Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 - Abyan Hartanto
Junie masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari Naomi. Ruangan apartemen itu sebenarnya sederhana. Tidak besar, bahkan sedikit berantakan karena mainan Davin tersebar di mana-mana. Namun entah kenapa, suasana itu terasa hangat.
Sekarang setelah tahu siapa Naomi sebenarnya, semua hal kecil yang dulu dia anggap biasa mendadak terasa berbeda. Perempuan itu bukan sekadar ibu muda yang bertahan hidup. Dia dokter. Bahkan mantan residen bedah.
Junie mengusap pelan dagunya, masih mencoba mencerna semuanya. “Kenapa kamu berhenti?” tanyanya akhirnya.
Naomi langsung terlihat tidak nyaman.
“Dok…” sahutnya lirih.
Jihan yang duduk di sofa malah santai. “Karena hidupnya lagi apes.”
“Jihan…” Naomi melotot kecil.
“Apa? Emang iya kan?”
Junie memperhatikan perubahan ekspresi Naomi. Cara perempuan itu otomatis menunduk saat masa lalunya disentuh membuat dadanya terasa tidak enak.
“Ada hubungannya sama… mantan suami kamu?” tanya Junie hati-hati.
Naomi terdiam beberapa detik. Lalu akhirnya mengangguk pelan. Hening turun sejenak.
Junie tidak memaksa. Namun semakin sedikit yang dia tahu tentang Naomi, justru semakin besar rasa penasarannya.
Davin yang sejak tadi duduk di pangkuannya tiba-tiba menarik hidung Junie kecil-kecil.
Junie langsung meringis. “Eh, sakit…”
Davin malah tertawa puas. Naomi refleks tertawa kecil melihat itu. Lagi-lagi, Junie terpaku sepersekian detik.
Senyum Naomi memang bukan tipe yang mencolok. Tapi tipe yang tulus dan meluluhkan.
Jihan yang melihat ekspresi Junie hampir ingin ketawa sendiri. 'Fix,' pikirnya dalam hati. 'Dokter ini udah kepincut banget.'
Junie lalu menurunkan Davin perlahan ke playmat. “Sebenarnya…” katanya sambil menatap Naomi lagi, “kalau kamu masih mau balik ke dunia medis… mungkin saya bisa bantu.”
Naomi langsung membeku.
“Hah?”
“Saya kenal beberapa orang,” lanjut Junie tenang. “Mungkin belum langsung jadi dokter tetap. Tapi setidaknya ada jalan buat mulai lagi.”
Naomi buru-buru menggeleng. “Nggak usah, Dok. Serius. Saya nggak mau merepotkan—”
“Itu bukan merepotkan,” potong Junie cepat.
Nada suaranya terlalu cepat sampai dia sendiri sedikit kaget. Naomi ikut terdiam.
Junie berdehem kecil, lalu memperbaiki nada bicaranya. “Maksud saya… sayang kalau kemampuan kamu hilang begitu saja.”
Kalimat itu membuat Naomi tidak langsung menjawab. Sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya. Selama ini orang-orang hanya melihat dirinya sebagai perempuan bermasalah. Mantan istri gagal. Ibu tunggal. Pembawa aib.
Tapi Junie, dia masih melihat Naomi sebagai dokter. Itu membuat sesuatu terasa sesak di dada Naomi.
“Aku…” Naomi tersenyum tipis. “Nanti aku pikirkan dulu ya, Dok.”
Junie mengangguk pelan. “Tidak perlu buru-buru.”
Di sisi lain, Jihan cuma bisa menatap langit-langit.
'Ya ampun ini dua orang lama-lama bisa bikin aku diabetes,' gumamnya dalam hati.
...***...
Beberapa bulan kemudian. Suasana rumah sakit elit di Jakarta malam itu terasa tegang. Lampu-lampu koridor menyala terang. Aroma antiseptik memenuhi udara. Beberapa perawat berjalan cepat mondar-mandir sambil membawa peralatan medis. Di salah satu ruang persalinan VIP, Anggun sedang berjuang melahirkan.
Sementara di luar ruangan, Zayn duduk dengan kedua tangan saling menggenggam erat. Wajahnya pucat. Kakinya bergerak gelisah sejak satu jam lalu. Bahkan telapak tangannya dingin karena keringat.
Ratna yang duduk di sebelahnya menoleh. “Kamu tenang sedikit bisa nggak?” tegurnya.
Zayn langsung mengusap wajah kasar. “Mah… aku takut.”
Ratna menghela napas kecil. Sudah berbulan-bulan dia melihat perubahan putranya sejak Anggun hamil. Meski Zayn terlihat bahagia di luar, kecemasan soal anak itu tidak pernah benar-benar hilang.
Ratna tahu penyebabnya. Siapa lagi kalau bukan Davin. Bayangan bayi kecil itu masih menghantui Zayn diam-diam.
“Aku takut kejadian yang dulu terulang lagi…” suara Zayn terdengar berat.
Ratna langsung menatapnya tajam sekilas, memastikan tidak ada orang lain mendengar.
“Sudah berapa kali Mama bilang,” katanya pelan namun tegas. “Jangan samakan.”
Zayn menunduk.
“Tapi Mah…”
“Anak Anggun sehat,” potong Ratna cepat. “USG-nya bagus. Pemeriksaannya bagus. Semuanya normal.”
Zayn menggigit bibir bawahnya pelan. Meski begitu, rasa takut itu tetap ada. Dia masih ingat jelas bagaimana perasaannya saat pertama kali melihat Davin lahir dulu. Syok, takut dan jijik pada kenyataan yang tidak sesuai ekspektasinya. Perasaan bersalah samar sebenarnya masih ada di dalam dirinya. Namun dia terus menekannya jauh-jauh.
“Aku cuma…” Zayn menghela napas panjang. “Aku pengin kali ini semuanya sempurna.”
Ratna melembut sedikit. “Kali ini memang akan sempurna,” katanya sambil menepuk bahu putranya. “Percaya sama Mama.”
Teriakan kecil Anggun terdengar samar dari dalam ruang persalinan.
Zayn langsung menegang lagi. “Astaga…” ucapnya.
“Kamu nggak masuk?” tanya Ratna.
Zayn langsung menggeleng cepat. “Aku nggak sanggup.”
Ratna mendesah pelan.
Di keluarga mereka, laki-laki memang jarang mendampingi proses persalinan langsung. Namun tetap saja, melihat Zayn secemas ini membuatnya sedikit prihatin.
“Kalau gitu aku saja yang masuk,” kata Ratna akhirnya sambil berdiri.
Kebetulan saat itu, seorang wanita elegan baru datang tergesa-gesa.
“Ratna!”
Ratna menoleh. “Fida,” sapanya.
Wanita itu adalah ibu Anggun. Penampilannya mewah dan anggun, sangat mencerminkan keluarga konglomerat besar.
“Gimana keadaan Anggun?!” tanya Fida cemas.
“Masih proses.”
Fida langsung mengangguk cepat lalu menatap Zayn yang duduk tegang.
“Kamu nggak apa-apa?”
Zayn memaksakan senyum tipis. “Iya, Bunda.”
Padahal jelas tidak. Ratna dan Fida akhirnya masuk bersama ke ruang persalinan untuk mendampingi Anggun.
Tinggallah Zayn sendirian di luar. Waktu terasa berjalan lambat sekali. Satu menit terasa seperti satu jam.
Zayn bangkit. Duduk lagi. Berdiri lagi. Mondar-mandir tanpa arah. Pikirannya dipenuhi banyak kemungkinan buruk.
“Kalau cacat lagi gimana…”
“Kalau ada masalah…”
“Kalau ternyata—”
BRAK!
Zayn langsung menghantam pelan dinding dengan tinjunya sendiri. “Jangan mikir aneh-aneh,” gumamnya frustrasi.
Namun semakin dia mencoba menenangkan diri, semakin bayangan Davin muncul. Bibir sumbing. Tangisan kecil itu. Wajah Naomi yang pucat setelah melahirkan. Zayn langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aku nggak mau ngalamin itu lagi…” harapnya.
Tidak lama kemudian, tangisan bayi terdengar. Kencang dan jelas.
Zayn langsung membeku. Matanya membesar. Jantungnya berdegup sangat keras. Pintu ruang persalinan masih tertutup. Namun tangisan itu terus terdengar dari dalam.
Zayn sampai tidak sadar menahan napas. Beberapa menit terasa sangat panjang. Lalu akhirnya pintu terbuka. Ratna keluar lebih dulu. Wajah wanita itu tersenyum lebar.
Zayn langsung berdiri cepat. “Mah?!”
Ratna tertawa kecil karena melihat ekspresi panik anaknya. “Kenapa tegang begitu?” katanya.
“Gimana anaknya?!” tanya Zayn cepat.
Ratna mendekat lalu memegang kedua bahu putranya. “Sehat!
Satu kata itu langsung membuat lutut Zayn hampir lemas. “Dan sempurna,” lanjut Ratna.
Mata Zayn langsung berkaca-kaca tanpa sadar. “Beneran…?”
Ratna mengangguk mantap. “Laki-laki, sehat, dan pastinya nggak sumbing. Jelas anak sumbing itu dari gen mantan istrimu itu," pungkasnya
Zayn menelan ludah keras. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, dadanya terasa benar-benar lega.
“Mana… mana anaknya?”
“Sedang dibersihkan.”
Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar sambil membawa bayi kecil yang sudah dibedong rapi.
“Selamat ya, Pak,” katanya ramah.
Zayn mendekat perlahan. Tangannya bahkan sedikit gemetar saat menerima bayi itu. Begitu melihat wajah kecil anaknya, Zayn benar-benar terdiam. Kulitnya bersih, wajahnya sempurna. Tidak ada kekurangan apa pun. Air mata langsung menggenang di mata Zayn.
“Anakku…” bisiknya lirih.
Bayi kecil itu menggeliat pelan dalam pelukannya. Zayn merasakan kebanggaan yang begitu besar tanpa disertai ketakutan.
Ratna tersenyum puas melihat ekspresi putranya. “Nah,” katanya lembut. “Sekarang kamu percaya sama Mama?”
Zayn tertawa kecil sambil mengusap wajah bayinya perlahan. “Iya…” jawabnya pelan.
Lalu tanpa sadar, dia memeluk bayi itu lebih erat. Seolah takut kehilangan.
"Abyan Hartanto, aku mau namanya Abyan. Karena dia sempurna. Dia akan jadi anak yang sempurna," ujar Zayn sambil berdecak kagum.
...______...
*Yang kesal kenapa author kasih anak mereka sempurna, sabar dulu ya guys. Nanti kita lihat perbedaannya pas anak itu gede ya... Ditunggu aja 🤭