata yang di tanyakan. Namun, jelas sekali terpancar senyum lega di wajah Bu Alice dan Pak Re. Sepertinya dua pasutri itu sudah mengetahui apa yang menjadi keputusan Sarah.

“Terima kasih sayang, jangan mengkhawatirkan apapun setelah ini. Semua akan baik-baik saja. Kami akan selalu bersama mu,” ucap Bu Alice merangkul bahu Sarah sambil berjalan menuju mobil Pak Re.

Sarah hanya mengangguk tanpa menjawab. Gadis itu berjalan di tengah antara ibunya dan juga Bu Alice. Masuk ke mobil dan bersiap pulang.

Selama perjalanan, tidak ada yang membuka obrolan. Sarah juga terlihat diam saja dengan menyenderkan kepalanya di bahu Bu Maryam sambil memejamkan matanya.

“Istirahat saja sayang,jangn banyak beban pikiran!” ucap Bu Alice setelah mobil sampai di halaman rumah dan semuanya turun.

Sementara Lingga, menatap kepulangannya dari balkon kamarnya. Kedua orang tuanya sudah mengetahui itu semua. Terlihat begitu melindungi Sarah. Sikapnya semakin membuatnya muak. Namun, setidaknya ia merasa lega kalau Sarah akhirnya berhasil melenyapkan janin itu. Karna Lingga, tidak harus bertanggung jawab untuk menikahnya.

Pria itu masih di kamarnya saat sebuah ketukan pintu menggema. Bu Alice yang masuk setelah berseru dengan suara lantang.

“Ga, Sarah sudah pulang, bersikap baiklah padanya. Minta maaf dengan Bu Maryam juga. Besok, kalian akan menikah. Kami yang akan mempersiapkan semuanya.”

“Apa Ma? Lingga tidak mau menikah dengan gadis itu. Bukankah Sarah sudah memiliki untuk aborsi?” ucap Lingga langsung berdiri dari duduknya. Dia tidak siap untuk menikah, apalagi dengan anak Bu Maryam.

“Mama tidak mengizinkan cucu mama hilang, Lingga. Dia akan tumbuh di rahim Sarah dan kamu harus belajar bersikap baik padanya.” ucap Bu Alice seakan mempertegas kata-katanya.

Rasanya Lingga tidak percaya. Bagaimana bisa ibunya mengambil keputusan yang membuat dirinya dalam suasana rumit. Bagaimana dengan perempuan yang sudah Lingga perjuangkan selama ini. Kenapa harus berakhir dengan menikahi gadis lain.

Hari berganti begitu cepat. Hal yang membuat Lingga benar-benar tidak siap. Kenapa juga Sarah harus mempertahankan kehamilannya yang bahkan tidak diinginkannya juga.

“Tuh cewek maunya apa sih!” batin Lingga jengkel.

Sementara Sarah yang belum tahu menahu dengan rencana Pak Re dan Bu Alice, merasa tercengang saat pagi itu ibunya memberi kabar tentang niat baiknya melamarnya untuk Lingga. Sarah jelas kaget, dan itu yang di takutkan sejak awal.

“Maaf Bu, Sarah tidak mau menikah dengan Lingga. Sarah sudah mengambil keputusan, untuk berjalan sendiri untuk calon anak ini saja. Sarah tidak mau menikah dengan pria itu,” tolak Sarah cepat. Membuat Bu Maryam merasa bingung. Jelas saja ibunya memikirkan banyak hal ke depannya.

“Ibu tidak berhak memaksamu, tapi kalau kamu hamil sendirian, stigma negatif akan kamu dapat di masyarakat awam yang tidak tahu menahu duduk persoalannya Sarah. Pikirkan itu juga. Anak ini akan lahir tanpa ayah,” bujuk Bu Maryam tak ada pilihan.

“Tapi Bu, bagaimana mungki kita menikah, di antara kita bahkan membenci satu sama lain.”

“Menikah tidak harus tinggal bersama. Kamu hanya butuh status. Bahwasanya, orang hamil itu harus bersuami atau pandangan orang lain berbeda. Hidup di luar sana keras sayang. Pikirkan itu semua. Ibu tidak kuat mendengar hujatan apapun nantinya. Apalgi tentang dirimu.”

Sarah terdiam, sungguh ini kali kedua keputusan yang teramat sulit. Menikah, dengan Lingga, sepertinya dunia ini memang sudah tidak bersahabat lagi dengannya. Kenapa harus terjadi?

1
Sabil illah
bagus kak ceritanya.... semangat update kak
Ningsih Hada: Terima kasih ya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!