Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaivan si Pelindung Galak
Kehidupan setelah pengkhianatan Luca membuat Kaivan Vittorio berubah menjadi sosok yang jauh lebih waspada—atau menurut istilah Gendis, "galak tingkat dewa." Jika sebelumnya Kaivan adalah predator yang tenang, kini ia adalah singa yang siap menerkam siapa pun yang berani melirik ke arah "harta karun" paling berharganya: Gendis.
Keamanan di mansion tidak hanya ditingkatkan secara fisik dengan penambahan lima puluh personel elit, tetapi juga secara emosional. Kaivan seolah-olah ingin membungkus Gendis dalam gelembung kaca antipeluru, antisihir, dan antigangguan.
Pagi itu, Gendis baru saja melangkah keluar dari kamarnya dengan niat sederhana: pergi ke dapur untuk membuat seblak. Namun, baru tiga langkah di koridor, ia sudah diadang oleh dua orang pengawal bertubuh raksasa dengan setelan jas hitam legam dan kacamata hitam.
"Nona, mohon maaf. Tuan Kaivan memerintahkan kami untuk mengantar Anda meski hanya ke toilet," ucap salah satu pengawal dengan suara berat.
Gendis berkacak pinggang. "Hah? Ini kan cuma mau ke dapur! Saya tahu jalannya, saya nggak bakal nyasar ke dimensi lain kok!"
"Instruksi Tuan sangat jelas, Nona. 'Jangan biarkan sebutir debu pun menyentuh Gendis tanpa seizinku'," lapor pengawal itu dengan nada kaku.
Gendis hanya bisa menghela napas panjang. Ia berjalan menuju dapur dengan dikawal layaknya seorang presiden yang akan menghadiri rapat PBB. Dan benar saja, di dapur, ia menemukan Kaivan sedang berdiri menatap sebuah pisau dapur dengan tatapan menyelidik.
"Kak! Ini apa-apaan sih?" protes Gendis sambil meletakkan kerupuk seblaknya di atas meja. "Kenapa saya harus dikawal ketat begini? Saya mau masak, bukan mau perang!"
Kaivan menoleh, tatapannya yang tajam melunak sesaat melihat Gendis, namun wajahnya tetap kaku. "Pisau ini terlalu tajam, Gendis. Dan lantai dapur ini baru saja dipel, sangat licin. Jika kau terpeleset dan pisau ini melukaimu, aku akan memecat seluruh staf kebersihan."
"Kak, saya ini indigo, bukan anak bayi!" Gendis mencoba meraih pisau itu, namun Kaivan segera menjauhkannya. "Saya bisa liat kalau ada bahaya. Justru pengawal-pengawal Kakak itu yang bikin saya bahaya karena mereka nutupin pandangan batin saya!"
"Keamananmu adalah prioritas mutlak," jawab Kaivan dengan nada final. "Luca mengajari aku satu hal: bahaya bisa datang dari orang yang paling tidak terduga. Aku tidak akan membiarkan celah sekecil apa pun terbuka."
Ketidakenakan Gendis berlanjut hingga siang hari. Ia berniat pergi ke taman belakang untuk "ngobrol" dengan bunga-bunga dan mungkin menyapa arwah tukang kebun tua yang suka memberi saran soal pupuk. Namun, saat ia sampai di pintu kaca, ia mendapati pintu itu terkunci secara elektronik.
"Kak Kaivan!" teriak Gendis frustrasi.
Kaivan muncul dari balik pilar, memegang tablet yang menampilkan cctv seluruh area mansion. "Ada apa?"
"Buka pintunya! Saya mau ke taman!"
"Taman sedang disterilkan," ucap Kaivan santai. "Tim penjinak bom dan tim pembersihan metafisika sedang memeriksa setiap jengkel tanah. Kemarin ada seekor burung gagak yang terbang terlalu rendah, aku khawatir itu adalah kiriman dukun lain."
Gendis mengelus dadanya, mencoba menahan sabar. "Itu gagak beneran, Kak! Dia cuma mau minta makan! Saya bisa ngerasain auranya, dia lapar, bukan mau santet Kakak!"
"Tetap saja. Mulai sekarang, kau hanya boleh berada di ruangan yang sudah kukonfirmasi aman 100%," Kaivan mendekati Gendis, memegang bahunya dengan posesif. "Aku tidak mau kehilanganmu lagi, Gendis. Kejadian di Marsala dan pengkhianatan Luca... itu hampir membuatku gila."
Gendis menatap mata Kaivan. Ia melihat rasa takut yang mendalam di balik wajah galak itu. Kaivan bukan sekadar ingin mengatur, tapi ia sedang berjuang melawan trauma. Namun, bagi Gendis, cara Kaivan ini justru mencekik.
"Kak... saya menghargai perlindungan Kakak. Tapi kalau Kakak begini terus, saya malah ngerasa kayak dipenjara," bisik Gendis. "Cinta itu bukan soal seberapa ketat Kakak megang saya, tapi seberapa besar Kakak percaya sama saya."
Puncak dari sifat "pelindung galak" Kaivan terjadi saat sore hari. Sebuah mobil box logistik yang membawa pasokan bahan makanan Italia masuk ke gerbang. Di dalam mobil itu, secara tidak sengaja, ada seorang arwah "penumpang gelap"—seorang pedagang sayur dari pasar lokal yang baru saja meninggal dan merasa belum rela meninggalkan barang dagangannya.
Gendis, yang sedang duduk di ruang tamu (tentu saja dengan pengawasan ketat), langsung berdiri. "Waduh, itu si paman kenapa ikut ke sini?"
"Siapa?" Kaivan langsung siaga, tangannya meraba pistol di pinggangnya.
"Itu, di atas mobil box. Ada hantu tukang sayur bawa sawi putih," tunjuk Gendis.
Kaivan langsung keluar ke halaman. "Berhenti!" teriaknya pada pengemudi box.
Sepuluh pengawal langsung mengepung mobil itu dengan senjata ditodongkan. Si sopir yang malang keluar dengan tangan gemetar. "Tuan Vittorio! Ada apa? Saya hanya membawa keju dan tomat!"
"Gendis bilang ada penyusup di atas mobilmu!" bentak Kaivan. Ia menembakkan senjatanya ke udara. "Keluar kau, makhluk terkutuk! Tunjukkan dirimu!"
Gendis berlari keluar. "KAK! JANGAN TEMBAK! Dia itu hantu, bukan ninja!"
"Aku tidak peduli! Dia masuk ke area ini tanpa izin!" Kaivan tampak sangat murka. Ia mulai memerintahkan tim "paranormal" bayarannya untuk menyemprotkan air suci ke seluruh mobil box. "Bersihkan semuanya! Jangan biarkan entitas apa pun mendekati tunanganku!"
Si hantu tukang sayur, yang ketakutan melihat amarah Kaivan yang meledak-ledak, langsung terbang tunggang langgang menembus tembok mansion dan menghilang entah ke mana.
"Tuh kan, dia pergi gara-gara Kakak galak banget!" seru Gendis. "Dia itu cuma mau titip pesan buat istrinya kalau uang tabungannya ada di bawah ubin dapur! Kasihan tahu, Kak!"
Kaivan menurunkan senjatanya, napasnya memburu. "Dia bisa saja menjadi ancaman, Gendis. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar tukang sayur atau mata-mata gaib yang menyamar."
Malam harinya, Gendis memutuskan untuk melakukan "intervensi" pada Kaivan. Ia tidak membawa sapu lidi atau kemenyan, melainkan sepiring bakwan jagung buatannya sendiri yang ia buat di bawah pengawasan ketat koki dan pengawal.
Ia masuk ke kamar kerja Kaivan. Sang Don sedang duduk menatap layar monitor, terlihat sangat tegang.
"Kak, makan dulu," ucap Gendis lembut.
Kaivan mengambil satu bakwan, namun matanya tetap pada layar. "Terima kasih."
"Kak... sampai kapan mau begini?" tanya Gendis, duduk di atas meja kerja Kaivan—sesuatu yang hanya berani dilakukan olehnya.
Kaivan meletakkan bakwannya. "Sampai aku merasa kau benar-benar aman."
"Keamanan itu ilusi, Kak. Di dunia kita, bahaya itu selalu ada. Tapi kalau Kakak ngelarang saya hidup normal, berarti Kakak sudah membiarkan musuh-musuh itu menang tanpa mereka perlu nembak peluru," Gendis memegang tangan Kaivan. "Kakak itu pelindung saya, bukan sipir penjara saya."
Kaivan menunduk. Tangan yang biasanya stabil saat memegang senjata itu kini sedikit bergetar. "Saat Luca mengarahkan mereka ke kita... saat kau bertarung dengan dukun itu... aku merasa sangat tidak berdaya, Gendis. Kekuasaanku, uangku, pasukanku... semuanya tidak berguna jika jiwamu yang diserang. Aku hanya mencoba mengendalikan apa yang bisa kukendalikan."
Gendis berpindah, ia duduk di pangkuan Kaivan dan memeluk lehernya. "Saya tahu, Kak. Tapi percayalah sama saya. Saya ini bukan cuma 'gadis indigo yang perlu dijaga'. Saya ini rekan Kakak. Kita ini tim. Kakak jaga saya dari peluru, saya jaga Kakak dari 'angin'. Tapi kita berdua harus tetep bisa napas bebas."
Kaivan terdiam lama. Ia menghirup aroma rambut Gendis yang selalu menenangkannya. Perlahan, ketegangan di wajahnya sirna. Ia membalas pelukan Gendis, mengeratkannya seolah-olah takut Gendis akan menguap.
"Baiklah," bisik Kaivan. "Aku akan mengurangi jumlah pengawal menjadi sepuluh orang saja untukmu."
"Dua, Kak. Cukup dua orang yang jaraknya sepuluh meter," tawar Gendis.
"Lima orang. Jarak lima meter," balas Kaivan, jiwa mafianya dalam bernegosiasi muncul kembali.
"Tiga orang. Jarak tujuh meter. Dan nggak boleh masuk ke kamar saya atau kamar mandi," Gendis menatap Kaivan dengan mata menantang.
Kaivan tersenyum tipis—senyum pertama yang tulus hari itu. "Deal. Tapi jika ada hantu yang masuk tanpa izin, aku akan tetap menyemprotkan air suci ke seluruh ruangan."
Gendis tertawa riang. "Oke, deal! Tapi besok, tolong bilang sama Marco jangan pakai kacamata hitam di dalam rumah. Dia tadi hampir nabrak pot bunga kesayangan Don Alessandro karena kegelapan."
Keesokan harinya, suasana mansion terasa sedikit lebih ringan. Meskipun pengawasan tetap ada, Gendis sudah bisa berjalan ke taman tanpa merasa seperti sedang dalam iring-iringan jenazah. Kaivan masih tetap galak—ia sempat membentak seorang tukang kebun karena lupa menunduk pada Gendis—tapi setidaknya ia mulai membiarkan Gendis "bernapas".
Saat sore hari, Kaivan menemani Gendis duduk di ayunan taman.
"Kak, liat deh," Gendis menunjuk ke arah gerbang.
"Apa lagi? Ada penyusup?" Kaivan langsung waspada.
"Bukan. Itu, ada kupu-kupu warna emas. Don Alessandro bilang, itu lambang keberuntungan buat hubungan kita. Katanya, kakek setuju kalau Kakak agak galak dikit, soalnya dulu kakek juga gitu ke nenek."
Kaivan menatap kupu-kupu itu, lalu menatap Gendis. Ia menarik Gendis ke dalam pelukannya, menikmati semilir angin Sisilia yang sejuk.
"Aku akan selalu menjagamu, Gendis. Dengan caraku sendiri," ucap Kaivan pelan. "Mungkin aku akan tetap galak pada orang lain, tapi bagimu... aku akan selalu mencoba menjadi tempat pulang yang paling aman."
Gendis tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu sang Raja Mafia. Ia tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang, dan sifat posesif Kaivan mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Namun di balik kegalakan itu, ada sebuah janji setia yang lebih kuat daripada baja.
"Iya, Kak si Pelindung Galak," goda Gendis. "Tapi jangan lupa, nanti malam jatah Kakak masak mi instan buat saya. Tanpa pengawalan!"
Kaivan tertawa, sebuah suara yang kini mulai sering terdengar di mansion Vittorio yang dulunya dingin. Sang Raja Mafia telah menemukan bahwa menjaga seseorang tidak selalu berarti membangun tembok tinggi, tapi terkadang cukup dengan memberikan ruang bagi cinta untuk tumbuh, sambil tetap memegang kunci gerbang dengan tangan yang siap melindungi.
Malam itu, Palermo kembali saksi; bahwa bahkan seorang Don yang paling galak sekalipun bisa tunduk pada keinginan seorang gadis yang hanya bersenjatakan kejujuran dan sedikit bumbu seblak.
aku like banget
seribu jempol
aku like...