Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asutan Saridewi
Hak asuh anak? Raya melupakan hal yang satu ini, kata kata Saridewi cukup membuat tubuhnya bergetar. Bukan karena kata kata kasar Saridewi padanya, Melainkan kata tentang Hak asuh.
Raka melihat hal itu, " Jangan khawatir, Mas ada disini." Raka menenangkan Raya.
" Kamu itu cuman perempuan rumahan. Kalau mau cerai ya tinggal cerai. Tapi anak anak akan bersama dengan Bagas. karena Bagas lebih mampu menghidupi mereka dengan layak. kamu mana bisa?" lanjut Saridewi lagi.
Sepertinya dia ingin menghajar mental Raya. Ya. Walaupun hampir setiap kali mereka berjumpa, kata kata pedas selalu keluar dari mulut Saridewi untuknya.
Bagas langsung berdiri didepan mamanya." Ma, cukup. Jangan disini."
" Kamu jangan bela Dia. Kamu baru membuat kesalahan sedikit saja. Dia sudah merasa paling tersakiti. " Saridewi mendorong dada Bagas pelan. " Kamu itu kebanyakan lembut sama Dia. Makanya dia jadi keras kepala. "
" Sedikit? Apakah selingkuh itu adalah kesalahan yang sedikit, buat mama?" Raya akhirnya bicara. " Bayangkan, suami sah. Berciuman dengan wanita lain, lalu fotonya dikirim ke Istri sah, yang dengan setia menunggu suaminya pulang setiap malam, Apakah itu cuman sedikit?"
" Itu karena kamu bodoh, Makanya wanita lain lebih.." Saridewi tidak melanjutkan ucapannya.
Hakim yang lewat di koridor, akhirnya turun tangan." Silahkan selesaikan diluar, ini pengadilan .Bukan pasar."
Raka langsung menarik tangan Raya pelan." Ayo kita pergi dari sini, dek."
Raya jalan pelan. Dia tidak melihat lagi, tapi sebelum belok. Dia berhenti sebentar dan bilang tanpa melihat ke Saridewi. " Kalau mama memang sayang sama cucu, jangan buat mereka semakin benci dengan keluarga yang selalu berantam."
" Apa?" Kamu itu wanita bodoh dan tidak tahu diri, tentu saja saya sayang sama cucuku, lihat aja. Kamu akan menangis karena kehilangan mereka." Sumpah serapah Saridewi.
Saridewi nafasnya kasar, dadanya naik turun. Bagas memegang bahu mamanya. Suaranya pelan." Ma, Ayo kita pulang."
Saridewi tidak menjawab. Matanya masih fokus melihat punggung Raya yang semakin menjauh.
Kesal, itulah yang dirasakan oleh Saridewi, karena amarahnya kepada Raya, belum semua keluar.
" Ayo,ma." lagi Bagas mengajaknya pergi dari sana.
Mobil berhenti diparkiran minimarket , di depan pengadilan. Saridewi tidak mau langsung pulang.Dia duduk dikursi penumpang, tangannya masih bergetar. Bagas dikursi kemudi. Matanya kosong melihat aspal basah bekas hujan tadi pagi.
" Gas." Suara Saridewi pelan, Tapi ada nada yang tidak bisa dibantah." Dengarkan Mama."
Bagas tidak jawab. Dia hanya mengusap wajahnya kasar.
" Kalau Raya benar benar ingin bercerai dengan kamu, Kamu iyakan saja. Tapi hak asuh anak anak kamu harus kamu ambil."
Bagas langsung melihat mamanya." Ma, Aku tidak bisa."
" Harus bisa." Saridewi memotong ucapan Bagas. Suaranya pecah. " Kamu pikir mama ini, tidak sayang sama cucu cucu mama. Mama ini sangat sayang sama mereka. Cuman Raya saja yang tidak mama suka." Saridewi melihat ekspresi diwajah Bagas.
" Nak, kalau kamu tidak menuntut hak asuh sekarang, Mama jamin kamu akan kehilangan anak anakmu selamanya." Lanjut Saridewi.
Bagas menarik nafas panjang. " Mama pikir aku tidak mau? tapi aku tidak mau membuat anak anak menjadi rebutan di pengadilan. Mereka sudah cukup bingung ma."
" Rebutan?" Saridewi tertawa kecil. Pahit. " Mereka sudah lebih dulu direbut, Gas. Direbut sama Raya yang katanya paling tersakiti. "
Bagas memegang setir sampai bulu jarinya putih. " Mama cukup. Anak anak butuh mamanya. Aku tidak bisa jadi alasan untuk memisahkan mereka dari Raya."
Saridewi memegang tangan Bagas. Tangannya dingin. " Mama tidak minta kamu untuk menyakiti mereka. Mama cuman mau kamu menunjukkan dipengadilan kalau kamu juga bisa menjadi papa yang layak untuk menjaga mereka. kamu bekerja Bagas, gajimu banyak dan kamu juga punya rumah. Kamu bapak kandung mereka dan Hakim akan mendengar hal itu."
Bagas diam lama." Kalau aku kalah,Ma?"
" Kalau kalah, setidaknya kamu sudah coba." Jawab Saridewi pelan." Jangan sampai sepuluh tahun lagi kami menyesal, karena hari ini kamu tidak berani bertindak dan bilang, mereka anak anakku juga."
Dia melepaskan tangan Bagas, lalu bersandar ke kursi." Mama tidak memaksa, tapi kalau kamu diam. Jangan salahkan siapa siapa kalau suatu hari. Galang dan Gilang panggil orang lain dengan sebutan papa."
Kalimat terakhir mamanya membuat jantung Bagas berdetak kencang. Bagas menutup mata, dikepalanya tergiang ucapan Gilang. " Pa, nanti jemput ya, pa. aku sudah bisa naik sepeda, pa.."
Bagas membuka mata lagi, tatapanya beda. " Aku akan bicara dengan pengacaraku, Ma."
Saridewi tidak senyum. Dia cuman menganguk pelan." Bagus, itu baru namanya anak mama."
Mobil dinyalakan. Tidak ada lagi obrolan sepanjang jalan pulang. Tapi diantara mereka ada satu keputusan yang baru diambil.
Saridewi berhasil menghasut Bagas untuk menuntut hak asuh Galang dan Gilang.
Raya sudah sampai dirumah setelah diantar oleh Raka. Raka kembali ke kantor, karena masih ada pekerjaannya yang lain.
Raya masuk pelan. Badannya masih bergetar , Diruang tamu Galang dan Gilang sedang menonton TV. Mereka libur satu minggu, karena anak kelas Enam sedang ujian kelulusan.
Mereka menoleh bersama. Gilang langsung berdiri dan berlari memeluk Raya." Mama sudah pulang. Papa tidak ikut lagi ya , ma?" Ada sedikit kecewa dimata Gilang.
Raya jongkok, peluk balik. Suaranya dibuat normal. Padahal tenggorokannya terasa dicekik." Papa tidak bisa datang, Sayang. Papa sibuk." Alasan Raya.
Galang melihat mata mamanya, tersirat kesedihan didalamnya. Dia tahu pasti papanya membuat mamanya menagih lagi.
Sementara Gilang, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, Setiap bertanya tentang papanya, pasti selalu dibilang sibuk.
Gilang menganguk dan kembali lagi ke TV. Jawaban itu memang selalu didapatnya.
Raya berdiri dan tersenyum paksa ke arah Galang yang sedari tadi melihatnya. Tidak bersuara.Hanya melihat.
Kaki Raya terasa sangat berat untuk berjalan k.koe kamar. Dikepalanya masih terngiang ucapan Saridewi yang meminta hak asuh atas Galang dan Gilang.
Raya sampai ke kamar, langsung menutup pintu, menyandarkan punggungnya ke pintu. Terus melorot duduk dilantai.
Sepanjang jalan tadi. Raka sudah mencoba menghiburnya dan selalu bilang jangan khawatir. Namun kata kata Raka sama sekali tidak bisa menenangkannya.
Ibu Raya tahu anaknya pasti mengalami hal yang cukup membuatnya mengurung diri. Dia dan Nisa memberi ruang untuk Raya.
Satu jam kemudian Ibu mulai mengetuk pintu kamar Raya. " Nak, apa kamu mau makan?" Panggilnya pelan.
Raya membuka pintu. Matanya sembab. Habis menangis. Ibu masuk kedalam dan menutup pintu pelan. Raya sudah duduk di ranjang. Ibu juga ikut duduk disebelah Raya.
Ibu tidak bicara apa apa. Dia hanya memegang tangan Raya yang dingin.
" Anak anak mau diambil, bu!" lirih Raya.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏