NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ilmu Kanuragan / Iblis
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Setelah kepergian orang tuanya ke ladang, Gandraka kembali menekuni goresan rantingnya di atas tanah. Namun, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah kaki yang tergesa, beradu dengan gesekan semak belukar dari arah jalan setapak.

​Ternyata Ki Lurah Argapati datang bersama serombongan warga yang tampak kalut. Langkah mereka terhenti tepat di depan halaman, dan Ki Lurah seketika tertegun, matanya terpaku pada gambar Jerangkong dan matahari berkobar yang terukir di tanah.

​"Apa yang kau gambar ini, Gandraka?" tanya Ki Lurah dengan suara berat, ada nada kecemasan yang tertahan di sana.

​"Ah, bukan apa-apa, Ki Lurah. Hanya iseng saja mengisi waktu," jawab Gandraka tenang, sembari menghapus sebagian gambar itu dengan telapak kakinya.

​"Hmm, kau memang selalu berbeda dengan anak seusiamu. Di mana orang tuamu?"

​"Sedang ke ladang, Ki Lurah. Ada keperluan apa mencari mereka?" Gandraka mendongak, menatap kerumunan itu dengan tatapan yang terlalu dingin untuk bocah sekecil dia.

​Namun, belum sempat Ki Lurah menjawab, seorang warga maju dengan wajah memerah menahan amarah. "Buat apa bertanya tentang orang tuanya, Ki Lurah?! Kita bawa saja anak ini sekarang! Dia harus bertanggung jawab!"

​"Benar! Gara-gara permainan anehnya kemarin, Nadi jadi seperti itu! Nadi sekarang diam mematung seperti mayat hidup, matanya putih semua!" seru warga lain sembari menunjuk-nunjuk ke arah Gandraka. "Kita bawa saja dia ke balai desa!"

​Gandraka tertegun sejenak. Ia tidak menyangka permainan "adu batin" yang ia lakukan kemarin dengan Nadi dan Boyo Jaya akan berbuntut panjang. Rupanya, sukma Nadi yang lemah tak sanggup menanggung penglihatan gaib yang ia bagikan.

​"Sabar! Sabar semuanya!" seru Ki Lurah Argapati sembari merentangkan tangan, mencoba meredam emosi warga yang mulai tersulut. "Kita tidak boleh gegabah. Bagaimanapun, anak ini dan keluarganya pernah berbuat baik pada desa ini. Kita harus bicara baik-baik."

​"Bicara apa lagi, Ki? Lihat matanya! Anak ini bukan anak biasa, dia pembawa kutukan!" teriak warga itu lagi, membuat suasana di halaman rumah yang tenang itu mendadak berubah menjadi mencekam.

​Gandraka hanya berdiri diam. Di tangannya, ranting pohon yang ia pegang mendadak terasa hangat, seolah merespons ancaman yang datang mendekat. Di dalam rumah, Jayantaka yang mendengar keributan itu mulai berusaha bangkit, tangan gemetarnya meraba mencari hulu kerisnya.

Ada apa sebenarnya, Ki Lurah? Ada apa dengan Nadi?" tanya Gandraka. Ia tetap tenang, meski ia bisa merasakan gelombang amarah yang panas dari warga di depannya.

​Ki Lurah Argapati melangkah maju, guratan di dahinya semakin dalam. "Gandraka... akibat permainan Nyanggrang Wewe yang kalian lakukan kemarin, petaka menimpa desa ini. Bukan hanya Nadi, tapi beberapa anak lain yang ikut menonton kini berlaku aneh. Mereka diam membisu dengan tatapan kosong, bahkan sebagian tak sadarkan diri seperti raganya telah dicuri."

​"Tapi Ki Lurah, saya sudah melarangnya," potong Gandraka pelan namun tegas. Matanya menatap lurus ke arah warga yang menghujatnya. "Nadi yang ngotot ingin memanggil roh itu. Dia yang membawa boneka jeraminya, dia yang membaca mantranya. Saya hanya duduk di sana untuk memastikan sesuatu yang buruk tidak keluar terlalu jauh."

​"Halah! Jangan bersilat lidah kau, bocah!" teriak seorang pria bertubuh kekar, ayah dari salah satu anak yang jatuh sakit. "Kau yang paling tahu soal hal-hal gaib di sini! Kalau kau tahu itu berbahaya, kenapa tidak kau hentikan dengan paksa? Sekarang anakku merayap di dinding seperti cicak!"

​"Sabar, Kang Darmo!" lerai Ki Lurah, meski wajahnya sendiri memancarkan keraguan. "Gandraka, warga hanya tahu bahwa kaulah yang terakhir kali bersama mereka. Mereka butuh jawaban, dan mereka butuh anak-anak mereka kembali."

​Gandraka menghela napas, matanya beralih menatap langit yang mulai meredup, meski hari masih pagi. "Nadi terlalu sombong menantang kegelapan yang tidak ia pahami. Nyanggrang Wewe itu bukan mainan, Ki. Itu adalah undangan. Dan sekarang, pintu yang dibuka Nadi sudah dimasuki oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar roh pengganggu hutan."

​Suasana mendadak rusuh. warga yang membawa parang mulai mengeluarkannya dari pinggang. ki lurah yang melihat ini mulai resah. ia tahu mungkin dalam sekejap saja bencana akan terjadi.

Suasana yang nyaris meledak itu mendadak beku saat suara derit pintu kayu terdengar nyaring. Dari balik ambang pintu, muncul sosok pria dengan tubuh yang masih dibalut perban kain putih yang kini mulai merembas noda darah.

​Jayantaka berdiri dengan sisa-sisa kekuatannya. Wajahnya pucat pasi, namun tatapan matanya tetap setajam elang, memancarkan wibawa seorang Senopati dari pusat kerajaan. Ia bertumpu pada kosen pintu, tangan kanannya menggenggam erat hulu kerisnya yang terselip di pinggang.

​"Cukup!" suara Jayantaka tidak menggelegar, namun nada rendahnya yang berwibawa sanggup membuat teriakan warga terhenti seketika.

​Ki Lurah Argapati dan para warga menoleh dengan terkejut. Mereka tahu siapa tamu di rumah Ki Bagaskara ini—seorang pejabat penting dari Trowulan.

​"Tuan Senopati... Anda seharusnya masih beristirahat," ucap Ki Lurah dengan nada bicara yang langsung merendah.

​Jayantaka melangkah turun ke halaman dengan kaki yang sedikit menyeret. Setiap gerakannya tampak menyakitkan, namun ia menolak untuk terlihat lemah. Ia berdiri di samping Gandraka, seolah menjadi benteng bagi bocah itu.

​"Aku mendengar semuanya dari dalam," ucap Jayantaka, matanya menyapu satu per satu wajah warga yang tadinya garang. "Marah adalah hak kalian sebagai orang tua, namun bertindak membabi buta tanpa bukti hanya akan membuat kegelapan di desa ini semakin senang. Kalian hanya akan menguras energi yang seharusnya kalian gunakan untuk menjaga anak-anak kalian."

​"Tapi Tuan... anak kami—"

​"Aku adalah penyidik resmi dari Kepatihan Majapahit," potong Jayantaka tegas. "Urusan ini bukan lagi sekadar kenakalan anak-anak, melainkan sudah menyentuh ranah keamanan wilayah. Aku berjanji, atas nama sumpahku sebagai abdi negara, aku sendiri yang akan menyelidiki apa yang terjadi pada Nadi dan anak-anak lainnya."

​Ia menoleh ke arah Ki Lurah. "Ki Lurah, bawa warga kembali ke rumah masing-masing. Perintahkan mereka untuk membakar kemenyan atau kayu gaharu di depan pintu, dan jangan biarkan anak-anak keluar setelah matahari terbenam. Aku butuh waktu untuk bicara dengan Gandraka."

​Melihat otoritas yang begitu besar terpancar dari sosok Jayantaka, nyali warga yang tadinya berkobar perlahan menciut. Mereka saling berbisik, lalu satu per satu mulai membubarkan diri mengikuti langkah Ki Lurah yang tampak sedikit lega karena ada pihak berwenang yang mengambil alih.

​Setelah halaman rumah kembali sepi dan hanya menyisakan desir angin, Jayantaka jatuh terduduk di amben bambu. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membanjiri keningnya.

​Ia menatap Gandraka yang masih berdiri diam di tempatnya.

​"Aku sudah membayar utang nyawaku pada ayahmu dengan mengusir mereka," bisik Jayantaka pelan. "Sekarang, Gandraka... katakan padaku yang sebenarnya. Siapa atau apa yang sebenarnya masuk melalui pintu yang dibuka oleh Nadi?"

1
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg otorrrr
🆓🇵🇸 Jenahara
🔥🔥🔥
🆓🇵🇸 Jenahara
semakin seru 🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll...
saniscara patriawuha.
ini Ra Kuti yang mana mang otor...
Semoli Ginon
waladalah. 👍👍👍
🆓🇵🇸 Jenahara
wah kaya pasukan es dari utara...
pendekar angin barat
patih Gajahmada mana....
saniscara patriawuha.
lama kalipun mang mada mendongolllll
🆓🇵🇸 Jenahara
mari beraksi 🔥
saniscara patriawuha.
nahhhhh iniiiii...... nihhhhh
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap.... Up
saniscara patriawuha.
gassssd pollllll....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
🆓🇵🇸 Jenahara
Up 🔥
saniscara patriawuha.
mantappppp polllllll...
👁Zigur👁: makasih b5 nya 🙏🏻
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gassdddddd...
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkeunnnnn...
saniscara patriawuha.
mantapppppp..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!