NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Militer / Tamat
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara baling-baling di langit mendung

Suasana pagi di batalyon biasanya riuh oleh suara langkah lari pagi para prajurit yang menyanyikan lagu-lagu penyemangat. Namun, pagi ini berbeda. Udara terasa berat dan dingin, seolah-olah awan mendung di atas asrama sengaja berhenti untuk ikut mengamati ketegangan yang terjadi di kantor pusat.

Adeeva terbangun bukan karena alarm, melainkan karena suara deru mesin yang sangat bising dari arah lapangan utama. Suara baling-baling helikopter yang membelah udara terdengar semakin rendah. Jantungnya seketika mencelos. Di lingkungan militer, helikopter yang mendarat di luar jadwal biasanya membawa dua kemungkinan: tamu penting, atau evakuasi medis.

Tanpa sempat menyisir rambut atau merapikan pashminanya dengan benar, Adeeva berlari keluar rumah. Fathiyah, yang baru saja hendak menyeduh teh di dapur, langsung mengejar kakak iparnya itu.

"Adeeva, tunggu! Jangan lari!" teriak Fathiyah.

Namun Adeeva tidak peduli. Ia terus berlari menyusuri trotoar, melewati rumah-rumah asrama lainnya. Beberapa istri prajurit tampak keluar ke teras dengan wajah cemas, saling berbisik saat melihat istri Kapten Ali berlari dengan wajah pucat pasi.

Lapangan Batalyon: Harapan yang Tercekat

Di pinggir lapangan, kerumunan sudah mulai terbentuk. Sebuah helikopter Bell milik TNI Angkatan Darat baru saja mendarat, debu berterbangan ke segala arah akibat putaran baling-balingnya. Beberapa petugas medis dengan tandu sudah bersiap di samping ambulans yang terparkir dengan lampu rotator menyala tanpa suara sirine.

Adeeva berhenti di tepi lapangan, napasnya tersengal. Matanya terpaku pada pintu helikopter yang perlahan terbuka.

"Shaheer..." bisiknya dengan bibir bergetar.

Fathiyah akhirnya berhasil menyusul dan memegang lengan Adeeva dengan kuat. "Deeva, tenang. Jangan maju dulu, biarkan petugas bekerja."

Seorang prajurit turun dengan seragam loreng yang kotor dan robek di beberapa bagian. Itu bukan Shaheer. Kemudian, satu tandu dikeluarkan dengan terburu-buru. Adeeva menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai menggenang. Ia melihat tubuh yang terbaring di sana tertutup selimut medis, wajahnya tak terlihat jelas.

"Kapten!" teriak seseorang dari kerumunan.

Adeeva merasa dunianya runtuh. Ia hendak menerjang maju, namun sebuah tangan kokoh menahan bahunya dari belakang. Bukan tangan Fathiyah, melainkan tangan seseorang yang memakai sarung tangan taktis yang kasar.

"Mau lari ke mana, Deeva?"

Adeeva membeku. Suara bariton itu. Suara yang selama seminggu ini hanya ia dengar lewat statis radio satelit. Ia perlahan memutar tubuhnya.

Di belakangnya berdiri Shaheer. Wajahnya dipenuhi debu dan bekas samaran yang sudah luntur, lengannya dibalut perban yang mulai merembes darah, dan seragamnya tampak kusam oleh tanah perbatasan. Namun, ia berdiri tegak. Ia hidup.

"Shaheer..." Adeeva tidak bisa menahan diri lagi. Ia menghambur ke pelukan suaminya, menabrak dada bidang yang keras itu dengan tangisan yang pecah seketika. Ia tidak peduli pada debu yang menempel di bajunya, tidak peduli pada orang-orang yang menonton.

Shaheer meringis sedikit karena luka di lengannya tertekan, namun ia tetap membalas pelukan itu dengan lengan satunya yang tidak terluka. Ia membenamkan wajahnya di puncak kepala Adeeva, menghirup aroma pashmina istrinya yang sangat ia rindukan.

"Aku pulang, Deeva. Aku sudah janji, kan?" bisik Shaheer pelan.

Luka dan Cerita di Balik Perban

Setelah suasana sedikit tenang, Shaheer dibawa ke rumah sakit bantuan di dalam asrama untuk membersihkan lukanya. Ternyata, tandu yang tadi dilihat Adeeva adalah salah satu anggota tim Shaheer yang terkena serpihan ledakan, sementara Shaheer sendiri hanya mengalami luka tembak gores di lengan dan memar akibat benturan.

Di ruang perawatan, Fathiyah sibuk menyiapkan peralatan medis sementara Adeeva duduk di samping ranjang Shaheer, tidak mau melepaskan genggaman tangannya seolah takut suaminya akan menghilang lagi jika ia lengah.

"Kamu membuat satu batalyon heboh, Bang," ujar Fathiyah sambil mulai membersihkan luka di lengan Shaheer. "Adeeva sampai jatuh sakit kemarin karena memikirkanmu."

Shaheer menatap Adeeva dengan tatapan menyesal. "Maafkan aku. Komunikasi benar-benar hancur setelah pos kami diserang. Kami harus menempuh perjalanan darat selama dua belas jam sebelum bisa dijemput helikopter evakuasi."

Kaysan masuk ke ruangan dengan membawa beberapa berkas dan dua botol minuman dingin. Ia melihat Shaheer dan Adeeva yang tampak tak terpisahkan, lalu melirik Fathiyah yang sedang serius bekerja.

"Bang Shaheer, lain kali kalau mau buat adegan film romantis di lapangan, kasih tahu saya dulu. Biar saya siapkan musik latarnya," kelakar Kaysan, mencoba memecah ketegangan.

Fathiyah mendongak, menatap Kaysan tajam. "Kaysan, bantu Nadhir di depan. Jangan mengganggu di sini."

Kaysan justru mendekat ke arah Fathiyah, memberikan satu botol minuman dingin itu tepat ke tangan sang dokter. "Minum dulu, Dok. Wajah Dokter sudah lebih kusut dari peta buta tadi pagi. Urusan Bang Shaheer sudah aman, sekarang giliran Dokter yang harus jaga kesehatan sendiri."

Fathiyah sempat tertegun, menatap botol di tangannya lalu menatap Kaysan yang memberikan senyum miring andalannya. "Terima kasih," gumam Fathiyah pelan, hampir tak terdengar.

Adeeva, meski masih lemas, sempat menangkap momen itu. Ia melirik Shaheer, dan suaminya itu memberikan kedipan kecil—sebuah kode bahwa misi "perjodohan" yang pernah Adeeva bicarakan sepertinya mulai menunjukkan hasil.

Malam itu, di rumah nomor 12, suasana kembali hangat. Shaheer berbaring di sofa dengan tangan diperban, sementara Adeeva duduk di lantai di sampingnya, menyandarkan kepala di lutut suaminya.

"Ternyata benar," gumam Adeeva pelan.

"Apa yang benar?" tanya Shaheer sambil mengusap rambut Adeeva.

"Asrama ini tidak terasa seperti penjara kalau ada kamu. Studio itu juga baru terasa hidup kalau aku tahu kamu akan pulang untuk melihatnya."

Shaheer tersenyum, ia mengecup ubun-ubun istrinya. Di tengah bau obat-obatan dan sisa debu perbatasan, mereka berdua tahu bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai, dan kali ini, mereka berjalan di jalan yang sama.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Shabrina Darsih
yah ko tamak ka
cerita kaysan sm fathiya blm Ka
Isti Mariella Ahmad: Nanti kalau sempat ya, soalnya ada cerita lain 🤭
total 1 replies
falea sezi
pantes bokap lu marah. lah penampilan uda kayak. lacur. pdhl anak kiyai😒 menjual. diri aja. cocok
falea sezi
gercep. sekali. kapten🤣
Shabrina Darsih
shsher junior
Shabrina Darsih
lasihan deeva baru. uka lembaran baru sm shareer d tinggal bertugas
semangat deeva
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!