Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Siasat di Lorong Putih & Bayang-Bayang yang Mengintai
Aroma antiseptik yang khas menyelimuti lorong lantai tujuh Rumah Sakit Pusat Kota. Di dalam kamar 701, suasana terasa jauh lebih hidup. Aiden, bocah berusia sepuluh tahun itu, bersandar di ranjang rumah sakit dengan wajah yang mulai kembali segar. Meski tubuhnya masih tampak kurus dan selang oksigen kecil masih terpasang di hidungnya, binar matanya menunjukkan semangat yang besar.
Di samping ranjang, Mireya sedang telaten menyuapi Aiden semangkuk bubur hangat. Sementara itu, Calix berdiri tidak jauh dari mereka, bersedekap dada sembari sesekali melirik jam tangan Rolex-nya.
"Kak Reya," panggil Aiden setelah menelan buburnya, matanya melirik ke arah Calix dengan pandangan menyelidik. "Kakak ganteng yang berdiri di sana itu benar-benar suamimu? Kok dari tadi diam saja seperti patung di depan mal?"
Mireya hampir saja tersedak mendengar kepolosan adiknya. Ia buru-buru meletakkan mangkuk bubur dan melirik Calix yang draf wajahnya—maksudnya ekspresinya—langsung berubah kaku.
"Aiden, jangan bicara begitu. Dia Nando... maksud Kakak, Tuan Calix. Dia yang sudah membiayai semua pengobatanmu di sini," bisik Mireya pelan, mencoba menenangkan adiknya.
Calix berdehem berat, melangkah mendekat ke sisi ranjang dengan gaya angkuh yang khas. "Hei, Bocah. Aku tidak diam seperti patung. Aku sedang mengawasi apakah kamu memakan makanan rumah sakit ini dengan benar atau tidak. Kalau kamu malas makan, aku tidak akan mengizinkan kakakmu berkunjung lagi."
Alih-alih takut dengan gertakan Calix, Aiden justru mendengus pelan, tipikal anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang mulai berani. "Kakak ipar galak sekali. Tapi terima kasih ya, sudah menyelamatkan aku. Kak Reya sering menangis waktu aku koma kemarin, untung sekarang ada Kakak yang menjaganya."
Mendengar sebutan 'Kakak ipar' dari mulut Aiden, sudut-sudut bibir Calix berkedut, menahan rasa bangga dan haru yang mendadak membuncah di dadanya. Pria itu mengulurkan tangannya yang besar, mengacak rambut Aiden dengan gerakan yang sebenarnya sangat lembut, meski wajahnya tetap ditekuk ketus.
"Sembuhlah dengan cepat. Jangan membuat kakakmu kelelahan karena memikirkanmu terus," ucap Calix pelan.
Mireya menatap Calix dengan tatapan mata yang kian melembut. Sisi protektif dan perhatian yang ditunjukkan pria kaku itu benar-benar mengikis sisa-sisa kebencian di hatinya. "Calix, bukankah rapat dengan dewan komisaris jam sepuluh ini? Kamu bisa terlambat kalau terus di sini."
"Jadwal kantor bisa diatur ulang oleh Doni," jawab Calix datar, merapikan jas kerjanya yang elegan. "Aku pergi sekarang. Doni dan dua pengawal akan berjaga ketat di depan pintu kamar ini. Jangan berani-berani keluar dari area rumah sakit sebelum aku menjemputmu sore nanti, Mireya."
"Iya, aku mengerti. Hati-hati di jalan," sahut Mireya dengan senyuman tulus.
Calix melangkah keluar dari kamar rawat dengan wibawa yang kembali tegak. Namun, tepat saat pintu kamar ditutup rapat dan ia berjalan beberapa meter menuju lift khusus VIP, matanya menangkap siluet seorang wanita berpakaian modis yang buru-buru berbelok di sudut lorong bangsal umum.
Calix menghentikan langkahnya, matanya menyipit tajam. "Doni."
"Ya, Tuan Besar?" Doni langsung maju satu langkah di belakang bosnya.
"Siapa saja yang memiliki akses ke lantai VIP hari ini?" tanya Calix, suaranya mendadak berubah menjadi sedingin es.
"Hanya keluarga pasien terdaftar dan tim medis utama Dokter Januar, Tuan. Mengapa?"
Calix terdiam sejenak, menatap sudut lorong yang kini sudah kosong. Perasaanku saja, atau tadi itu mirip Bianca? batin Calix gusar. Namun, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Perketat penjagaan di depan kamar Aiden. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin tertulis dariku."
"Baik, Tuan Besar, laksanakan."
Sementara itu, di dalam tangga darurat yang sunyi dan remang di ujung lorong lantai tujuh, Bianca berdiri dengan napas yang memburu. Ia merapikan kacamata hitam besarnya, bibirnya yang berlipstik merah menyala terangkat membentuk senyuman yang teramat licik.
Di hadapannya, Ardan Pradipta dan Fiona berdiri dengan cemas sekaligus penuh dendam.
"Bagaimana, Bianca? Apa anak sialan itu benar-benar sudah sadar?" tanya Fiona dengan suara berbisik yang sarat akan kebencian. "Sialan, anak itu malah dipindahkan ke kamar VIP! Pasti Calix yang membayar semuanya menggunakan uang yang seharusnya menjadi hak keluarga kita!"
"Tenang, Tante Fiona. Jangan berisik," desis Bianca tajam. "Anak berusia sepuluh tahun itu memang sudah sadar. Dan dugaanku tidak salah, Calix bahkan rela meluangkan waktu paginya demi menemani Mireya di sana. Hubungan mereka sudah melangkah terlalu jauh dari sekadar kontrak sewa rahim."
Ardan mengepalkan tangannya, wajahnya tampak mengerikan karena stres akibat kebangkrutan total perusahaan mereka pagi ini. "Lalu apa rencana kita sekarang? Kita tidak punya waktu lagi, Bianca! Kita harus menghancurkan Mireya agar Calix mau melepaskan blokir asetku!"
Bianca terkekeh rendah, sebuah suara tawa yang terdengar sangat kejam di dalam tangga darurat yang pengap itu. Ia merogoh tas mewah miliknya, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening tak berbau.
"Kalian tahu kan, Dokter Januar pernah bilang kalau rahim wanita itu sangat peka terhadap stres emosional?" tanya Bianca, matanya berkilat penuh bisa ular. "Jika kita menyerang Mireya secara fisik, Calix pasti akan langsung menghabisi kita. Tapi... bagaimana jika kita menyerang titik terlemahnya? Yaitu adiknya sendiri, Aiden."
Fiona tersentak, matanya melebar. "Maksudmu... botol obat itu?"
"Ini adalah senyawa kimia yang bisa memicu gagal jantung ringan jika dicampurkan ke dalam botol infus," jika dicampurkan ke dalam cairan infus, bisik Bianca licik. "Tidak akan langsung membunuh anak usia sepuluh tahun itu, tapi cukup untuk membuatnya kembali kritis. Bayangkan bagaimana hancurnya mental Mireya saat melihat adiknya yang baru saja sadar, kembali sekarat di depan matanya sendiri? Jiwanya akan terguncang hebat, dia akan stres total, dan rahimnya pasti akan menolak benih Calix. Kontrak mereka akan gagal, dan Calix yang kecewa pasti akan menendang Mireya keluar dari rumah karena dianggap tidak berguna."
Ardan menelan ludah, sedikit ragu namun keserakannya jauh lebih besar. "Tapi penjagaan di depan pintu kamar itu sangat ketat, Bianca. Ada dua pengawal berbadan besar dan asisten pribadi Calix yang berjaga di sana."
"Itu tugas kalian berdua," perintah Bianca dingin, menyodorkan botol itu ke tangan Ardan. "Cari pakaian perawat atau menyamarlah saat jam operasional petugas kebersihan tiba. Cari kelengahan mereka saat Doni sedang pergi. Begitu cairan ini masuk ke dalam botol infus Aiden... permainan selesai. Mireya akan kehilangan segalanya."
Fiona menyeringai kejam, merebut botol itu dari tangan suaminya. "Anak durhaka itu harus merasakan penderitaan yang sama dengan kita. Serahkan urusan ini pada kami, Bianca."
Bianca tersenyum puas, membalikkan badannya untuk melangkah turun menuju lantai bawah, meninggalkan sepasang orang tua yang sudah dibutakan oleh harta itu dalam rencana busuk yang kian merayap mendekati dinding kamar rawat Aiden. Badai besar kini benar-benar sedang mengintai kebahagiaan kecil yang baru saja Mireya rasakan.
semangat terus ya Thor...